Thursday, May 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
MENGENALI SABAR dan SYUKUR
Untuk mengenali sesuatu, kita bisa melakukannya dengan mengenali lawannya, yang komplementer terhadapnya. Misalnya warna putih bisa dikenali dengan mengenali warna hitam atau ”dingin” bisa didapat dengan menghilangkan ”panas”. Artinya sesuatu yang ”dingin” adalah karena ”ketiadaan panas” dan ”gelap” adalah ”ketiadaan cahaya”.
At Tirmidzi dalam kitab ”al ilm al Awliyya” menuturkan bahwa lawan dari sabar adalah berkeluh kesah sedangkan lawan dari syukur adalah kufur…..
Berkeluh kesah adalah sikap tidak mau menerima ketetapan yang Allah Ta’ala berikan atau tetapkan, yang artinya ketiadaan sifat sabar …… "Bersabarlah terhadap ketetapan Rabb-mu" …. QS.[68]:48
Kufur yang artinya adalah ”menutup diri”, yang menjadikan seseorang ”mengingkari” atau melakukan ”penolakan”, selain menjadi lawan dari iman, juga menjadi lawan dari syukur. Kufur adalah ”ketiadaan iman” yang artinya berkeberatan [karihu-karhan] terhadap apa-apa yang Allah Ta’ala turunkan/perintahkan, QS.[47]:9, dan bagi mereka adalah ketiadaan amal yang sesuai dengan yang apa yang Allah perintahkan, artinya mereka tidak memiliki kebersyukuran.
Kebersyukuran tidak akan bisa terjadi tanpa adanya keimanan. Tanpa adanya pengakuan terhadap ”kebenaran” maka tidak akan terbit keyakinan terhadap hal itu dan tentu saja tidak ada komitmennya dalam tindakan atau perbuatan atau amal-amal kesehariannya.
… ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari-Ku ….. QS.[2]:152
Apa itu yang dimaksud dengan ”kebenaran” ? Maaf sahabat, saya tidak bisa menerangkan hal ini, kemampuan saya masih jauh sekali dari itu, yang saya ketahui terbatas pada pewartaan dari Allah Ta’ala bahwa Al haqq min-Rabbikum, ”kebenaran-Al Haqq” itu dari Rabbu-l-alaamin, QS[2]:147.
Orang yang beriman atau alladzinaa amanuu – diperintahkan Allah agar memohon pertolongan-Nya dengan sabar dan sholat, dan jangan lupa bahwa bisa bersikap sabar juga atas pertolongan Allah. Sikap sabar dalam diri seseorang berdiri di atas landasan keimanannya dan ke-beriman-an manusia semata-mata juga atas ijin Allah Ta’ala.
Dengan ijin Allah Ta’ala seseorang menjadi beriman, dan atas dasar itu maka seorang manusia akan menjadi memiliki pengakuan (dalam keseluruhan dirinya) terhadap Allah SWT, Yang Maha Kuasa, Yang Menciptakan Makhluk. Menjadikan keyakinannya terhadap Allah Ta’ala, menjadikan manusia tidak ada pilihan selain bersikap menerima terhadap segala apa yang Allah Ta’ala tetapkan baginya (bisa berupa kekayaan, bisa berupa kemiskinan, bisa berupa kesengsaraan, atau kebahagiaan, dll) dan itu adalah sikap sabar. Kalau kemudian ia berikhtiyar atau berusaha untuk berbuat sesuatu di muka bumi ini, dimana perintah Allah sangat jelas sekali agar manusia mengingat-Nya [dalam QS.[2]:152 Allah Ta’ala menggunakan kata ’adzkuruu’ yang mana berasal dari akar-kata yang sama dengan dzikir] maka jelaslah bahwa ia sepenuhnya berikhtiyar dalam keadaan keberdzikirannya kepada Allah Ta’ala, yang tidak lain adalah ikhtiyar di dalam tawakkal kepada Allah Ta’ala. Bekerja sebagai suatu tindakan ikhtiyari, namun di dalam keyakinannya atau keimanannya ia sepenuhnya mewakilkan hasil akhir dari pekerjaan atau amalnya kepada ketetapan dari Allah Ta’ala. Dalam keadaan seperti itu, amalnya menjadi kebersyukurannya kepada Allah Ta’ala.
