Keyakinan membangun harapan …
Friday, August 08, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Pada kurun awal penyebaran agama Islam, banyak orang terpelajar yang nenek moyangnya telah menyembah patung atau api mulai mempertanyakan tentang praktek irasional ini. Ada dua kakak beradik penyembah api yang merasakan hal ini. Salah satu dari mereka mempunyai ide untuk memasukkan tangan mereka ke dalam api. Jika terbakar berarti mereka harus berhenti menyembah api dan mulai memeluk Islam. Demikianlah mereka mengadakan upacara penyembahan kepada api, meminta kepada sembahan nenek moyang mereka itu untuk tidak membakar mereka, akan tetapi saat mereka memasukkan tangan ke dalam api, terbakarlah mereka.
Sang kakak mengatakan bahwa ia akan menyelidiki Islam. Adiknya mundur dan mengaku belum siap untuk membuang agama warisan budaya, agama nenek moyangnya.
Lalu pergilah sang kakak ke masjid terdekat. Ia begitu terpesona dan kagum melihat semua orang yang sedang shalat bersama, tanpa ada perbedaan kelas atau golongan. Budak berdiri di samping orang-orang penting, kaya dan miskin bercampur gaul. Qalb sang penyembah berhala itu pun tergerak oleh kebenaran dari ayat- ayat kitab suci yang dibacakan, dan penjelasan tentang Tuhan yang disampaikan seorang Ustadz. Ia pun bangkit ketika shalat berjama’ah selesai dan menyatakan niatnya untuk memeluk Islam. Para jama’ah disana begitu tersentuh dan gembira dengan keikhlasannya. Dan karena jelas tampak bahwa ia seorang yang miskin, beberapa dari penganut Islam yang kaya menawarkannya pinjaman uang atau menawarkan untuk memberi pekerjaan. Orang itu menolak semua tawaran pertolongan tersebut, sambil berkata bahwa Tuhan telah menolongnya bahkan pada saat ia masih belum masuk Islam dan kini ia telah memiliki keyakinan, tentulah ia dapat melanjutan bergantung hanya kepada Allah saja.
Pria itu pulang ke rumah dan mengatakan pada istrinya tentang apa yang telah terjadi. Istrinya begitu gembira mendengar kepercayaan baru yang dianut suaminya dan setuju untuk ikut memeluk Islam.
Keesokan harinya, pria itu meninggalkan rumahnya untuk mencari kerja. Ia adalah seorang portir (pengangkut barang), yang mencari nafkahnya dengan mengangkut barang-barang berat. Akan tetapi tidak ada yang punya pekerjaan untuknya. Ketika tengah hari datang, ia pergi ke masjid untuk shalat. Sekali lagi ia menolak segala bantuan dari teman-teman seimannya. Ia berdoa kepada Allah untuk menghidupinya dan keluarganya. Tetapi sepanjang sisa siang itu tetap tak ada kerja yang bisa ditemukannya. Akhirnya, malam itu ia pulang ke rumahnya. Ketimbang mengecewakan istri dan anak-anaknya, ia mengatakan bahwa ia telah menemukan pekerjaan pada seorang majikan yang sangat baik, akan tetapi majikan barunya itu telah pulang terlebih dahulu sampai lupa membayar upahnya. Mereka pun makan seadanya, dengan makanan yang masih tersisa di rumah.
Hari kedua berlalu seperti hari pertama. Pria itu tidak juga menemukan pekerjaan apapun, sekuat apapun ia berusaha. Pada setiap waktu shalat, ia pergi ke masjid dan berdo’a kepada Allah untuk memberinya nafkah bagi keluarganya. Sore itu, pada saat berjalan pulang, ia memungut sedikit sisa remah roti di luar sebuah penginapan dan membawanya pulang untuk menghilangkan lapar anak-anaknya. Ia mengatakan kepada keluarganya bahwa majikannya sekali lagi lupa membayar upahnya hari itu.
Pada hari ketiga pekerjaan masih saja belum ada. Ia berdo’a dengan khusyuk pada siangnya untuk keluarganya. Ia mengerti bahwa situasi ini sebagai suatu ujian atas keyakinannya dan memutuskan untuk tidak melakukan apapun kecuali berdo’a dan mencari kerja sampai keluarganya tercukupi.
Siang itu, seorang lelaki yang tampan bercahaya datang ke rumahnya dan memberikan sekantung emas kepada istriya. Ia berkata,“Katakan pada suamimu bahwa majikannya yang baru sangat terkesan padanya.“ Sambil membuka kantung itu, ia menjerit, Oh, alangkah baiknya majikan suamiku ini !“ Sang istri belum pernah melihat sekeping koin emas pun, seumur hidupnya. Dan kini ia memegang cukup banyak keping uang emas untuk dapat membiayai keluarga mereka seumur hidup.
Sang Istri membawa sekeping koin emas itu ke penukar uang. Ketika menguji koin itu, sang penukar uang bertanya darimana wanita itu mendapatkannya, “Saya belum pernah melihat emas yang semurni ini. Saya tidak bisa membayangkan, dari bumi bagian mana ia berasal.“
Sang lelaki pengangkut barang belum juga menemukan kerja hari itu. Dalam keadaan lelah, lapar dan tertekan, ia berjalan pulang. Ia membayangkan betapa akan kecewanya istri dan anak-anaknya. Seraya berjalan pulang, ia berhenti dan membuat dua buah bungkusan dari sapu tangan besar, yang pertama diisinya pasir dan satunya lagi dengan batu. ”Paling tidak, tetangga-tetanggaku, yang telah mendengar tentang keyakinan baruku tidak akan menggunjing tentang kepulanganku yang dengan tangan hampa selama tiga hari berturut-turut.“
Ketika lelaki itu sampai di rumahnya, ia melihat pelita dinyalakan di semua jendela rumahnya dan ia mencium bau masakan daging dan sayuran. Ia membuka pintu dan melihat anak-anak dan istrinya mengenakan pakaian terbaik mereka, dilihatnya pula beberapa panci berisi masakan yang menggelegak di atas perapian. Dengan kecewa ia bertanya pada istrinya, “Apakah engkau meminjam uang dari seseorang? Darimana kau dapatkan semua makanan dan pelita-pelita ini ?“
Dengan gembira, sang istri bercerita bahwa seorang utusan dari majikan baru suaminya telah memberi mereka sebuah kantung berisikan koin terbuat dari emas murni. Pria itu melemparkan kedua buah bungkusan ke belakang pintu dan dengan bahagia berpelukan dengan keluarganya. Kemudian istrinya mengingatkannya agar ia tidak melemparkan makanan ke lantai. Sang suami berbalik dan menemukan bahwa pasir yang dibawanya telah berubah menjadi tepung-terigu terbaik dan batu berubah menjadi roti yang masih hangat !
Kita pun diberi rezeki oleh Allah. Kita juga menerima upah yang sangat baik, hanya saja, kita jarang sekali menyadarinya dan jarang sekali bersyukur…
Keyakinan membangun harapan …
[
Judul asli: Keyakinan.
Sumber: Cinta Bagai Anggur, cetakan 2, PICTS, disunting sedikit oleh wiwin.wr.
Sedikit icip-icip dari buku kisah hikmah ini. Judul aslinya "Love is a wine"
—–
Termasuk salah satu buku bacaan favorit saya, apalagi kisah yang di atas adalah salah satu kisah yang sangat berkesan ke diri saya dan masih tetap seperti itu setiap kali saya membacanya bahkan ketika saya sedang memasangnya disini.
—–
Cetakan ke tiga atau mungkin edisi kedua akan segera muncul, Insya Allah, diterbitkan oleh "Pustaka Prabajati". Silahkan berlomba membelinya karena isinya sangat-sangat bagus, isinya adalah kisah-kisah yang diceritakan oleh Syaikh Muzaffer Ozak dari Thoriqoh Helvetti-Jerrahi dan dikompilasi oleh Syaikh Ragip Frager. Bisa dipesan disini.
—–
Bandung - 05/04/2007… saya menyalinnya untuk menjadi bacaan Ahad pagi sementara cetakan yang ke tiga belum diterbitkan oleh PICTS sedangkan cetakan ke dua sudah habis dari pasaran.
]

