... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Nasruddin membuang yoghurt …

Friday, February 19, 2010, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 15:25| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Suatu hari Nasruddin sedang membuang sisa-sisa minuman yoghurt-nya ke danau.
“Mullah, engkau sedang apa ?” tanya seseorang yang melihatnya
“Aku sedang berusaha merubah air danau ini agar menjadi yoghurt” jawab Nasruddin.
“Bisakah ragi dalam yoghurt yang sedikit itu merubah [1] air danau yang besar itu ?” tanya orang itu kembali sembari temannya mentertawakan Nasruddin.

“Engkau tidak akan pernah tahu bahwa mungkin itu bisa”, jawab Nasrudddin, “dan bagaimana seandainya memang bisa !”

[1] Yang dimaksud dengan "merubah" adalah mem-fermentasi air danau itu sehingga berubah menjadi yoghurt. Sebagaimana kita tahu bahwa proses pembuatan yoghurt dari susu adalah proses "pe-ragi-an" atau fermentasi.

Bandung - 16/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Cermin hatimu …

Monday, November 30, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 8:00| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.

Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.

Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ? 

Antara cermin dan hati
ada satu perbedaan nyata:
hati menyimpan rahasia
sedangkan cermin tidak.

 

Bandung, 30/11/2009
The Divani Shamsi Tabriz, XIII - alihbahasa dan interpretasi oleh widjaja.wr ©2009

Nasruddin kejatuhan kenari …

Sunday, November 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 0:00| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Suatu hari yang panas terik, Nasruddin beristirahat dibawah pohon kenari yang besar. Ia mulai berandai-andai, “Waluh yang besar tumbuh di semak-semak sedangkan buah kenari yang kecil tumbuh di pohon yang besar sekali. 

“Kadangkala aku tidak faham cara-cara Tuhan menangani alam semesta ini !” pikirnya. “Alangkah lucunya membiarkan buah kenari yang kecil tumbuh di pohon yang besar sedang buah waluh yang besar di semak-semak yang rendah.”

Bertepatan dengan itu, sebutir kenari jauh menimpa kepalanya yang gundul.

Ia segera bangkit, menengadahkan tangan dan wajahnya ke langit, sambil berkata,

”Wahai Rabbku, ampunilah aku yang telah mempertanyakan ketetapan-Mu. Engkaulah Yang Maha Bijak. Sekarang aku tahu seandainya buah waluh tumbuh di pohon besar.”

 

Bandung - at 02.10 on 22/02/2009
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh widjaja.wr ©
2009.

[Kisah yang senada “Seandainya unta memiliki sayap … dan hinggap di atap rumah”]

Nasruddin kondangan …

Thursday, November 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 14:31| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Suatu hari Nasruddin diundang ke sebuah kondangan.

Ia pun datang ke kondangan itu. Namun ia tidak diijinkan masuk oleh petugas karena dianggap pakaiannya tidak layak, jubahnya kurem. Maka ia segera kembali ke rumahnya dan mengganti pakaiannya dengan yang terbaik yang dimilikinya.

Segera ia kembali ke pesta itu. Ketika ia masuk, si penyelenggara kondangan segera menghampirinya, menyambutnya dan menyampaikan rasa hormatnya atas kesediaan Nasruddin hadir di pesta itu, bahkan menemaninya berjalan masuk dan mempersilahkan Nasruddin duduk di sisi kepala-meja perjamuan.

Ketika makanan dihidangkan, Nasruddin mengambil sup dengan sendoknya dan menuangkannya ke bajunya dan berkata, “Makanlah wahai jubahku, makanlah ! Ini jelas sekali bahwa pada hari ini engkaulah tamu kehormatan yang sesungguhnya, dan itu bukanlah aku.”

 

Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, interpretasi dan alih-bahasa oleh wiwin.wr ©2009

de matrix

Wednesday, November 04, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 3:05| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Di film The Matrix, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu ‘kenyataan’ (reality).

Bila yang dimaksudkan dengan ‘kenyataan’ (reality) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata maka yang dimaksud dengan ‘kenyataan’ (reality) tidak lain hanya sekadar impuls-impuls elektrik yang diinterpretasikan oleh akal-pikiran manusia (human-mind). Sebab itu bagi mereka, yang dianggap sebagai ‘kenyataan’ (reality) adalah dunia-matriks (the matrix’s world) yang melingkupinya karena hanya itu yang bisa ditangkap oleh otak mereka.

Tidak lebih dari itu !

Hmm, apa mau dikata …

Bandung, 31 Oktober 2007 

Bioskop …

Thursday, October 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:29| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Kawan-kawan … Mari berandai-andai sebentar untuk menghilangkan penat di raga ini.

Istilah "bioskop" sudah jarang dipakai. Sekarang istilahnya diganti dengan "sinema" atau "teater" atau "sinema-multipleks". Bahkan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan kita bisa nonton bioskop di rumah sendiri. Perbedaannya kalau disebut bioskop maka selalu ada pita seluloid atau filem yang disorot lampu sedangkan yang di rumah-rumah menggunakan cakram video. Bagi yang pernah nonton bioskop pasti tahu bahwa selalu ada petugas yang bekerja memasang pita seluloid filem ke mesin pemutarnya, menjaganya dan menyalakan lampu proyektornya tepat saat jam putar filem dimulai seperti yang tertera di tiket.

Selama pemutaran filem, semua penonton tenggelam dalam lamunannya dibantu dengan gemuruhnya tata suara ruangan. Terpaku di kursinya menikmati gambar dua dimensi yang terpampang di layar besar sambil ngemil kacang-bogor. Gerakan pita seluloid di proyektor sama sekali tidak menjadi perhatian penonton. Tetapi bisa dibayangkan seandainya pitanya putus, kontan penonton bakal berteriak,

"Pelemnya putus hoii, hoooooiiii… Auwooo…. " dll.

Betapa rapuhnya bayangan yang ada di layar, ia bisa hilang kapan saja. Menjadi tidak bernilai apa-apa manakala tidak ada gambar yang diproyeksikan disitu. Gambarnya pun juga harus bergerak-gerak dan ada suaranya. Apa jadinya sebuah bioskop kalau tanpa semua itu. - mau melanjutkan membaca … ?

Dabbah yang berjalan …

Friday, July 03, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 0:09| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

SECARA BAHASA

Dabbah adalah makhluk yang melata di muka bumi oleh sebab itu secara bahasa dinisbatkan kepada hewan atau binatang-binatang.

Dalam bahasa Arab [1], kata dabbah digunakan untuk menjelaskan tentang makhluk yang hidup melata di muka bumi. Dan Al Quran meluaskan pengertiannya dengan adanya ayat yang tersirat di dalamnya bahwa dabbah meliputi semua makhluk yang hidup di muka bumi ; baik yang hidup dan bersarang di dalam tanah atau di dalam air, yang hidup dan bersarang di atas tanah yang dalam hal ini mencakup manusia, dan yang hidup maupun bersarang jauh di atas tanah yakni yang hidup di pohon-pohon dan/atau yang memiliki kemampuan untuk terbang ke angkasa seperti nyamuk, lebah dan burung-burung.

- mau melanjutkan membaca … ?

Rahasia dari Rahasia-Rahasia …

Friday, June 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BELAJAR dari SUFI pk. 23:53| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

…. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku ‘The Secret of Secrets‘ yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd’ al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.
 

DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA
Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany ra.

Hati [qalb] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’.

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahmud dan Ayaz [3]

Wednesday, April 01, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 15:32| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna suatu hari saling berbagi ketimun dengan Ayaz, orang kepercayaannya yang paling setia. Ayaz dengan gembira mulai memakan separo bagian dari ketimun itu, tetapi ketika sang sultan memakan separo bagian miliknya, ketimun itu terasa sangat pahitnya sehingga ia meludahkannya.

"Bagaimana kau dapat memakan ketimun yang sangat pahit ini?" seru sang sultan, "bagiku ia terasa bagaikan racun yang sangat pahit."

