Menara Pencakar Langit …
Wednesday, May 21, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Perbandingan SkyScrapper, Burj Dubai belum disertakan. Gambar berasal dari sini.
Perkembangan teknologi zaman ini membuat manusia semakin mudah berkomunikasi, aktif bergerak dengan interaksi antar sesama yang tinggi, akibatnya kebutuhan ruang untuk beraktifitas semakin besar. Dengan adanya pertambahan penduduk dan urbanisasi menjadikan harga tanah di kota semakin mahal. Satu-satunya solusi adalah membuat ruang hunian dan ruang aktifitas yang bersusun ke atas. Dengan bangunan yang lantainya berlapis-lapis maka pertambahan kebutuhan ruangan, baik yang untuk hunian maupun yang untuk beraktifitas dapat diakomodasikan di atas lahan yang lebih sempit.
[Penuh dengan gedung bertingkat. Solusi teknis dalam tata ruang perkotaan.]
Demikianlah, gedung-gedung bertingkat tinggi menjadi solusinya, dan sejak itu manusia seakan berlomba-lomba membangun Pencakar Langit.
FAKTA SEJARAH
Ada satu kaum yang hidup ribuan tahun yang lalu, tepatnya 5750 tahun silam atau kira-kira tahun 3750 SM di sebelah selatan Jasirah Arabia di tanah Ash-Shahr yang terletak di antara Hadramaut dan Oman. Disitu ada lembah Mughith dan kota tempat tinggal mereka bernama Irom.
Mereka adalah keturunan Aad atau bani Aad ibn Aush ibn Sam ibn Nuh as. Dan dinamai dengan kaum Aad. Mereka adalah anak cucu Nabi Nuh as., yang sesudah “banjir” mereda, menyusuri wilayah timur jasirah Arabia dan bergerak ke Selatan kemudian bermukim lembah Mughit tersebut di atas.
Mereka adalah kaum yang, di Al Quran, Allah Ta’ala nyatakan sebagai kaum yang kuat, tubuhnya besar-besar dan pandai. Mereka memiliki teknologi membuat tiang-tiang yang tinggi, suatu teknologi membuat bangunan yang pada masa itu belum dimiliki oleh kaum lainnya. Mereka juga bukan kaum yang tidak mengenal Allah dan bukan pula kaum yang tidak mau mengabdi kepada Allah, hanya saja banyak hal lainnya yang mereka sandingkan atau mereka pertuhankan yang selain dari Allah.
Kemudian Allah Ta’ala menurunkan seorang Nabi yang masih saudara mereka sendiri, bernama Hud ibn Shalikh ibn Arfakhshad ibn Sam ibn Nuh as, adalah salah satu dari Nabi-Nabi bangsa Arab. Tugasnya sebagai Rasul Allah untuk menyeru kaum Aad dan membacakan ayat-ayat Allah, agar mereka kembali mengabdi kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Allah dengan ilaah-ilaah lainnya. Akan tetapi mereka tidak mempercayai Nabi Hud as. dan tidak menghiraukan seruan sang Nabi. Jadilah mereka sebuah kaum yang kufur kepada Allah, sampai suatu ketika datanglah azab Allah yang didahului dengan kemarau panjang dan kemudian disusul dengan badai pasir, angin berputar yang membinasakan mereka.
Azab Allah yang disebabkan oleh perilaku sebuah kaum, selalu datang dari Jabarut-Nya, untuk menjadi bahan tadzakur bagi umat berikutnya, dan bila azab telah datang maka tidak ada seorang manusiapun yang dapat berlindung dari azab itu.
Saya membahas hal ini bukan dengan maksud untuk menghujat apalagi menghakimi mereka melainkan untuk mencoba mencari pelajaran dari kisah itu sebagaimana Allah firmankan bahwasanya kisah-kisah para Nabi adalah bahan pelajaran bagi umat manusia. Sebejat-bejatnya sebuah kaum, mereka tetap makhluk yang Diciptakan Allah dan Allah adalah Pemelihara mereka, hanya saja mereka tidak mau memikirkannya apalagi mengakui hal itu.
ADAKAH HUBUNGANNYA ZAMAN INI ?
Jelas kita bukan kaum Aad dan Nabi yang Allah Ta’ala hadirkan untuk kita juga bukan Nabi Hud as, tetapi mengapa Allah Ta’ala melalui Nabi kita, Muhammad Saw, mengabadikan kisah kaum Aad dengan Nabi Hud as. dalam Al Quran bahkan menjadikan “Hud” sebagai nama surat, Surat 11.
Adakah hubungan antara zaman itu dengan zaman sekarang ? Tentu ada. Al Quran bukan hanya merupakan kisah orang-orang zaman dulu saja, sebab itu, di zaman ini pasti ada sesuatu yang merupakan kesamaan turunan atau derivative atau ‘tipikal secara konsep’ dengan zaman kaum Aad.
Seandainya, sekali lagi seandainya (karena ini hanya ‘bayang-bayang’ saya saja yang berprofesi dalam bidang konstruksi bangunan), ini merupakan suatu derivative dari zaman kaum Aad. Di zaman ini banyak orang pandai dan sebagian mereka telah berhasil mengembangkan teknologi untuk membuat bangunan tinggi yang menjulang ke langit yang disebut bangunan pencakar langit. Adakah kemiripan dengan kaum Aad yang juga membangun tiang-tiang tinggi yang menjulang ke langit ?
Bila menurut sahabat tidak ada hubungannya ……. ya sudah saja, tetapi kalau sahabat melihat hubungannya, mari kita lanjutkan.
Dan dengan pengabadian kisah itu dalam Al Quran, kita dituntut untuk mencari pesan yang Allah Ta’ala hendak sampaikan kepada kita, bahwa kaum yang seperti itu pada akhirnya menerima azab yang mematikan. Tindakan mengazab itu tidak relevan untuk dibicarakan disini karena bukan wewenang kita, akan tetapi mengapa diturunkan azab dan bentuk azabnya itulah yang harus dikaji. Sebagaimana kita meneliti kesalahan para pendahulu kita demi untuk memperbaiki kualitas hidup kita, suatu metoda yang sudah kita kenal sejak zaman kita sekolah dahulu. Belajar dari kesalahan yang diperbuat orang lain agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan itu.
Apa saja kesalahan kaum Aad yang Allah Ta’ala sampaikan kepada kita sebagai bahan pelajaran bagi kita ? Dari sekian banyak pelajaran yang ada dalam persoalan itu, kita batasi dengan membahas 3 hal saja.
Yang pertama. Mereka mengingkari Hud as., saudara mereka sendiri, yang Allah Ta’ala angkat menjadi seorang Nabi dan diutus-Nya sebagai Rasul Allah untuk mereka.
Kemudian Nabi Hud as. berkata kepada kaumnya : "Hai kaumku, mengabdilah kepada Allah, sekali-kali tidak ada Ilaah bagimu selain DIA. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya ?" QS.[7]:65.
Kita beruntung tidak hidup pada zaman itu, karena bisa saja kita manjadi bagian dari kaum yang menjawab seruan Nabi mereka dengan kata-kata: "Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta." QS.[7]:66. terhadap itu, Nabi Hud as. menjelaskan kepada pemuka kaum Aad: "Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah Rasul dari Rabbu-l-Alaamiin. Aku menyampaikan amanah-amanah [risalah-risalah] Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu." QS.[7]:67-68. “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Rabbu-l-Alaamiin.“ QS.[26]:127. Kaum Aad menjawab lagi: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah [mengabdi] kepada Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah [diabdi] oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar [ash Shadiqiin]." Terhadap jawaban itu, Nabi Hud as. menanggapi dengan berkata: ”Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu."
Kaum Aad, adalah kaum yang dipilih Allah Ta’ala untuk dijadikan-Nya sebagai kaum yang tidak percaya dan heran bahwa peringatan dan pelajaran Allah Ta’ala datang kepada mereka dengan dibawa oleh seorang laki-laki saudara mereka sendiri. Mereka juga lupa bahwasanya Allah Ta’ala telah menetapkan mereka sebagai pengganti dari kaum yang sebelumnya (kaum nabi Nuh as.) dengan memberikan kekuatan lebih pada tubuh dan perawakan mereka.
