... Beranda Suluk ...
... suluk - beranda suluk - serambi suluk - biduk diri - menyapa pagi ...

 
 

Perkawinan, esensinya …

Saturday, July 19, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG SUFI pk. 5:09 | Anda mau email artikel ini ?

a bouqette of rosesRumi berkata:

“Siang dan malam kamu berada di medan peperangan, berjuang keras untuk mengubah sifat si lawan jenis, untuk menjernihkan ketidakmurnian mereka dan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan. Lebih baik untuk menyucikan  dirimu sendiri melalui mereka ketimbang mencoba menyucikan mereka melalui dirimu. Ubahlah dirimu dengan bantuan mereka. Pergilah kepada mereka dan terimalah apa-apa yang mereka katakan, sekalipun dari sudut pandangmu kata-kata mereka terdengar aneh dan tidak adil.

Nabi Muhammad Saw. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam”, itulah sebuah kebenaran.

Cara hidup para rahib adalah penyepian, yang berdiam di gunung-gunung, laki-laki tidak hidup dengan wanita dan menjauhkan diri dari dunia. Allah menunjukkan kepada Nabi sebuah jalan lurus yang tersamar.


Jalan apa itu ? Jalan Perkawinan, sehingga kita dapat menghadapi cobaan-cobaan hidup bersama dengan pasangan kita, untuk mendengarkan tuntutan mereka, demi mereka yang memperlakukan kasar kepada kita, yang dengan cara ini untuk menghaluskan perangai kita sendiri.

Dengan memikul dan hidup bersama dengan perangai kejam pasanganmu, ini seolah-olah kamu menghapus ketidakmurnianmu sendiri melalui mereka. Perangaimu menjadi baik melalui kesabaran; perangai mereka menjadi buruk melalui penguasaan dan penyerangan. Ketika kamu menyadari ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka seperti sebuah pakaian; melalui diri mereka, kamu dapat membersihkan ketidakmurnianmu sendiri dan dirimu menjadi bersih.

Tepiskanlah kebanggaanmu, kecemburuan dan iri-hati, sampai kamu mengalami kesenangan dalam berjuang dan memikul penderitaan. Melalui tuntutan-tuntutan mereka temukanlah keriangan spiritual. Setelah itu, kamu akan memikul perjuangan serupa, dan kamu tidak akan lari dari penindasan, karena kamu akan melihat keuntungan-keuntungan yang mereka berikan untukmu.

[saya mohon maaf kepada para wanita yang setia kepada suami karena menuliskan bagian di bawah ini]

Dikisahkan bahwa suatu malam Rasulullah saw. kembali dengan para sahabat dan pengikutnya dari sebuah serangan. Nabi memerintahkan mereka untuk menabuh genderang, seraya berkata “Malam ini kita akan tidur di gerbang kota dan memasuki kota esok harinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasululah, mengapa kita tidka langsung pulang saja ?” Dia berkata, “Mungkn saja kamu melihat isterimu di tempat tidur bersama lelaki lain. Kamu akan sakit hati dan akan menimbulkan keributan.” Salah seorang pengikut tidak mendengar pesan ini; dia masuk ke rumah dan menemukan isterinya bersama lelaki asing.

Jalan sang Nabi Saw. adalah: Perlulah memikul penderitaan untuk membantu membuang keegoan diri, kecemburuan dan kecongkakan. Mengalami penderitaan dari hasrat-hasrat pasangan kita yang luar biasa, penderitaan dari beban yang sungguh tidak adil, dan seratus ribu penderitaan lain di atas semua ikatan sehingga jalan spiritual menjadi jelas. Jalan Isa as. adalah bergelut dengan kesunyian dan tidak memanjakan hawa nafsu. Jalan Muhammad adalah untuk memikul penindasan dan penderitaan yang disebabkan oleh laki-laki dan wanita kepada pihak lain. Jika kamu tidak dapat berjalan dengan jalan Muhammad, setidaknya pergilah dengan jalan Isa, agar kamu tidak sepenuhnya berjalan di luar jalan spiritual.

Jika kamu memperoleh ketenangan untuk memikul seratus pukulan, yang melihat buah-buahan dan panenan yang muncul darinya, atau mempercayai dalam hatimu yang tersembunyi, “Meskipun saat ini aku tidak melihat buah dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan mencapai perbendaharaan itu, ya, dan lebih dari yang pernah kamu inginkan dan harapkan.

Jika kata-kata ini tidak mempengaruhimu sekarang ini, setelah sesaat kamu menjadi lebih dewasa, kata-kata itu akan meninggalkan sebuah kesan yang besar. Inilah perbedaan antara berbicara dengan pesanganmu dan seorang kawan. Ketika kamu berbicara kepada pasanganmu, mereka masih tetap sama dan tidak akan mengubah cara-cara mereka apapun yang kamu katakan. Kata-katamu tidak memiliki pengaruh kepada mereka, sekalipun mereka lebih merasa yakin.

Misalnya ambilah sepotong roti, letakkan di bawah tanganmu, dan jangan berikan kepada orang lain, dengan berkata, “Aku tidak memberikannya kepada siapapun. Berikan ? Mengapa, aku bahkan tidak mau menunjukkannya.”

Sekalipun jika irisan roti itu dilempar dimana hewanpun tidak mau memakannya karena roti saat itu begitu berlimpah dan murah – tetapi di saat kamu mulai menolaknya, setiap orang mengejarnya dan memancangkan hati kepadanya, memohon dan menuntutnya, “Kami ingin melihat roti itu yang kamu tolak dan sembunyikan.” Terutama jika kamu menyembunyikannya selama setahun, dengan bersikeras secara halus bahwa kamu tidak akan memberikan ataupun menunjukkannya, keinginan mereka untuk melihat roti itu akan menerjang semua pembatas, karena, “Orang-orang bergairah pada apa saja yang tidak diberikan kepadanya.”

Semakin kamu memberitahu pasanganmu, “Tetaplah sembunyikan dirimu” semakin besar dorongan mereka untuk menggoda dan menunjukkan diri. Dan melalui penyembunyian wujud mereka, lawan jenis menjadi lebih menginginkannya. Jadi tempatkan dirimu di tengah-tengah, yang memperbesar keinginan mereka pada kedua sisi, dan anggaplah dirimu sebagai pembaharu !

Mengapa, itulah esensi dari korupsi. Jika mereka memiliki dalam diri mereka kualitas alamiah untuk tidak melakukan kejahatan, apakah kamu mencegah mereka atau tidak, mereka akan melakukannya sesuai dengan temperamen mereka yang baik dan ketetapan-hati yang murni. Jadi yakinlah dan jangan cemas. Jika mereka besikap sebaliknya, mereka tetap akan melanjutkan jalan mereka sendiri; mencoba untuk menghentikan mereka sesungguhnya tidak lain kecuali meningkatkan kemauan mereka.………

[sumber: Fihi Maa Fihi – Maulana Jalaluddin Rumi, Discourses of Rumi by AJ Arberry – Omphaloskepsis, Ames, IOWA dan versi terjemahannya cetakan Pustaka Firdaus 2004]
 

Comments

by: mita darsono
at: 2008-09-05

Dear all
Aku mau sharing dan tolong bantu aku juga apa yg hrs aku lakukan ?
Aku ibu 3 anak mengalami kelumpuhan badan krn stroke 3 thn lalu, berat utk aku menerima kondisi ini awal2nya, jalan2 di mall pake kursi roda semua mata memandang iba padaku, anak2 yg kehilangan sentuhanku langsung, syukur seluruh keluarga dan teman mensupport aku, sampai pd th kedua suamiku menikah lagi diam2 tanpa aku ketahui, walau akhirnya aku tahu jg dr teman2nya yg kasihan padaku, awalnya suamiku yg selalu membesarkan hatiku dg tidak mengurangi perhatian dan rasa cintanya padaku, namun ada wanita yg menggoda demikian kuat, cantik sempurna namun sayang hitam hatinya krn dia tega merebut suamiku dr aku dan anak2 yg masih butuh perhatiannya, cantik rupa buruk hati. Suamiku semakin tergoda dan mrk menikah siri diluar kota, sakit hatiku mengetahuinya, awal2 suami hanya berpoligami dan aku menerimanya dg ikhlas, tapi lama2 mereka ingin menikah resmi dan s dgn terus berdoa mohon pada Allah supaya suami memaksa menceraikan aku. Aku tidak mau, bertahan k rn kasihan anak2 dan aku masih mencintainya, Tapi lama2 krn aku tidak mau dicerai, suamiku mulai menzolimi aku dgn sering tidak pulang, tidak perhatian dg anak2, aku sabarin aja krn dia sedang mabuk cinta. Berbulan2 aku sabar dgn terus berdoa mohon pada Allah supaya suamiku kembali terbuka hatinya, Semua keluarga, teman yg tadinya sangat respek dgn dia krn sabar mendampingi istri sakit menjadi marah dan menyarankan aku utk menerima gugatan cerainya, aku tidak mau, aku terus bertahan dg berusaha melayaninya dg baik jika dia di rumah, aku menjalani kehidupan berpoligami dg kondisi suamiku lbh byk di istri mudanya, Dia terus memaksa cerai, aku sempat menyetujuinya, tapi aku berfikir bukankah sakitnya aku ini adalah ujian hidup dia jg, jadi dia jg harus menjalaninya, jgn cuma mau enaknya aja, dulu aku sehat cantik dia sayang sekali sm aku, tapi stlh aku lumpuh bukannya dia mensupport aku malah cari enaknya sendiri, aku terus sabar dgn perlakuan dia yg tidak adil dg kondisi tubuh begini, tapi keyakinanku yg besar bahwa aku pasti sembuh dan normal lagi serta keyakinan suamiku jg pasti akan tersadar dr mabuknya membuat aku enjoy2 aja menjalani hidupku walau kadang2 emosiku penuh juga dgn 2 kesulitanku saat ini. Oh Gusti berat penaGnjakan ini dan jika ingin mendekat padaMu. Aku pasrahkan semua berjalan biar tangan Allah yg bekerja. Bagaimana saudara2 semua, apa yg hrs aku lakukan, terus mendiamkan suamiku terus menzolimiku, atau aku lepaskan saja semua,mengorbankan semua keinginanku, cita2ku yg ingin menikah sekali seumur hidup. Aku tunggu pandangan saudara2ku sekalian. Doakan aku tetap kuat lahir dan bathin. Wass.

by: wiwin
at: 2008-09-07

Salam sahabat-sahabatku pembaca sekalian. Bila ada yang merasa terpanggil untuk memberikan pandangan, maka saya persilahkan untuk menuliskannya disini.

Mbak Mita, persoalan mbak sangat tidak sederhana, menyangkut banyak perkara, terutama perkara tentang hakikat dari kehidupan, perkara takdir dan perkara lain-lain yang Allah Ta’ala hadirkan untuk setiap manusia dalam perjalanan menempuh kehidupannya di muka bumi-Nya ini . Ijinkan saya untuk mengendapkannya dahulu, mudah-mudahan, atas ijin Allah Ta’ala, ada yang bisa saya lakukan melalui tulisan-tulisan saya untuk perkara yang mbak hadapi. Sementara itu, mengupayakan sebuah kesembuhan total adalah salah satu yang utama bagi mbak karena ketiga putera dan puteri tentunya sangat membutuhkan dan akan sangat senang bilamana ibunya bisa menemani mereka disaat mereka sangat membutuhkan kehadiran figure seorang ibu dalam kehidupan mereka, …. o ya sudah duduk di kelas berapa mereka mbak ? Wassalam.

Leave a reply to this post, be my guest ...

your name please [required]

your email please [required], will not be published,

your website,

type-in, take your time.