Aspek Kesadaran Insaan …
Wednesday, August 20, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wrBilamana bicara tentang Ego, maka struktur model PsikoAnalitik dari Freud menjelaskan ada Internal Desire [Id] dan ada Super-Ego. Ego adalah pusat kesadaran, melalui mana Id dan Super-Ego dalam diri (yang ragawi) seorang manusia melakukan interaksi dengan lingkungan.
Ego adalah Pusat kesadaran manusia, ia adalah yang menjadi penentu dari karakter seorang manusia. Dalam pengertian yang lebih umum, karakter dipengaruhi oleh 3 faktor yakni pikiran, perasaan dan keinginan. Pada umumnya terjadi “keseimbangan” antara ketiganya namun suatu ketika perasaan bisa lebih dominan atau keinginan atau pikiran.
HASRAT dan DORONGAN DALAM DIRI INSAAN ..
Allah Ta’ala mengajarkan kepada manusia bahwa ada tiga hal dalam diri yang perlu diwaspadai dan dikendalikan. Dua diantaranya bersifat inherent, bersifat melekat kepada diri manusia, diperlukan manusia untuk mendukung hidupnya di muka bumi ini. Sedangkan yang ketiga, yakni “… kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada [shudur] manusia” QS.[114]:4-5.
Sedangkan dua yang pertama adalah berikut ini,
“syahawaati” atau syahwat,
Raga manusia hakekatnya adalah “tanah liat yang diberi bentuk” sebagaimana Allah Ta’ala jelaskan di Al Quran, riwayat penciptaan Adam as., dan selanjutnya Bani (keturunan) Adam diciptakan Allah Ta’ala dari "saripati tanah liat" atau nuthfah. Sesuai dengan bahan dasar pembentuknya maka raga manusia akan cenderung kepada hal-hal yang berasal dari tempat yang sama dengannya, yakni material yang lahiriyyah atau yang bersumber dari tanah pula. Itulah syahwat, yakni sesuatu yang …..
Yakni sesuatu yang “Dihiaskan kepada manusia [diterjemahan biasanya ditulis: dijadikan indah pada (pandangan) manusia] kecintaan kepada asy-syahawaati [diterjemahan biasanya ditulis: apa-apa yang diingini], yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” … QS.[3]:14.
“hawaa” yang dalam bahasa sehari-hari disebut hawa-nafsu,
Dalam Al Quran, Allah Ta’ala memperingatkan manusia bahwa hawa-nafsu adalah sesuatu yang bisa menjadi tujuan pemenuhan oleh manusia,
“Terangkanlah kepada-Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya [text asli: ilaahahu hawaahu]…… QS.[25]:43 dan “……. pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya [text asli: ilaahahu hawaahu] dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? …… QS.[45]:23.
Memperturutkan hawa-nafsu sama saja dengan mempertuhankan hawa nafsu, dan akan berakibat ketertutupan tiga modal dasar yang Allah berikan, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya [min ruuhii, dalam terjemahan ditulis: ruh (ciptaan)-Nya] dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati [af’idah]; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” QS.[32]:9
Tentang hawa-nafsu;
Allah Ta’ala mewartakan bahwasanya bilamana hawa-nafsu dipertuhankan atau diperturutkan atau diikuti maka manusia akan mengalami ketertutupan hati itu sehingga penglihatan dan pendengaran hatinya menjadi tidak ada. Menjadikan manusia semakin jauh dari Al Haqq, semakin tersesatkan dari Jalan Allah, sebagaimana perintah-Nya kepada Nabi Daud as,
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia bi-l-haqq [diterjemah ditulis: dengan adil] dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” QS.[38]:26

