Tidur dan terlena …
Monday, July 28, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wrRumi berkata,
Seseorang yang tinggal bertahun-tahun di suatu kota,
setelah ia tertidur segera,
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan,
serta kotanya sendiri hilang dari pikirannya.Ia tak pernah berkata kepada dirinya, “Ini sebuah kota-baru; aku adalah seorang asing disini”; [1]
Sebaliknya, ia membayangkan selalu tinggal di kota ini, dilahirkan dan dibesarkan disini. [2]
Apakah mengherankan apabila kemudian,
diri tidak ingat lagi akan kampung halamannya dan tanah kelahirannya,
karena ia lelap saat di dunia ini, bagai sebuah bintang diselimuti awan ?Apalagi saat ia melangkahkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu. [3]
[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, Pustaka Firdaus 1996]
[1] "kota-baru" adalah alam dunia, di muka bumi yang lahiriyyah ini, tempat insaan menggunakan jasadnya untuk berjalan dan mengembara.
[2] "ia membayangkan selalu tinggal di kota ini" adalah tidak adanya ingatan bahwa ada sebuah kota lain yang sebenarnya adalah kampung halamannya yang sesungguhnya.
[3] "ia melangkahkan kaki di berbagai kota" adalah sebagai terminal-terminal dalam kehidupannya atau pengalaman-pengalaman lahiriyyah dalam kehidupannya, pendidikan orangtua dan sekolahnya, buku-buku bacaannya dan pergaulannya, semuanya adalah yang membentuk kerangka dasar dan membangun struktur berpikirnya….
"dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu" adalah semua kerangka dan bangunan berpikirnya didirikan di atas dasar ketidakingatannya terhadap kotanya yang sesungguhnya. Keadaannya seperti debu yang menutupi penglihatan adalah tutupan ingatannya terhadap kotanya yang sesungguhnya belum terhapus tetapi ia sudah memasukkan pengetahuan baru tentang kota-kota yang di jalani oleh kakinya.

Mauthin Dunia jasad lahiriyyah adalah alam yang kurang nyata, ibaratnya seperti sebuah mimpi di alam tidur, sedangkan kesadaran yang sesungguhnya ada pada alam jiwa, malakutiyyah, yang lebih tinggi dan lebih nyata, tempat yang sesungguhnya bagi jiwa-jiwa manusia sebelum diperintahkan Allah Ta’ala turun ke bumi dan menggunakan pakaian jasadnya untuk berjalan, dan alam malakutiyyah pula tempat dimana ia berada setelah jasadnya mati, Mauthin Barzakh.
Ingatlah, bagaikan astronot yang berpakaian lengkap menjelajahi bulan. Dan ia selalu ingat bahwa tempat tinggalnya adalah di bumi sedangkan kehadirannya di bulan hanyalah singgah sementara waktu, tempat dimana ia bekerja melaksanakan misinya, untuk kemudian kembali ke bumi membawa hasilnya.
Bandung - 18/07/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

