... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Jualan monyet ala wallstreet …

Saturday, October 18, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 13:46| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Ada sebuah kisah pendek yang saya dapati di mailbox, kiriman dari seorang kawan. Saya duga orang membuat anekdot ini akibat krisis yang sedang melanda negeri Barat yang saya tidak tahu persis persoalannya karena memang bukan bidang saya. Saya coba terjemahkan.

WELCOME TO WALL STREET

Suatu hari di sebuah perkampungan kecil di India [ penerj: kenapa India yang dipilih ya, bukannya Nepal atau Pakistan begitu atau sekalian saja Dukuh Pamingit yang di dekat Banyubiru ], seorang lelaki menawarkan kepada para penduduk setempat bahwa ia akan membayar 10 dollar untuk setiap monyet yang diserahkan kepadanya. Para penduduk yang tahu bahwa di hutan banyak terdapat monyet segera menuju hutan untuk menangkapi monyet-monyet itu. Lelaki itu akhirnya mendapatkan ratusan monyet dari penduduk setempat dan kemudian membayar sesuai janjinya.

Namun sesaat kemudian jumlah monyet yang berhasil dikumpulkan penduduk menjadi semakin berkurang dan lelaki itu menawarkan kembali dengan 20 dollar per monyet.

Tawaran ini kemudian membangkitkan kembali semangat penduduk dan mereka berbondong-bondong lagi ke hutan untuk menangkapi monyet-monyet.

Segera kemudian jumlah monyet yang bisa diperoleh penduduk semakin sedikit dan lelaki itupun kemudian menaikkan tawarannya menjadi 25 dollar per monyet sampai akhirnya tidak seekor monyetpun yang masih kelihatan di hutan itu.

Lelaki itu kemudian menawarkan bahwa sekarang ia mau membayar 50 dollar per monyet. Akan tetapi ia akan pergi dahulu ke kota dan sementara ia pergi asistennya yang akan mengurusi pembelian monyet-monyet itu.

Ketika lelaki itu pergi, asistennya mengatakan kepada penduduk, “Lihatlah monyet-monyet di kandang besar itu. Aku akan menjualnya kepada kalian dengan harga 35 dollar per monyet dan nanti kalau atasanku kembali dari kota maka kalian bisa menjual kembali kepadanya dengan harga 50 dollar per monyet.”

Para penduduk segera memeras uang simpanan mereka [penerj: kalau perlu ngutang deh] dan kemudian membeli monyet-monyet itu semuanya. Sejak itu, mereka tidak pernah melihat lelaki itu maupun asistennya lagi … hanya monyet yang kelihatan dimana-mana.

Itulah kalau hewan yang namanya monyet yang sebenarnya bukan milik penduduk disitu dianggap sebagai komoditas alias barang dagangan. Bukankah yang dibayar oleh si lelaki pengusaha itu adalah “ongkos menangkap monyet” dan bukan “harga si monyet”.

Memang manusia sering terpedaya oleh anggapan dan kesimpulan yang dibuat oleh pikirannya sendiri …. kita [setidaknya saya] masih begitu juga kan..


Bandung - 18/10/2008 ……

Comments

by: weni
at: 2008-11-01

Memang di dukuh pamingit banyak monyetnya? kenapa enggak cemoro sewu (duh di bahas deh).
Salam untuk keluarga ya pak….

by: celine
at: 2008-11-08

saya bisa ‘tertawakan mereka’ disini karena melihatnya dari awal s.d akhir kisah.
padahal…
kalo sy ada di kondisi serupa, sy mungkin belum mampu ‘tuk ‘tertawakan diri sendiri’.
terimakasih, pak :)

by: Akbar
at: 2009-01-01

ya.. gini nih akibatnya kalo lewat jalan pintas. Menghindari rambu-rambu akhirnya merugi. Smoga kita terlindungi dari yg demikian

by: maswik
at: 2009-03-30

..nah sekarang gelombang cinta..apa masih banyak diburu monyet?….dan siapa dalang dan pembantu2 nya yang meningkatkan harga tanaman berdaun lebar itu menjadi jutaan rp…..?. sy pikir banyak komoditi yang mampu membuat kita menjadi monyet atau sebagian monyet…..mungkin ini realisasi Bani Isroil yang diazab menjadi monyet…pada jaman sekarang..? allahu a’lam.

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks