... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Sebab dan Akibat …

Sunday, August 24, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:07 | Anda mau email artikel ini ?

Ketika Allah SWT memberi ‘Izrail as. tugas mencabut nyawa, sang Malaikat Maut itu berkata, “Ya Rabbku, Engkau telah memberiku tugas yang sangat berat. Hamba-hamba-Mu akan membenciku karenanya.”  

- mau melanjutkan membaca … ?

Kisah Beo botak …

Saturday, August 23, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 0:32 | Anda mau email artikel ini ?

Sebuah kisah tentang seekor burung beo yang pandai berbicara:

Seorang pedagang minyak sangat menyukai burung beo peliharaannya karena kepandaiannya mengoceh dan kebisaannya menjaga kiosnya ketika ia sedang keluar.

Suatu hari, ketika si beo sedang sendirian di kios, seekor kucing menjatuhkan sebuah toples minyak. Ketika si pedagang kembali ke kiosnya dia menyangka bahwa si beo yang menjatuhkan toples itu. Karena marah dihantamnya kepala si beo berulang-ulang sampai bulu-bulu di kepalanya tercerabut. Sang beo pun kelenger dan kehilangan kemampuannya berbicara sampai beberapa hari saking shocknya.

Dan pada suatu hari kemudian, si beo melihat ada seorang tua yang botak berjalan melewati kios. Mendadak si beo bisa berbicara lagi, dengan bersemangat ia berteriak, ”Hai orangtua, toples minyak siapa yang engkau tumpahkan ?

Orangtua itu tersenyum. Si beo tidak tahu bahwa kebotakannya adalah karena usianya, bukan tercerabut karena dipukuli kepalanya.

.: Makanya …! Jangan suka nyama-nyamain.

Bandung - 08/08/08 [Alih bahasa oleh wiwin.wr dengan sedikit kreasi]

emas dan Pasir …

Friday, August 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 0:34 | Anda mau email artikel ini ?

The Wisdom of Al Hakim At Tirmidzi….. merupakan terjemahan dari Adabu-n-Nafsi, di dalamnya ada uraian tentang kehendak hawa-nafsu, …. mari kita simak, MARI KITA BELAJAR DARI MEREKA.

- mau melanjutkan membaca … ?

Umat yang NABI Saw rindukan …

Thursday, August 21, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 20:35 | Anda mau email artikel ini ?

Rasulullah Saw.. berwashiyah kepada Abu Hurairah ra,

"Wahai Abu Hurairah, hendaklah engkau mengikuti jalan suatu kaum, yang jika manusia merasa takut, mereka tidak takut. Jika manusia mencari keselamatan dari api neraka, mereka tidak takut … "

Abu Hurairah ra bertanya, "Siapakah mereka itu yaa Rasulullah, terangkan dan jelaskanlah ihwal mereka itu kepadaku hingga aku dapat mengenali mereka … "

Rasulullah Saw. menjawab,

"Mereka itu suatu kaum dari umatku di akhir zaman. Kelak mereka berkumpul pada Hari Qiyamah di tempat berkumpulnya para Nabi. Jika manusia memandang mereka, manusia mengira bahwa mereka itu para Nabi dari keadaan yang mereka lihat, hingga aku beritahukan kepada mereka. Aku katakan ‘Umatku, umatku …’ Maka para makhluk mengetahui bahwa mereka bukanlah para Nabi. Mereka bagaikan kilat dan angin, pandangan mata yang hadir terkesiap dengan pancaran cahaya mereka … "

Abu Hurairah ra berkata, "Yaa Rasulullah, kemukakan kepadaku amalan- amalan mereka, mudah-mudahan aku dapat mengikuti mereka … "

Rasulullah Saw. menjawab, "Wahai Abu Hurairah, kaum itu menempuh suatu jalan yang sangat terjal hingga sampai kepada tingkatan para Nabi. Mereka memilih lapar setelah Allah memberi mereka rasa kenyang, memilih telanjang setelah Allah memberi mereka pakaian, dan memilih haus setelah Allah memberi mereka rasa puas. Mereka meninggalkan itu semua karena mengharap apa yang ada di sisi-Allah. Mereka meniggalkan yang halal karena takut dengan Hisab. Mereka mempergaulinya dengan badan-badan (lahiriyah) mereka, tetapi mereka tidak menyibukkan diri dengan suatu apapun darinya. Para Nabi dan para Malaikat takjub dengan ketaatan mereka kepada Allah. Kebahagiaan bagi mereka, kebahagiaan bagi mereka, aku sangat ingin agar Allah menghimpunkan aku bersama mereka" …

Kemudian Rasulullah Saw. menangis karena rindu kepada mereka. Lalu beliau Saw. berkata, "Jika Allah hendak mengazab penghuni bumi, lalu memandang mereka, maka Dia berpaling dan tidak jadi menurunkan azab. Hendaklah engkau, wahai Abu Hurairah, mengikuti jalan mereka. Barang siapa berpaling dari jalan mereka, maka ia akan kelelahan dalam kerasnya Hisab" …

 

Bandung - 19/07/2008 ….. Mudah-mudahan bermanfaat.
[Seorang sahabat mempostingnya dalam milis keluarga, ini tulisannya: Sahabat-sahabat, Hadits Nabi Saw. ini saya ambil dari buku "Wasiat-wasiat Ibnu Arabi", wasiat ke-99. Pernah saya postingkan di milis ini pada 3 Oktober 2006 (10 Ramadhan 1427). Semoga Hadits yang menakjubkan ini masih tetap dapat menginspirasi dan menyegarkan hati kita semua. Hadits ini terkait dengan ayat-ayat Al-Qur’aan sebagai berikut: Al-Balaad [90]:10-12, Al-Insaan [76]:8-11, Ali-Imran [3]:92, Al-Baqarah [2]:177. Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali sayyidinaa Muhammad.
]

Aspek Kesadaran Insaan …

Wednesday, August 20, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 16:51 | Anda mau email artikel ini ?

Bilamana bicara tentang Ego, maka struktur model PsikoAnalitik dari Freud menjelaskan ada Internal Desire [Id] dan ada Super-Ego. Ego adalah pusat kesadaran, melalui mana Id dan Super-Ego dalam diri (yang ragawi) seorang manusia melakukan interaksi dengan lingkungan.

Ego adalah Pusat kesadaran manusia, ia adalah yang menjadi penentu dari karakter seorang manusia. Dalam pengertian yang lebih umum, karakter dipengaruhi oleh 3 faktor yakni pikiran, perasaan dan keinginan. Pada umumnya terjadi “keseimbangan” antara ketiganya namun suatu ketika perasaan bisa lebih dominan atau keinginan atau pikiran.

- mau melanjutkan membaca … ?


Halaman: 1 2 3 4

Gerhana bulan sebagian …

Sunday, August 17, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 4:30 | Anda mau email artikel ini ?

Sahabat Pembaca.

Di sepertiga terakhir malam Nisfu Syaban, Ahad tanggal 15 bulan Syaban 1429 H. dimana kita menunaikan sholat yang Rasulullaah Saw. ajarkan, 100 roka’at dengan 50 kali salam, membaca Al Fatihah dan 10/11 kali Al Ikhlas di tiap roka’at, jam 02 dinihari terjadilah gerhana bulan yang melintasi sebagian wilayah negeri kita.  Bertepatan dengan peringatan kemerdekaan negeri kita 17 Agustus, 1945-2008 ke 63.

 

Mari kita syukuri fenomena alam yang seperti ini. Sebuah Maha Karya dari Allah Ta’ala Yang Maha Agung. Kita coba tafakuri, mencari makna yang sesungguhnya, yang hendak Allah Ta’ala sampaikan kepada makhluk-makhluk-Nya. Semoga Allah Ta’ala memudahkannya.

Bandung - 17/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Keyakinan …

Friday, August 08, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 8:08 | Anda mau email artikel ini ?

Pada kurun awal penyebaran agama Islam, banyak orang terpelajar yang nenek moyangnya telah menyembah patung atau api mulai mempertanyakan tentang praktek irasional ini. Ada dua kakak beradik penyembah api yang merasakan hal ini. Salah satu dari mereka mempunyai ide untuk memasukkan tangan mereka ke dalam api. Jika  terbakar berarti mereka harus berhenti menyembah api dan mulai memeluk Islam. Demikianlah mereka mengadakan upacara penyembahan kepada api, meminta kepada sembahan nenek moyang mereka itu untuk tidak membakar mereka, akan tetapi saat mereka memasukkan tangan ke dalam api, terbakarlah mereka.

Sang kakak mengatakan bahwa ia akan menyelidiki Islam. Adiknya mundur dan mengaku belum siap untuk membuang agama warisan budaya, agama nenek moyangnya.

Lalu pergilah sang kakak ke masjid terdekat. Ia begitu terpesona dan kagum melihat semua orang yang sedang shalat bersama, tanpa ada perbedaan kelas atau golongan. Budak berdiri di samping orang-orang penting, kaya dan miskin bercampur gaul. Qalb sang penyembah berhala itu pun tergerak oleh kebenaran dari ayat- ayat kitab suci yang dibacakan, dan penjelasan tentang Tuhan yang disampaikan seorang Ustadz. Ia pun bangkit ketika shalat berjama’ah selesai dan menyatakan niatnya untuk memeluk Islam. Para jama’ah disana begitu tersentuh dan gembira dengan keikhlasannya. Dan karena jelas tampak bahwa ia seorang yang miskin, beberapa dari penganut Islam yang kaya menawarkannya pinjaman uang atau menawarkan untuk memberi pekerjaan. Orang itu menolak semua tawaran pertolongan tersebut, sambil berkata bahwa Tuhan telah menolongnya bahkan pada saat ia masih belum masuk Islam dan kini ia telah memiliki keyakinan, tentulah ia dapat melanjutan bergantung hanya kepada Allah saja.

- mau melanjutkan membaca … ?

Kaya atau miskin … ?

Wednesday, August 06, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 15:31 | Anda mau email artikel ini ?

Cinta bagai AngurKaya dan miskin hanyalah sebatas "rasa-membutuhkan akan segala sesuatu", selama seseorang masih merasa membutuhkan suatu materi maka selama itu pula ia akan merasa miskin, sebaliknya ketika seseorang merasa bahwa ia hanya membutuhkan Allah Ta’ala semata maka saat itulah ia faqir [membutuhkan] dihadapan Rabb-nya tetapi ia kaya dihadapan segala makhluk, karena tidak membutuhkan.

Dikisahkan, syahdan selama beberapa tahun Ibrahim bin Adham melanjutkan perjalanannya. Mengemis untuk makan, belajar dari dunia dan mengajar dengan contoh.

Suatu saat, berjumpalah ia dengan seseorang lelaki yang ingin memberinya sedikit uang. Ibrahim bin Adham berkata, “Jika engkau kaya, aku akan menerima  pemberianmu, tetapi tidak akan aku mau menerimanya jika engkau ternyata miskin.“
Lelaki tadi meyakinkan Ibrahim bin Adham bahwa ia sangat kaya.
“Berapa banyak uang yang kau punya?“
“Aku punya lima ribu keping emas.“
”Apakah engkau ingin punya sepuluh ribu keping emas?”
”Ya, tentu saja.”
”Apakah engkau akan lebih senang jika punya dua puluh ribu keping emas?“
”Ya, itu tentu lebih baik."

“Kalau begitu engkau sama sekali tidak kaya! Engkau lebih membutuhkan uang ini daripada aku. Aku puas dengan apapun pemberian-Nya. Tidak mungkin aku menerima apapun dari seseorang yang selalu mengharap lebih banyak.“

Kaya atau miskinkah kita ?

[
Blockquote text diambil dari: Cinta Bagai Anggur, Edisi 2, Pustaka Prabajati.
Sedikit icip-icip dari buku ini.
Cetakan ke-3 atau edisi 2 akan segera muncul, Insya Allah, diterbitkan oleh "Pustaka Prabajati", silahkan berlomba membelinya karena isinya sangat-sangat bagus, termasuk salah satu buku bacaan favorit saya. Bisa dipesan disini.
]

Bandung - 05/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Siapakah aku … ?

Tuesday, August 05, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 20:26 | Anda mau email artikel ini ?

Di sebuah majalah bulanan, ada artikel tentang “Siapakah aku” yang diawali dan diakhiri dengan cuplikan kalimat yang pernah dibaca oleh penulisnya,

……… diawali dengan sebuah kisah:

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, pernah ditanya: “Guru, di manakah tempat tinggal anda ?”
“Saya tidak tinggal dimanapun,” jawab Ajahn Chah.
“Bukankah Guru tinggal di vihara ?” tanya seorang jamaah dengan penasaran.
“Saya tidak tinggal di mana pun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah. Karena Ajahn Chah tidak ada, maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat,” jawab sang Guru.

……… diakhiri dengan sebuah syair:

Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah.
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir zaman.
Dan ruhku akan kembali kepada Sang Khalik.

……… ditutup oleh penulisnya dengan sebuah pertanyaan:

SIAPA atau APAKAH “aku” PADA KALIMAT DI ATAS ?

- mau melanjutkan membaca … ?

Lukman Hakim dan anaknya …

Monday, August 04, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 11:54 | Anda mau email artikel ini ?

[saya lupa dari mana asal kisah ini, saya tulis sesuai ingatan saya]

Syahdan Lukman yang memiliki seekor keledai hendak mengajari anaknya tentang kehidupan ini, maka suatu hari ia mengajak anaknya untuk pergi ke pasar. Untuk itu ia menyuruh anaknya menyiapkan keledai mereka. Kemudian mereka berangkat.

Lukman menaiki keledainya dan menyuruh anaknya berjalan kaki mengikuti disampingnya. Selang beberapa waktu kemudian mereka berpapasan dengan rombongan musafir dan orang-orang itu berkata, “Dasar orangtua yang mau enaknya sendiri, anaknya disuruh berjalan kaki sedangkan ia naik di atas keledai”.

Mendengar itu kemudian Lukmanpun turun dan menyuruh anaknya naik ke atas keledai. Anaknya naik keledai dan Lukmanpun berjalan kaki mengikuti disampingnya. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan kafilah yang lain lagi dan mendengar orang-orang di kafilah itu bergumam, “Dasar anak tidak tahu diri, orangtuanya disuruh berjalan kaki sedang ia enak-enak saja di atas keledai.”

- mau melanjutkan membaca … ?