... Beranda Suluk ...
... suluk - beranda suluk - serambi suluk - biduk diri - menyapa pagi ...

 
 

Sabar dan jadilah pemaaf …

Wednesday, October 1, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 1:43 | Anda mau email artikel ini ?

MENGAPA HARUS BEGITU ?

Kalau kita ditanya mengapa harus sabar dan mengapa harus jadi pemaaf maka kita harus punya jawaban yang betul-betul kuat dan tertanam dalam-dalam di diri kita. Kalau tidak, akan selamanya kita terombang-ambing dalam deru dan badai kehidupan ini. Bukankah kedua sikap tersebut di atas dalam kegiatan bisnis kantoran [mu’amalah] adalah sebuah sikap yang diserupakan dengan sikap yang lemah.

Kalau begitu, kenapa harus menjadi sabar dan pemaaf ?

QS.[16]:127 ….. Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah [text arabic: … illa billaah]…………..
QS.[7]:199 ….. Jadilah engkau pema’af ……

Sabar dan menjadi pemaaf adalah sebuah perintah ! Itulah dasar mengapa harus menjadi orang yang sabar dan pemaaf. Menjalankan perintah-Nya adalah bentuk ketaatan kepada-Nya, sebuah pengabdian kepada-Nya, yang adalah representasi dari tindakan berpegang teguh kepada agama Allah.

Pertanyaannya, apakah kita memang termasuk orang-orang yang sabar [Ash-Shoobiriin] sehingga kita layak untuk disertai oleh Allah.

QS.[2]:139 ….. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta dengan Ash-Shoobiriin [orang-orang yang sabar]
QS.[11]:11 ….. kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.

KONSEP SEGITIGA KEHIDUPAN

Sebelum membahas lebih lanjut tentang ha-hal di atas, sebaiknya kita lengkapi diri kita dengan sebuah pengetahuan tentang semesta alam ini, termasuk diri kita yang berada di dalamnya, dan hubungannya dengan Allah Ta’ala Yang Menciptakannya.

Dalam buku The Tao of Islam, Sachiko Murata, dalam bukunya The Tao of Islam menjelaskan bahwa dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah Ta’ala, kosmos atau makrokosmos [semesta alam besar], dan manusia atau mikrokosmos [semesta alam kecil]. Bila disederhanakan dalam sebuah bagan atau diagram maka akan terjadi bentuk segitiga sama kaki. Dan yang akan menjadi sangat menakjubkan adalah hubungan yang terjalin antara ketiga titik sudut segitiga tersebut. Dan disebutnya segitiga tersebut sebagai Segi-3 Realitas.

Dalam segitiga itu ia menggambarkan Sang Maha Pencipta yang adalah Realitas Yang Mutlak [Yang Maha Ada, Yang Maha Wujud] di puncak segitiga dan kedua kaki segitiga itu adalah realitas-realitas ciptaan atau yang disebutnya sebagai realitas derivatif. Disebut sebagai derivatif karena kosmos maupun mikrokosmos adalah segala sesuatu yang mewujud karena diberi-Nya pakaian wujud untuk suatu rentang waktu tertentu sampai ajal dari si makhluk sesuai yang ditetapkan oleh Alah Ta’ala.

Kaki yang satu dari segitiga itu adalah diri manusia atau mikrokosmos dalam kedudukannya yang “seorang diri” atau “dirinya sendiri berhadapan dengan kaki segitiga yang satu lagi yang adalah makrokosmos, yakni segala makhluk ciptaan Allah Ta’ala, yang selain dari dirinya sendiri.

[Jeda: bila sahabat pembaca ingin tahu lebih banyak, saya persilahkan membaca sendiri buku tersebut, pembahasan yang serupa juga ada dalam bukunya Williams S. Chitticks, Sufi Path of Knowledge. Edisi terjemahan kedua buku itu sudah diedarkan di toko-toko buku sejak beberapa tahun yang lalu. Bila ada waktu, Insya Allah saya akan kutipkan beberapa segmen dari buku tersebut yang membahas tentang hal di atas dan segera setelah selesai akan saya postingkan disini – di Scribd dalam format pdf. ]

Lalu mengapa semesta alam harus diciptakan sebesar ini kalau hanya untuk memenuhi kehidupan segelintir makhluk-Nya, yang namanya manusia, yang bertempat tinggal di muka bumi ini ?

Saya tidak tahu banyak tentang hal itu, biar akhlinya saja yang akan menjawabnya. Sementara ini saya mencukupkan diri saya dengan penjelasan-Nya berikut ini,

QS.[18]:7 ….. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya [ahsanu amalan].
QS.[11]:7 ….. Dan Dia-lah yang menciptakan petala-langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya [ahsanu amalan], ……

SABAR TERHADAP APA ?

Sebagaimana dalam kitabnya, At Tirmidzi menjelaskan bahwa tidak berkeluh kesah, dalam pengertian menerima sepenuhnya ketetapan Allah Ta’ala bagi dirinya, artinya terhadap apa-apa yang Allah Ta’ala hadirkan kepadanya melalui semesta alam ini di dalam kehidupannya sehari-hari, adalah kesabaran.

QS.[76]:24 ….. Maka bersabarlah terhadap ketetapan Rabbmu dan janganlah kamu ikuti kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.

Kisah Nabi Khidir as. dan Nabi Musa as. adalah sebuah penjelasan tentang persoalan hubungan antara sabar dengan ilmu. Kedua Nabi Allah tersebut diperintahkan Allah Ta’ala untuk memainkan peranan yang dari peran mereka yang Allah Ta’ala rekam dalam Al Quran menjadikan kita bisa melihat dengan jelas bahwasanya untuk bisa bersabar membutuhkan ilmu-pengetahuan.

BAGAIMANA BISA BERSABAR ?

Ya, bagaimana bisa bersabar kalau ketetapan-ketetapan atau hukum-hukum Allah Ta’ala tidak dikenali. Kalau tidak mengenali hal-hal itu tentunya akan terjadi keluh kesah yang berkepanjangan terhadap hal-hal yang terjadi pada diri kita.

Kalau begitu, maka agar bisa bersabar diperlukan ilmu atau pengetahuan. Pengetahuan yang bagaimana ?

Rasulullah Saw. pernah ditanya oleh seorang sahabat tentang amal, ada beberapa jawaban yang Rasulullah Saw. berikan [sepertinya bergantung kepada tingkatan pengetahuan dan keadaan diri dari si penanya], yang dalam konteks bahasan kita ini adalah jawaban Beliau Saw. yang berikut ini :

Sekali peristiwa datanglah seorang sahabat kepada Nabi Saw. dengan mengajukan pertanyaan: ”Wahai Rasulullah, apakah amalan yang lebih utama ?” Jawab Rasulullah Saw.: “Ilmu Pengetahuan tentang Allah ! ”
Sahabat itu bertanya pula “Ilmu apa yang Nabi maksudkan ?”. Jawab Nabi Saw.: ”Ilmu Pengetahuan tentang Allah Subhanaahu wa Ta’ala ! ”
Sahabat itu rupanya menyangka Rasulullah Saw salah tangkap, ditegaskan lagi “Wahai Rasulullah, kami bertanya tentang amalan, sedang Engkau menjawab tentang Ilmu !”
Jawab Nabi Saw. pula “Sesungguhnya sedikit amalan akan berfaedah bila disertai dengan ilmu tentang Allah, dan banyak amalan tidak akan bermanfaat bila disertai kejahilan tentang Allah”.
[HR. Ibnu Abdil Birr dari Anas]
[keterangan: kejahilan disebabkan ketiadaan ilmu pengetahuan]

PENUTUP

Sejauh ini, yang saya mengerti adalah untuk bisa bersabar dalam tingkatan sabar yang manapun, diperlukan ilmu pengetahuan tentang Allah Ta’ala sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw pada hadis di atas. Dan saya cukupkan perhari ini bagi diri saya sendiri pengetahuan saya tentang hal itu.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala tambahkan pengetahuan bagi saya dan sahabat pembaca sekalian di hari-hari mendatang.

QS.[22]:46.  Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qulub yang dengannya mereka ber’aql [dalam terjemah ditulis: mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, text arabicnya: fatakuuna lahum quluubun-ya`qiluna bihaa] mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qulub yang di dalam shudur [dalam terjemah ditulis: hati yang ada di dalam dada, dari text arabicnya: qulubu-latii fii-sh-shudur].

Bandung - 1 Syawal 1429 H ……… Wallaahu `alam bi-sh-showab

Kalkulus 2 variabel …

Tuesday, September 30, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 10:27 | Anda mau email artikel ini ?

KISAH 1001 MALAM, ABUNAWAS sang Penggeli Hati – MB Rahimsyah

Sahabat, tentunya ada diantara sahabat pembaca yang masih ingat kalkulus sederhana tentang persamaan dengan 2 variabel. Nah kisah Abu Nawas di bawah ini adalah mengenai hal itu, ada dua orang dan ada dua pilihan arah.

CARA MEMILIH JALAN

Kawan-kawan Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata ke hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasa memenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta dan Abu Nawas tidak keberatan.

Mereka berangkat dengan mengendarai keledai masing-masing sambil bersendaugurau. Tak terasa mereka telah menempuh hampir separuh perjalanan. Kini mereka tiba di simpang tiga yang jauh dari perumahan penduduk. Mereka berhenti karena mereka ragu-ragu.

Setahu mereka kedua jalan itu memang menuju ke hutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata. Bukan hutan yang dihuni binatang-binatang buas yang justru akan membahayakan mereka.

Abu Nawas hanya bisa menyarankan untuk tidak meneruskan perjalanan karena bila salah pilih maka mereka semua tak akan pernah bisa kembali. Bukankah lebih bijaksana bila kita meninggalkan sesuatu yang meragukan?

Tetapi salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata, "Aku mengenal dua orang yang tinggal dekat semak-semak sebelah sana. Mereka adalah saudara kembar. Tak ada seorang pun yang bisa membedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang satu selalu berkata jujur sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong. Dan mereka adalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan saja." "Apakah engkau mengenali salah satu dari mereka yang selalu berkata benar ?" tanya Abu Nawas. "Tidak." jawab kawan Abu Nawas singkat. "Baiklah kalau begitu kita beristirahat sejenak." usul Abu Nawas.

Abu Nawas makan daging dengan madu bersama kawan-kawannya. Seusai makan mereka berangkat menuju ke rumah yang dihuni dua orang kembar bersaudara.

Setelah pintu dibuka, maka keluarlah salah seorang dari dua orang kembar bersaudara itu. "Maaf, aku sangat sibuk hari ini. Engkau hanya boleh mengajukan satu pertanyaan saja. Tidak boleh lebih." katanya. Kemudian Abu Nawas menghampiri orang itu dan berbisik. Orang itu pun juga menjawab dengan cara berbisik pula kepada Abu Nawas. Abu Nawas mengucapkan terima kasih dan segera mohon diri.

"Hutan yang kita tuju melewati jalan sebelah kanan." kata Abu Nawas mantap kepada kawan-kawannya. "Bagaimana kau bisa memutuskan harus menempuh jalan sebelah kanan ? Sedangkan kita tidak tahu apakah orang yang kita tanya itu orang yang selalu berkata benar atau yang selalu berkata bohong?" tanya salah seorang dari mereka. "Karena orang yang kutanya menunjukkan jalan yang sebelah kiri." kata Abu Nawas.

Karena teman-temannya masih belum mengerti juga, maka Abu Nawas menjelaskan.

"Tadi aku bertanya: Apa yang akan dikatakan saudaramu bila aku bertanya jalan yang mana yang menuju hutan yang indah?" Bila jalan yang benar itu sebelah kanan dan bila orang itu kebetulan yang selalu berkata benar maka ia akan menjawab: Jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara Kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berbohong. Bila orang itu kebetulan yang selalu berkata bohong, maka ia akan menjawab: jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berkata benar.

[sumber : Kisah 1001 Malam Abunawas Sang Penggeli Hati – MB Rahimsyah, disunting oleh wiwin.wr]

Nasruddin mencari kunci …

Friday, September 19, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 3:36 | Anda mau email artikel ini ?

Dari kisah Mulla Nashrudiin ini banyak manfaat yang bisa diambil, silahkan mencermatinya dan memilih pengertiannya sesuai dengan keadaan kehidupan sahabat-sahabat pembaca sendiri agar kisah ini menjadi bermanfaat bagi kehidupan sahabat pembaca. Biarkan saja orang lain menafsirkannya sesuai dengan keadaan mereka masing-masing…

Suatu malam seseorang mendapati Nasruddin Hoja tengah sibuk mencari-cari sesuatu di halaman rumahnya, di bawah sebuah tiang lampu.

Kawan ini bertanya, "Sedang mengapa engkau, Nasruddin."
Nasruddin menjawab, "Aku sedang mencari kunciku yang hilang."

Kawan itu pun segera ikut sibuk mencari kunci, membantu Nasruddin…… namun … kunci tersebut tidak kunjung ditemukan.

Kawan itu bertanya lagi, "Memangnya kunci itu tadi hilang dimana?"
Sambil terus mencari, Nasruddin menjawab, "Di sana, di dalam gudang di bawah tanah," katanya sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Merasa kesal, sang kawan yang merasa sudah berbaik hati itu bertanya, "Jika hilangnya di dalam gudang rumahmu, lalu mengapa kita mencarinya di sini?"

Nasruddin menjawab, "Di dalam gudang sana gelap; bukankah kita hanya bisa mencari di tempat yang terang ?"

Demikianlah Nasruddin dan kawannya mencontohkan laku manusia yang "mencari sesuatu" di "suatu tempat", yang dianggap oleh pikirannya (sendiri) bahwa ia bisa menemukannya di tempat itu, hanya karena "prasyarat untuk mencari" dianggap sudah terpenuhi.

Padahal yang dicarinya belum tentu ada di tempat itu atau bahkan bisa dipastikan tidak berada di tempat itu.. seperti kawannya Nasruddin yang percaya saja untuk mencari kunci di tempat dimana Nasruddin mencarinya. Sedangkan BAGI PEMBACA, sangat jelas bahwasanya "kunci yang dicari itu TIDAK BERADA DISITU" ….

Bandung - 17/07/2008 [Mulla Nashruddiin stories]

Puas-puasin diri makan es krim …

Thursday, September 11, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA SULUK pk. 23:56 | Anda mau email artikel ini ?

Kalau waktu muda seseorang mem-puas-puas-kan dirinya makan es-krim [ atau sebut saja apa lainnya ] …. apakah ada jaminan bahwa nanti di masa dewasanya atau masa tuanya ia dijamin TIDAK PINGIN makan es-krim lagi ?

Whua.. ha.. ha.. ha.. ha.. ha ….. haa haaaa haaaaaa-chiiiiessss … [ lho …. kenapa jadi bersin ]

Rasanya… soal puas atau tidak puas itu adalah perkara hawa nafsu kan ya … jadi selama hawa nafsu masih bergelora maka selama itu pula manusia tidak pernah puas. Dan hawa nafsu itu bagaikan seekor ular, ia hanya tidur dan saat ia tidur kita sering terlena karena menganggapnya sudah jinak…. tetapi WASPADALAH, saat ia bangun maka ia siap menerkam.

Mari kita simak berikut ini :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya An-Nafsi [dalam terjemahan ditulis sebagai: nafsu] itu selalu menyuruh kepada keburukan [as-suu’i, dalam terjemahan ditulis: kejahatan], kecuali An-Nafsi [dalam terjemahan ditulis: nafsu] yang diberi rahmat (yang sudah dirahmati) oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS.[12]:53

Seorang sahabat menerangkan kepada saya, bagaimana seandainya ular itu dipotong-potong kemudian disambung kembali tetapi dengan susunan yang berbeda, ekornya di depan, kepalanya di belakang dan badannya di putar dengan tetap di tengah ….. Ketika "si ular" bangun maka gerakannya menggeliat-geliat maju mundur …. dan ketika itu kita bisa merasakan "aktifitas si ular" dan dari itu kita bisa mewaspadai terkamannya …..

Ah…. seandainya saja kita bisa melakukannya.

Sepertinya kita bisa lho ….. yang kita perlukan hanya mencobanya sambil memohon agar Allah Ta’ala merahmati kita.

Kenali dulu si ular dalam dirimu … !

Es krim hanyalah perumpamaan, di realita kehidupan … banyak yang lainnya.
Hiiiii awas diterkam ular … Sekian dulu ya 11/09/2008.

Yang muda yang tidak dipercaya …

Thursday, September 4, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di MANAJEMEN pk. 18:36 | Anda mau email artikel ini ?

Di tahun-tahun pertama saya bekerja, oleh sebab berbagai tekanan yang saya alami karena kemudaan usia saya maka salah satu dan sepertinya menjadi yang utama dari keinginan saya adalah memiliki uban di kepala agar orang-orang tua, yang sudah pada ubanan itu, mau mendengarkan apa-apa yang saya presentasikan [ situasi yang sama seperti yang di iklan TV itu lho … ]

- Mau melanjutkan …

Hikmah, seperti apakah dia …

Tuesday, September 2, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 17:50 | Anda mau email artikel ini ?

Sekadar pengingat saja, bahwa Al Ghazali dalam kitabnya Syarh Ajaibu-l-Qulub…. [terjemahannya: Keajaiban-keajaiban Hati] menuliskan:

manusia adalah makhluk yang bisa mewadahi "ilmu" dan "hikmah"

Bisakah kita artikan bahwa seandainya ada seseorang yang tidak atau belum menjadi wadah "ilmu dan hikmah" maka seseorang itu belum menjadi manusia. Kalau belum menjadi manusia lalu menjadi apa ? Apakah masih berada di bawah tingkatan manusia, yakni tingkatan hewan atau dibawahnya lagi adalah tingkatan tumbuhan dan yang lebih rendah lagi adalah tingkatan mineral….. ? Waah.. kalau betul artinya seperti itu GAWAT nih !