"Sultanku yang tercinta," jawab Ayaz, "aku menikmati begitu banyak pertolongan dan bantuan dari Anda sehingga apa pun yang Anda berikan padaku menjadi terasa manis."
 

Bandung, 1 Maret 2009
Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005

Dua orang seniman …

Saturday, March 07, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 5:29| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Suatu ketika dihadapan sang Sultan, dua orang seniman berselisih faham tentang siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Dan untuk menyelesaikan perselisihan itu, Sultan kemudian menyediakan untuk masing-masing dari mereka sebuah rumah untuk di warnai.

Seniman Pertama menggunakan semua jenis cat yang tersedia dan kemudian menghiasi rumah itu dengan grafis warna-warni yang tingkat kerumitannya sangat tinggi.

Seniman Kedua, sebaliknya tidak menggunakan bahan cat apapun, ia lebih senang membersihkan dinding-dindingnya dari segala kotoran, membuatnya menjadi sehalus mungkin serta memolesnya hingga semengkilap mungkin.

Ketika kedua rumah tersebut diajukan untuk diperiksa oleh sultan, hasil karya seniman Pertama mengundang decak kagum siapapun yang menyaksikannya, sangat menakjubkan; akan tetapi rumah yang disiapkan oleh seniman Kedua menjadi pilihan sang Sultan oleh sebab warna-warni yang ditampilkan oleh rumah pertama dan alam sekitarnya terpantulkan secara sangat indah pada dinding-dinding rumah kedua dalam berbagai lapisan dan gradasi bayangan dan warna yang seakan tiada ujung dan akhiran.

 

Bandung - 05/Maret/2009 Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi, Book I – Story XIV.1 [Abridged and Translated by E.H. Whinfield (1898) … Alih bahasa oleh wiwin.wr @2009]

Mahmud dan Ayaz [2] …

Friday, March 06, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 16:22| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna, memiliki pegawai kesayangan bernama Ayaz yang karenanya menjadikan seluruh pegawai istana iri-hati. Suatu hari mereka menghadap sultan melaporkan bahwa Ayaz memiliki kebiasaan beristirahat di dalam sebuah ruang rahasia di dalam biliknya dan mengunci diri di dalam. Mereka mencurigai Ayaz menyembunyikan barang berharga hasil curian atau menikmati anggur dan minuman keras disana.

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahmud dan Ayaz [1] …

Thursday, March 05, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 16:14| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Sultan Mahmud duduk bersama sahabat dekatnya dan para pe­nasihatnya, sembari menikmati minuman dari gelas kristal permata yang sangat indah, salah satu miliknya yang berharga.

Ketika setiap orang mulai mengagumi gelas minuman tersebut, ia menyodorkannya kepada seorang penasihatnya dan berkata, “Jatuhkanlah ke lantai dan pecahkan !” Sang penasihat menjawab, “Aku tidak bisa Sultan. Ia amat sangat ber­harga, dan aku tidak berani merusak salah satu harta kekayaan Anda yang teramat bernilai.”

Sang sultan memberikan gelas minuman tersebut pada masing-masing penasihatnya dengan perintah yang sama, dan ma­sing-masing mereka juga menolak untuk mernecahkannya.

Akhirnya, ia memberikan gelas tersebut kepada Ayaz, sahabat dekatnya yang paling setia. Ayaz segera memecahkannya hingga ber­keping-keping. Orang-orang lainnya terhenyak dan merasa heran.

Ke­tika sang Sultan bertanya padanya, mengapa ia memecahkan gelas minuman tersebut, Ayaz menjawab, “Sultanku, aku tahu bahwa gelas minuman itu berharga, tetapi yang jauh lebih berharga bagiku dari gelas mana pun adalah perintahmu. Aku tidak akan pernah menolak ke­inginan-keinginanmu, sehingga dengan segera aku melakukan apa yang engkau perintahkan.”

Sang Sultan tersenyum dan berkata, “Lihatlah me­ngapa aku mencintai dan mengasihinya."

 

[kisah ini berasal dari Jalaluddin Rumi - Matsnawi Buku V bait 4035 – silahkan lihat di link-ini]
[Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005]

Pelajar dan Pengamal …

Tuesday, March 03, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 18:17| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.

- mau melanjutkan membaca … ?

Uji keihsanan …

Sunday, March 01, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 17:47| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Syekh Junayd memiliki seorang darwins muda yang sangat ia cintai. Darwins Junayd lainnya, yang lebih senior, menjadi iri. Suatu hari, Junayd menyuruh darwisnya untuk membeli seekor ayam. Masing-masing disuruh menyembelih ayam itu di tempat yang tak ada siapapun bisa melihatnya. Apapun yang mereka lakukan, mereka harus kembali paling lambat saat matahari terbenam.

- mau melanjutkan membaca … ?

Saling cinta dan hormat …

Saturday, February 28, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 16:51| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Setelah beberapa tahun, salah satu tarekat sufi kian menyusut. Yang tersisa hanyalah seorang syekh dan tiga orang darwisnya. Mereka tinggal di pondokan tarekat tersebut, menghabiskan waktu mereka untuk berdoa, merenung dan mengelola tanah perkebunan mereka. Keempat pria tersebut beranjak tua, mereka menjadi cemas bahwa tradisi mereka yang berharga ini akan lenyap bersama mereka.

Salah seorang darwis menyarankan agar sang syekh mengunjungi seorang rahib Yahudi setempat yang juga dikenal sebagai sosok yang amat bijaksana. “Ia juga seorang guru spiritual,” jelas sang darwis, “dan saya yakin, ia juga pernah dihadapkan kepada persoalan yang serupa.” Sang Syekh kemudian mengunjungi rahib tersebut. Sambil minum teh bersama, ia menceritakan persoalannya kepada sang rahib. Sang Rahib tersenyum dan berkata, “Aku pun memiliki permasalahan serupa. Saya sungguh tidak tahu bagaimana menarik generasi muda dari komunitas saya sendiri. Namun aku dapat memberitahu anda satu hal: Dalam suatu perenunganku, ditampakkan padaku bahwa salah satu dari kalian adalah quthb zaman.”

- mau melanjutkan membaca … ?

The Three Realities …

Friday, February 27, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 14:43| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

JUDUL ASLI:
THE  THREE  REALITIES
The Tao of Islam, a book by Sachiko Murata
 

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah, [admin: Realitas Mutlak - Al Wujud] yang berada di puncak, merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hub­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

- mau melanjutkan membaca … ?

Menjadi kambing hitam …

Thursday, February 26, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 18:38| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Suatu ketika sekembalinya dari bepergian, Nasruddin dan isterinya menemukan rumahnya telah dibongkar oleh pencuri. Semua yang bisa diangkat telah dibawa oleh pencuri itu.

“Ini salahmu,” kata isterinya, “engkau seharusnya memeriksa bahwa semua sudah dikunci sebelum kita pergi.”

Tetangganya datang dan menimpali, “Engkau tidak mengunci jendela-jendela,” dan dilanjutkan oleh tetangganya yang satu lagi, ”Kenapa engkau tidak berjaga-jaga bahwa hal ini bisa terjadi. Kata yang lain lagi, “Gembok-gembok itu sudah tua dan engkau tidak menggantinya.”

“Sebentar, sebentar …” kata Nasruddin, “Tentunya bukan hanya aku saja yang harus disalahkan bukan ?” “Lalu siapa yang harus dipersalahkan ?” teriak isteri dan para tetangganya.

“Bagaimana halnya dengan pencuri itu ?” kata Nasruddin, “Apakah mereka sama sekali tidak bersalah ?”

 

Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009
Gambar diambilkan dari
link-ini

Nasruddin jalan mundur …

Monday, February 23, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:17| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

 

PADA suatu hari, Nasruddin mengendarai keledainya ke kota. Orang-orang kemudian menghentikannya dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau duduk membelakangi arah jalanmu Nasruddin ?”
Ia menjawab, “Aku tahu kemana tujuanku tetapi aku ingin tahu apa yang telah aku lewati.”
 
 
Bandung - 22/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.