Aktualisasi diri …
Monday, June 30, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Fig.1 Biduk adalah representasi jasad insaan yang mengarungi lautan dunia.
Setiap yang mewujud di semesta alam-alam memiliki fungsi tertentu, setiap dari mereka mengemban tugas tertentu sesuai dengan jati-diri mereka. ”maa kholaqta hadzaa bathilaa” QS.[3]:190 berlaku bagi semua makhluk, tidak hanya untuk manusia saja. Bedanya, manusia memiliki kelebihan dari makhluk-makhluk lainnya di semesta alam-alam ini, dan oleh sebab itu pula menjadi makhluk yang paling sempurna, Allah Ta’ala ”telah menciptakan insaan dalam bentuk yang sebaik-baiknya” QS.[95]:4.
Secara fisik, kuda lebih bagus bulunya dan lebih tegap badannya dan lebih cepat larinya dibanding dengan seekor keledai sedangkan kekuatan kuda mengangkut beban sama seperti keledai. Semua itu menjadi ciri khas dari kuda. Sebab itu harga pasaran kuda juga lebih mahal. Kalau seekor kuda kehilangan keindahan bulunya, badannya kurus kering dan lambat larinya, maka ia turun derajadnya di semesta alam ini, menjadi sama dengan keledai, harganya juga akan lebih murah, seharga keledai.
Ketika kehilangan kekhasan dirinya maka manusia turun derajadnya di semesta alam-alam ini, jasmaninya tetap manusia tetapi derajadnya l;ebih rendah dari itu, bisa hewan atau tumbuhan atau bahkan mineral. [1]
[1] lihat Posting: Pendakian Jiwa – Categories : Kidung Rumi
TEORI PSIKOLOGI
Sedikit mengutip tulisan tentang tingkat pencapaian seseorang dalam kehidupannya … sebuah teori psikologi.
… dalam dunia psikologi terdapat suatu teori yang digagas Abraham Maslow, teori Maslow, tentang hierarki kebutuhan manusia. Dengan teori itu kita bisa melihat hubungan antara tingkat pemenuhan yang berbeda-beda pada setiap orang dengan kepuasan dan kebahagiaannya. Jika kebutuhannya terpenuhi, tingkatannya akan naik. Namun jika tidak, maka ada kemungkinan terjadi ketidakpuasan pada dirinya.
Teori Maslow membagi kebutuhan manusia dalam lima tingkat.
Tingkat Pertama, kebutuhan mempertahankan hidup [fisiologis] berupa makanan, pakaian, istirahat, seksual, dan lain-lain yang merupakan kebutuhan dasar sehari-hari.
Jika tidak ada masalah dengan hal itu, maka kebutuhan menanjak terus menuju yang tingkat Kedua yakni bebas dari bahaya dan ancaman, baik fisik maupun psikis.
Tingkat Ketiga adalah kebutuhan sosial, yakni rasa memiliki atau dimiliki serta merasa menjadi bagian dari suatu kelompok.
Berikutnya yang Keempat, manusia juga membutuhkan penghargaan atas prestasi yang diraihnya.
Terakhir, yang tertinggi, adalah aktualisasi diri berupa pencapaian cita-cita yang mendasar dan perwujudan diri……[untuk jelasnya, ini bagan dari teorinya Abraham Maslow]
Fig. 2 The ABRAHAM MASLOW hierarchy of NEEDS diagram….
Dari hasil survey Indonesian Happiness Index 2007 oleh Frontier Consulting Group diketahui bahwa kaum profesional mengaku sebagai orang paling bahagia. Disusul oleh middle management, tentara dan pegawai tingkat staf. Anehnya, jajaran top management yang selama ini di-identik-kan sebagai kaum the haves justru menduduki tingkat paling rendah atau paling tidak bahagia…….
… para top management seperti pemilik perusahaan atau eksekutif, menduduki peringkat terbawah pada Indonesian Happiness Index 2007 dikomentari sbb., ”Mereka tidak mendapatkan apa yang dicari, yaitu mungkin aktualisasi diri. Berbeda dengan pekerja di tingkat staf yang kebutuhannya di tingkat life and belongings. Ketika para staf bertemu dengan teman akrab dan bersosialisasi maka sudah cukup” …..
Sebut saja namanya pak Amir, seorang yang berhasil dalam kariernya di sebuah perusaaan, bahkan ia akan dipromosikan untuk sebuah jabatan bergengsi yang diimpikan banyak orang. Tetapi tiba-tiba saja ia berhenti bekerja dan beralih menjadi seorang pelukis.