[1] Addenda: Yang dimaksudkan disini adalah ikhtiyari dari diri manusia, ikhtiyar atau belajar untuk bersabar dan ikhtiyar atau belajar untuk bersyukur termasuk diantara keduanya adalah ikhtiyar atau belajar untuk bertawakkal. Yang dengan sepenuh ikhtiyari ditambah dengan doa mohon limpahan kesabaran, maka benih sabar dalam diri seseorang bisa tumbuh menjadi pohon sabar, atas perkenan dari Dia Ta’ala semata….. Sebuah perjalanan panjang sebagaimana yang diterangkan Allah Ta’ala melalui QS.[2]:153-157. Mudah-mudahan kita bisa mencapai maqom sabar… selanjutnya maqom tawakkal.. QS[29]:58-59 ….. selanjutnya maqom syukur…. dan selanjutnya … semoga Allah Ta’ala berkenan menitipkan salah satu rahasia-Nya, ikhlas, ke dalam qalb kita….
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal [al amiliin], (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Rabb-nya……QS.[29]:58-59
Bandung - 01/05/2008 Wallaahu `alam bi-sh-showab.
Disimpan di KAJIAN weBLOG Beranda Suluk.
Comments
by: mita darsono
at: 2008-08-30
Sabar, satu kata yg sll aku dengar dr setiap org yg aku jumpa, sejak aku kena stroke 3 th yl dan aku mjd lumpuh sbl, apalagi stlh suamiku menikah lg, krn dia merasa aku tdk bisa mengurus dia dan anak2, sakit hatiku tapi aku mencoba bersabar, apalagi stlh itu dia ingin menceraikan aku, aku serasa habis manis sepah dibuang, aku bertahan walau dia sering zolim dg tdk tidur dirumah, lupa kewajiban sbg seorg ayah dan suami tapi aku diamkan saja, krn aku mrs dia sdg mabuk cinta, tdk sadar dg apa yg dia perbuat.
Keluarga, teman2 menyarankan aku bersedia dicerai, krn aku sdh tidak dihargai lg, tp aku bertahan kdg prinsip hidupku menikah sekali seumur hidup, lama2 hilang sakit hatiku dan aku gak peduli lg dg apa yg dia lakukan, aku merasa mengumpulkan pahala dg kezoliman yg dia perbuat aku malah kasihan dg dia yg tdk merasa berdosa dg perbuatannyya, bodoh ya aku membiarkan diriku dizolimi terus oleh suamiku, aku hanya mikir inilah cara Allah membuat aku jadi selalu ingat Dia.
by: wiwin.wr
at: 2008-08-31
Mbak Mita.
Tidak ada yang bisa saya sampaikan kecuali sebuah doa; Semoga Allah Ta’ala berkenan untuk menambahkan kekuatan kepada Mbak Mita dalam menerima apa-apa yang diberikan-Nya dan menjadi jalan yang terbaik bagi diri Mbak Mita, dengan men-serta-kan berkah ummu-l-Kitab, Al Fatihah, bersama doa itu. Amin.
NB: Satu lagi, “… bodoh ya aku membiarkan diriku dizolimi terus oleh suamiku…” menurut saya, mbak Mita tidak bodoh dengan membiarkan diri Mbak menerima tindakan suami mbak.
by: mita darsono
at: 2008-09-01
Sabar dan keyakinan yg aku pegang, aku yakin Allah pasti akan menyembuhkan aku dan menyadarkan suamiku kembali kpd keluarga, tapi memang waktunya hanya Allah yg tahu krn Dia yg menentukan, aku bersyukur saja hingga saat ini aku msh bernafas dan selalu ada yg mendoakan aku agar aku kuat lahir bathin.
by: wiwin.wr
at: 2008-09-03
Iya mbak. Semoga Allah Ta’ala mudahkan bagi mbak dalam menjalaninya. Amin.
by: Hamba Allah
at: 2009-02-05
Asslm.wr.wb. Sy br saja menikah dgn suami saya. Sekitar 3 bulan. Tp diawal pernikahan dia sudah menyatakan bahwa dia tdk mencintai saya dan mencintai wanita lain. Dan berjanji tidak akan menyentuh sy.Sy berusaha menerima semuanya dg lapang dada.Sy tetap berusaha jd istri yg baik dgn melayani sebaik-baiknya. Sy mengetahui. Perempuan ini tidak mau mengalah dan tidak ingin melepas suami saya. Semakin lama mereka berdua semakin terang-terangan. Mulai dr sms dan telpon sembunyi-sembunyi.Hingga akhirnya terang-terangan di dpn saya. Hingga suami berencana menceraikan saya.Yang selalu sy pertanyakan adalah bagaimana bs perempuan itu berbuat sejahat itu?Apa jdnya kalau pengalaman sy dialami olehnya? Apa mereka begitu dibutakan oleh cinta, hingga bs berbuat apapun tanpa takut hukuman Allah? Sy mencoba bersabar dg semua abuse secara mental yg dilakukan oleh suami sy. Meskipun seringkali sy mengeluh pada Allah Rabb. Apakah itu bentuk ktdk sbran sy?Entah sampai dmn kesabaran saya bs bertahan.Apa yg harus sy perbuat?
by: wiwin.wr
at: 2009-02-06
Alaikumsalaam wr. wb.
Saya bersimpati atas yang sedang mbak dan suami hadapi.
Saya persilahkan membaca artikel tentang perkawinan disini
atau disini yang menurut hemat saya, disitu Jalaluddin Rumi menjelaskan secara kualitatif tentang arti dari “pernikahan adalah setengah dari agama”.
Terhadap pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan ?” saran saya sangat sederhana yakni “ajaklah suami [semampu yang bisa mbak lakukan] untuk mulai membangun cinta di antara mbak dan suami agar esensi perkawinan, sebagaimana uraian Maulana Rumi, dapat terwujud. Cobalah mengusahakan untuk menghidupkan pernikahan yang sudah kalian lakukan sampai kalian merasakan indahnya “cinta” dan indahnya “ridho”. Sebuah pernikahan bukanlah sebuah “ikatan untuk bisa saling menguasai” melainkan sebuah perjanjian yang tinggi nilainya, yang menurut AlQuran, setingkat dibawah perjanjian Allah dengan para Nabi-Nya.
Pernikahan adalah setengah agama dan raihlah setengah lagi dengan taqwa [demikian ajaran Rasulullah Saw] sedangkan perceraian [sesuatu yang Allah ijinkan tetapi tidak Allah sukai] adalah sebuah jalan keluar atas kebuntuan dalam sebuah pernikahan antara lain karena ketiadaan cinta dan faktor-faktor lain [dorongan-dorongan hawa-nafsu dan syahwat]; yakni kebuntuan, yang secara kualitatif adalah “setengah agama” tidak bisa tercapai.
Saran berikutnya, pernikahan mbak berdua adalah suatu hal yang telah Allah ijinkan untuk terjadi, dan mensyukuri apa-apa yang Allah hadirkan kepada mbak berdua [dalam kasus ini] adalah dengan berupaya mempertahankannya sampai sebatas “daya-pikul” kalian berdua agar menjadi “adil” bagi kedua belah pihak. Tentunya dengan sepenuhnya meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala sebagaimana QS.[2]:45 dan [2]:153.
Pada umumnya, di awal sebuah pernikahan atau bahkan sebelumnya, saat masih tahap pendekatan, cinta yang ada masih sarat dengan dorongan hawa dan syahwat [maaf] yang dengan berjalannya waktu, melalui pernikahan itu, mulai bergesar sedikit demi sedikit menuju kepada “cinta yang sesungguhnya yang lebih murni”.
Selamat berjuang dan semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan untukmu. Amin. Assalamulaikum wr. wb.