... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Sabar dan Syukur …

Thursday, May 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 12:59| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

BALASAN UNTUK SABAR dan SYUKUR

At Tirmidzi dalam kitab ”al ilm al Awliyya”, saya kutipkan disini,

Tentang balasan untuk syukur, Allah Swt. berfirman: Dan Kami akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur QS.[3]:145
Sementara itu, tentang sabar, Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya hanya orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas QS.[39]:10
Pada kedua ayat di atas, kita melihat bahwa untuk ”syukur” Allah Ta’ala menggunakan kata balasan sedangkan untuk ”sabar” dengan kata pahala.
”Pahala” adalah sesuatu imbalan yang bolak-balik atau semisal dalam jual-beli sedangkan ”balasan” adalah sesuatu yang diberikan atas sesuatu yang telah diterima sebelumnya atau semisal dalam hubungan saling memberi sebagai tanda kedekatan.
Orang sabar berhak mendapatkan surga sebagai pahala untuknya, sedangkan balasan bagi orang yang bersyukur adalah qurbah atau kedekatan dengan-Nya.

Selanjutnya At Tirmidzi menyertakan firman Allah tentang sabar :

QS.[2]:153 Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar.
Bahwa shalat adalah kebersyukuran, dan dari keterangan sebelumnya bahwa syukur adalah qurbah atau kedekatan maka, bagi orang yang bersyukur, pertolongan Allah sudah inherent di dalam kedekatan mereka dengan-Nya. Sedangkan kepada orang sabar, Allah perlu menjelaskan bahwasanya Dia menyertai mereka.

Comments

by: mita darsono
at: 2008-08-30

Sabar, satu kata yg sll aku dengar dr setiap org yg aku jumpa, sejak aku kena stroke 3 th yl dan aku mjd lumpuh sbl, apalagi stlh suamiku menikah lg, krn dia merasa aku tdk bisa mengurus dia dan anak2, sakit hatiku tapi aku mencoba bersabar, apalagi stlh itu dia ingin menceraikan aku, aku serasa habis manis sepah dibuang, aku bertahan walau dia sering zolim dg tdk tidur dirumah, lupa kewajiban sbg seorg ayah dan suami tapi aku diamkan saja, krn aku mrs dia sdg mabuk cinta, tdk sadar dg apa yg dia perbuat.
Keluarga, teman2 menyarankan aku bersedia dicerai, krn aku sdh tidak dihargai lg, tp aku bertahan kdg prinsip hidupku menikah sekali seumur hidup, lama2 hilang sakit hatiku dan aku gak peduli lg dg apa yg dia lakukan, aku merasa mengumpulkan pahala dg kezoliman yg dia perbuat aku malah kasihan dg dia yg tdk merasa berdosa dg perbuatannyya, bodoh ya aku membiarkan diriku dizolimi terus oleh suamiku, aku hanya mikir inilah cara Allah membuat aku jadi selalu ingat Dia.

by: wiwin.wr
at: 2008-08-31

Mbak Mita.
Tidak ada yang bisa saya sampaikan kecuali sebuah doa; Semoga Allah Ta’ala berkenan untuk menambahkan kekuatan kepada Mbak Mita dalam menerima apa-apa yang diberikan-Nya dan menjadi jalan yang terbaik bagi diri Mbak Mita, dengan men-serta-kan berkah ummu-l-Kitab, Al Fatihah, bersama doa itu. Amin.

NB: Satu lagi, “… bodoh ya aku membiarkan diriku dizolimi terus oleh suamiku…” menurut saya, mbak Mita tidak bodoh dengan membiarkan diri Mbak menerima tindakan suami mbak.

by: mita darsono
at: 2008-09-01

Sabar dan keyakinan yg aku pegang, aku yakin Allah pasti akan menyembuhkan aku dan menyadarkan suamiku kembali kpd keluarga, tapi memang waktunya hanya Allah yg tahu krn Dia yg menentukan, aku bersyukur saja hingga saat ini aku msh bernafas dan selalu ada yg mendoakan aku agar aku kuat lahir bathin.

