... Beranda Suluk ...
... suluk - beranda suluk - serambi suluk - biduk diri - menyapa pagi ...

 
 

Persahabatan …

Thursday, June 12, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:28 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika…,

Seorang sahabat mengirim kisah ini melalui email…. saya tertawa lebar membacanya, karena begitulah CERMIN DIRI saya, setidaknya itulah bayangan saya tentang diri saya saat ini…..
Kisah ini mengingatkan saya agar tetap siaga .. tetapi yang lebih menyentuh adalah sapaan dan pemberian dari seorang sahabat ketika ia mendapati sahabatnya sedang tidak menyadari apa yang sesungguhnya dibutuhkannya pada saat itu.

Terimakasih Uda IB…….,
Terimakasih sahabat-sahabat yang telah menyapa …… mudah-mudahan kita tidak menjadi seorang tunasiaga….

 

KITAB DELAPAN MATA ANGIN
- Tsai Chih Chung, Illustrated Heart Sutra.

Ilustrated Heart SutraAda seorang murid yang sudah bertahun-tahun belajar ilmu kebijakan dari seorang guru di sebuah pulau terpencil. Kini ia merasa telah cukup ilmu dan berniat untuk mengabdikan dirinya pada masyarakat di seberang pulau. Segera ia pamit pada sang guru dan berangkat meninggalkan pulau terpencil tersebut.

Tak berapa lama kemudian ia mendirikan sebuah perguruan dan memiliki banyak murid pula. Teringat pada sang guru, dan ia ingin menunjukkan hasil pengabdiannya selama ini. Ia lalu menulis sebuah kitab yang berisi ajaran-ajaran kebijakan.

Kitab itu diberinya judul "Kitab Delapan Mata Angin" karena bila orang mengamalkan isi kitab itu maka ia akan tetap tegar dalam kebenaran meski didera angin badai dari delapan penjuru mata angin. Ia mengutus seorang muridnya untuk mengantarkan kitab itu pada gurunya di seberang pulau.


Sang guru menerima bingkisan "Kitab Delapan Mata Angin" dengan suka cita. Setelah membaca isinya, tanpa diduga Beliau mencorat-coret sampul kitab itu "Kamu tak lebih dari angin kentut belaka."

Sang guru mengembalikan kitab itu. Betapa terkejutnya si murid ketika menerima dan membaca tulisan sang guru. Mukanya merah padam. Ia memutuskan untuk menemui gurunya dan meminta penjelasan apa maksud tulisan itu. Bergegas ia melepas tali perahu dan mendayungnya sendiri, untuk menemui gurunya.

Sesampainya di sana, ia langsung bertanya kepada sang guru, "Apa maksud guru menuliskan kata-kata kotor seperti ini ?"
Jawab sang guru dengan tenang, "Ah… katanya engkau mampu bertahan dari gempuran angin badai yang datang dari delapan penjuru mata angin. Tapi, mengapa, hanya dengan tiupan angin kentut saja, sudah membuat engkau terpental dari seberang sana ke pulau terpencil ini, huh..?"
Mendengar jawaban sang guru, ia langsung mengerti kesalahannya.

Setinggi apa pun kebijakan
yang terucap di bibir atau hanya ditulis di buku
tak lebih berarti daripada
yang sudah terpateri dalam qalbi.

[disunting oleh wiwin.WR - dengan sedikit merubah susunan dan terjemahan]

 

….. Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang sahabat dalam sebuah majelis, ia selalu memperhatikan apa-apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya dan bersegera menariknya bilamana sahabatnya "seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami." QS.[6]:71

Bandung 12 Juni 2008.

No one leave comments yet, will you be the first one ?

Leave a reply to this post, be my guest ...

your name please [required]

your email please [required], will not be published,

your website,

type-in, take your time.