Lanjutnya, ”Begitu juga pak Amir yang banting stir menjadi pelukis, kemungkinan dia sudah mencapai tahap aktualisasi diri. Di tahap tertinggi ini, manusia umumnya sudah berpikir tentang keinginan terdalam dari dirinya. Perwujudannya bisa dalam bentuk aktivitas yang berhubungan dengan keindahan, seni atau spiritual.

Fig. 3 Mereka sedang menghabiskan waktunya dengan bermaiin dengan teman-temannya. Sepertinya mereka tidak mengkhawatirkan keadaan mereka sendiri dan lagi mereka juga sudah berusia lanjut.
Maslow hanya mengemukakan sebuah teori, sesuatu yang ia temukan di semesta alam ini, dan ia juga tidak memberikan ukuran-ukuran dari setiap tahapan-tahapan yang disebutnya. Setiap orang dipersilahkannya untuk membuat ukurannya masing-masing.
Seseorang bisa membuat ukuran keberhasilan pencapaian tahap pertama hanya dengan rumah tipe 21, listrik 450 watt dan sebuah televisi hitam putih sedangkan orang yang lain boleh saja membuat ukuran dengan rumah tipe yang lebih besar, listrik 4400 watt dan mesin pendingin udara berikut televisi plasma layar lebar di setiap kamar. Demikian pula untuk tahap-tahap selanjutnya, ukuran setiap orang tidak selalu sama, bergantung kepada cara berfikir masing-masing individu.

Fig. 4 Diambilkan dari sebuah sampul majalah bulanan. Mengenai kebenaran dari hasil survey tersebut di atas, saya serahkan kepada para pembaca sekalian.….
Betulkah manusia kehidupan manusia di muka bumi ini hanya sebatas persoalan yang dikemukakan Maslow saja ? Atau adakah yang lainnya yang tidak bersifat fisik dan material semata sehubungan dengan kehidupan tiap manusia di muka bumi ini.
KONSEP PENCIPTAAN INSAAN
… seseorang berkata, “Ada sesuatu yang aku lupakan” ..
Rumi menjawab, “Ada sesuatu di dunia yang tidak boleh dilupakan. Jika kamu melupakan semua yang lain tetapi tidak melupakan yang satu itu maka kamu tidak perlu cemas. Tetapi jika melakukan dan mengingat segala yang lain tetapi melupakan yang satu itu maka kamu
sesungguhnya tidak melakukan apapun yang berharga.
Ibaratnya ketika seorang raja mengirimmu ke suatu negeri untuk menjalankan sebuah tugas khusus. Jika kamu pergi dan menyelesaikan seratus tugas lain namun lupa melakukan tugas yang khusus itu maka ini seolah-olah kamu tidak melakukan apa-apa.
Jadi.., setiap orang memasuki dunia ini demi sebuah tugas khusus dan itulah tujuan mereka…. Jika mereka tidak melaksanakannya maka mereka sesungguhnya mereka tidak melakukan apa-apa….”
… segala sesuatu dibebani sebuah tugas ..
Langit mengirim hujan dan cahaya untuk hamparan padang agar bersemi dan tumbuh hidup…… Bumi menerima benih dan melahirkan buah-buahan, ia menerima dan mengungkapkan seratus ribu keajaiban yang terlampau banyak untuk diceritakan…. Gunung-gunung menjaga tambang-tambang emas dan perak.
Semua benda ini, langit, bumi dan gunung bekerja, namun tidak melakukan satu hal “yang itu” : ” tugas khusus yang itu ” ….. kita yang melakukannya !!!
[Fihi Ma Fihi, Maulana Jalaluddin Rumi - terjemah : AJ Arberry.]
Setiap diri mengemban sebuah tugas khusus yang harus dilaksanakan di muka bumi ini. Namun mengapa manusia tidak pernah tahu, tidak pernah ingat telah menerima amanah ……. QS.[33]:72 dan bahkan pernah bersaksi bahwasanya Allah Ta’ala adalah Rabb-nya manusia… QS[7]:172
Kemana perginya semua ingatan itu atau siapa sebenarnya yang pernah berjanji ? Entitas diri yang mana yang pernah berjanji dan mengapa entitas itu tidak memberi tahu apa tugas kita, sedang kemana atau sedang apa entitas itu sekarang …… ?
Banyak pertanyaan yang belum terjawab dan harus dicari jawabannya, atau akan kita biarkan saja tidak terjawab sampai nanti masuk kubur ? ……. jangan begitu ah !!
