... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Arti sebuah karya …

Monday, May 26, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:54| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Rumah kakek saya di Jawa sana, rumah jaman dulu, entah tahun kapan rumah itu dibangun, sekarang ini masih ada, tetapi sudah banyak perubahan  oleh pemakainya yang sekarang karena kayu-kayunya pasti sudah lapuk dan desainnya tidak sesuai jaman …. postmodern, minimalis…


[ ini bukan foto rumah kakek saya lho … ! ]

Majunya peradaban berarti juga terjadi perkembangan teknologi, menjadikan ”gubug” tersebut ditingkatkan konstruksinya menjadi bangunan yang semakin memiliki estetika dan kemegahan.

Ada kaum yang menggunakan bukit-bukit batu yang dipahat ke dalam seperti kaumnya Nabi Sholih as. [ bisa dilihat disini ] atau kaum yang membangun tiang yang tinggi sebagai tiang utama dan rumah mereka diikatkan kepada tiang itu seperti kaum Aad, kaumnya Nabi Hud as. Ada juga yang menggunakan kain yang di topang dengan kayu-kayu seperti ”wigwam”-nya orang Indian.

Ada yang atapnya berbentuk melengkung keatas di kedua ujungnya, seperti rumah gadang di Bukittinggi, dan ada yang berbentuk satu atap menguncup keatas dan berlapis-lapis seperti orang Jawa dengan rumah Joglonya.

Rumah-rumah yang dibangun oleh kaum-kaum atau suku-suku itu sangat beragam, berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya, sebuah fenomena yang indah.

 

Ada hal yang spesifik yang akan membedakan mereka semuanya. Bisa dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan mereka, bisa juga karena iklim disekeliling mereka, bisa pula karena ancaman-ancaman yang ada disekeliling mereka. Adanya perbedaan rumah-rumah itu juga bisa sebagai akibat dari sifat atau karakter mereka, bukan karakter pribadi tetapi karakter dari kelompok. Sifat kejamaahan mereka. Bila merujuk kepada kaumnya Nabi Sholih as., dan juga kaumnya Nabi Hud as., rumah-rumah mereka adalah cerminan perilaku dari kaum itu. [tentang kaum Aad lihat tulisan Menara Pencakar Langit ]. Kebalikan dari itu, bangunan dan rumah dibuat sebagai simbol dari sesuatu ”ajaran” yang hendak di terapkan pada suatu kaum atau suku. Semakin tinggi budaya suatu kaum atau suku, bentuk rumah atau bangunan-bangunan mereka semakin sarat dengan simbol. Selain simbol-simbol, karakter suatu kaum atau suku itu juga akan tampil pada bentuk bangunan, berikut simbol-simbol itu.

Bagaimana dengan rumah real estate atau rumah BTN ?
Apakah tampilannya juga bisa mencerminkan karakter pemiliknya ?
Bukankah rumah-rumah itu bentuknya sama ?

Inna awwalu baitin-wudliya li-n-naasi” ialah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi ”huda-l-lil `aalamiin” QS.[3]:96. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba QS.[29]:41.

At Tirmidzi, Al-Farq Bayna-l-shadr wa-l-qalb wa-l-fu’ad wa-l-lubb – Biarkan Hatimu Bicara; menggunakan ”halaman rumah” sebagai salah satu pemisalan ketika beliau membuat pemisalan untuk shadr [dada]. Disebutnya, bila rumah digunakan sebagai pemisalan untuk qalb maka halamannya adalah shadr. Sebagaimana kita tahu [dalam pembahasan dalam buku itu] bahwa apa-apa yang ada dalam shudur adalah yang membentuk karakter atau ”ego” dalam bahasanya ahli psikologi. [Betul ?]

[”sejuk” yang pertama adalah kata yang saya pilih untuk terjemahan kata ”semeleh” dan kata ”sejuk” yang kedua saya pilih untuk terjemahan kata ”adem” karena petuah orangtua saya diberikan kepada saya dalam bahasa jawa. Ketika itu saya hanya berupaya agar tidak berprasangka buruk dan tidak marah-marah atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat kontraktor yang membangun rumah saya ……]
[Kalau yang dimaksudkan dengan ”sejuknya hati” adalah ”shadr” yang lapang, yang bebas dari pengaruh hawa nafsu yang artinya shudur yang penuh dengan kebenaran, shudur yang telah menjadi kolam al-haqq, ”dada yang taqwa”, maka saya ”GAGAL TOTAL” dalam upaya menuruti nasehat orangtua ……]

PENUTUP dan RENUNGAN …

Alhamdulillaah. Dengan adanya kesempatan berkumpul dan berbincang dengan sahabat-sahabat yang Allah Ta’ala hadirkan bagi saya sekarang ini, yang atas bantuan mereka pula, sedikit demi sedikit saya mulai bisa melihat hubungan antara persoalan ketaqwaan hati dengan bangunan yang akan dibangun atas dasar ketaqwaan itu.
Bangunan atau rumah atau monumen akan merepresentasikan apa-apa yang ada dalam diri seseorang, atau kelompok, atau kaum, yang mendirikannya.

Ketika berada di surga, Adam as. dan istrinya Siti Hawa tidak diijinkan Allah Swt. untuk mendekati sebuah pohon … dan kita tahu bahwa persoalan itu mengajari kita bahwa Allah Ta’ala tidak ijinkan Adam as. mendekati pohon itu karena "pohon-diri Adam as." belum tumbuh. Ketika Adam as. di muka bumi itulah saat untuk menumbuhkan "pohon-diri" …….

Membuat bangunan bukanlah soal ”uang” semata, bukankah di langit sudah ada ”gambar bangunan” yang akan kita buat. Masalahnya adalah, yang di langit itu adalah bangunan yang merepresentasikan ketaqwaan kita ataukah hawa-nafsu kita….. Kita tidak bisa memilihnya, yang bisa kita lakukan hanyalah ”ikhtiyari dengan sepenuh harapan” kepada Allah Ta’ala, agar bangunan itu merepresentasikan ketaqwaan kita, bukan hawa nafsu kita.


Bandung - 25/05/2008 … Wallaahu `alam bi-sh-showab

Comments

by: Wawan TBH
at: 2008-06-09

Ass.wr.wb.
Subhanallah… sebuah tulisan yg manyegarkan dan men-’sejuk’kan (baca:menyejukkan)..sekaligus mengingatkan saya untuk mulai berbenah dalam membangun ‘masjid pribadi’ saya..
Matur nuwun sanget mas…..

by: wiwin.wr
at: 2008-06-10

Alaikumsalaam wr.wb.
Sama-sama mas, atas ajakan dan sekaligus peringatan keras buat saya pribadi….. harus bergegas memakai alas kaki supaya berjalan dengan pasti …..
Terimakasih mas…..

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks