... Beranda Suluk ...
... suluk - beranda suluk - serambi suluk - biduk diri - menyapa pagi ...

 
 

Demi sebuah tugas …

Wednesday, July 30, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG SUFI pk. 15:39 | Anda mau email artikel ini ?

Seseorang berkata: “Ada sesuatu yang telah aku lupakan !”

Rumi's Divine Dance, Sema - Whirling DervishesRumi menjawab: Ada sesuatu di dunia yang tidak boleh dilupakan. Jika kamu melupakan semua yang lain tetapi tidak melupakan yang satu itu maka kamu tidak perlu cemas. Tetapi jika melakukan dan mengingat segala yang lain tetapi melupakan yang satu itu maka kamu sesungguhnya tidak melakukan apapun yang berharga.

Ibaratnya ketika seorang raja mengirimmu ke suatu negeri untuk menjalankan sebuah tugas khusus. Jika kamu pergi dan menyelesaikan seratus tugas lain namun lupa melakukan tugas yang khusus itu maka ini seolah-olah kamu tidak melakukan apa-apa.

Jadi…., setiap orang memasuki dunia ini demi sebuah tugas khusus dan itulah tujuan mereka…. Jika mereka tidak melaksanakannya maka mereka sesungguhnya mereka tidak melakukan apa-apa….”

Segala sesuatu dibebani sebuah tugas … !


Langit mengirim hujan dan cahaya untuk hamparan padang agar bersemi dan tumbuh hidup. Bumi menerima benih dan melahirkan buah-buahan, ia sendiri menerima dan mengungkapkan seratus ribu keajaiban yang terlampau banyak untuk diceritakan. Gunung-gunung menjaga tambang-tambang emas dan perak.

Semua benda ini, langit, bumi dan gunung bekerja, namun tidak melakukan satu hal “yang itu” : ” tugas khusus yang itu ” ….. kita yang melakukannya !!!

Kami menawarkan Kepercayaan kepada langit-langit, bumi dan gunung-gunung, mereka menolak untuk melakukannya dan takut akannya, tetapi manusia melaksanakannya. Sungguh mereka berlumur dosa dan bodoh… [1]

Jadi manusia diberi sebuah tugas, dan ketika mereka melaksanakannya semua dosa dan kebodohan lenyap.

Kamu berkata, “Lihatlah semua kerja yang aku laksanakan sekalipun aku tidak melakukan tugas yang satu itu.” Tetapi sesungguhnya kamu tidak diciptakan untuk tugas-tugas yang lain itu.

Ini seolah-olah kamu diberi sebilah pedang baja India yang tiada tara, yang hanya bisa ditemukan dalam harta benda Raja-Raja, dan kamu memperlakukannya sebagai sebuah pisau jagal untuk memotong-motong daging busuk seraya berkata, “Tak akan kubiarkan pedang ini terbaring begitu saja, aku akan menggunakannya dengan banyak cara yang berfaedah.”

Atau ini, seperti mengambil mangkuk emas yang murni untuk memasak lobak-lobak Cina, padahal secuil saja emas itu dapat dibelikan seratus pot lobak.

Atau ini, seolah-olah kamu sedang mengambil sebuah palang Damascene [2] yang paling indah untuk menggantung sebuah labu pecah seraya berkata, “Aku sedang memanfaatkannya. Aku sedang menggantung sebuah labu di atasnya. Aku tidak akan membiarkan palang ini sia-sia.” Betapa bodohnya ! Labu dapat mengantung dengan sempurna di atas sebuah paku kayu atau besi yang nilainya jauh lebih rendah, jadi mengapa harus menggunakan sebuah palang yang nilainya ratusan pound.

Seorang pujangga pernah bertutur:

Engkau lebih mulia daripada langit dan bumi.
Apa yang perlu aku katakan lagi ?
Engkau tidak tahu nilaimu sendiri.

Allah berfirman, “Aku akan membelimu…. Masamu, nafasmu, hartamu, hidupmu. Habiskan semua itu kepada-Ku. Palingkan semua itu kepada-Ku, dan Kubayar dengan kebebasan, keagungan dan kearifan Ilahiyyah. Inilah hargamu dimata-Ku”

Tetapi jika kita menjalani hidup demi diri sendiri, maka kita kehilangan harta-harta yang telah dianugerahkan kepada kita. Seperti seseorang yang menancapkan palang itu, yang bernilai ratusan pound ke dinding untuk menggantung sebuah labu, harta berharga mereka hanya berharga sebuah paku.

[1] lihat QS.[33]:72

i say:

Raga dan Jiwa bagaikan dua kekasih yang sebelumnya tidak mengenal satu dengan lainnya. Mereka bertemu di sebuah pernikahan, merencanakan hidup bersama dengan Jiwa sebagai imam. Pernikahan mereka terjadi di kandungan ibu pada usia 120 hari.

Di muka bumi ini, Raga yang lahiriyyah ini adalah kendaraannya sedang Jiwa adalah pengendaranya. Raga menjadi lebih berkuasa dari pada Jiwa bahkan seringkali mengabaikan kehadiran Jiwa karena ia lebih mengenal alam sekitarnya sedangkan Jiwa yang berasal dari alam lainnya dan sama sekali belum mengenali alamnya yang baru. Jiwa  harus diperkenalkan kepada alam dunia oleh Raganya, oleh pasangannya, baru setelah itu ia bisa menunaikan tugasnya dengan menggunakan kendaraannya.

Mengapa ?

Karena kendaraan tidak pernah tahu apa yang dikehendaki penunggangnya dan kendaraan tidak pernah tahu apa yang menjadi tugas dan kewajiban pengendaranya.

Rumi berkata,

Bagi Jiwa, ada ‘makanan’ lain di samping ‘makanan’ yang berupa tidur dan makan, tetapi engkau telah melupakan ‘makanan’ lain itu. Siang dan malam engkau hanya merawat Ragamu. Begini, Raga ini seperti seekor kuda dan dunia rendahan ini adalah kandangnya [stable]. ‘Makanan’ kuda tidak sama dengan ‘makanan’ penunggangnya. Engkau adalah penunggang dan memiliki tidur, makan dan kenyamanan yang berbeda. Tetapi oleh sebab hewan itu memiliki golongan lebih tinggi, engkau tertinggal di belakang daripadanya di kandang kuda. Engkau tidak dapat ditemukan di tataran para Raja dan Pangeran dalam dunia abadi. Hatimu disana tetapi karena Ragamu memiliki kekuasaan lebih tinggi, engkau tunduk kepada aturannya dan tetap menjadi tawanannya.

Ketika Majnun, seperti dalam hikayat, sedang melakukan perjalanan menuju rumah kekasihnya Laila, sepanjang ia benar-benar sadar ia mengemudikan untanya ke arah itu. Tetapi ketika saat ia terhanyut dalam ingatannya kepada Laila dan melupakan untanya, unta itu kembali dan menelusuri jalan ke desa menuju tempat dimana anak unta itu berada.

Ketika menyadari hal ini, Majnun mendapati bahwa ia telah mundur ke belakang sejauh dua hari perjalanan. Selama tiga bulan ia meneruskan cara ini dan tidak menjadi bertambah dekat tujuannya.

Akhirnya, ia melompat turun dari untanya dan berkata, “Unta ini adalah kehancuranku” dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki, seraya bernyanyi,

Hasrat untaku sekarang kutinggalkan di belakang
Hasratku sendiri ada di depan
Tujuan kita berbeda
Kita tidak lagi bersepakat

i say:

Ketika tersadar, seringkali sudah terlambat, karena sudah tidak lagi berada di alam dunia sedangkan tugas belum lagi diselesaikan.
Mudah-mudahan kita tidak demikian. Na`udzubillahi min dzalika.

[Fihi ma Fihi – Maulana Jalaluddin Rumi, Discourses of Rumi by AJ Arberry, Omphaloskepsis-Ames-Iowa dan versi terjemahannya]

[2]  Apa itu Damascene atau (kata kerja) Damascening ? Bisa dilihat disini.

Damascening, is the art of inlaying different metals into one another– typically, gold or silver into a darkly oxidized steel background– to produce intricate patterns.
Inlay, is a decorative technique of inserting pieces of coloured materials into depressions in a base object to form patterns or pictures. Inlays commonly use wood veneer, but other materials like shells and niello may also be used.

Bandung - 18/07/2008 @ 21.37….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

No one leave comments yet, will you be the first one ?

Leave a reply to this post, be my guest ...

your name please [required]

your email please [required], will not be published,

your website,

type-in, take your time.