Sebagaimana Rumi katakan, setiap sesuatu dibebani sebuah tugas. Dan manusia harus berusaha menemukannya dan hanya sebagian kecil yang bisa menemukannya. Itupun semata-mata karena Rahmat Allah Ta’ala. Karena pertolongan-Nya saja seorang manusia bisa menemukan jati-diri nya……
Kita harus mencarinya, soal bisa menemukan atau tidak itu bukan urusan kita, itu sudah menjadi ketetapan-Nya yang telah ditulis-Nya di lauh makhfudz, jauh-jauh hari sebelum semesta alam-alam berikut segala isinya termasuk manusia diciptakan-Nya…
AKTUALISASI DIRI
Aktualisasi diri adalah sebuah keadaan dimana seorang manusia telah merasa menjadi dirinya sendiri, ia mengerjakan sesuatu yang disukainya dan ia mengerjakannya dengan gembira, dengan hati yang bernyanyi. Ia tidak lagi menempatkan keberhasilan dari pekerjaannya kepada ukuran yang biasanya berlaku, yakni penghasilan yang diperoleh dari hasil sebuah kerja. Ukurannya menjadi berubah sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang dianut dan difahami oleh dirinya.
Yang dikemukakan Maslow adalah sebuah teori, bagian dari suatu ilmu pengetahuan, sebab itu setiap manusia menjadi bebas untuk memberikan ukuran dari masing-masing tingkatan sesuai dengan pengetahuannya tentang sejatinya kehidupan, tentang tujuan penciptaan.

Fig. 5 Biduk yang berlayar di lautan lepas sebagai representasi Aktualisasi Diri [teori Maslow] dan mencari dirinya yang sejati, Nafs-nya.
Semakin seseorang memahami sejatinya kehidupan, semakin seseorang menjadi tidak terikat kepada hal-hal yang bersifat material. Sebagai contoh, seorang penjual bakmi rebus bisa merasa dirinya telah mencapai tingkatan keempat dari teori Maslow dan tingkatan kelima dijalaninya dengan menjadi seorang ayah yang baik bagi keluarganya.
Sedangkan seorang top manajemen merasa belum mencapai apa-apa karena belum bisa membawa perusahaannya ke kelas dunia. Macet di tingkat ketiga, tidak naik ke tingkat keempat apalagi yang kelima.
Sebagaimana setiap teori, adalah sesuatu yang netral, seperti melayang bebas di udara. Sebuah teori adalah sesuatu yang mengungkap fakta dan telah melalui beberapa pengujian terhadap keberlakuannya. Sebuah keadaan yang keberlakuannya di semesta alam ini menjadi sesuatu yang pasti, selama Allah Ta’ala kehendaki atau ijinkan.
Kalau keadaan yang diungkapkan oleh Maslow dialami oleh manusia yang dada [atau shudur]-nya yang berisi pemahaman agama [ad-diin] maka nilai-nilai yang berlaku dalam keadaan itu adalah nilai-nilai agama. Sedangkan bila keadaan itu mendarat di dada yang dipenuhi kecintaan terhadap material maka nilai-nilai yang berlaku adalah tingkat pencapaian atau keberhasilan mengumpulkan hal-hal yang juga bersifat material.
Aktualisasi diri adalah tahap pencapaian oleh seorang manusia terhadap apa yang mulai disadarinya ada dalam dirinya. Ia mulai mencari tahu untuk apa dirinya diciptakan dan dikirimkan Allah Ta’ala ke muka bumi ini. Semua manusia akan mengalami fasa itu, hanya saja sebagian dari manusia terkena jebakan pada nilai-nilai atau ukuran-ukuran pencapaian dari tiap tahapan yang dikemukakan Maslow. Kalau saja seorang manusia bisa cepat melampaui tiap tahapan itu dan segera mencapai tahapan terakhir, tahap aktualisasi diri, maka ia punya kesempatan untuk mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Apa misi yang harus dilaksanakannya dalam kehidupannya di muka bumi, untuk apa ia diciptakan.
Aktualisasi diri akan menjadikan seseorang mulai melihat kepada raga nya sendiri atau apa apa yang melekat bersama tubuh. Raga manusia memiliki banyak keterbatasan kemampuan. Keterbatasan itu adalah rahmat dari Allah Ta’ala agar manusia tidak terjebak kepada mengusahakan sesuatu yang memang bukan untuk itu ia diciptakan. Kalau coretan tangannya kaku dan tidak indah, maka tentunya membuat lukisan atau kaligrafi adalah sesuatu yang jauh dari dirinya.
