... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Segitiga Realitas …

Monday, November 10, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:30| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Rasulullah Saw. pernah menjelaskan bahwasanya dunia ini ibarat sebuah oase, di antara dua padang pasir yang sangat luas, tempat parfa musafir mengambil bekal untuk persiapan perjalanan menempuh padang pasir selanjutnya.

Kita semua tahu bahwa di oase itu kita harus mengumpulkan bekal berupa minuman dan makanan yang secukupnya yang bisa dibawa dalam perjalanan selanjutnya. Ketika singgah di oase itu, yang perlu diketahui adalah apa saja yang bisa dikumpulkan untuk menjadi bekal perjalanan dan untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang jenis buah-buahan yang ada di oase itu, juga airnya dan cara-cara menyimpannya agar bisa dimakan dan diminum sedikit demi sedikit selama perjalanan. Artinya ……, kita membutuhkan pengetahuan tentang oase itu bila hendak menggunakannya sebagai tempat singgah untuk mengambil bekal.

Bagaimana dengan ini ? Dunia adalah tempat singgah, guna mencari bekal untuk perjalanan-panjang yang selanjutnya.
 


SEGITIGA REALITAS [1]

Segala yang maujud [menjadi memiliki wujud] di semesta alam-alam ini adalah ayat-ayat Allah.

QS.[41]:53 ….. Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami [dalam terjemahan ditulis: tanda-tanda (kekuasaan) Kami] di ufuq/cakrawala dan di anfus mereka [fii-l-afaq wa fii anfusihim] [dalam terjemah ditulis: segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri], hingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Dia adalah Al Haqq [dalam terjemah ditulis: Al Quran itu adalah benar]. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Rabbmu menjadi saksi atas segala sesuatu ?

QS.[51]:20-21 ….. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ?

Kita sudah bahas tentang tiga realitas dasar pada posting terdahulu, kita ulang sedikit disini.

Di sebagian besar teks-teks Islam, ada Tiga Realitas Dasar yang selalu dipegang: Allah Ta’ala Yang Realitas Mutlak; Kosmos atau makrokosmos [semesta alam besar] dan Manusia atau mikrokosmos [semesta alam kecil] yang adalah realitas-realitas ciptaan Allah Ta’ala. Bila disederhana dalam sebuah bagan atau diagram maka akan terjadi bentuk segitiga sama kaki. Dan segitiga itu kita sebut sebagai Segitiga Realitas.

Dalam segitiga itu titik puncak segitiga adalah Sang Maha Pencipta yang adalah Realitas Yang Mutlak [Yang Maha Ada, Yang Maha Wujud] di puncak segitiga dan kedua kaki segitiga itu adalah realitas-realitas ciptaan atau realitas derivatif. Disebut sebagai derivatif karena kosmos maupun mikrokosmos adalah segala sesuatu yang mewujud karena Allah Ta’ala memberinya pakaian wujud untuk suatu rentang waktu tertentu sampai datang ajal dari si makhluk sesuai yang telah ditetapkan-Nya.

Kaki yang satu dari segitiga itu adalah diri manusia atau mikrokosmos dalam kedudukannya yang “seorang diri” atau “dirinya sendiri berhadapan dengan kaki segitiga yang satu lagi yang adalah makrokosmos, yakni segala makhluk ciptaan Allah Ta’ala, yang selain dari dirinya sendiri.

Dua titik di kaki segitiga ini masing-masing adalah diri insaan berhadapan dengan semesta alam-alam dalam pengertian bahwa setiap diri harus melihat dunianya, yang tidak lain adalah bagian dari semesta alam-alam ini, sebagai sesuatu yang tunduk patuh kepada kehendak Allah Ta’ala. Setiap diri tidak boleh memperlakukan dirinya sendiri sebagai bagian dari semesta alam yang sedang berhadapan dengan seorang insaan. Setiap diri dari kita harus selalu menempatkan dirinya sebagai seorang diri insaan yang berhadapan dengan orang lain atau makhluk lain [baik makhluk hidup maupun makhluk yang tidak hidup] yang adalah bagian dari semesta alam-alam atau makrokosmos atau kosmos. Bilamana kita salah menempatkan diri dalam hubungan segitiga itu maka kita akan menjadi menghakimi orang lain atau menghakimi suatu hal atau kejadian, yang mana sebenarnya bukan menjadi haknya manusia.

Setiap titik sudut dari segitiga itu mempunyai hubungan dengan titik-titik sudut lainnya secara menakjubkan. [ ….. saya merasa tidak bisa menguraikan secara gamblang tentang hal ini karena pengetahuan saya tidak cukup untuk itu, namun saya meyakini hal itu dan saya persilahkan sahabat pembaca mencermatinya sendiri]. Sementara itu, mari kita ulas selanjutnya.

Allah Ta’ala menciptakan insaan yang kemudian dikirimkan ke muka bumi untuk menjadi pemakmurnya,QS.[11]:61, dan dibekali-Nya setiap insaan di muka bumi dengan Kitab-Nya, Al Quran Al Kariim. Kitab-Nya adalah Petunjuk bagi insaan bagaimana bersikap terhadap Yang Telah Menciptakannya dan bagaimana bersikap terhadap apa-apa yang dihadapinya di semesta alam ini atau yang hadir kepadanya melalui semesta alam ini.

Sedikit kutipan dari sebuah buku …..

Banyak ayat-ayat di Al Quran mengungkapkan bahwa semua obyek semesta alam adalah ayat-ayat atau tanda-tanda Allah Ta’ala. Sangatlah penting memahami hal ini sebagai dasar pemikiran Islam karena itu menetapkan hubungan antara Allah Ta’ala dengan semesta alam-alam ini dalam term-term yang pasti. Disamping itu, di ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal itu juga menjelaskan bagaimana seharusnya setiap manusia bersikap atau menanggapi ayat-ayat Allah Ta’ala.

QS.[6]:97 ….. Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui [ …. qod fashsholna-l-ayaati lii qawmiy-ya’lamuun]

QS.[10]:6 ….. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa [ …. la ayaati-l-lii qawmiy-yattaquun].

QS.[30]:24 …. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan `aql-nya [ …. la ayaati-l-lii qawmiy-ya’qiluun].

Manakala, melalui Al Quran, manusia diperintahkan untuk melihat segala sesuatu sebagai ayat-ayat-Nya maka ini berarti bahwa manusia didorong untuk menggunakan proses mental yang tertentu yang tidak berorientasi semata-mata kepada obyek, hal-hal atau data. Sebaliknya, dalam Al Quran, dijelaskan kepada kita bahwa kita harus memahami segala sesuatu bukan semata-mata tentang obyeknya, melainkan juga apa-apa yang dapat diterangkannya (red: diterangkan oleh obyek itu) mengenai sesuatu di luar dirinya (red: sesuatu yang di luar dari obyek itu atau sesuatu yang bukan merupakan obyek itu). Segala sesuatu itu seperti ibarat, merupakan perumpamaan dan simbol-simbol …… jadi ketika seseorang memahami yang tampak atau yang terdefinisikan maka ia seharusnya juga memahami yang tidak tampak atau yang tidak terdefinisikan…… jadi ketika seseorang memahami yang tampak maka ia seharusnya juga memahami yang tidak tampak. Dimana yang tidak tampak tidak bisa dipahami melalui yang tampak itu sendiri. Menurut definisi, Allah tidaklah tampak. Namun, jejak-jejak dan isyarat-isyarat pada ciptaan-Nya, bisa menghasilkan pemahaman tentang-Nya jikalau seseorang merenungkan hal itu …..

[
Source: The Tao of Islam, page 23-26, Sachiko Murata, dengan sedikit perubahan redaksional. Kalau berminat bisa membaca secara online di-link-ini atau di-link-ini
]

 

HUBUNGAN MIKROKOSMOS DENGAN MAKROKOSMOS

Di kaki-kaki segitiga, mikrokosmos berhadapan dengan makrokosmos, artinya setiap kita harus menempatkan diri sebagai mikrokosmos terhadap semua makhluk lain di luar diri kita. Tidak sepantasnya dan sangat tidak layak bagi kita untuk menempatkan diri sebagai makrokosmos ketika berhadapan dengan semua makhluk lain yang selain dari diri kita. Ketika berhadapan dengan makrokosmos maka setiap dari kita sedang berhadapan dengan kehendak-kehendak-Nya yang ditetapkan-Nya melalui makrokosmos. Segala yang terjadi di makrokosmos adalah atas ijin-Nya, tidaklah sesuatu akan terjadi kecuali atas ijin-Nya dan tidak pula sesuatu akan terjadi kecuali atas sepengetahuan-Nya.

QS.[64]:11 …. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalbnya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

QS.[6]:59 …. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Dari Anas ra., telah bersabda Rasulullah SAW:
"Aku takjub terhadap orang mu’min, sesungguhnya Allah SWT tidak menetapkan satu perkara pun baginya kecuali itu sesuatu yang baik baginya"
[HR. Ibnu Hibban]

 

KEHIDUPAN DUNIA

QS.[57]:20 … Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

QS.[11]:7 … Dan Dia-lah yang menciptakan petala-langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya [ahsanu amalan], ……

QS.[18]:7 … Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya [ahsanu amalan]. 
 

PENUTUP

Oase di antara dua padang pasir itu bukan hanya menyediakan pohon kurma dan mata air saja, melainkan ia adalah dunia kehidupan yang disitu tersedia berbagai macam hal, dari mulai hal-hal yang bisa melalaikan diri kita kepada Allah Ta’ala sampai kepada hal-hal yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Ta’ala.

Demikianlah rentang batas dunia itu …

[1] lihat juga posting yang lalu tentang: Bersabarlah dan jadilah pemaaf …

Bandung - 2001, 2003, 14/04/2007, 10/11/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Comments

by: kopi
at: 2009-01-29

“…ia seharusnya juga memahami yang tidak tampak atau yang tidak terdefinisikan..”

gimana caranya???
‘memahami’ itu apa sih???

by: wiwin.wr
at: 2009-01-31

Salam kenal mas yang menggunakan nama “kopi-cina”.

Terimakasih atas kunjungannya dan terimakasih pula atas komentarnya…. Untuk buku asli yang berbahasa asing seringkali tidak ditemukan padanan kata dalam ‘bahasa’ yang sepenuhnya bisa menjelaskan maksud pengarangnya. Silahkan kunjungi situs online dari buku itu.
Kata ‘memahami’ itu digunakan untuk menerjemahkan kata “perceives”.
Sedangkan tentang bagaimana caranya ? Sachiko Murata dalam buku teks-aslinya menuliskan “God is invisible by definition. Yet, traces and intimation of His awesome can be gleaned from all things, if only we meditate upon them.”
Juga ada koreksi dan sedikit saya beri tambahan pada posting di atas sehubungan dengan komentar mas “kopi”.

Sekali lagi terimakasih.

by: kopi
at: 2009-02-02

it is exactly the revolving planets which emphasize the existence of the sun.
Nice blog, Mas.

by: wiwin.wr
at: 2009-02-02

Hmmmm ternyata mas “kopi” memang pandai … gak percuma sedang menyelesaikan thesis (PhD kan ya).
Dari satu sisi memang rotasi planet-planet memperkuat keberadaan matahari namun “matahari” tetap bisa ada tanpa perlu planet yang mengitarinya. Secara eksistensi matahari membutuhkan planet untuk “menperjelas” atau “menerangkan” tentang dirinya.
Jadi antara matahari dan planet-planet ada sebuah keterikatan tetapi dengan reason yang berbeda antara keduanya. Planet membutuhkan matahari untuk mencahayainya (atau menjadi titik pusat orbitalnya) sedangkan matahari membutuhkan planet untuk mempertegas kehadirannya.
Terimakasih atas komen-komen mas ya. Saya sudah berkunjung ke Blog anda tetapi maklum karena bahasa inggris saya sangat kurang baik jadi tidak meninggalkan jejak apa-apa. Selamat menyelesaikan thesisnya.

by: kopi
at: 2009-02-03

wadhuh, bukan phd Mas, cuma mm aja kok. kalau boleh Mas, kita bertukar link?

by: wiwin.wr
at: 2009-02-03

Monggo mas. Saya buatkan link ke Blog anda.

by: kopi
at: 2009-02-03

Suwun Mas, saya pun akan melakukan demikian.

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks