... Beranda Suluk ...
... suluk - beranda suluk - serambi suluk - biduk diri - menyapa pagi ...

 
 

Mental Budak …

Tuesday, August 19, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wr
Disimpan di MANAJEMEN pk. 17:05 | Anda mau email artikel ini ?

Coba bayangkan,

Boss: Besok tanggal 10 anak-buahmu harus datang rapat dan jangan terlambat, tepat jam 10 ! Mereka datang jauh-jauh India hanya untuk rapat proyek ini.
Manajer: Lho pak. Tanggal 10 kan hari Minggu.

Boss: Iya saya tahu, emang saya bodo apa. Kenapa waktu mereka minta tanggal 10 anak-buahmu diam saja ? Dan tanggal 11 juga dilanjutkan rapatnya ya !!
Manajer: (gara-gara anak-buah tidak lihat kalender dijadikan alasan nih, si bos bukannya membela pihaknya sendiri malahan membela orang asing yang ngejebak orang senegerinya) Mereka di hari minggu kan bukan menjadi haknya perusahaan pak. Hari Sabtu dan Minggu kan haknya urusan sosial mereka. Kita juga merebut hak istirahat mereka. Secara manajemen itu kan tidak baik. Mereka akan menjadi lelah dan seminggu berikutnya mereka tidak akan efektif kerjanya, kan kita sendiri yang rugi !!


Boss: Sudahlah, kita coba menghormati mereka yang datang dari jauh.
Manajer: Iya lah pak, apa boleh buat, kita usahakan menghormati orang yang tidak menghormati hak-hak kita. Saya akan minta kesediaan mereka tetapi kalau mereka tidak bisa maka saya berlepas diri dari itu, misalnya karena mereka jadi panitya Pilkada. Itu kan demi Pemerintah Indonesia.

Boss: Anda make sure mereka hadir ya.
Manajer: Saya tidak mau mengambil hak mereka pak, jadi saya hanya akan bilang bahwa hari minggu ada rapat. Lagian kan imbalan jasa pekerjaan ini sangat di bawah standard yang selayaknya.

Boss: (enggak ngejawab malah pesen ngewanti-wanti) Pokoknya anda make sure mereka datang ya. Dan beritahukan agar jangan terlambat. Klien kita tidak mau tahu ada Pilkada. Dia bilang Pilkada apaan, Pilgub kan sudah bulan-bulan lalu. [mana orang asing tahu kalau di Bandung ada dua Pilkada yang agak berturutan pelaksanaannya, PilGub dan PilWalkot]
Manajer: (geleng-geleng kepala, ini boss mau-maunya di tekan sama klien asing yang tidak menghormati hak-hak bangsa Indonesia buat ikut Pilwalkot, padahal imbalan-jasa proyek ini kecil sekali) Saya upayakan bos, yang jelas saya tidak mau mengambil hak orang !!

Boss: Ya, usahakan ya.
Manajer: Ya pak saya coba…. (wah kepala gue dipatok ayam di atas nih, gue patok aja kepala ayam yang di bawah)

Lantas ….. kring-kring di meja kerja si Kroco ….

Manajer: Eh kroco, elu tau kan si bos minta apa. Elu-elu pade salah sendiri sih, udah tahu hari minggu masih mau diajak rapat. Salah sendiri. Sudahlah, kalau bisa kalian PilWalkotnya di Jakarta saja atau TPS nya dibawa ke Jakarta sambil rapat !!!

Kroco: [geleng-geleng kepala, nasib gue jadi ayam di paling bawah, mau matok kemana lagi]: Ya pak !!.

Negeri BUDAK [?]  … Demikian tulisan Pramoedya Ananta Toer yang dijadikan blockquote oleh situs kompas dot com yang sedang memulai pemasangan artikel bersambung tentang “Ekspedisi Daendels, Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan”.

Indonesia adalah negeri budak.
Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.

[ Pramoedya Ananta Toer, dalam Novel Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ]

Ah mental budak….., dengan sangat-sangat terpaksa saya katakan bahwa yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer sungguh bisa terjadi …. !!! Kisah di atas menunjukkan bahwa sebagian (sebagian keciiiiil ? Mudah-mudahan begitu) dari orang Indonesia suka menjadi budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa lain….. …… menjadi budak itu akan berakhir dengan memperbudak bangsanya sendiri kan, … hiks hiks.

Memprihatinkan ya. Kenapa ya ? Seingat saya, Koentjoroningrat dalam sebuah bukunya (saya lupa judulnya karena sudah lama sekali saya membacanya dan buku itu bukan punya saya) juga pernah menulis tentang masalah yang serupa dengan Pramoedya Ananta Toer, persoalan sikap mental atau attitude.

Apa sebenarnya yang dicari sih ? Kenapa menjadi seperti itu ? Kenapa saling memperbudak ? Kenapa saling mamatuk, manusia yang di atas mematuk manusia yang di bawahnya ? Memangnya kita hidup di dunia ini buat apa sih ?

Itu hanya sekadar persoalan apa yang ada dalam shadr. Kalau shadr dilapangkan oleh Allah Ta’ala sebagaimana QS.[6]:125 dan QS.[39]:22 dan penjelasan Rasulullaah Saw. ketika membacakan ayat tersebut …… maka ketika shadr lapang, yang ada disitu tidak lain adalah rahmaniyyah dari seorang manusia, yang telah dirahmati Allah Ta’ala dengan diperciki Asma-Nya Yang Ar-Rahmaan, dan itu akan ditebarkan oleh manusia itu kepada makhluk-makhluk lainnya.

Ada lagi blockquote,

Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.

[ Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer ]

Ah….., tentunya kita tahu bahwa kebajikan bukanlah menghadapkan wajah ke kiri dan ke kanan, tetapi kebajikan itu, salah satunya, adalah bersedia mengorbankan apa-apa yang dicintainya untuk kerabatnya …. seperti para pejuang kemerdekaan negeri kita. Mereka mengorbankan kehirupan raganya untuk kita.

Bersediakah kita ?

Bandung - 14/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab.

[Mohon maaf: kalaupun ada kesamaan waktu, tanggal, ucapan-ucapan, jabatan, nama kota, maka itu hanyalah sebuah kebetulan, kisah ini sepenuhnya rekaan belaka]

No one leave comments yet, will you be the first one ?

Leave a reply to this post, be my guest ...

your name please [required]

your email please [required], will not be published,

your website,

type-in, take your time.