Hikmah, seperti apakah dia …
Tuesday, September 02, 2008, artikel ini di pasang oleh wiwin.wrSekadar pengingat saja, bahwa Al Ghazali dalam kitabnya Syarh Ajaibu-l-Qulub…. [terjemahannya: Keajaiban-keajaiban Hati] menuliskan:
manusia adalah makhluk yang bisa mewadahi "ilmu" dan "hikmah"
Bisakah kita artikan bahwa seandainya ada seseorang yang tidak atau belum menjadi wadah "ilmu dan hikmah" maka seseorang itu belum menjadi manusia. Kalau belum menjadi manusia lalu menjadi apa ? Apakah masih berada di bawah tingkatan manusia, yakni tingkatan hewan atau dibawahnya lagi adalah tingkatan tumbuhan dan yang lebih rendah lagi adalah tingkatan mineral….. ? Waah.. kalau betul artinya seperti itu GAWAT nih !
[ Ah masa iya begitu, apa bisa ada sesuatu yang berwujud manusia tetapi ia bukanlah seorang manusia ? Mengartikannya yang bener dong … ! ]
Mari kita jawab saja dalam diri kita masing-masing, tidak usah kita perdebatkan. Untuk koreksi DIRI KITA SENDIRI PRIBADI … BUKAN UNTUK MENGKOREKSI ORANG LAIN."
Nah, ini ada sabda Rasulullah Saw. tentang "hikmah", kalau ingin bisa mewadahi "hikmah" tentunya mencermati hal-hal seperti yang Beliau Saw. ungkapkan menjadi sebuah keharusan:
Bahwasanya hikmah datang dari langit, turun ke dalam qalb manusia kecuali qalb yang di dalamnya terdapat 4 (empat) perangai :
- Qalb yang mendukakan masa depan.
- Qalb yang cenderung kepada dunia.
- Qalb yang mengharapkan kehormatan dari makhluk lain.
- Qalb yang mendengki saudaranya sendiri.
Bagaimana sih maksudnya ….. ?
Mendukakan masa depan adalah sebuah kekhawatiran terhadap apa-apa yang akan terjadi nanti [bisa besok, bisa pula minggu depan atau tahun depan atau masa depan] biasanya berupa kekhawatiran tentang hal-hal yang menyangkut kebutuhan hidup, seperti misalnya biaya untuk makan atau lainnya. Tetapi jangan lupa bahwa kita bisa juga memberikan pendidikan kepada anak-anak kita berdasarkan kekhawatiran kita akan masa depan, misalnya kalau anak tidak masuk sekolah kedokteran maka bagaimana nanti masa tua kita kalau seandainya sakit-sakitan …. atau kalau anak kita tidak fasih berbahasa asing [misalnya bahasa Inggris atau bahasa lainnya] nanti bagaimana bisa bersaing dengan sebayanya dalam mencari pekerjaan …. atau kalau tidak punya deposito lalu kalau nanti pensiun mau hidup darimana …. Itu hanya sekadar contoh saja, masih banyak yang lainnya. Silahkan dicermati dan dirasakan sendiri…. dari mulai persoalan yang nyata [kasar] sampai yang paling halus.
Cenderung kepada dunia; kita mencari penghidupan tetapi tidak sepantasnya menjadi cenderung kepada hal-hal yang bersifat material [dari hal-hal yang sangat sederhana sampai ke yang luxurious] yang disediakan oleh dunia …. tidak perlu dijelaskan lagi, sahabat pembaca tentu sudah tahu maksudnya.
Mengharapkan kehormatan dari makhluk, tentunya yang paling kasar adalah gila-hormat dan saya yakin bahwa sahabat pembaca tidak seperti itu. Tetapi pernahkan terbit rasa tersinggung ketika satpam di tempat parkir lupa memberi ucapan selamat pagi … atau ketika satpam sambil melintangkan telapak tangannya ke dahinya dan mengucapkan, “selamat-pagi pak” maka kita menjawab dengan pendek, “pagi” … atau ketika petugas restoran memberi tahu, “Pak atau Bu, martabaknya habis, pesan yang lain saja” lalu kita berteriak dalam hati, “gak sopan banget tuh orang, pakai maaf dong !”. Atau hal-hal lain yang lebih halus daripada itu, silahkan direnungkan sendiri.
Mendengki saudara sendiri, dengan sigap kita bisa mengatakan mana mungkin mendengki adik atau kakak atau saudara sepupu sendiri. Lantas, siapakah sebenarnya “saudara-saudara” kita itu. Batas-batas persaudaraan itu sampai mana ya ? ….. Kita lihat saja ke Al Quran dan Hadis Rasulullah Saw. tentang persoalan siapa saja saudara kita itu. Kita juga barangkali perlu mengingat sabda Rasulullah Saw. bahwa dengki atau hasad itu membakar kebaikan atau hasanah seperti api memakan kayu yang kering atau sekam.
Lantas, hikmah itu apa dan seperti apa ?
Sebentar, ya ….. sepertinya hati saya masih berisi perkara-perkara yang 4 (empat) di atas. Apakah sahabat pembaca juga begitu ? Bilamana begitu maka sebaiknya kita men-sibuk-an diri membenahi hati kita agar tidak menyimpan perkara-perkara yang empat itu.
Sejauh hari ini, saya cukupkan diri saya untuk mengetahui sebatas yang berikut ini :
QS.[2]:269. Allah menganugerahkan al-Hikmah [dalam terjemahan ditulis dalam kurung: kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah] kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya para pemilik lubbab [uulu-l-albaab, dalam terjemah dituliskan: dan hanya orang-orang yang ber-akal] yang dapat yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) [text arabic-nya: yadzdzakkaru].
QS.[17]:39. Itulah sebagian al-Hikmah yang diwahyukan Rabbmu kepadamu dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).
Ada yang mengatakan bahwa hikmah adalah sesuatu yang dengannya maka Al Quran dan As Sunnah [ayat-ayat Allah Ta’ala yang di Tuliskan-Nya di Kitab-Kitab-Nya yang Quraniyyah, Kauniyyah dan Insaaniyyah] akan menjadi terbukakan dalam arti terfahamkan.
Bandung – 15/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