MENGENALI SEJATINYA DIRI – NAFS …
Kalau kita menyebut SEJATINYA-DIRI maka pertama-tama kita harus membeda-bedakan antara entitas-entitas di dalam diri yang sedang menjadi obyek pembicaraan. Ketika kita menyebut ”DIRI” maka kita juga bisa merujuk kepada sesuatu yang ada dalam badan jasmani ini yang akan tetap hidup walaupun jasmani ini mengalami ajal. ”Diri” yang dimaksudkan disini adalah diri yang tetap terjaga ketika raga atau jasmani sedang tidur, dan ”diri” yang inilah yang akan tetap hidup di alam barzakh nanti dan hanya akan mati saat terjadi kiamat dimana semua yang berjiwa akan mati. Dalam Al Quran, inilah yang disebut dengan Jiwa atau ”An-Nafs” [2]. Dengan demikian, SEJATINYA DIRI adalah JIWA atau NAFS karena ia hidup lebih lama, bahkan melintasi berbagai alam kehidupan.
[2] bedakan antara ”an-nafs” dengan ”hawa-nafsu”. Dalam Al Quran ”hawa nafsu” disebut dengan ”hawaa”, seperti di QS.[25]:43 dan QS.[45]:23
Bila merujuk kepada jasmani atau ragawi insaan maka aktualisasi diri adalah terjadinya pengenalan terhadap jasmani. Sedangkan aktualisasi diri yang sesungguhnya adalah aktualisasi dari sejatinya-diri yakni mengenali Nafs atau Jiwa-nya sendiri. Untuk bisa mencapai tahap pengenalan sejatinya diri mau tidak mau harus diawali dari aktualisasi diri atau mengenali sejatinya jasmani karena jasmani adalah sesuatu yang sangat dekat dan jauh lebih mudah untuk dikenali daripada mengenali sesuatu yang ada di dalam jasmani.
Dan hanya dengan rahmat Allah Ta’ala saja hal itu dapat dilakukan oleh seorang manusia.
Dari Imran, dia berkata: "Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, amalan-amalan apakah yang seharusnya dilakukan orang-orang ?” Beliau Saw menjawab: "Masing-masing dimudahkan kepada suatu yang diciptakan untuknya.” [HR Bukhari]
Tahap Aktualisasi Diri yang dikemukakan Maslow merupakan langkah atau tahap awal bagi seorang manusia untuk mengenali jati dirinya, mengenali untuk apa ia diciptakan.
Fig. 6 Apa sebenarnya yang kita cari ? Kemewahan, kehormatan, kenyamanan, keamanan atau lainnya ?
Selama seorang manusia masih terjebak dalam tahapan-tahapan atau pencapaian tingkat-tingkat yang lebih rendah dari tingkat aktualisasi diri yang mengacu kepada tingkatan pencapaian dari Maslow maka sesungguhnya ia masih belum mulai melakukan pencarian terhadap jati-diri-nya sendiri. Ia masih mengejar sesuatu yang lain.

Fig. 7 Seekor bebek mungkin lebih mengetahui jati-dirinya dari pada kita karena ia tidak pernah menginginkan menjadi kuda atau berbunyi dan terbang seperti burung beo atau burung lainnya.
Manusia tidak pernah ingat tentang apa perintah Allah Ta’ala bagi dirinya karena yang berjanji dan menerima perintah itu bukan raganya, bukan pikirannya, dengan demikian tidak pernah ada dalam ingatannya atau fakultas memori di otaknya. Yang pernah berjanji adalah jiwanya. Jiwa yang adanya di dalam raga ini. Lantas sedang apakah ia saat ini. Mengapa ia tidak memberi tahu kepada kita tentang apa tugasnya agar raga bisa melaksanakannya.
Itulah yang harus kita cari tahu.
PENUTUP
… wahai Rabb. Kami selalu menganiaya Jiwa kami yang ada di dalam raga kami, bilamana Engkau tidak berkenan mengampuni kami maka pastilah kami menjadi orang yang merugi.
… wahai Rabb. Kami akan selamanya menganiaya Jiwa kami selama kami tidak mengenali jiwa kami, maka berilah kami pertolongan agar kami bisa mengenali jiwa kami sendiri. Agar kami bisa beramal di muka bumi ini seperti yang telah Engkau tugaskan kepada jiwa kami di saat Engkau menciptakan kami.
… wahai Rabb. Lindungilah kami dari jebakan alam pikiran kami sendiri yang menjadikan kami terhijab dari kebenaran yang hakiki [al haqq] semata-mata berasal dari Engkau.
Bandung - 30/06/2008-edit 02/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab
Terimakasih kepada sahabat ”soul-searching poems”. Thanks to you Bud !
Jazakumullaah khoiron katsiron.