Yang kedua. Teknologi kaum Aad, sangat tinggi sehingga mereka dapat membangun tiang-tiang yang menjulang ke langit. Di dalam Al Quran disebut “dzaati-l-imad”. Kaum Aad mendirikan tiang-tiang tinggi mereka pada zaman yang jauh sebelum Pharaoh di Mesir membangun piramida pertamanya.
Selain hal di atas, wilayah tempat kaum Aad tinggal adalah daerah yang sangat subur, dihembus dengan angin dari 2 jurusan yang secara bergantian pada setiap musim yang berbeda, filsuf Yunani menyebut daerah itu sebagai “Edaimonia Arabia” atau Arabia yang beruntung, orang bule (orang Amrik dan Kanada) menyebutnya Arabia-Felix atau Happy-Arabia.
[ Negeri kita juga dihembus secara bergantian oleh Angin dari Barat dan Angin dari Timur masing-masing pada musim hujan dan musim kemarau …..… Betul begitu ? ]
Kita tidak hidup di zaman itu dan tentunya kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana cara mereka mendirikan tiang-tiang itu. Tetapi kalau kita berprofesi di bidang pembangunan, maka kita pasti mengetahui bahwasanya dibawah tiang-tiang itu ada fondasi yang mengikatkan tiang itu secara kokoh dengan tanah. Tanah atau bumi digunakan sebagai hamparan dari tiang-tiang itu. Sama seperti kalau kita membangun gedung tinggi pada zaman ini. Selalu ada bagian dari bangunan yang tertanam dalam bumi, yang menghunjam kuat ke bumi yang dengan kokohnya mengikat bangunan yang ada diatasnya, yang menjulang ke langit.
Pohon yang baik, syajarotin thoyyibah, adalah yang akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit dan berbuah sepanjang musim atas perkenan Allah. Sebuah perumpamaan yang Allah Ta’ala gunakan untuk “kalimat yang thoyyibah”. Gedung Pencakar Langit, fondasinya pasti dirancang agar kuat dan kokoh menghunjam bumi dan bangunannya menjulang tinggi ke langit, sangat mirip dengan konstruksi pohon yang baik. Kalau buat saya sih, bukan saja mirip tetapi sama konstruksinya !! Bukankah teknologi fondasi berawal-mula dari konstruksi akar pohon.
Apa salahnya membangun gedung tinggi ? Sama sekali tidak ada !!!
Dengan adanya kemampuan seperti itu justru kita seharusnya banyak bersyukur kepada Allah Ta’ala, yang sudah memberi kita kemampuan itu. Mari kita coba mensyukurinya, dimulai dengan melihat bahwa konstruksi pohon yang baik adalah konstruksi yang juga ada pada Gedung Pencakar Langit.
Seorang sufi di Baghdad Abu Bakar ibn Dulaf ibn Jahdar Asy-Syibli wafat tahun 334H/946M [betulkah namanya, mohon koreksi bila ada salah] pernah berkata:
“Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh ditepi jalan. Dilempar orang ia dengan batu, dibalasnya dengan buah”.
Itulah essensi sebuah pohon, ia selalu memberikan hasil karyanya ( buah ) kepada makhluq lainnya dan tidak pernah untuknya sendiri. Bagi sebuah pohon, buah adalah rezki dari Allah Ta’ala baginya, karena dengannya ia menjadi bermanfaat bagi makhluk lain di alam semesta ini, eksistensi-diri bagi sebuah pohon. Bukankah nama sebuah pohon buah diambil dari nama buahnya.
Dimanakah “daun dan buah” gedung-gedung itu ? Kalau hanya dengan nalar saja maka kita akan terbahak-bahak, mana mungkin gedung beton bisa memiliki “daun dan buah”.
Mari kita mengingat teori biologi. Daun adalah tempat berlangsungnya proses photosintesa sebuah pohon (proses ini sudah bermanfaat bagi manusia karena proses itu menghisap karbondioksida dan menghasilkan oksigen) dan dari photosintesa maka sebuah pohon menjadi memiliki enersi untuk tumbuh untuk kemudian memproduksi buah.
Sebuah gedung dibangun tentunya untuk mewadahi kegiatan manusia dan aktifitas manusia di dalam gedung itu bisa menjadi ‘daun’ bagi gedung itu seperti ‘daun’ bagi sebuah pohon dan buah dari aktifitas manusia di gedung itu bisa dimanfaatkan oleh manusia lain.
Bila daun menjadi representasi “amal sholeh”, yakni semua amal yang sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala yang menciptakannya dan mengirimnya ke muka bumi ini. Buah adalah representasi “hasanah” yang adalah produk dari daun yang representasi dari amal sholeh. Artinya dengan ‘amal sholeh’ maka orang lain akan memperoleh “manfaat” dari kehadiran kita.
Masalahnya adalah seberapa sering suatu Board of Director atau Board of Commissioner meeting yang diselenggarakan di gedung itu menempatkan “manfaat bagi manusia” sebagai agenda utama dalam meeting itu. Bukankah biasanya agenda utama adalah “ekspektasi profit tahun berjalan” atau “profit tahun berjalan terhadap prediksi profit” atau “hal apa saja yang menjadi hambatan terhadap pencapaian profit” atau yang lainnya, tetapi tetap saja “profit oriented” …. [dan saya sendiri menjalani yang seperti ini … aaah].
Berdasarkan konsep daun dan buah bagi sebuah gedung, maka hanya dan hanya aktifitas manusia dalam gedung itu yang bisa memberi “daun dan buah” bagi gedung itu. Lantas kapan meeting-meeting yang semacam itu akan menempatkan “manfaat bagi makhluk” sebagai orientasi juga ?
Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini Allah Ta’ala gunakan untuk menempatkan ayat-ayat-Nya dan untuk dibaca oleh manusia, bukankah “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan di dalam anfus mereka sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu adalah Al Haqq.” QS.[41]:53. Dan teknologi yang dimiliki umat manusia zaman ini juga merupakan ayat-ayat-Nya. Yang intinya adalah memberikan tanda-tanda-Nya kepada seluruh umat manusia agar mereka mengenali-NYA melalui kehidupan ini.
Gedung Pencakar Langit, walaupun buatan manusia, tetap saja ayat-ayat Allah Ta’ala, yang digunakan-Nya untuk mengajari manusia. Salah satu cara Allah Ta’ala mengajari manusia adalah melalui perantaraan alam-semesta atau makro-kosmos. Dengan demikian, seyogyanya kita yang setiap hari melihat, mengamati, bekerja di dalamnya atau bahkan berprofesi membangun Gedung Pencakar Langit, mencari tahu dan berusaha mengenali makna dari bangunan yang tinggi itu dan mencoba memahaminya. Tidak ada salahnya mencari tahu tentang itu, dan sudah seharusnya kita mencari tahu, bukankah “Kepunyaan Allahlah timur dan Barat, maka kemanapun engkau palingkan wajahmu disitulah wajah Allah”… QS. [2]:115
Demikian pula Gedung Pencakar Langit, bangunan itu Allah Ta’ala ijinkan untuk hadir dihadapan kita, digunakan untuk mengajari kita dan kita memaknainya dengan konsep tentang “daun dan buah” yang dimiliki oleh pohon yang seharusnya juga secara simbolis dimiliki oleh Gedung Pencakar Langit itu. Mengingatkan kita sebagai manusia agar, secara simbolik, menjadi pohon yang berdaun dan berbuah. Dan masih banyak makna lainnya. Allah Maha Ilmu.
Yang ketiga. Azabnya berupa badai angin yang menggulung mereka dan membuat mereka beterbangan bagaikan batang pohon kurma yang hampa-kosong tidak berkayu, dan kemudian membinasakan mereka. Menjadikan mereka tidak di bumi dan tidak pula di langit.
Rasulullah Saw. bercerita bahwa Allah Ta’ala mengirimkan angin itu pada awalnya hanya sebesar cincin Beliau Saw. namun Beliau Saw. ditolong dengan angin Timur sedangkan kaum Aad dibinasakan dengan angin Barat melalui duburnya.
Kaum Aad, membangun tiang-tiang tinggi tersebut di atas bumi dan menggunakan bumi sebagai hamparannya. Menanam fondasi di dalam tanah, yang mencengkeram kuat ke dalam bumi agar bangunan di atasnya kokoh dan mampu menahan angin dan badai. Namun kaum Aad terbatas hanya menggunakan bumi sebagai hamparan untuk membangun sebuah benda yang walaupun tinggi tetapi tidak dimaknai sebagai bangunan yang membina langit. Tidak dilanjutkan dengan menumbuhkan daun-daun dan tentunya tidak ada buah-buahan sebagai hasilnya. Bumi harus digunakan sebagai hamparan untuk membina langit, dalam pengertian harus dilanjutkan dengan amal-amal sholeh yang akan memberikan manfaat bagi manusia lainnya. Membina langit dengan menjadikan bumi sebagai hamparan, itu yang harus kita lakukan di dunia ini.
Bukan untuk mengkoreksi atau bahkan menghakimi orang lain, tetapi semata-mata adalah untuk membangun “Gedung Pencakar Langit yang baik dalam diri kita”.
Fondasi gedung atau akar dari sebuah pohon harus kokoh dan kuat untuk mengambil makanan dan air, simbol dari ilmu pengetahuan. Sedangkan akar pohon itu sendiri adalah simbol dari keimanan atau aqidah. Daun, simbol dari amal yang sholeh digunakan untuk membentuk batang yang kokoh dan pada akhirnya menumbuhkan buah dari pohon itu. Simbol dari seorang manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Manusia adalah makhluk yang ditempatkan oleh Allah Ta’ala di muka bumi dan dijadikan pemakmurnya dan bumi ini dipusakakan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh.
Kaum Aad tidak melakukan hal tersebut secara lengkap. Mereka membuat tiang-tiang tinggi tanpa membaca hakekatnya. Dan Allah Ta’ala menurunkan badai yang menggulung mereka sehingga mereka beterbangan, tidak di bumi dan tidak dilangit, yang juga membinasakan mereka. Musnahlah kaum Aad, dan dengan rahmat Allah semata selamatlah Nabi Hud as. berikut para pengikutnya, yang secara simbolik telah membina langit dengan menggunakan bumi sebagai hamparan. “Ingatlah, kebinasaan bagi kaum Aad” QS.[11]:60
PENUTUP DAN RENUNGAN
Apakah kita akan mengikuti perilaku kaum Aad, yang hidup di muka bumi tanpa membaca hakekat dari apa yang mereka jadikan sebagai “ikon” zaman itu, tiang-tiang yang tinggi yang menjulang ke langit.
Dihadapan kita juga banyak gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, apakah akan kita biarkan saja bangunan itu berdiri tanpa memberikan sebuah arti apapun selain dari “ikon” kehidupan zaman moderen ini dan membiarkan saja sampai dengan Allah Ta’ala menghantam kita dengan “badai kehidupan dunia” yang akan membuat kita terhempas entah kemana.
Mari kita tumbuhkan setitik keinginan dalam diri kita untuk menjadi orang yang secara simbolik telah tumbuh daun-daunannya dan memberikan buahnya bagi manusia lainnya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menyambut keinginan kita dengan menarik kita ke jalan yang akan membawa kita kepada terkabulnya keinginan kita diatas. Mudah-mudahan pula Al-Fatihah yang kita baca sedikitnya 17 kali setiap hari menjadi lebih indah dan lebih bermakna.
Sebuah Gedung Pencakar Langit bisa menjadi sebuah benda yang bisu tetapi bisa pula menjadi ayat-ayat Allah, yang sangat indah, yang Allah Ta’ala hadirkan bagi kita.
Tergantung kepada cara kita melihatnya.
Bandung - 12/05/2004-12/05/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

