... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Silahkan pilih …

Friday, November 28, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA, MANAJEMEN pk. 15:43| Anda mau email artikel ini ?
Atau mau Share on Facebook artikel ini ?

Suatu hari, ada seseorang yang mendatangi sahabat-sahabatnya yang sedang berkumpul dan berkata: “Aku membawa sebuah proyek untuk sahabat-sahabat kerjakan dan aku akan meminta salah satu dari sahabat-sahabat untuk menjadi pemimpin pekerjaan ini. Aku tidak akan ikut mengerjakannya, tetapi bilamana sahabat-sahabat membutuhkan bantuanku maka silahkan menemuiku, aku akan membantu sahabat-sahabat semampu aku.”

Mereka menjawab: “Baiklah, segera kami akan membentuk sebuah team, membuat perencanaan awal dan dalam seminggu kami akan melaporkan hasilnya.”

Dengan bersegera mereka bermusyawarah, dipimpin oleh orang yang telah bersedia menjadi ketua team, dan menyusun strategi tentang bagaimana cara mengerjakan proyek itu. Beberapa kesepakatan tercapai sudah, namun ada beberapa hal yang masih belum disepakati dan cenderung menjadi sebuah perbedaan pendapat yang cukup keras.

Walaupun ada beberapa hal yang masih belum disepakati akan tetapi jadwal pertemuan sudah tiba dan mereka bersama-sama menemui sahabat mereka, si pembawa proyek, dan melaporkan hasilnya pertemuan dan kerja mereka selama seminggu, terutama tentang masih adanya perbedaan pendapat dalam team.

Namun apa jawab sang sahabat itu ? Katanya,

“Sahabat-sahabatku, apakah ada gunanya melakukan sebuah pekerjaan yang walaupun itu mendatangkan sesuatu bagi sahabat-sahabat [ghonimah: uang atau harta, kehormatan, dll.] tetapi ada satu atau lebih diantara sahabat-sahabat yang hatinya terluka dan sahabat-sahabat menjadi mencederai hati sahabat-sahabat sendiri dan bahkan mungkin ada yang sampai memutuskan tali silaturahmi yang sudah sahabat-sahabat bangun sebelumnya ? Bukankah semua yang ada dimuka bumi ini adalah semata-mata sarana yang Allah Ta’ala sediakan bagi manusia untuk mengenal-Nya walaupun bisa juga digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mengingkari-Nya.

Kalaupun yang sahabat-sahabat lakukan adalah demi untuk menjaga nama-baik team maupun diri sahabat-sahabat sendiri maka tidakkah sahabat-sahabat ingat bahwa kemuliaan dan derajad seseorang bukan dicapai oleh sebab seseorang itu menjadikan dirinya mulia atau menjadi dihormati manusia lain melainkan semata-mata karena ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala. Kalau menginginkan kemuliaan dan derajad maka inginkanlah kemuliaan dan derajad disisi Allah Ta’ala.

Demikian pula dengan nama baik dari sahabat-sahabat, hal itu bukan sahabat-sahabat yang menjaganya atau menentukannya, tetapi Allah Ta’ala yang menentukannya bergantung kehendak-Nya terhadap diri sahabat-sahabat. Persoalan naik-turunnya derajad diri kita bukan diukur dari penilaian manusia atau makhluk terhadap diri kita.

Ada kisah yang justru menunjukkan bahwa hal itu bisa terjadi dengan sangat berkebalikan, salah satunya adalah keadaan Siti Maryam, seorang wanita yang sangat menjaga dan Dijaga kesucian dirinya sehingga dihormati manusia sekitarnya, justru Allah Ta’ala putar-balikkan keadaannya dihadapan manusia sekitarnya ketika Allah Ta’ala menaikkan derajadnya menjadi seorang ibu yang mengandung, yang dalam kandungannya ada seorang nabi yang suci, tetapi ia mengandung tanpa kehadiran seorang suami. Apalagi kalau sahabat-sahabat merenungkan kisah Nabi Ayub as.

Jadi, dalam persoalan nama baik team maupun nama baik diri pribadi sahabat-sahabat, lebih baik sahabat-sahabat tawakkal kepada Allah Ta’ala, bukankah Dia Ta’ala adalah yang Maha Menerima Perwakilan dan Maha Menjaga Titipan.

Apa yang perlu sahabat-sahabat lakukan adalah bekerja dengan saling mengasihi dan menyayangi. Dan tidakkah sahabat-sahabat ingat bahwa tidak ada yang cepat mendatangkan rahmat Allah Ta’ala kecuali melakukan tindakan merahmani makhluk-Nya, dan hal itu bukan hanya berlaku dalam hubungan sosial saja melainkan dalam hubungan profesional juga tetap berlaku.”

 
Semua yang berkumpul terdiam dan merenungi bahwa apa yang diucapkan sahabat mereka itu adalah mudah untuk didengar dan dimengerti ….. tetapi sulit sekali untuk dilaksanakan.
 
Sambungnya lagi,
 

“Semuanya tidak ada yang mudah, tergantung keinginan sahabat-sahabat sendiri, apakah akan mengambil jalan yang menurun lagi mudah atau mengambil jalan yang mendaki lagi sukar ?  Itu pilihan-pilihan yang ada ! Dan dengan sepenuh doa kepada-Nya agar sahabat-sahabat diberikan-Nya kemampuan dan kehendak [1] untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar itu …. Al Aqobah [2]

Catatan :
[1] Kemampuan dan kehendak datang dari Allah Ta’ala, QS.[81]:27-29, QS.[76]:29-31
[2] Jalan yang mendaki lagi sukar, Al Aqobah. QS.[90]:10-20 juga QS.[76]:8-11, QS.[3]:92 dan QS.[2]:177

Bandung, 24/11/2008…… Wallaahu `alam bish showab

No one leave comments yet, will you be the first one ?

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks