... Beranda Suluk ...
... suluk - beranda suluk - serambi suluk - biduk diri - menyapa pagi ...

 
 

Pendakian Jiwa …

Friday, July 25, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG SUFI pk. 13:25 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi bersajak,

Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insaan.
Mengapa aku mesti takut ? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian ?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insaan, untuk membumbung
bersama para malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat Malaikatpun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Allah.
[1]
Ketika Jiwa Malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkan aku tiada ! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga, “Sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali.”
[2]

Jalaluddin Rumi – Matsnawi III, 3901
[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]


i says:

[1] Lihat QS. Al Qashash [28]:88
[2] Lihat QS. Al Qashash [28]:88 juga ada di QS. Al Baqarah [2]:156

Sebagaimana Al Ghazali juga mengatakan dalam kitabnya bahwa perbedaan manusia dengan makhluk lainnya di semesta alam-alam ini adalah karena manusia bisa mewadahi ilmu dan hikmah. Katanya : Manusia bisa menerima, menampung, mewadahi ilmu & hikmah. Yang termulia dari ’ramuan/kimiya ilmu-pengetahuan’ adalah pengetahuan tentang Allah Swt., Shifat-shifat-Nya, Asma-asma-Nya, tindakan-tindakan atau af’al-Nya. Dan hanya oleh sebab itulah manusia akan menjadi sempurna. Dan oleh sebab itu pula maka manusia diciptakan Allah Swt. dengan bentuk seperti kita sekarang ini.

Dengan demikian manusia yang belum menjadi wadah dari ilmu dan hikmah adalah seumpama makhluk lainnya yang lebih rendah, apakah itu sekualitas dengan mineral atau lebih tinggi sedikit yakni sekualitas tumbuhan atau lebih tinggi lagi yakni hewan. Al Ghazali juga mengungkap bahwa manusia yang tidak menjadi wadah ilmu dan hikmah adalah seumpama manusia-hewani atau dengan kata lain ia belum menjadi "manusia yang sebenarnya" walaupun ujudnya seperti manusia tetapi pada hakekatnya ia belum menjadi manusia. Dan menjadi manusia yang sebenarnya ini adalah "AKTUALISASI DIRI" berdasarkan kriteria Al Ghazali.

Mengapa seorang bisa belum menjadi manusia yang menjadi wadah ilmu pengetahuan dan hikmah ?

Rasulullah Saw. menjelaskan:
Bahwasanya hikmah datang dari langit, turun ke dalam qalb insaan kecuali qalb yang di dalamnya masih terdapat 4 (empat) perangai :

1. Perangai yang cenderung kepada dunia.
2. Perangai yang mendukakan masa depan.
3. Perangai yang mengharapkan kehormatan dari makhluk lain.
4. Perangai yang mendengki saudaranya sendiri.

Marilah kita tengok ke diri kita sendiri. Sudah seperti apakah kita ini ?

Bandung - 18/07/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

 

No one leave comments yet, will you be the first one ?

Leave a reply to this post, be my guest ...

your name please [required]

your email please [required], will not be published,

your website,

type-in, take your time.