[ Ah masa iya begitu, apa bisa ada sesuatu yang berwujud manusia tetapi ia bukanlah seorang manusia ? Mengartikannya yang bener dong … ! ]

Mari kita jawab saja dalam diri kita masing-masing, tidak usah kita perdebatkan. Untuk koreksi DIRI KITA SENDIRI PRIBADI … BUKAN UNTUK MENGKOREKSI ORANG LAIN."

Nah, ini ada sabda Rasulullah Saw. tentang "hikmah", kalau ingin bisa mewadahi "hikmah" tentunya mencermati hal-hal seperti yang Beliau Saw. ungkapkan menjadi sebuah keharusan:

Bahwasanya hikmah datang dari langit, turun ke dalam qalb manusia kecuali qalb yang di dalamnya terdapat 4 (empat) perangai :

  1. Qalb yang mendukakan masa depan.
  2. Qalb yang cenderung kepada dunia.
  3. Qalb yang mengharapkan kehormatan dari makhluk lain.
  4. Qalb yang mendengki saudaranya sendiri.

 

Bagaimana sih maksudnya ….. ?

Mendukakan masa depan adalah sebuah kekhawatiran terhadap apa-apa yang akan terjadi nanti [bisa besok, bisa pula minggu depan atau tahun depan atau masa depan] biasanya berupa kekhawatiran tentang hal-hal yang menyangkut kebutuhan hidup, seperti misalnya biaya untuk makan atau lainnya. Tetapi jangan lupa bahwa kita bisa juga memberikan pendidikan kepada anak-anak kita berdasarkan kekhawatiran kita akan masa depan, misalnya kalau anak tidak masuk sekolah kedokteran maka bagaimana nanti masa tua kita kalau seandainya sakit-sakitan …. atau kalau anak kita tidak fasih berbahasa asing [misalnya bahasa Inggris atau bahasa lainnya] nanti bagaimana bisa bersaing dengan sebayanya dalam mencari pekerjaan …. atau kalau tidak punya deposito lalu kalau nanti pensiun mau hidup darimana …. Itu hanya sekadar contoh saja, masih banyak yang lainnya. Silahkan dicermati dan dirasakan sendiri…. dari mulai persoalan yang nyata [kasar] sampai yang paling halus.

Cenderung kepada dunia; kita mencari penghidupan tetapi tidak sepantasnya menjadi cenderung kepada hal-hal yang bersifat material [dari hal-hal yang sangat sederhana sampai ke yang luxurious] yang disediakan oleh dunia …. tidak perlu dijelaskan lagi, sahabat pembaca tentu sudah tahu maksudnya.

Mengharapkan kehormatan dari makhluk, tentunya yang paling kasar adalah gila-hormat dan saya yakin bahwa sahabat pembaca tidak seperti itu. Tetapi pernahkan terbit rasa tersinggung ketika satpam di tempat parkir lupa memberi ucapan selamat pagi … atau ketika satpam sambil melintangkan telapak tangannya ke dahinya dan mengucapkan, “selamat-pagi pak” maka kita menjawab dengan pendek, “pagi” … atau ketika petugas restoran memberi tahu, “Pak atau Bu, martabaknya habis, pesan yang lain saja” lalu kita berteriak dalam hati, “gak sopan banget tuh orang, pakai maaf dong !”. Atau hal-hal lain yang lebih halus daripada itu, silahkan direnungkan sendiri.

Mendengki saudara sendiri, dengan sigap kita bisa mengatakan mana mungkin mendengki adik atau kakak atau saudara sepupu sendiri.  Lantas, siapakah sebenarnya “saudara-saudara” kita itu. Batas-batas persaudaraan itu sampai mana ya ? ….. Kita lihat saja ke Al Quran dan Hadis Rasulullah Saw. tentang persoalan siapa saja saudara kita itu. Kita juga barangkali perlu mengingat sabda Rasulullah Saw. bahwa dengki atau hasad itu membakar kebaikan atau hasanah seperti api memakan kayu yang kering atau sekam.

 

Lantas, hikmah itu apa dan seperti apa ?

Sebentar, ya ….. sepertinya hati saya masih berisi perkara-perkara yang 4 (empat) di atas. Apakah sahabat pembaca juga begitu ? Bilamana begitu maka sebaiknya kita men-sibuk-an diri membenahi hati kita agar tidak menyimpan perkara-perkara yang empat itu.

Sejauh hari ini, saya cukupkan diri saya untuk mengetahui sebatas yang berikut ini :

QS.[2]:269.  Allah menganugerahkan al-Hikmah [dalam terjemahan ditulis dalam kurung: kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah] kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya para pemilik lubbab [uulu-l-albaab, dalam terjemah dituliskan: dan hanya orang-orang yang ber-akal] yang dapat yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) [text arabic-nya: yadzdzakkaru].

QS.[17]:39.  Itulah sebagian al-Hikmah yang diwahyukan Rabbmu kepadamu dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).

Ada yang mengatakan bahwa hikmah adalah sesuatu yang dengannya maka Al Quran dan As Sunnah [ayat-ayat Allah Ta’ala yang di Tuliskan-Nya di Kitab-Kitab-Nya yang Quraniyyah, Kauniyyah dan Insaaniyyah] akan menjadi terbukakan dalam arti terfahamkan.

Bandung – 15/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Sebab dan Akibat …

Sunday, August 24, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA SULUK pk. 23:07 | Anda mau email artikel ini ?

Ketika Allah SWT memberi ‘Izrail as. tugas mencabut nyawa, sang Malaikat Maut itu berkata, “Ya Rabbku, Engkau telah memberiku tugas yang sangat berat. Hamba-hamba-Mu akan membenciku karenanya.”  

- Mau melanjutkan …

Kisah Beo botak …

Saturday, August 23, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 0:32 | Anda mau email artikel ini ?

Sebuah kisah tentang seekor burung beo yang pandai berbicara:

Seorang pedagang minyak sangat menyukai burung beo peliharaannya karena kepandaiannya mengoceh dan kebisaannya menjaga kiosnya ketika ia sedang keluar.

Suatu hari, ketika si beo sedang sendirian di kios, seekor kucing menjatuhkan sebuah toples minyak. Ketika si pedagang kembali ke kiosnya dia menyangka bahwa si beo yang menjatuhkan toples itu. Karena marah dihantamnya kepala si beo berulang-ulang sampai bulu-bulu di kepalanya tercerabut. Sang beo pun kelenger dan kehilangan kemampuannya berbicara sampai beberapa hari saking shocknya.

Dan pada suatu hari kemudian, si beo melihat ada seorang tua yang botak berjalan melewati kios. Mendadak si beo bisa berbicara lagi, dengan bersemangat ia berteriak, ”Hai orangtua, toples minyak siapa yang engkau tumpahkan ?

Orangtua itu tersenyum. Si beo tidak tahu bahwa kebotakannya adalah karena usianya, bukan tercerabut karena dipukuli kepalanya.

.: Makanya …! Jangan suka nyama-nyamain.

Bandung - 08/08/08 [Alih bahasa oleh wiwin.wr dengan sedikit kreasi]

emas dan Pasir …

Friday, August 22, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 0:34 | Anda mau email artikel ini ?

The Wisdom of Al Hakim At Tirmidzi….. merupakan terjemahan dari Adabu-n-Nafsi, di dalamnya ada uraian tentang kehendak hawa-nafsu, …. mari kita simak, MARI KITA BELAJAR DARI MEREKA.

- Mau melanjutkan …

Umat yang NABI Saw rindukan …

Thursday, August 21, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA SULUK pk. 20:35 | Anda mau email artikel ini ?

Rasulullah Saw.. berwashiyah kepada Abu Hurairah ra,

"Wahai Abu Hurairah, hendaklah engkau mengikuti jalan suatu kaum, yang jika manusia merasa takut, mereka tidak takut. Jika manusia mencari keselamatan dari api neraka, mereka tidak takut … "

Abu Hurairah ra bertanya, "Siapakah mereka itu yaa Rasulullah, terangkan dan jelaskanlah ihwal mereka itu kepadaku hingga aku dapat mengenali mereka … "

Rasulullah Saw. menjawab,

"Mereka itu suatu kaum dari umatku di akhir zaman. Kelak mereka berkumpul pada Hari Qiyamah di tempat berkumpulnya para Nabi. Jika manusia memandang mereka, manusia mengira bahwa mereka itu para Nabi dari keadaan yang mereka lihat, hingga aku beritahukan kepada mereka. Aku katakan ‘Umatku, umatku …’ Maka para makhluk mengetahui bahwa mereka bukanlah para Nabi. Mereka bagaikan kilat dan angin, pandangan mata yang hadir terkesiap dengan pancaran cahaya mereka … "

Abu Hurairah ra berkata, "Yaa Rasulullah, kemukakan kepadaku amalan- amalan mereka, mudah-mudahan aku dapat mengikuti mereka … "

Rasulullah Saw. menjawab, "Wahai Abu Hurairah, kaum itu menempuh suatu jalan yang sangat terjal hingga sampai kepada tingkatan para Nabi. Mereka memilih lapar setelah Allah memberi mereka rasa kenyang, memilih telanjang setelah Allah memberi mereka pakaian, dan memilih haus setelah Allah memberi mereka rasa puas. Mereka meninggalkan itu semua karena mengharap apa yang ada di sisi-Allah. Mereka meniggalkan yang halal karena takut dengan Hisab. Mereka mempergaulinya dengan badan-badan (lahiriyah) mereka, tetapi mereka tidak menyibukkan diri dengan suatu apapun darinya. Para Nabi dan para Malaikat takjub dengan ketaatan mereka kepada Allah. Kebahagiaan bagi mereka, kebahagiaan bagi mereka, aku sangat ingin agar Allah menghimpunkan aku bersama mereka" …

Kemudian Rasulullah Saw. menangis karena rindu kepada mereka. Lalu beliau Saw. berkata, "Jika Allah hendak mengazab penghuni bumi, lalu memandang mereka, maka Dia berpaling dan tidak jadi menurunkan azab. Hendaklah engkau, wahai Abu Hurairah, mengikuti jalan mereka. Barang siapa berpaling dari jalan mereka, maka ia akan kelelahan dalam kerasnya Hisab" …

 

Bandung - 19/07/2008 ….. Mudah-mudahan bermanfaat.
[Belum diperoleh sumber aslinya. Saya memperolehnya dari seorang sahabat.]

Aspek Kesadaran Insaan …

Wednesday, August 20, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 16:51 | Anda mau email artikel ini ?

Bilamana bicara tentang Ego, maka struktur model PsikoAnalitik dari Freud menjelaskan ada Internal Desire [Id] dan ada Super-Ego. Ego adalah pusat kesadaran, melalui mana Id dan Super-Ego dalam diri (yang ragawi) seorang manusia melakukan interaksi dengan lingkungan.

Ego adalah Pusat kesadaran manusia, ia adalah yang menjadi penentu dari karakter seorang manusia. Dalam pengertian yang lebih umum, karakter dipengaruhi oleh 3 faktor yakni pikiran, perasaan dan keinginan. Pada umumnya terjadi “keseimbangan” antara ketiganya namun suatu ketika perasaan bisa lebih dominan atau keinginan atau pikiran.

- Mau melanjutkan …


Halaman: 1 2 3 4

Mental Budak …

Tuesday, August 19, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di MANAJEMEN pk. 17:05 | Anda mau email artikel ini ?

Coba bayangkan,

Boss: Besok tanggal 10 anak-buahmu harus datang rapat dan jangan terlambat, tepat jam 10 ! Mereka datang jauh-jauh India hanya untuk rapat proyek ini.
Manajer: Lho pak. Tanggal 10 kan hari Minggu.

Boss: Iya saya tahu, emang saya bodo apa. Kenapa waktu mereka minta tanggal 10 anak-buahmu diam saja ? Dan tanggal 11 juga dilanjutkan rapatnya ya !!
Manajer: (gara-gara anak-buah tidak lihat kalender dijadikan alasan nih, si bos bukannya membela pihaknya sendiri malahan membela orang asing yang ngejebak orang senegerinya) Mereka di hari minggu kan bukan menjadi haknya perusahaan pak. Hari Sabtu dan Minggu kan haknya urusan sosial mereka. Kita juga merebut hak istirahat mereka. Secara manajemen itu kan tidak baik. Mereka akan menjadi lelah dan seminggu berikutnya mereka tidak akan efektif kerjanya, kan kita sendiri yang rugi !!

- Mau melanjutkan …

Gerhana bulan sebagian …

Sunday, August 17, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA SULUK pk. 4:30 | Anda mau email artikel ini ?

Sahabat Pembaca.

Di sepertiga terakhir malam Nisfu Syaban, Ahad tanggal 15 bulan Syaban 1429 H. dimana kita menunaikan sholat yang Rasulullaah Saw. ajarkan, 100 roka’at dengan 50 kali salam, membaca Al Fatihah dan 10/11 kali Al Ikhlas di tiap roka’at, jam 02 dinihari terjadilah gerhana bulan yang melintasi sebagian wilayah negeri kita.  Bertepatan dengan peringatan kemerdekaan negeri kita 17 Agustus, 1945-2008 ke 63.

 

Mari kita syukuri fenomena alam yang seperti ini. Sebuah Maha Karya dari Allah Ta’ala Yang Maha Agung. Kita coba tafakuri, mencari makna yang sesungguhnya, yang hendak Allah Ta’ala sampaikan kepada makhluk-makhluk-Nya. Semoga Allah Ta’ala memudahkannya.

Bandung - 17/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Keyakinan membangun harapan …

Friday, August 8, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 8:08 | Anda mau email artikel ini ?

Pada kurun awal penyebaran agama Islam, banyak orang terpelajar yang nenek moyangnya telah menyembah patung atau api mulai mempertanyakan tentang praktek irasional ini. Ada dua kakak beradik penyembah api yang merasakan hal ini. Salah satu dari mereka mempunyai ide untuk memasukkan tangan mereka ke dalam api. Jika  terbakar berarti mereka harus berhenti menyembah api dan mulai memeluk Islam. Demikianlah mereka mengadakan upacara penyembahan kepada api, meminta kepada sembahan nenek moyang mereka itu untuk tidak membakar mereka, akan tetapi saat mereka memasukkan tangan ke dalam api, terbakarlah mereka.

Sang kakak mengatakan bahwa ia akan menyelidiki Islam. Adiknya mundur dan mengaku belum siap untuk membuang agama warisan budaya, agama nenek moyangnya.

Lalu pergilah sang kakak ke masjid terdekat. Ia begitu terpesona dan kagum melihat semua orang yang sedang shalat bersama, tanpa ada perbedaan kelas atau golongan. Budak berdiri di samping orang-orang penting, kaya dan miskin bercampur gaul. Qalb sang penyembah berhala itu pun tergerak oleh kebenaran dari ayat- ayat kitab suci yang dibacakan, dan penjelasan tentang Tuhan yang disampaikan seorang Ustadz. Ia pun bangkit ketika shalat berjama’ah selesai dan menyatakan niatnya untuk memeluk Islam. Para jama’ah disana begitu tersentuh dan gembira dengan keikhlasannya. Dan karena jelas tampak bahwa ia seorang yang miskin, beberapa dari penganut Islam yang kaya menawarkannya pinjaman uang atau menawarkan untuk memberi pekerjaan. Orang itu menolak semua tawaran pertolongan tersebut, sambil berkata bahwa Tuhan telah menolongnya bahkan pada saat ia masih belum masuk Islam dan kini ia telah memiliki keyakinan, tentulah ia dapat melanjutan bergantung hanya kepada Allah saja.

- Mau melanjutkan …

Kaya atau miskin … ?

Wednesday, August 6, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 15:31 | Anda mau email artikel ini ?

Cinta bagai AngurKaya dan miskin hanyalah sebatas "rasa-membutuhkan akan segala sesuatu", selama seseorang masih merasa membutuhkan suatu materi maka selama itu pula ia akan merasa miskin, sebaliknya ketika seseorang merasa bahwa ia hanya membutuhkan Allah Ta’ala semata maka saat itulah ia faqir [membutuhkan] dihadapan Rabb-nya tetapi ia kaya dihadapan segala makhluk, karena tidak membutuhkan.

Dikisahkan, syahdan selama beberapa tahun Ibrahim bin Adham melanjutkan perjalanannya. Mengemis untuk makan, belajar dari dunia dan mengajar dengan contoh.

Suatu saat, berjumpalah ia dengan seseorang lelaki yang ingin memberinya sedikit uang. Ibrahim bin Adham berkata, “Jika engkau kaya, aku akan menerima  pemberianmu, tetapi tidak akan aku mau menerimanya jika engkau ternyata miskin.“
Lelaki tadi meyakinkan Ibrahim bin Adham bahwa ia sangat kaya.
“Berapa banyak uang yang kau punya?“
“Aku punya lima ribu keping emas.“
”Apakah engkau ingin punya sepuluh ribu keping emas?”
”Ya, tentu saja.”
”Apakah engkau akan lebih senang jika punya dua puluh ribu keping emas?“
”Ya, itu tentu lebih baik."

“Kalau begitu engkau sama sekali tidak kaya! Engkau lebih membutuhkan uang ini daripada aku. Aku puas dengan apapun pemberian-Nya. Tidak mungkin aku menerima apapun dari seseorang yang selalu mengharap lebih banyak.“

Kaya atau miskinkah kita ?

[
Blockquote text diambil dari: Cinta Bagai Anggur, cetakan 2, PICTS.
Sedikit icip-icip dari buku ini.
Cetakan ke-3 atau edisi 2 akan segera muncul, Insya Allah, diterbitkan oleh "Pustaka Prabajati", silahkan berlomba membelinya karena isinya sangat-sangat bagus, termasuk salah satu buku bacaan favorit saya. Bisa dipesan disini.
]

Bandung - 05/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Siapakah aku … ?

Tuesday, August 5, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA SULUK pk. 20:26 | Anda mau email artikel ini ?

Di sebuah majalah bulanan, ada artikel tentang “Siapakah aku” yang diawali dan diakhiri dengan cuplikan kalimat yang pernah dibaca oleh penulisnya,

……… diawali dengan sebuah kisah:

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, pernah ditanya: “Guru, di manakah tempat tinggal anda ?”
“Saya tidak tinggal dimanapun,” jawab Ajahn Chah.
“Bukankah Guru tinggal di vihara ?” tanya seorang jamaah dengan penasaran.
“Saya tidak tinggal di mana pun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah. Karena Ajahn Chah tidak ada, maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat,” jawab sang Guru.

……… diakhiri dengan sebuah syair:

Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah.
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir zaman.
Dan ruhku akan kembali kepada Sang Khalik.

……… ditutup oleh penulisnya dengan sebuah pertanyaan:

SIAPA atau APAKAH “aku” PADA KALIMAT DI ATAS ?

- Mau melanjutkan …

Lukman mengajari anaknya …

Monday, August 4, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA SULUK pk. 11:54 | Anda mau email artikel ini ?

[saya lupa dari mana asal kisah ini, saya tulis sesuai ingatan saya]

Syahdan Lukman yang memiliki seekor keledai hendak mengajari anaknya tentang kehidupan ini, maka suatu hari ia mengajak anaknya untuk pergi ke pasar. Untuk itu ia menyuruh anaknya menyiapkan keledai mereka. Kemudian mereka berangkat.

Lukman menaiki keledainya dan menyuruh anaknya berjalan kaki mengikuti disampingnya. Selang beberapa waktu kemudian mereka berpapasan dengan rombongan musafir dan orang-orang itu berkata, “Dasar orangtua yang mau enaknya sendiri, anaknya disuruh berjalan kaki sedangkan ia naik di atas keledai”.

Mendengar itu kemudian Lukmanpun turun dan menyuruh anaknya naik ke atas keledai. Anaknya naik keledai dan Lukmanpun berjalan kaki mengikuti disampingnya. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan kafilah yang lain lagi dan mendengar orang-orang di kafilah itu bergumam, “Dasar anak tidak tahu diri, orangtuanya disuruh berjalan kaki sedang ia enak-enak saja di atas keledai.”

- Mau melanjutkan …

Iman, Ilmu dan Amal …

Sunday, August 3, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA SULUK pk. 23:49 | Anda mau email artikel ini ?

Di seputar abad ke tujuh Masehi, Allah Swt. mengutus manusia pilihan-Nya untuk menjadi rahmat-Nya kepada semua makhluk-Nya di semesta alam-alam ini. Sang Utusanpun kemudian melaksanakan tugasnya di bumi Allah ini, menjadi Nabi Pamungkas-Nya [khatama-n-Nabiyyina] dan mengajari umat manusia berbagai hal.

Sang Rasul, junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw., menerima kitab Al Quran dan mengajarkannya, melalui cerita yang diriwayatkan secara turun-temurun, yang kita kenal sebagai hadis Nabawi, yakni kumpulan riwayat sabda suci Rasululah Saw.

Tentang hubungan antara iman dan amal, demikian sabdanya,

“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”…. [HR. Ath-Thabrani] kemudian dijelaskannya pula bahwa, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”…. [HR. Ibnu Majah dari Anas, HR. Al Baihaqi] Selanjutnya, suatu ketika seorang sahabatnya, Imran, berkata bahwasanya ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, amalan-amalan apakah yang seharusnya dilakukan orang-orang?". Beliau Saw. menjawab: "Masing-masing dimudahkan kepada suatu yang diciptakan untuknya"…. [HR. Bukhari] “Barangsiapa mengamalkan apa yang diketahuinya, niscaya Allah mewariskan kepadanya ilmu  yang belum diketahuinya.”…. [HR. Abu Na’im] ”Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu lisan, itulah hujjah Allah Ta’ala atas makhlukNya, dan ilmu yang di dalam qalb, itulah ilmu yang bermanfaat.” …. [HR. At Tirmidzi] ”Seseorang itu tidak menjadi ‘alim (ber-ilmu) sehingga ia mengamalkan ilmunya.” …. [HR. Ibnu Hibban]

Sekali peristiwa datanglah seorang sahabat kepada Nabi Saw. dengan mengajukan pertanyaan:

”Wahai Rasulullah, apakah amalan yang lebih utama ?” Jawab Rasulullah Saw.: “Ilmu Pengetahuan tentang Allah ! ” Sahabat itu bertanya pula “Ilmu apa yang Nabi maksudkan ?”. Jawab Nabi Saw.: ”Ilmu Pengetahuan tentang Allah Subhanaahu wa Ta’ala ! ” Sahabat itu rupanya menyangka Rasulullah Saw salah tangkap, ditegaskan lagi “Wahai Rasulullah, kami bertanya tentang amalan, sedang Engkau menjawab tentang Ilmu !” Jawab Nabi Saw. pula “Sesungguhnya sedikit amalan akan berfaedah bila disertai dengan ilmu tentang Allah, dan banyak amalan tidak akan bermanfaat bila disertai kejahilan [1] tentang Allah”….[2] [HR. Ibnu Abdil Birr dari Anas]

[1] kejahilan adalah kebodohan yang terjadi karena ketiadaan ilmu pengetahuan.
[2] Dengan demikian, kualitas amal setiap orang menjadi sangat berkaitan dengan keimanan dan ilmu-pengetahuan karena ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya … QS.[10]:9. Ilmu pengetahuan tentang Allah Subhanaahu wa Ta’ala adalah penyambung antara keimanannya dengan amalan-amalan manusia di muka bumi ini. Sebagaimana kaidah pengaliran iman yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. bahwasanya iman adalah sebuah tashdiq bi-l-qalbi yang di ikrarkan bi-l-lisan dan di amalkan bi-l-arkan …

- Mau melanjutkan …

Kroco at work …

Saturday, August 2, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di MANAJEMEN pk. 12:22 | Anda mau email artikel ini ?

Mari bayangkan, dianggap beneran juga boleh, up to you lah.

Di sebuah “Design Office” ada seorang pegawai muda, sebut saja namanya si Kroco yang menunjukkan prestasi kerja dan kemampuan yang di atas rata-rata, above average, demikian orang-orang menyebutnya. Dan karena kemampuan serta ketrampilannya maka hasil kerjanya juga bagus dan para manajer proyek yang menugasinya merasa puas dengan hasil kerjanya.

Si Kroco pun sangat rajin dan iapun juga menyukai pekerjaannya walaupun untuk itu ia seringkali harus bekerja “overtime” mengejar deadline yang ditentukan oleh manajer-manajer proyek yang menugasinya. Selain itu si Kroco juga orang yang supel dan ramah, sikapnya menunjukkan ia selalu siap untuk melaksanakan tugas desain apapun yang diberikan oleh seniornya.

- Mau melanjutkan …

Saridin ber-syahadat …

Friday, August 1, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 18:24 | Anda mau email artikel ini ?

oleh: Emha Ainun Nadjib

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.

Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat. Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur’an ana biashwatikum - hiasilah Qur’an dengan suaramu.

Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.

Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur’an, lidah mereka lincah banget. Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.

- Mau melanjutkan …

Buncis dalam periuk …

Thursday, July 31, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:56 | Anda mau email artikel ini ?

Lihatlah buncis dalam periuk.
Betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan,
merintih terus menerus tiada henti.
Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?
Engkau membeliku: Mengapa kini kau siksa aku seperti ini ?

Sang Isteri memukulnya dengan penyendok.

“Sekarang,” katanya, “jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencian-ku, sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup: kesengsaraan bukanlah penghinaan.

Ketika engkau masih hijau dan segar,
engkau minum air dari kebun: air minum itu demi api ini.

- Mau melanjutkan …

Demi sebuah tugas …

Wednesday, July 30, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 15:39 | Anda mau email artikel ini ?

Seseorang berkata: “Ada sesuatu yang telah aku lupakan !”

Rumi's Divine Dance, Sema - Whirling DervishesRumi menjawab: Ada sesuatu di dunia yang tidak boleh dilupakan. Jika kamu melupakan semua yang lain tetapi tidak melupakan yang satu itu maka kamu tidak perlu cemas. Tetapi jika melakukan dan mengingat segala yang lain tetapi melupakan yang satu itu maka kamu sesungguhnya tidak melakukan apapun yang berharga.

Ibaratnya ketika seorang raja mengirimmu ke suatu negeri untuk menjalankan sebuah tugas khusus. Jika kamu pergi dan menyelesaikan seratus tugas lain namun lupa melakukan tugas yang khusus itu maka ini seolah-olah kamu tidak melakukan apa-apa.

Jadi…., setiap orang memasuki dunia ini demi sebuah tugas khusus dan itulah tujuan mereka…. Jika mereka tidak melaksanakannya maka mereka sesungguhnya mereka tidak melakukan apa-apa….”

Segala sesuatu dibebani sebuah tugas … !

- Mau melanjutkan …

Tetap ingkar …

Tuesday, July 29, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:27 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi berkata,

Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “
Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur …
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar ….
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang …..
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang ……
Keajaibannya tak terlukiskan: Mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini ?

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorangpun diantara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa-nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa …

Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina. Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.

Maulana Jalaluddin Rumi – Matsnawi III, 53

[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]

- Mau melanjutkan …

Tidur dan terlena …

Monday, July 28, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:13 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi berkata,

Seseorang yang tinggal bertahun-tahun di suatu kota,
setelah ia tertidur segera,
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan,
serta kotanya sendiri hilang dari pikirannya.

Ia tak pernah berkata kepada dirinya, “Ini sebuah kota-baru; aku adalah seorang asing disini”; [1]

Sebaliknya, ia membayangkan selalu tinggal di kota ini, dilahirkan dan dibesarkan disini. [2]

Apakah mengherankan apabila kemudian,
diri tidak ingat lagi akan kampung halamannya dan tanah kelahirannya,
karena ia lelap saat di dunia ini, bagai sebuah bintang diselimuti awan ?

Apalagi saat ia melangkahkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu. [3]

- Mau melanjutkan …

Khutbah Nasruddin …

Sunday, July 27, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 12:14 | Anda mau email artikel ini ?

The Fabulous adventure of Nasruddin HojaSuatu ketika, orang-orang di kota mengundang Nasruddin untuk menyampaikan khutbah di sebuah majelis.

Ketika tiba di mimbar, dia mendapati bahwa sebagian besar hadirin dalam majelis itu tidak terlampau bersemangat untuk mendengarkan khutbahnya. Sesudah menyampaikan salam, Nasruddin bertanya kepada hadirin, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Hadirin serempak menjawab, “Tidak !” Sebab itu Nasruddin berkata, “Aku tidak punya keinginan untuk berbicara kepada orang-orang yang tidak mengetahui apapun tentang apa yang akan aku bicarakan” kemudian berjalan turun dari mimbar dan meninggalkan majelis.

Orang-orang merasa tidak enak hati kepadanya dan mengundangnya lagi pada keesokan harinya.

Keesokan harinya, sesampai di mimbar, Nasruddin mengulang pertanyaan yang sama dan hadirinpun menjawab, “Ya !”. Maka Nasruddin berkata, “Baiklah, karena kalian sudah tahu apa yang akan aku katakan maka aku tidak akan membuang waktu kalian yang sangat berharga.” Kemudian ia turun dari mimbar dan berjalan pulang. Kali ini orang-orang benar-benar dibuat bingung dan akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi dan mengundangnya agar datang lagi minggu depan menyampaikan khutbah.

Minggu depannya, ketika naik mimbar, Nasruddin lagi-lagi bertanya yang sama, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Kali ini hadirin sudah bersiap-siap untuk pertanyaan itu, maka sebagian dari mereka menjawab “Tidak !” dan sebagian lagi menjawab “Ya !”

Nasruddin pun berkata lagi, “Baiklah, kalau begitu sebahagian yang sudah tahu bisa menceritakan kepada sebahagian lainnya yang belum tahu” dan ia pun kemudian turun meninggalkan mimbar.
 

Bandung - 17/07/2008 [Mulla Nasruddin stories, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2008]