by: wiwin.wr
at: 2008-09-03

Iya mbak. Semoga Allah Ta’ala mudahkan bagi mbak dalam menjalaninya. Amin.

by: Hamba Allah
at: 2009-02-05

Asslm.wr.wb. Sy br saja menikah dgn suami saya. Sekitar 3 bulan. Tp diawal pernikahan dia sudah menyatakan bahwa dia tdk mencintai saya dan mencintai wanita lain. Dan berjanji tidak akan menyentuh sy.Sy berusaha menerima semuanya dg lapang dada.Sy tetap berusaha jd istri yg baik dgn melayani sebaik-baiknya. Sy mengetahui. Perempuan ini tidak mau mengalah dan tidak ingin melepas suami saya. Semakin lama mereka berdua semakin terang-terangan. Mulai dr sms dan telpon sembunyi-sembunyi.Hingga akhirnya terang-terangan di dpn saya. Hingga suami berencana menceraikan saya.Yang selalu sy pertanyakan adalah bagaimana bs perempuan itu berbuat sejahat itu?Apa jdnya kalau pengalaman sy dialami olehnya? Apa mereka begitu dibutakan oleh cinta, hingga bs berbuat apapun tanpa takut hukuman Allah? Sy mencoba bersabar dg semua abuse secara mental yg dilakukan oleh suami sy. Meskipun seringkali sy mengeluh pada Allah Rabb. Apakah itu bentuk ktdk sbran sy?Entah sampai dmn kesabaran saya bs bertahan.Apa yg harus sy perbuat?

by: wiwin.wr
at: 2009-02-06

Alaikumsalaam wr. wb.

Saya bersimpati atas yang sedang mbak dan suami hadapi.

Saya persilahkan membaca artikel tentang perkawinan disini
atau disini yang menurut hemat saya, disitu Jalaluddin Rumi menjelaskan secara kualitatif tentang arti dari “pernikahan adalah setengah dari agama”.

Terhadap pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan ?” saran saya sangat sederhana yakni “ajaklah suami [semampu yang bisa mbak lakukan] untuk mulai membangun cinta di antara mbak dan suami agar esensi perkawinan, sebagaimana uraian Maulana Rumi, dapat terwujud. Cobalah mengusahakan untuk menghidupkan pernikahan yang sudah kalian lakukan sampai kalian merasakan indahnya “cinta” dan indahnya “ridho”. Sebuah pernikahan bukanlah sebuah “ikatan untuk bisa saling menguasai” melainkan sebuah perjanjian yang tinggi nilainya, yang menurut AlQuran, setingkat dibawah perjanjian Allah dengan para Nabi-Nya.

Pernikahan adalah setengah agama dan raihlah setengah lagi dengan taqwa [demikian ajaran Rasulullah Saw] sedangkan perceraian [sesuatu yang Allah ijinkan tetapi tidak Allah sukai] adalah sebuah jalan keluar atas kebuntuan dalam sebuah pernikahan antara lain karena ketiadaan cinta dan faktor-faktor lain [dorongan-dorongan hawa-nafsu dan syahwat]; yakni kebuntuan, yang secara kualitatif adalah “setengah agama” tidak bisa tercapai.

Saran berikutnya, pernikahan mbak berdua adalah suatu hal yang telah Allah ijinkan untuk terjadi, dan mensyukuri apa-apa yang Allah hadirkan kepada mbak berdua [dalam kasus ini] adalah dengan berupaya mempertahankannya sampai sebatas “daya-pikul” kalian berdua agar menjadi “adil” bagi kedua belah pihak. Tentunya dengan sepenuhnya meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala sebagaimana QS.[2]:45 dan [2]:153.

Pada umumnya, di awal sebuah pernikahan atau bahkan sebelumnya, saat masih tahap pendekatan, cinta yang ada masih sarat dengan dorongan hawa dan syahwat [maaf] yang dengan berjalannya waktu, melalui pernikahan itu, mulai bergesar sedikit demi sedikit menuju kepada “cinta yang sesungguhnya yang lebih murni”.

Selamat berjuang dan semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan untukmu. Amin. Assalamulaikum wr. wb.

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks