... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Aspek Kesadaran Insaan …

Wednesday, August 20, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KAJIAN pk. 16:51| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

ASPEK KESADARAN - SHADR INSAAN ..

Aspek kesadaran atau “shadr” ini adalah sebuah bentukan dari berbagai macam hal yang masuk kepadanya melalui pikiran dan panca indera lainnya, berkumpul menjadi satu di shadr dan selebihnya bergantung kepada kemampuan qalb untuk menyelesaikan musyawarah disitu. Bila qalbnya tidak aktif maka hawaa dan syahwat akan mendominasi shadr dan jadilah shadr sebagai kolamnya “hawa-nafsu”.

Padahal, awal-muawalnya dahulu, air di lembah itu jernih dan bersih karena hanya berasal dari mata air yang ada disana, namun lama kelamaan karena menampung limpasan air dari berbagai aliran dari sekitarnya, yang berupa air-air yang bisa berasal dari air buangan perkampungan dan pabrik-pabrik disekitarnya, juga limpasan air banjir karena penggundulan hutan maka sedikit-demi sedikit air di lembah itu menjadi keruh dan kotor.

Lembah yang penuh air yang keruh itu adalah perumpamaan shadr yang penuh dengan pengaruh hawa nafsu. Shadr yang keruh seperti kolam yang terjadi di lembah itu, berupa kolam hawa nafsu, adalah warna dari shadr seorang manusia yang memperturutkan hawa nafsunya.


Fig.2 Hubungan Shadr dalam perumpamaan lembah atau wadi yang menampung air dari sekitarnya dengan raga insaan dan perilaku kesehariannya. Catatan: Posisi Qalb insaan adalah di dalam shudur, untuk kemudahan penggambaran ditempatkan di luar kolam.

…… Begitulah perumpamaan keadaan shadr manusia yang belum dilapangkan oleh Allah Ta’ala. Yang sudah dilapangkan seperti apa ? …….

 

“aku” DALAM PENGERTIAN SEBAGAI EGO ..

Aktualisasi Diri [seperti yang dikemukakan oleh Abraham Maslow] adalah batas atas dari pencarian seseorang terhadap eksistensi-ego-nya ….. yang semakin ia mencari semakin ia tidak mendapatkannya.

Pada tingkat tertinggi versi Maslow, yang akan ditemukan oleh seseorang tidak lain sebuah pengetahuan bahwa semakin ia berusaha memenuhi perasaan dan keinginannya maka semakin pula perasaan dan keinginannya tidak terpenuhi [lihat diagram segitiga Maslow pada posting Aktualisasi Diri].

[Pada posting tentang Aktualisasi diri, bahwa Maslow tidak mengatur ukuran dalam tingkatan aktualisasi diri, yang diamatinya hanyalah tingkat pencapaiannya. Dengan kata lain, teori Maslow sifatnya kualitatif dan bukan kuantitatif. Nilai-nilai dalam diri seseorang akan menentukan ukuran pencapaian, dan nilai-nilai itu tidak sama antara seseorang dengan yang lainnya. Dan ternyata usia juga tidak menjadi faktor yang menentukan…. sebab itu ada peribahasa: tua-tua keladi … makin tua makin jadi]

Dan hanya atas Rahmat Allah Ta’ala saja, pada suatu saat seseorang akan merasa bahwa “ia” yang ada saat itu bukanlah “dirinya” yang sesungguhnya. Ia sedikit-demi sedikit akan kehilangan “drive” dalam dirinya. “Drive” yang asalnya dari  ‘hawaa’ dan ‘syahwati’ yang bergejolak. Dan  oleh sebab mulai lemahnya  "drive" itu maka seharusnya pada tingkatan itu, seseorang akan mulai mencari sesuatu yang kurang dalam dirinya dan itu adalah “pengenalan” terhadap dirinya sendiri, terhadap semesta alam-alam, terhadap Rabbnya dan terhadap siapakah Tuhannya.

Sekali lagi, bila ia dirahmati Allah Ta’ala maka ia akan berpindah jalur hidupnya menuju kepada “pencarian dirinya yang sejati”. Yakni diri yang bukan “kesadaran hawaa dan syahwat”, tetapi diri yang sepenuhnya dipengaruhi oleh “kesadaran qalbiyyah”. Yang adalah peniadaan pengaruh “keakuan” atau “pusat kesadaran” yang masih dipengaruhi atau dipengaruhi sepenuhnya oleh ‘hawaa’ dan ‘syahwat’ dan berupaya sepenuhnya menjadi berpusat kepada “Kesadaran Qalb” yang di dalam An-Nafs.

KESADARAN QALBIYYAH ..

Sekadar pengingat saja, bahwa Al Ghazali dalam kitabnya Syarh Ajaibu-l-Qulub…. [terjemahannya: Keajaiban-keajaiban Hati] menuliskan:

Qalb adalah yang apabila manusia mengenalnya, ia akan mengenal pula An-Nafsnya [jiwanya]. Dan apabila telah mengenal Nafs-nya ia akan pula mengenal Rabb-nya. Sebaliknya, apabila manusia tidak mengenal qalb-nya, ia takkan mengenal Nafs-nya. Dan apabila ia tak mengenal Nafs-nya, ia takkan mengenal Rabb-nya. Dan barangsiapa tidak mengenal qalb-nya, ia akan lebih tidak mengenal lagi apa-apa saja yang selainnya.

Selain dari itu, Al Ghazali juga mengatakan bahwa:

Manusia adalah makhluk yang bisa mewadahi ilmu pengetahuan dan hikmah….

Bisakah kita artikan bahwa seandainya ada seseorang yang tidak menjadi wadah ilmu pengetahuan dan hikmah maka seseorang itu bukanlah manusia tetapi lebih rendah dari itu, dan yang lebih rendah dari tingkatan manusia adalah tingkatan adalah hewan atau dibawahnya lagi adalah tingkatan tumbuhan dan yang lebih rendah lagi adalah tingkatan mineral….. ?

Ah masa iya begitu, apa bisa ada sesuatu yang berwujud manusia tetapi ia bukanlah seorang manusia ? Ente meng-arti-kannya yang bener dong … !

Mari kita jawab saja dalam diri kita masing-masing, tidak usah kita perdebatkan. Untuk koreksi DIRI KITA SENDIRI PRIBADI … BUKAN UNTUK MENGKOREKSI ORANG LAIN.

Nah, ini ada sabda Rasulullaah Saw. tentang hikmah, sepertinya kalau mau menjadi wadah dari hikmah harus mencermati hal-hal seperti yang Beliau Saw. ungkapkan:

Bahwasanya hikmah datang dari langit, turun ke dalam qalb manusia kecuali qalb yang di dalamnya terdapat 4 (empat) perangai :

  1. Qalb yang cenderung kepada dunia.
  2. Qalb yang mendukakan masa depan.
  3. Qalb yang mengharapkan kehormatan dari manusia lain.
  4. Qalb yang mendengki saudaranya sendiri.
No one leave comments yet, will you be the first one ?

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks