... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

“dabbah” berjalan …

Friday, July 03, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 0:09 | Anda mau email artikel ini ?

SECARA BAHASA

Dabbah adalah makhluk yang melata di muka bumi oleh sebab itu secara bahasa dinisbatkan kepada hewan atau binatang-binatang.

Dalam bahasa Arab [1], kata dabbah digunakan untuk menjelaskan tentang makhluk yang hidup melata di muka bumi. Dan Al Quran meluaskan pengertiannya dengan adanya ayat yang tersirat di dalamnya bahwa dabbah meliputi semua makhluk yang hidup di muka bumi ; baik yang hidup dan bersarang di dalam tanah atau di dalam air, yang hidup dan bersarang di atas tanah yang dalam hal ini mencakup manusia, dan yang hidup maupun bersarang jauh di atas tanah yakni yang hidup di pohon-pohon dan/atau yang memiliki kemampuan untuk terbang ke angkasa seperti nyamuk, lebah dan burung-burung.

- mau melanjutkan membaca … ?

Rahasia dari Rahasia-Rahasia …

Friday, June 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BELAJAR dari SUFI pk. 23:53 | Anda mau email artikel ini ?

…. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku ‘The Secret of Secrets‘ yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd’ al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.
 

DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA
Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany ra.

Hati [qalb] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’.

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahmud dan Ayaz [3]

Wednesday, April 01, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BELAJAR dari SUFI, KISAH para DARWIS pk. 15:32 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna suatu hari saling berbagi ketimun dengan Ayaz, orang kepercayaannya yang paling setia. Ayaz dengan gembira mulai memakan separo bagian dari ketimun itu, tetapi ketika sang sultan memakan separo bagian miliknya, ketimun itu terasa sangat pahitnya sehingga ia meludahkannya.

"Bagaimana kau dapat memakan ketimun yang sangat pahit ini?" seru sang sultan, "bagiku ia terasa bagaikan racun yang sangat pahit."

"Sultanku yang tercinta," jawab Ayaz, "aku menikmati begitu banyak pertolongan dan bantuan dari Anda sehingga apa pun yang Anda berikan padaku menjadi terasa manis."
 

Bandung, 1 Maret 2009
Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005

Dua orang seniman …

Saturday, March 07, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 5:29 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika dihadapan sang Sultan, dua orang seniman berselisih faham tentang siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Dan untuk menyelesaikan perselisihan itu, Sultan kemudian menyediakan untuk masing-masing dari mereka sebuah rumah untuk di warnai.

Seniman Pertama menggunakan semua jenis cat yang tersedia dan kemudian menghiasi rumah itu dengan grafis warna-warni yang tingkat kerumitannya sangat tinggi.

Seniman Kedua, sebaliknya tidak menggunakan bahan cat apapun, ia lebih senang membersihkan dinding-dindingnya dari segala kotoran, membuatnya menjadi sehalus mungkin serta memolesnya hingga semengkilap mungkin.

Ketika kedua rumah tersebut diajukan untuk diperiksa oleh sultan, hasil karya seniman Pertama mengundang decak kagum siapapun yang menyaksikannya, sangat menakjubkan; akan tetapi rumah yang disiapkan oleh seniman Kedua menjadi pilihan sang Sultan oleh sebab warna-warni yang ditampilkan oleh rumah pertama dan alam sekitarnya terpantulkan secara sangat indah pada dinding-dinding rumah kedua dalam berbagai lapisan dan gradasi bayangan dan warna yang seakan tiada ujung dan akhiran.

 

Bandung - 05/Maret/2009 Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi, Book I – Story XIV.1 [Abridged and Translated by E.H. Whinfield (1898) … Alih bahasa oleh wiwin.wr @2009]

Mahmud dan Ayaz [2] …

Friday, March 06, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 16:22 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna, memiliki pegawai kesayangan bernama Ayaz yang karenanya menjadikan seluruh pegawai istana iri-hati. Suatu hari mereka menghadap sultan melaporkan bahwa Ayaz memiliki kebiasaan beristirahat di dalam sebuah ruang rahasia di dalam biliknya dan mengunci diri di dalam. Mereka mencurigai Ayaz menyembunyikan barang berharga hasil curian atau menikmati anggur dan minuman keras disana.

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahmud dan Ayaz [1] …

Thursday, March 05, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 16:14 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud duduk bersama sahabat dekatnya dan para pe­nasihatnya, sembari menikmati minuman dari gelas kristal permata yang sangat indah, salah satu miliknya yang berharga.

Ketika setiap orang mulai mengagumi gelas minuman tersebut, ia menyodorkannya kepada seorang penasihatnya dan berkata, “Jatuhkanlah ke lantai dan pecahkan !” Sang penasihat menjawab, “Aku tidak bisa Sultan. Ia amat sangat ber­harga, dan aku tidak berani merusak salah satu harta kekayaan Anda yang teramat bernilai.”

Sang sultan memberikan gelas minuman tersebut pada masing-masing penasihatnya dengan perintah yang sama, dan ma­sing-masing mereka juga menolak untuk mernecahkannya.

Akhirnya, ia memberikan gelas tersebut kepada Ayaz, sahabat dekatnya yang paling setia. Ayaz segera memecahkannya hingga ber­keping-keping. Orang-orang lainnya terhenyak dan merasa heran.

Ke­tika sang Sultan bertanya padanya, mengapa ia memecahkan gelas minuman tersebut, Ayaz menjawab, “Sultanku, aku tahu bahwa gelas minuman itu berharga, tetapi yang jauh lebih berharga bagiku dari gelas mana pun adalah perintahmu. Aku tidak akan pernah menolak ke­inginan-keinginanmu, sehingga dengan segera aku melakukan apa yang engkau perintahkan.”

Sang Sultan tersenyum dan berkata, “Lihatlah me­ngapa aku mencintai dan mengasihinya."

 

[kisah ini berasal dari Jalaluddin Rumi - Matsnawi Buku V bait 4035 – silahkan lihat di link-ini]
[Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005]

Pelajar dan Pengamal …

Tuesday, March 03, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 18:17 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.

- mau melanjutkan membaca … ?

Uji keihsanan …

Sunday, March 01, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 17:47 | Anda mau email artikel ini ?

Syekh Junayd memiliki seorang darwins muda yang sangat ia cintai. Darwins Junayd lainnya, yang lebih senior, menjadi iri. Suatu hari, Junayd menyuruh darwisnya untuk membeli seekor ayam. Masing-masing disuruh menyembelih ayam itu di tempat yang tak ada siapapun bisa melihatnya. Apapun yang mereka lakukan, mereka harus kembali paling lambat saat matahari terbenam.

- mau melanjutkan membaca … ?

Saling cinta dan hormat …

Saturday, February 28, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 16:51 | Anda mau email artikel ini ?

Setelah beberapa tahun, salah satu tarekat sufi kian menyusut. Yang tersisa hanyalah seorang syekh dan tiga orang darwisnya. Mereka tinggal di pondokan tarekat tersebut, menghabiskan waktu mereka untuk berdoa, merenung dan mengelola tanah perkebunan mereka. Keempat pria tersebut beranjak tua, mereka menjadi cemas bahwa tradisi mereka yang berharga ini akan lenyap bersama mereka.

Salah seorang darwis menyarankan agar sang syekh mengunjungi seorang rahib Yahudi setempat yang juga dikenal sebagai sosok yang amat bijaksana. “Ia juga seorang guru spiritual,” jelas sang darwis, “dan saya yakin, ia juga pernah dihadapkan kepada persoalan yang serupa.” Sang Syekh kemudian mengunjungi rahib tersebut. Sambil minum teh bersama, ia menceritakan persoalannya kepada sang rahib. Sang Rahib tersenyum dan berkata, “Aku pun memiliki permasalahan serupa. Saya sungguh tidak tahu bagaimana menarik generasi muda dari komunitas saya sendiri. Namun aku dapat memberitahu anda satu hal: Dalam suatu perenunganku, ditampakkan padaku bahwa salah satu dari kalian adalah quthb zaman.”

- mau melanjutkan membaca … ?

The Three Realities …

Friday, February 27, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 14:43 | Anda mau email artikel ini ?

JUDUL ASLI:
THE  THREE  REALITIES
The Tao of Islam, a book by Sachiko Murata
 

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah, [admin: Realitas Mutlak - Al Wujud] yang berada di puncak, merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hub­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

- mau melanjutkan membaca … ?