Thursday, May 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Banyak keterangan dan posting tentang "sabar dan syukur" yang bisa dilihat di publikasi-publikasi yang lisan, cetak maupun elektronik. Ini hanya salah satunya saja, yang mudah-mudahan bisa menambahi wacana-wacana yang sudah ada, tentunya dengan tidak menafikan publikasi - publikasi atau wacana - wacana yang sebelumnya. Semua bisa bermanfaat, tergantung cara mengambilnya. Segala sesuatu tidak ada yang sia-sia kan ?
KEDUDUKAN SABAR dan SYUKUR
At Tirmidzi dalam kitabnya ”al ilm al Awliyya” (yang saya baca tentu saja terjemahannya - Mata Air Kearifan) menjelaskan hal itu, dengan penjelasan yang menurut saya mudah untuk dicerna.
Saya kutipkan disini ya….., tetapi hanya bagian-bagian yang menurut saya adalah inti penjelasannya, saya berikan sedikit perubahan redaksional agar lebih nyaman dibacanya.
Seperti berikut ini.
Tentang kedudukan ”syukur”, Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: Bersyukurlah kepada-Ku QS.[31]:14.
Dan tentang ”sabar”, Allah SWT berfirman: Maka bersabarlah terhadap ketetapan Rabb-mu QS.[68]:48; Akan tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi Ash Shoobiriin QS.[16]:126.
Ada perbedaan nyata antara perkara yang disebut-Nya ”untuk Allah” yakni syukur dan perkara yang disebut-Nya ”untuk kamu” yakni sabar.
Salah satu kedudukan syukur adalah seperti yang Allah SWT firmankan: Bekerjalah [`amalu] hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah) QS.[34]:13.
Selanjutnya, ditulisnya, bahwa ’amal adalah perwujudan dari syukur sedangkan sabar berarti meninggalkan amal yang jelek’. Maksudnya adalah, syukur adalah beramal sedangkan sabar adalah menahan diri dari sebagian amal (mis. berkeluh kesah), yang di dalam keduanya (di dalam sikap sabar dan tindakan syukur) termasuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu. Jadi, ’beramal’ (syukur) menempati posisi lebih bila dibandingkan dengan meninggalkan ’sebagian amal’ (sabar). Jadi, sabar adalah mendahului syukur.
At Tirmidzi juga menyertakan hadis yang berikut:
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW berdiri dalam sholatnya sampai kedua telapak kakinya bengkak. Kemudian ditanyakan kepadanya: ”Wahai Rasulullah, mengapa Engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang ? Beliau SAW menjawab: ”Tidak bolehkan Aku menjadi hamba yang bersyukur?”
”Sungguh Aku lebih khawatir jika kalian mendapat fitnah (ujian) yang menyenangkan dibanding ujian yang menyengsarakan.”
At Tirmidzi juga menyertakan ucapan Abdurrahman bin Awf r.a. yang berikut ini,
”Ketika kami mendapat ujian yang menyulitkan, kami bisa bersabar, tetapi ketika kami mendapat ujian yang menyenangkan, kami tidak kuasa bersabar”
Jadi, sejauh sampai hari ini, yang saya mengerti adalah,
Sabar adalah sikap menahan diri dari beramal (tertentu) terhadap af’al Allah SWT yang dihadirkan-Nya kepada seorang manusia melalui makhluk - makhlukNya (termasuk manusia) di semesta alam ini …
Menahan diri dari beramal (tertentu) ? Masa iya sih ?
Iya ! Menahan diri dari beramal yang tidak sesuai dengan perintah-Nya. Misalnya: berkeluh-kesah, marah-marah, foya-foya, dan lain-lain hal yang urusannya dengan syahwat dan hawa nafsu.
Syukur justru sepenuhnya beramal dengan apa-apa yang Dia SWT berikan kepada diri manusia dan amal itu semata-mata didedikasikan untuk Dia SWT,…. tetap dengan meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan perintah-Nya.
Persoalan sabar dan syukur, dimulai dari bersabar dan harus selalu dilengkapi dengan kebersyukuran [1]. Sabar mendahului syukur dan sabar tidak lengkap kecuali bilamana syukur ada bersamanya.
Menempuh perjalanan sabar dan syukur adalah bershaf-shaf,….. shaf demi shaf harus dilampaui… Sampai akhirnya Allah SWT angkat ke peringkat dimana ia ”bisa” mengucapkan dengan seluruh dirinya: inna li-l-laahi wa inna ilaihi roji’un….. peringkat Ash Shobiriin.
Bagaimana bisa bersabar ?
Kali pertama saya bertemu dengan seorang Mursyid yang saya hormati, Beliau menyuruh saya untuk membaca QS.[16]:127 ”Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan billaah (dengan pertolongan Allah)….” kemudian dilanjutkannya menyuruh membaca QS.[2]:250: ”… Ya Rabbana, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” dan dilanjutkan dengan menyuruh membaca QS.[7]:126 ”….. Ya Rabbana, limpahkanlah kesabaran atas diri kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslimiin”……Kemudian Beliau berkata: ”Nak; Sabar, Tawakkal, Syukur, Ikhlas ya !” …. Saya jawab: ”Mohon doanya Bapak ya”
Kalau begitu, pastinya saya orang yang tidak sabaran ya ?
Disimpan di KAJIAN weBLOG Beranda Suluk.
Comments
by: mita darsono
at: 2008-08-30
Sabar, satu kata yg sll aku dengar dr setiap org yg aku jumpa, sejak aku kena stroke 3 th yl dan aku mjd lumpuh sbl, apalagi stlh suamiku menikah lg, krn dia merasa aku tdk bisa mengurus dia dan anak2, sakit hatiku tapi aku mencoba bersabar, apalagi stlh itu dia ingin menceraikan aku, aku serasa habis manis sepah dibuang, aku bertahan walau dia sering zolim dg tdk tidur dirumah, lupa kewajiban sbg seorg ayah dan suami tapi aku diamkan saja, krn aku mrs dia sdg mabuk cinta, tdk sadar dg apa yg dia perbuat.
Keluarga, teman2 menyarankan aku bersedia dicerai, krn aku sdh tidak dihargai lg, tp aku bertahan kdg prinsip hidupku menikah sekali seumur hidup, lama2 hilang sakit hatiku dan aku gak peduli lg dg apa yg dia lakukan, aku merasa mengumpulkan pahala dg kezoliman yg dia perbuat aku malah kasihan dg dia yg tdk merasa berdosa dg perbuatannyya, bodoh ya aku membiarkan diriku dizolimi terus oleh suamiku, aku hanya mikir inilah cara Allah membuat aku jadi selalu ingat Dia.
by: wiwin.wr
at: 2008-08-31
Mbak Mita.
Tidak ada yang bisa saya sampaikan kecuali sebuah doa; Semoga Allah Ta’ala berkenan untuk menambahkan kekuatan kepada Mbak Mita dalam menerima apa-apa yang diberikan-Nya dan menjadi jalan yang terbaik bagi diri Mbak Mita, dengan men-serta-kan berkah ummu-l-Kitab, Al Fatihah, bersama doa itu. Amin.
NB: Satu lagi, “… bodoh ya aku membiarkan diriku dizolimi terus oleh suamiku…” menurut saya, mbak Mita tidak bodoh dengan membiarkan diri Mbak menerima tindakan suami mbak.
by: mita darsono
at: 2008-09-01
Sabar dan keyakinan yg aku pegang, aku yakin Allah pasti akan menyembuhkan aku dan menyadarkan suamiku kembali kpd keluarga, tapi memang waktunya hanya Allah yg tahu krn Dia yg menentukan, aku bersyukur saja hingga saat ini aku msh bernafas dan selalu ada yg mendoakan aku agar aku kuat lahir bathin.
by: wiwin.wr
at: 2008-09-03
Iya mbak. Semoga Allah Ta’ala mudahkan bagi mbak dalam menjalaninya. Amin.
by: Hamba Allah
at: 2009-02-05
Asslm.wr.wb. Sy br saja menikah dgn suami saya. Sekitar 3 bulan. Tp diawal pernikahan dia sudah menyatakan bahwa dia tdk mencintai saya dan mencintai wanita lain. Dan berjanji tidak akan menyentuh sy.Sy berusaha menerima semuanya dg lapang dada.Sy tetap berusaha jd istri yg baik dgn melayani sebaik-baiknya. Sy mengetahui. Perempuan ini tidak mau mengalah dan tidak ingin melepas suami saya. Semakin lama mereka berdua semakin terang-terangan. Mulai dr sms dan telpon sembunyi-sembunyi.Hingga akhirnya terang-terangan di dpn saya. Hingga suami berencana menceraikan saya.Yang selalu sy pertanyakan adalah bagaimana bs perempuan itu berbuat sejahat itu?Apa jdnya kalau pengalaman sy dialami olehnya? Apa mereka begitu dibutakan oleh cinta, hingga bs berbuat apapun tanpa takut hukuman Allah? Sy mencoba bersabar dg semua abuse secara mental yg dilakukan oleh suami sy. Meskipun seringkali sy mengeluh pada Allah Rabb. Apakah itu bentuk ktdk sbran sy?Entah sampai dmn kesabaran saya bs bertahan.Apa yg harus sy perbuat?
by: wiwin.wr
at: 2009-02-06
Alaikumsalaam wr. wb.
Saya bersimpati atas yang sedang mbak dan suami hadapi.
Saya persilahkan membaca artikel tentang perkawinan disini
atau disini yang menurut hemat saya, disitu Jalaluddin Rumi menjelaskan secara kualitatif tentang arti dari “pernikahan adalah setengah dari agama”.
Terhadap pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan ?” saran saya sangat sederhana yakni “ajaklah suami [semampu yang bisa mbak lakukan] untuk mulai membangun cinta di antara mbak dan suami agar esensi perkawinan, sebagaimana uraian Maulana Rumi, dapat terwujud. Cobalah mengusahakan untuk menghidupkan pernikahan yang sudah kalian lakukan sampai kalian merasakan indahnya “cinta” dan indahnya “ridho”. Sebuah pernikahan bukanlah sebuah “ikatan untuk bisa saling menguasai” melainkan sebuah perjanjian yang tinggi nilainya, yang menurut AlQuran, setingkat dibawah perjanjian Allah dengan para Nabi-Nya.
Pernikahan adalah setengah agama dan raihlah setengah lagi dengan taqwa [demikian ajaran Rasulullah Saw] sedangkan perceraian [sesuatu yang Allah ijinkan tetapi tidak Allah sukai] adalah sebuah jalan keluar atas kebuntuan dalam sebuah pernikahan antara lain karena ketiadaan cinta dan faktor-faktor lain [dorongan-dorongan hawa-nafsu dan syahwat]; yakni kebuntuan, yang secara kualitatif adalah “setengah agama” tidak bisa tercapai.
Saran berikutnya, pernikahan mbak berdua adalah suatu hal yang telah Allah ijinkan untuk terjadi, dan mensyukuri apa-apa yang Allah hadirkan kepada mbak berdua [dalam kasus ini] adalah dengan berupaya mempertahankannya sampai sebatas “daya-pikul” kalian berdua agar menjadi “adil” bagi kedua belah pihak. Tentunya dengan sepenuhnya meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala sebagaimana QS.[2]:45 dan [2]:153.
Pada umumnya, di awal sebuah pernikahan atau bahkan sebelumnya, saat masih tahap pendekatan, cinta yang ada masih sarat dengan dorongan hawa dan syahwat [maaf] yang dengan berjalannya waktu, melalui pernikahan itu, mulai bergesar sedikit demi sedikit menuju kepada “cinta yang sesungguhnya yang lebih murni”.
Selamat berjuang dan semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan untukmu. Amin. Assalamulaikum wr. wb.