... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Sebab dan Akibat …

Sunday, August 24, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:07 | Anda mau email artikel ini ?

Ketika Allah SWT memberi ‘Izrail as. tugas mencabut nyawa, sang Malaikat Maut itu berkata, “Ya Rabbku, Engkau telah memberiku tugas yang sangat berat. Hamba-hamba-Mu akan membenciku karenanya.”  


Akan tetapi Allah berfirman kepadanya,

“Wahai ‘Izrail, Aku akan memberi hamba-Ku rasa sakit sedemikian rupa sehingga mereka mengira bahwa rasa sakit itulah, dan bukan engkau, yang bertanggung jawab atas kematian mereka. Aku akan membuat mereka lupa kepadamu.”

Memang demikianlah sesungguhnya yang terjadi. Kita selalu saja mengatakan,

“Ia mati karena serangan jantung …. ”
“Ia mati karena kanker ….. ”
“Ia mati karena ini dan itu …… ”

Sebenarnya, manusia mati karena dilahirkan. Sekiranya ia tidak pernah dilahirkan, ia pasti tidak akan pernah mati.

[sumber: The BIG SECRET, Mati dan Hidup setelah mati…….. Irshad Wisdom of a Sufi Master Syaikh Mozaffer Ozak Al Jerrahi, Pustaka Hidayah 2008]

Misalnya ada seorang pembalap motor, sebut saja namanya Rossidi, beberapa musim dan seri balap ia kalah terus dan salah satu penyebabnya adalah ban motornya kurang sempurna untuknya. Lalu ia berikhtiyar mengganti ban motornya ke merk lain dan akhirnya ia menang lagi di beberapa sessi balapan.

Kenapa ia kalah terus di beberapa musim dan sesi awal musim, tentunya karena ban motornya kurang sempurna, begitu bukan ? Ah masa iya … !

Bukankah mengganti ban motornya ke merk lain hanya sebuah tindakan ikhtiyari belaka, yang dilakukan seseorang sebagai sebuah "sambutan" terhadap anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, berupa kepandaian fikiran jasadiyyah. Kalaupun kemudian ia menang balapan [… atau kalah …] maka itu terjadi karena kehendak Allah Ta’ala.

Ya ….. kita selalu terjebak kepada “fenomena”, terjebak kepada hal-hal yang "menjadi sebab-musabab” dan MELUPAKAN bahwasanya Allah Ta’ala berkehendak kepada hal-hal yang merupakan akibat dari sebuah sebab.

Manusia boleh saja punya kehendak atau keinginan, tetapi Kehendak Allah Ta’ala saja yang akan terjadi atau mewujud. Ikhtiyari manusia hanya dalam batas-batas mensyukuri kemampuan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, bukan ikhtiyari untuk pencapaian tujuan atau keinginannya.

Bandung - 24/08/2008

Comments

by: Akbar
at: 2009-01-01

Assaalmu Alaikum.
Tadinya saya beranggapan bahwa manusia bisa mencapai keinginannya dengan ikhtiyar yang dilakukannya. Lalu bagaimana dengan orang yang bekerja? Bukankah merekah bekerja untuk sebuah keinginan?

by: wiwin.wr
at: 2009-01-02

Alaikum salaam mas Akbar.
Manusia bekerja dasarnya adalah mensyukuri apa-apa yang Allah Ta’ala lengkapi pada diri kita manusia (mata, telinga, tangan, kaki, otak, akal, sistem metabolisme yang bisa mengubah makanan menjadi energy, dll). Jadi dasarnya orang bekerja sesungguhnya bukan untuk mencari sesuatu apapun seperti kehormatan, derajad, uang, pemenuhan keinginan atau lainnya melainkan yang dicari semata-mata adalah Ridho Allah.
Silahkan memperhatikan QS.[22]:46 “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalb yang dengan itu mereka dapat ber-`aql atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qulub yang di dalam shudur.” Bekerja adalah bagian dari berjalan di muka bumi.
Mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan mas Akbar. Wassalaam.wr.wb.

by: Akbar
at: 2009-01-17

Mencari Ridho Allah adalah harga mati, suka atau tidak suka manusia harus melakukannya, bukankah begitu? Lalu apakah tidak boleh orang yang bekerja mengharap dapat membawa sesuatu yang bisa di makan di rumah, atau kalo belum punya rumah ya punya beli rumah dulu he..he…

by: Akbar
at: 2009-01-25

Ridhalah kepada-Nya dan biarkanlah Ia yang mengurusmu. Apa gitu mas? Lalu apa bedanya ridha ama ikhlas.

by: kopi
at: 2009-01-29

lalu kenapa anda diciptakan, mas ?

by: wiwin.wr
at: 2009-01-31

Salam kepada kawan-kawan.

@ mas Akbar :

Saya akan mencoba membedakannya secara singkat dan sederhana.

Ridho adalah sebuah perkara yang terkait hadirnya cinta. Contoh sederhananya: Ketika ada cinta kepada seorang gadis yang akan kita ajak menikah maka kita akan ikut menyukai apa yang disukainya atau yang disodorkannya kepada kita, misalnya jenis film atau jenis buku bacaan yang disukainya sehingga kita menjadi suka dan menikmati film atau buku bacaan itu.

Sedangkan ikhlas adalah sesuatu yang terkait dengan ketunggalan dari niat atau satu motivasi, tidak bercabang-cabang. Misalnya ketika disuruh orangtua untuk mencuci piring supaya terampil membantu orangtua tetapi kita melakukannya bukan untuk belajar tetapi agar mendapat hadiah setelah selesai mencuci piring itu.

@ mas “kopi-cina”:

Soal kenapa manusia (termasuk saya sebagai salah satunya) diciptakan maka itu secara umum dijelaskan di Al Quran, yakni: QS.[7]:172 sebagai Saksi-Nya di semesta alam ini, QS.[51]:56 sebagai Abdi-Nya, QS.[2]:30-37 sebagai petugas-Nya di muka bumi, QS.[11]:61 sebagai pemakmur bumi, Qs.[21]:105 sebagai pewaris bumi.

Akan tetapi karena saya masih sarat dengan kedzaliman [dzalim] dan kebodohan [jahl] sebagaimana di QS.[33]:72 maka jelas keadaan saya saat ini jauh dari melaksanakan amanah itu bahkan bisa jadi saya termasuk kepada kategori yang melakukan perusakan bumi QS.[2]:11-12 karena ketidaktahuan atas misi hidup saya.

Wallahu `alam bish-showab.

by: kopi
at: 2009-02-02

Padahal misi hidup Mas sudah dijelaskan di ayat2 tsb. bukankah salah itu manusiawi? takut salah bukan berarti berhenti berbuat sesuatu.
setiap ciptaan tidak bisa lepas dari kausalitas.

by: wiwin.wr
at: 2009-02-02

Betul mas “kopi”.
Misi Hidup manusia sebagai makhluk memang sudah dijelaskan secara general pada ayat-ayat itu hanya saja ayat-ayat itu belum merincikan secara spesifik tugas untuk setiap person. Tugas secara spesifik itu yang perlu ditemukan oleh setiap individu berbasis pada keadaan diri individu itu dan melalui perenungan-perenungan terhadap data atau ayat-ayat Allah yang ditanamkan-Nya di “anfus” [diri] si individu itu sendiri.
Juga setiap manusia defaultnya memang berbuat salah jadi berbuat kesalahan adalah manusiawi hanya saja kita tidka boleh terjebak dengan menjadikan potensi berbuat kesalahan sebagai sebuah pembenaran atas apa yang kita lakukan atau akan lakukan.

by: kopi
at: 2009-02-03

manusia masih terbatas pada pembenaran, karena kebenaran belum jadi domain manusia. mengamini sesuatu hal berdasar pada logika, niat baik dan musyawarah saya kira sudah cukup untuk kita, manusia.

by: wiwin.wr
at: 2009-02-06

Sepakat mas kopi.

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks