Sabar dan jadilah pemaaf …
Wednesday, October 1, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wrMENGAPA HARUS BEGITU ?
Kalau kita ditanya mengapa harus sabar dan mengapa harus jadi pemaaf maka kita harus punya jawaban yang betul-betul kuat dan tertanam dalam-dalam di diri kita. Kalau tidak, akan selamanya kita terombang-ambing dalam deru dan badai kehidupan ini. Bukankah kedua sikap tersebut di atas dalam kegiatan bisnis kantoran [mu’amalah] adalah sebuah sikap yang diserupakan dengan sikap yang lemah.
Kalau begitu, kenapa harus menjadi sabar dan pemaaf ?
QS.[16]:127 ….. Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah [text arabic: … illa billaah]…………..
QS.[7]:199 ….. Jadilah engkau pema’af ……
Sabar dan menjadi pemaaf adalah sebuah perintah ! Itulah dasar mengapa harus menjadi orang yang sabar dan pemaaf. Menjalankan perintah-Nya adalah bentuk ketaatan kepada-Nya, sebuah pengabdian kepada-Nya, yang adalah representasi dari tindakan berpegang teguh kepada agama Allah.
Pertanyaannya, apakah kita memang termasuk orang-orang yang sabar [Ash-Shoobiriin] sehingga kita layak untuk disertai oleh Allah.
QS.[2]:139 ….. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta dengan Ash-Shoobiriin [orang-orang yang sabar]
QS.[11]:11 ….. kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang ha-hal di atas, sebaiknya kita lengkapi diri kita dengan sebuah pengetahuan tentang semesta alam ini, termasuk diri kita yang berada di dalamnya, dan hubungannya dengan Allah Ta’ala Yang Menciptakannya.
Dalam buku The Tao of Islam, Sachiko Murata, dalam bukunya The Tao of Islam menjelaskan bahwa dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah Ta’ala, kosmos atau makrokosmos [semesta alam besar], dan manusia atau mikrokosmos [semesta alam kecil]. Bila disederhanakan dalam sebuah bagan atau diagram maka akan terjadi bentuk segitiga sama kaki. Dan yang akan menjadi sangat menakjubkan adalah hubungan yang terjalin antara ketiga titik sudut segitiga tersebut. Dan disebutnya segitiga tersebut sebagai Segi-3 Realitas.
Dalam segitiga itu ia menggambarkan Sang Maha Pencipta yang adalah Realitas Yang Mutlak [Yang Maha Ada, Yang Maha Wujud] di puncak segitiga dan kedua kaki segitiga itu adalah realitas-realitas ciptaan atau yang disebutnya sebagai realitas derivatif. Disebut sebagai derivatif karena kosmos maupun mikrokosmos adalah segala sesuatu yang mewujud karena diberi-Nya pakaian wujud untuk suatu rentang waktu tertentu sampai ajal dari si makhluk sesuai yang ditetapkan oleh Alah Ta’ala.
Kaki yang satu dari segitiga itu adalah diri manusia atau mikrokosmos dalam kedudukannya yang “seorang diri” atau “dirinya sendiri berhadapan dengan kaki segitiga yang satu lagi yang adalah makrokosmos, yakni segala makhluk ciptaan Allah Ta’ala, yang selain dari dirinya sendiri.
Lalu mengapa semesta alam harus diciptakan sebesar ini kalau hanya untuk memenuhi kehidupan segelintir makhluk-Nya, yang namanya manusia, yang bertempat tinggal di muka bumi ini ?
Saya tidak tahu banyak tentang hal itu, biar akhlinya saja yang akan menjawabnya. Sementara ini saya mencukupkan diri saya dengan penjelasan-Nya berikut ini,
QS.[18]:7 ….. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya [ahsanu amalan].
QS.[11]:7 ….. Dan Dia-lah yang menciptakan petala-langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya [ahsanu amalan], ……
Sebagaimana dalam kitabnya, At Tirmidzi menjelaskan bahwa tidak berkeluh kesah, dalam pengertian menerima sepenuhnya ketetapan Allah Ta’ala bagi dirinya, artinya terhadap apa-apa yang Allah Ta’ala hadirkan kepadanya melalui semesta alam ini di dalam kehidupannya sehari-hari, adalah kesabaran.
QS.[76]:24 ….. Maka bersabarlah terhadap ketetapan Rabbmu dan janganlah kamu ikuti kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.
Kisah Nabi Khidir as. dan Nabi Musa as. adalah sebuah penjelasan tentang persoalan hubungan antara sabar dengan ilmu. Kedua Nabi Allah tersebut diperintahkan Allah Ta’ala untuk memainkan peranan yang dari peran mereka yang Allah Ta’ala rekam dalam Al Quran menjadikan kita bisa melihat dengan jelas bahwasanya untuk bisa bersabar membutuhkan ilmu-pengetahuan.
BAGAIMANA BISA BERSABAR ?
Ya, bagaimana bisa bersabar kalau ketetapan-ketetapan atau hukum-hukum Allah Ta’ala tidak dikenali. Kalau tidak mengenali hal-hal itu tentunya akan terjadi keluh kesah yang berkepanjangan terhadap hal-hal yang terjadi pada diri kita.
Kalau begitu, maka agar bisa bersabar diperlukan ilmu atau pengetahuan. Pengetahuan yang bagaimana ?
Rasulullah Saw. pernah ditanya oleh seorang sahabat tentang amal, ada beberapa jawaban yang Rasulullah Saw. berikan [sepertinya bergantung kepada tingkatan pengetahuan dan keadaan diri dari si penanya], yang dalam konteks bahasan kita ini adalah jawaban Beliau Saw. yang berikut ini :
Sekali peristiwa datanglah seorang sahabat kepada Nabi Saw. dengan mengajukan pertanyaan: ”Wahai Rasulullah, apakah amalan yang lebih utama ?” Jawab Rasulullah Saw.: “Ilmu Pengetahuan tentang Allah ! ”
Sahabat itu bertanya pula “Ilmu apa yang Nabi maksudkan ?”. Jawab Nabi Saw.: ”Ilmu Pengetahuan tentang Allah Subhanaahu wa Ta’ala ! ”
Sahabat itu rupanya menyangka Rasulullah Saw salah tangkap, ditegaskan lagi “Wahai Rasulullah, kami bertanya tentang amalan, sedang Engkau menjawab tentang Ilmu !”
Jawab Nabi Saw. pula “Sesungguhnya sedikit amalan akan berfaedah bila disertai dengan ilmu tentang Allah, dan banyak amalan tidak akan bermanfaat bila disertai kejahilan tentang Allah”.
[HR. Ibnu Abdil Birr dari Anas]
[keterangan: kejahilan disebabkan ketiadaan ilmu pengetahuan]
PENUTUP
Sejauh ini, yang saya mengerti adalah untuk bisa bersabar dalam tingkatan sabar yang manapun, diperlukan ilmu pengetahuan tentang Allah Ta’ala sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw pada hadis di atas. Dan saya cukupkan perhari ini bagi diri saya sendiri pengetahuan saya tentang hal itu.
Mudah-mudahan Allah Ta’ala tambahkan pengetahuan bagi saya dan sahabat pembaca sekalian di hari-hari mendatang.
QS.[22]:46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qulub yang dengannya mereka ber’aql [dalam terjemah ditulis: mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, text arabicnya: fatakuuna lahum quluubun-ya`qiluna bihaa] mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qulub yang di dalam shudur [dalam terjemah ditulis: hati yang ada di dalam dada, dari text arabicnya: qulubu-latii fii-sh-shudur].
Kalau waktu muda seseorang mem-puas-puas-kan dirinya makan es-krim [ atau sebut saja apa lainnya ] …. apakah ada jaminan bahwa nanti di masa dewasanya atau masa tuanya ia dijamin TIDAK PINGIN makan es-krim lagi ?
Bisakah kita artikan bahwa seandainya ada seseorang yang tidak atau belum menjadi wadah "ilmu dan hikmah" maka seseorang itu belum menjadi manusia. Kalau belum menjadi manusia lalu menjadi apa ? Apakah masih berada di bawah tingkatan manusia, yakni tingkatan hewan atau dibawahnya lagi adalah tingkatan tumbuhan dan yang lebih rendah lagi adalah tingkatan mineral….. ? Waah.. kalau betul artinya seperti itu GAWAT nih !
Sahabat Pembaca.
Pada kurun awal penyebaran agama Islam, banyak orang terpelajar yang nenek moyangnya telah menyembah patung atau api mulai mempertanyakan tentang praktek irasional ini. Ada dua kakak beradik penyembah api yang merasakan hal ini. Salah satu dari mereka mempunyai ide untuk memasukkan tangan mereka ke dalam api. Jika terbakar berarti mereka harus berhenti menyembah api dan mulai memeluk Islam. Demikianlah mereka mengadakan upacara penyembahan kepada api, meminta kepada sembahan nenek moyang mereka itu untuk tidak membakar mereka, akan tetapi saat mereka memasukkan tangan ke dalam api, terbakarlah mereka.
Kaya dan miskin hanyalah sebatas "rasa-membutuhkan akan segala sesuatu", selama seseorang masih merasa membutuhkan suatu materi maka selama itu pula ia akan merasa miskin, sebaliknya ketika seseorang merasa bahwa ia hanya membutuhkan Allah Ta’ala semata maka saat itulah ia faqir [membutuhkan] dihadapan Rabb-nya tetapi ia kaya dihadapan segala makhluk, karena tidak membutuhkan.
Rumi menjawab: Ada sesuatu di dunia yang tidak boleh dilupakan. Jika kamu melupakan semua yang lain tetapi tidak melupakan yang satu itu maka kamu tidak perlu cemas. Tetapi jika melakukan dan mengingat segala yang lain tetapi melupakan yang satu itu maka kamu sesungguhnya tidak melakukan apapun yang berharga.
Suatu ketika, orang-orang di kota mengundang Nasruddin untuk menyampaikan khutbah di sebuah majelis.