... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Buncis dalam periuk …

Thursday, July 31, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:56 | Anda mau email artikel ini ?

Lihatlah buncis dalam periuk.
Betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan,
merintih terus menerus tiada henti.
Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?
Engkau membeliku: Mengapa kini kau siksa aku seperti ini ?

Sang Isteri memukulnya dengan penyendok.

“Sekarang,” katanya, “jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencian-ku, sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup: kesengsaraan bukanlah penghinaan.

- mau melanjutkan membaca … ?

Demi sebuah tugas …

Wednesday, July 30, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 15:39 | Anda mau email artikel ini ?

Seseorang berkata: “Ada sesuatu yang telah aku lupakan !”

Rumi's Divine Dance, Sema - Whirling DervishesRumi menjawab: Ada sesuatu di dunia yang tidak boleh dilupakan. Jika kamu melupakan semua yang lain tetapi tidak melupakan yang satu itu maka kamu tidak perlu cemas. Tetapi jika melakukan dan mengingat segala yang lain tetapi melupakan yang satu itu maka kamu sesungguhnya tidak melakukan apapun yang berharga.

Ibaratnya ketika seorang raja mengirimmu ke suatu negeri untuk menjalankan sebuah tugas khusus. Jika kamu pergi dan menyelesaikan seratus tugas lain namun lupa melakukan tugas yang khusus itu maka ini seolah-olah kamu tidak melakukan apa-apa.

Jadi…., setiap orang memasuki dunia ini demi sebuah tugas khusus dan itulah tujuan mereka…. Jika mereka tidak melaksanakannya maka mereka sesungguhnya mereka tidak melakukan apa-apa….”

Segala sesuatu dibebani sebuah tugas … !

- mau melanjutkan membaca … ?

Tetap ingkar …

Tuesday, July 29, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:27 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi berkata,

Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “
Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur …
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar ….
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang …..
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang ……
Keajaibannya tak terlukiskan: Mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini ?

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorangpun diantara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa-nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa …

Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina. Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.

Maulana Jalaluddin Rumi – Matsnawi III, 53

[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]

- mau melanjutkan membaca … ?

Tidur dan terlena …

Monday, July 28, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:13 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi berkata,

Seseorang yang tinggal bertahun-tahun di suatu kota,
setelah ia tertidur segera,
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan,
serta kotanya sendiri hilang dari pikirannya.

Ia tak pernah berkata kepada dirinya, “Ini sebuah kota-baru; aku adalah seorang asing disini”; [1]

Sebaliknya, ia membayangkan selalu tinggal di kota ini, dilahirkan dan dibesarkan disini. [2]

Apakah mengherankan apabila kemudian,
diri tidak ingat lagi akan kampung halamannya dan tanah kelahirannya,
karena ia lelap saat di dunia ini, bagai sebuah bintang diselimuti awan ?

Apalagi saat ia melangkahkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu. [3]

- mau melanjutkan membaca … ?

Khutbah Nasruddin …

Sunday, July 27, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 12:14 | Anda mau email artikel ini ?

The Fabulous adventure of Nasruddin HojaSuatu ketika, orang-orang di kota mengundang Nasruddin untuk menyampaikan khutbah di sebuah majelis.

Ketika tiba di mimbar, dia mendapati bahwa sebagian besar hadirin dalam majelis itu tidak terlampau bersemangat untuk mendengarkan khutbahnya. Sesudah menyampaikan salam, Nasruddin bertanya kepada hadirin, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Hadirin serempak menjawab, “Tidak !” Sebab itu Nasruddin berkata, “Aku tidak punya keinginan untuk berbicara kepada orang-orang yang tidak mengetahui apapun tentang apa yang akan aku bicarakan” kemudian berjalan turun dari mimbar dan meninggalkan majelis.

Orang-orang merasa tidak enak hati kepadanya dan mengundangnya lagi pada keesokan harinya.

Keesokan harinya, sesampai di mimbar, Nasruddin mengulang pertanyaan yang sama dan hadirinpun menjawab, “Ya !”. Maka Nasruddin berkata, “Baiklah, karena kalian sudah tahu apa yang akan aku katakan maka aku tidak akan membuang waktu kalian yang sangat berharga.” Kemudian ia turun dari mimbar dan berjalan pulang. Kali ini orang-orang benar-benar dibuat bingung dan akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi dan mengundangnya agar datang lagi minggu depan menyampaikan khutbah.

Minggu depannya, ketika naik mimbar, Nasruddin lagi-lagi bertanya yang sama, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Kali ini hadirin sudah bersiap-siap untuk pertanyaan itu, maka sebagian dari mereka menjawab “Tidak !” dan sebagian lagi menjawab “Ya !”

Nasruddin pun berkata lagi, “Baiklah, kalau begitu sebahagian yang sudah tahu bisa menceritakan kepada sebahagian lainnya yang belum tahu” dan ia pun kemudian turun meninggalkan mimbar.
 

Bandung - 17/07/2008 [Mulla Nasruddin stories, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2008]

Ketenangan hati …

Saturday, July 26, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 8:52 | Anda mau email artikel ini ?

Sudah lama Abunawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda. Ia juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abunawas. Tentu saja suasana kedai tak semarak karena Abunawas si pemicu tawa tak ada.

Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abunawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik yang dihadapi.Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong, "Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barangkali aku bisa membantu." kata kawan Abunawas. "Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia." kata orang itu membeberkan kesulitannya.

Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di rumahnya saja. Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abunawas sedang mengaji.

- mau melanjutkan membaca … ?

Pendakian Jiwa …

Friday, July 25, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 13:25 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi bersajak,

Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insaan.
Mengapa aku mesti takut ? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian ?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insaan, untuk membumbung
bersama para malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat Malaikatpun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Allah.
[1]
Ketika Jiwa Malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkan aku tiada ! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga, “Sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali.”
[2]

Jalaluddin Rumi – Matsnawi III, 3901
[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahatma says …

Thursday, July 24, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 11:53 | Anda mau email artikel ini ?

Mahatma Gandhi say,

The earth provides enough to satisfy every man’s NEEDS
but not every man’s GREED.

Nama Diri sebenarnya …

Wednesday, July 23, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 17:34 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi bersajak,

Pernahkah kau dengar nama segala sesuatu dari Yang Maha Mengetahui ?
Dengarlah makna rahasia “Dia mengajarkan kepadanya Nama-Nama”
[1]
Bagi kita, nama segala sesuatu adalah bentuk-bentuk lahirnya; bagi Sang Maha Pencipta, ia adalah hakekat bathinnya.
Dalam pandangan Musa, nama tongkatnya adalah ‘tongkat’; dalam pandangan Rabbu-l-alamiin namanya “naga”.
[2]
Di dunia ini nama ‘Umar’ adalah ‘pemuja berhala’, namun di alam baqa ia adalah “mukmin yang sesungguhnya”. [3]
Di hadapan Allah Ta’ala, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sesungguhnya. [4]

Maulana Jalaluddin Rumi - Matsnawi I, 1238
[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]

- mau melanjutkan membaca … ?

Nasruddin pura-pura dungu …

Tuesday, July 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 12:31 | Anda mau email artikel ini ?

Nasruddin biasa berdiri di tepi jalan di hari pasar agar menjadi bahan tertawaan orang yang lalu-lalang karena laku kedunguannya, tidak peduli seberapa sering orang-orang menawarkan (uang logam) keping besar atau kecil, ia selalu memilih keping yang kecil.

Suatu hari, seorang yang baik-hati berkata kepadanya, ”Nasruddin, engkau harus memilih keping yang besar sehingga kemudian kamu bisa memiliki uang yang lebih banyak dan orang-orang tidak lagi dapat menjadikan engkau sebagai bahan tertawaan”…..  

”Mungkin itu benar”, kata Nasruddin, ”Tetapi bila aku selalu memilih keping yang besar maka orang-orang akan berhenti menawariku uang karena mereka tidak lagi melihat bahwa aku lebih dungu daripada mereka. Kalau seperti itu maka aku menjadi tidak punya uang sama sekali”

Bandung - 17/07/2008
[Mulla Nasruddin stories, alih bahasa oleh wiwin.wr ©
2008]