... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Petikan CBA - 2

Monday, December 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 2:45 | Anda mau email artikel ini ?

Sahabats, tidaklah lengkap dan sulit untuk bisa diketahui persoalan pada posting Petikan [1] yang sebelumnya, bilamana tidak membaca yang satu ini terlebih dahulu …..

Masih dari Syaikh Ragip Frager yang menuliskan catatan-catatannya tentang pertemuan-pertemuan awalnya dengan Syaikh Muzaffer Ozak, yang dipanggilnya dengan sebutan Effendi [Effendi, di Turki digunakan sebagai sebutan untuk memuliakan seorang laki-laki]:

Suatu ketika, seorang pria meminjamkan sahabat lamanya sejumlah uang. Beberapa bulan kemudian ia membutuhkan uang itu, sehingga ia pergi ke rumah sahabatnya di kota tetangga, untuk meminta kembali uangnya yang ia pinjamkan. Isteri sahabatnya mengatakan padanya bahwa suaminya sedang mengunjungi seseorang di sisi lain kota itu. Isteri sahabatnya menunjukkan arah dan alamat yang harus dituju, lalu lelaki itupun berangkat. Dalam perjalanan ia melintasi sebuah prosesi pemakaman.  Karena tidak sedang terburu-buru, ia memutuskan untuk mengikuti prosesi itu, dan ikut memanjatkan doa bagi nafs [jiwa] almarhum.

Pekuburan kota itu sudah sangat tua. Jika kuburan baru akan digali, beberapa kuburan lama harus digali ulang untuk mengangkat dan memindahkan sisa tulang belulangnya. Ketika pria itu berdiri di samping lubang yang baru digali untuk jenazah almarhum, ia memerhatikan sisa-sisa kerangka yang baru saja diangkat, tepat di sampingnya. Di antara kedua gigi depan tengkoraknya terselip sebutir kacang pipih. Tanpa berpikir, ia ambil butiran kacang itu dan dijentikkannya ke mulutnya sendiri.

Tepat setelah itu, datanglah seorang lelaki yang seluruh janggutnya telah memutih namun tampak awet muda.

Ia bertanya kepada si pria, “Kau tahu kenapa kau ada disini sekarang ?” “Oh, tentu saja. Aku datang ke kota ini untuk mengunjungi sahabatku.”

“BUKAN. Kau ada disini karena harus memakan sebutir kacang itu. Tahukah kau, bahwa kacang itu adalah hakmu. Kacang itu bukan hak orang itu, yang sudah menjadi tulang belulang sejak bertahun-tahun yang lalu, sehingga ia tidak bisa menelannya. KACANG ITU ADALAH HAKMU, dan HARUS SAMPAI KEPADAMU.”

Effendi, menutup kisah pertamanya dengan mengatakan,

“Itu berlaku untuk segala sesuatu. Allah sendirilah yang memenuhi segala hak dan kebutuhanmu. Apapun yang diciptakan untuk menjadi hakmu, pasti kau akan menerimanya.”

[dari buku Cinta Bagai Anggur – edisi 2 halaman i-27,29 ]
 

RENUNGAN …

Yakin kah bahwa segala sesuatu, termasuk keadaan-keadaan, fenomena-fenomena, mushibah dan anugerah, yang telah diciptakan oleh Allah Ta’ala bagi seseorang akan diterima oleh orang itu.

Yakin kah ? Pasti !

Pasti meyakininya. Sebab itu tanyakanlah kepada diri sendiri, seberapa dalam keyakinan itu ?

Seyogyanya keyakinan dibagi menjadi beberapa kedalaman berdasarkan sebab-sebabnya,

  • sebab pengetahuan atas sesuatu.
  • sebab penglihatan atas sesuatu.
  • sebab berada di dalam sesuatu.
  • sebab menjadi bagian dari sesuatu itu, inilah yang tertinggi. 

Syaikh Muzaffer Ozak mengumpamakan negeri Amerika sebagai “sesuatu” yang di atas dimana ia sendiri datang dari negeri Turki. Ia menerangkan bahwa,

Memiliki keraguan adalah suatu hal yang wajar, tetapi tidak semestinya engkau terus berada dalam keraguan. Keraguan seharusnya mengantarmu kepada kebenaran. Jangan tinggal diam dalam pertanyaan. Pikiranmu bisa menjebakmu. Kepandaian dan ilmu pengetahuan pun bisa menipumu. Ada sebuah kondisi yang menjadi kemestian bagi sebagian orang – ketika mata yang selalu melihat tidak lagi melihat, telinga yang selalu mendengar tidak lagi mendengar, dan pikiran yang selalu berupaya untuk menguraikan sesuatu berhenti untuk berpikir.

[dari buku Cinta Bagai Anggur – edisi 2 halaman 5,6]

Ada posting artikel tentang Keyakinan disini

Semoga bermanfaat.

Petikan CBA - 1

Wednesday, December 17, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 6:47 | Anda mau email artikel ini ?

Syaikh Ragip Frager bercerita tentang pertemuannya dengan Syaikh Muzaffer Ozak,

……. Sore itu saya pulang ke rumah, dan merenungkan kisah-kisah itu maupun segala yang dikatakan Syaikh. Saya merenung, betapa keras saya selalu memaksa diri, dan betapa seringnya saya takut terhadap kegagalan. Saya menyadari bahwa saya mungkin tetap akan sama kerasnya dalam bekerja, namun akan jauh lebih bahagia dan efisien, kalau saja saya yakin bahwa segala yang diperuntukkan bagi saya pasti akan sampai juga kepada saya.

[dari buku Cinta Bagai Anggur – edisi 2 halaman i-32,33 ]

Watak samudera …

Monday, December 15, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 0:39 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika, di sebuah zawiyah, sang Syeikh menasehati murid-muridnya bahwa seseorang hendaknya memiliki watak samudera.

WATAK dan SAMUDERA

Watak, orang jawa menggunakan kata ini sebagai kata lain dari karakter, terutama digunakan oleh orang-tua dalam kesempatan menasehati anak-anaknya. Jadi, “watak” adalah “sesuatu yang menjadi sumber yang mendasar” dari laku-lampah seseorang.

Mengapa harus seperti samudera ? Bukankah samudera adalah lautan yang luas, yang jauh lebih luas dari sebuah danau dan sangat-sangat jauh lebih luas daripada sekadar “baskom” yang untuk cuci tangan.

Gerangan apakah hubungan antara watak seseorang dengan samudera, apakah keluasan dan kelapangan yang dimiliki oleh sebuah samudera ?

WADAH AIR DAN KONSEP EKOLOGI

Bilamana seseorang mencuci tangan atau kakinya di baskom maka dijamin kotoran-kotoran di tangan atau di kakinya akan mewarnai air di baskom itu. Air di baskom tidak mampu menetralisir atau mengencerkan kotoran yang semula berada di tangan atau kaki sehingga ia menjadi berubah warna bergantung warna kotoran yang melekat di tangan atau di kaki dan bercampur dengan bahan pencuci, seperti: sabun, deterjen, gasolin, solar dll., yang kita pakai untuk mencucinya.

Sangat jauh berbeda bilamana “baskom” itu adalah “sebuah danau”, karena seandainya ada yang mandi di danau itu, maka hal itu tidak akan menjadikan warna air danau itu berubah.  Tetapi air di danau itu bisa berubah bilamana penduduk sekampung atau sekota setiap hari mandi, mencuci pakaian, membuang kotoran dan membuang segala macam barang-barang bekas atau sampah disitu. Air yang ada di danau itu tidak akan mampu menetralisir semua bahan-bahan itu, sehingga akhirnya ia tercemari, menjadi berubah kualitasnya yang ditandai dengan terjadinya perubahan warnanya.  

Secara studi lingkungan, perubahan kualitas air danau itu bergantung kepada kemampuan netralisasi yang dilakukan oleh para jasad-renik dalam air itu terhadap segala polusi itu. Air danau itu akan tetap baik kualitasnya bilamana para jasad-renik itu mampu menguraikan semua pencemaran yang diterima oleh air danau. Dan bila mereka tidak mampu menguraikan maka terjadilah perubahan kualitas air danau itu. Dan para jasad renik itu bisa pula mati oleh sebab adanya bahan-bahan kimia yang dibuang ke danau itu, misalnya sabun dan deterjen, atau kehabisan oksigen untuk pernafasan mereka.

Sebab itu, dalam konsep ekologi, kelestarian lingkungan baru mulai bisa dicapai bilamana manusia tidak lagi membuang kotoran dan barang-barang bekas – air bekas cucian, air bekas kloset dan sampah - di danau atau di badan-air apapun, apalagi bila badan-air itu ternyata relatif tidak luas atau tidak mengalir.

KONSEP SHADR - SHUDUR

Danau atau wadi adalah perumpamaan untuk shudur atau dada insaan, namun perbedaannya dengan danau yang dijadikan sebagai perumpamaannya, shudur atau ruang-dada seseorang bisa melapang dan meluas sedangkan danau atau kolam jarang ada yang bisa meluas. Sejauh-jauhnya, danau hanya bisa dilapangkan dengan cara dikeruk lumpurnya dan dikeluarkan sampah-sampahnya. Seperti Rawa Pening di dekat Ambarawa Jawa Tengah yang harus sering dibersihkan dari tanaman apung [eceng gondok, water hyacinth], orang setempat menyebutnya “bengok” [1], agar menjadi lapang.

 

Foto:
Pekerjaan melapangkan rawa, dengan membersihkan eceng gondok di Rawa Pening – Ambarawa [2]

 

 

Sangat berbeda dengan shudur insaan, bahkan berkebalikan bagaikan bumi dan langit, sebab shudur bisa berubah menjadi lapang dan bisa pula berubah menjadi sempit.

SHUDUR - YANG MELAPANG dan MELUAS

Ketika Rasulullah Saw. membacakan Al Quran, QS.[6]:125 :

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Al-Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
Seorang sahabat bertanya, ’Apakah artinya kelapangan itu ?’
Beliau Saw. menjawab, ”Sesungguhnya apabila nuur itu diletakkan di qalb maka shadr itu menjadi lapang dan meluas.”
Kemudian ditanyakan, ”Adakah tandanya untuk itu …?”
Beliau saw. menjawab, ”Ya, ada ! … Merenggangkan diri dari negeri tipu-daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia mati sebelum datangnya kematian.”
[HR. Al Hakim]

Dan bayangkan, betapa luas shudur seseorang yang telah dianugerahi oleh Allah Ta’ala dengan ilmu dari sisi-Nya, sedemikian lapang dan luas sehingga ayat-ayat Al Quran bisa berada di dalamnya padahal ayat-ayat Al Quran itu meliputi seluruh semesta alam-alam berikut segala isinya.

QS.[29]:49 ….  Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu [ayaatun bayyinaatun fii shuduuri-l-ladziina utu-l-ilman]. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim.

WATAK YANG SEPERTI SAMUDERA,

Watak adalah sesuatu yang membentuk perilaku seseorang;

Watak seseorang ditentukan oleh apa-apa yang ada di shudurnya, apa-apa yang ada dalam dadanya. Bilamana shudurnya masih terdapat dorongan hawa dan syahwat maka demikian pula wataknya, mudah gembira oleh apa-apa yang didapatnya dan mudah pula bersedih bila yang diinginkannya luput daripada dirinya. Gembira bila ada yang memuji dan bersedih bila ada yang menjatuhkan atau memarahi.

Sedangkan samudera adalah sebuah tempat yang tidak akan berubah sifatnya bilamana ada sesuatu yang dituangkan kepadanya. Samudera memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menetralisasikan segala apa yang masuk kepadanya.

Shudur yang telah Allah Ta’ala lapangkan dan luaskan dengan Al Islam, adalah yang harus diharapkan oleh siapa-siapa yang ingin memenuhi nasehat agar memiliki watak samudera. Bukanlah seseorang itu yang menjadikan dirinya memiliki watak samudera melainkan Allah Ta’ala semata yang menjadikan ia menjadi memiliki watak yang luas dan lapang bagaikan samudera.

Namun daya serap atau lapang dan luasnya shudur setiap orang berbeda-beda, dengan demikian daya tampungnya juga berbeda-beda. Para Nabi adalah contoh manusia-manusia yang memiliki keluasan dan kelapangan shudur, bisa dilihat pada kisah-kisah mereka. Betapa Rasulullaah Saw. langsung memaafkan orang-orang yang melemparinya dengan batu dengan mencegah para sahabatnya untuk melawan mereka yang telah melemparinya dan hanya mengatakan “Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti”.

PENUTUP

Mari kita renungkan,

Akan berguncangkah kolam shudur kita bilamana ada seseorang yang buang kotoran sambil mandi-mandi disitu, atau mencuci pakaiannya yang sangat kotor dengan deterjen yang paling ampuh yang tentunya paling kuat pencemarannya ? …… Akan jadi sempitkah atau berguncangkah shudur/dada kita bila ada yang melecehkan, atau menghina, atau memusuhi kita ?

Shudur saya masih akan menjadi sempit dan berguncang bahkan mungkin akan berguncang hebat sekali. Bagaimana dengan sahabat pembaca ? …..

Semoga Allah Ta’ala lapangkan dan luaskan shudur kita.

 

Bandung - 09/12/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

[1] bengok, “be” dilafalkan seperti melafalkan kata “beda” atau “bela”; “bengok” adalah tanaman yang terapung-apung di kolam yang menjadikan kolam itu menjadi sempit. Dikenal jug adengan nama “eceng gondok” atau bahasa ekologinya, “water hyacinth”.
[2] Foto diambil dari sumber: www.fao.org/DOCREP/006/X7580E/X7580E07.htm