... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Watak samudera …

Monday, December 15, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 0:39 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika, di sebuah zawiyah, sang Syeikh menasehati murid-muridnya bahwa seseorang hendaknya memiliki watak samudera.

WATAK dan SAMUDERA

Watak, orang jawa menggunakan kata ini sebagai kata lain dari karakter, terutama digunakan oleh orang-tua dalam kesempatan menasehati anak-anaknya. Jadi, “watak” adalah “sesuatu yang menjadi sumber yang mendasar” dari laku-lampah seseorang.

Mengapa harus seperti samudera ? Bukankah samudera adalah lautan yang luas, yang jauh lebih luas dari sebuah danau dan sangat-sangat jauh lebih luas daripada sekadar “baskom” yang untuk cuci tangan.

Gerangan apakah hubungan antara watak seseorang dengan samudera, apakah keluasan dan kelapangan yang dimiliki oleh sebuah samudera ?

WADAH AIR DAN KONSEP EKOLOGI

Bilamana seseorang mencuci tangan atau kakinya di baskom maka dijamin kotoran-kotoran di tangan atau di kakinya akan mewarnai air di baskom itu. Air di baskom tidak mampu menetralisir atau mengencerkan kotoran yang semula berada di tangan atau kaki sehingga ia menjadi berubah warna bergantung warna kotoran yang melekat di tangan atau di kaki dan bercampur dengan bahan pencuci, seperti: sabun, deterjen, gasolin, solar dll., yang kita pakai untuk mencucinya.

Sangat jauh berbeda bilamana “baskom” itu adalah “sebuah danau”, karena seandainya ada yang mandi di danau itu, maka hal itu tidak akan menjadikan warna air danau itu berubah.  Tetapi air di danau itu bisa berubah bilamana penduduk sekampung atau sekota setiap hari mandi, mencuci pakaian, membuang kotoran dan membuang segala macam barang-barang bekas atau sampah disitu. Air yang ada di danau itu tidak akan mampu menetralisir semua bahan-bahan itu, sehingga akhirnya ia tercemari, menjadi berubah kualitasnya yang ditandai dengan terjadinya perubahan warnanya.  

Secara studi lingkungan, perubahan kualitas air danau itu bergantung kepada kemampuan netralisasi yang dilakukan oleh para jasad-renik dalam air itu terhadap segala polusi itu. Air danau itu akan tetap baik kualitasnya bilamana para jasad-renik itu mampu menguraikan semua pencemaran yang diterima oleh air danau. Dan bila mereka tidak mampu menguraikan maka terjadilah perubahan kualitas air danau itu. Dan para jasad renik itu bisa pula mati oleh sebab adanya bahan-bahan kimia yang dibuang ke danau itu, misalnya sabun dan deterjen, atau kehabisan oksigen untuk pernafasan mereka.

Sebab itu, dalam konsep ekologi, kelestarian lingkungan baru mulai bisa dicapai bilamana manusia tidak lagi membuang kotoran dan barang-barang bekas – air bekas cucian, air bekas kloset dan sampah - di danau atau di badan-air apapun, apalagi bila badan-air itu ternyata relatif tidak luas atau tidak mengalir.

KONSEP SHADR - SHUDUR

Danau atau wadi adalah perumpamaan untuk shudur atau dada insaan, namun perbedaannya dengan danau yang dijadikan sebagai perumpamaannya, shudur atau ruang-dada seseorang bisa melapang dan meluas sedangkan danau atau kolam jarang ada yang bisa meluas. Sejauh-jauhnya, danau hanya bisa dilapangkan dengan cara dikeruk lumpurnya dan dikeluarkan sampah-sampahnya. Seperti Rawa Pening di dekat Ambarawa Jawa Tengah yang harus sering dibersihkan dari tanaman apung [eceng gondok, water hyacinth], orang setempat menyebutnya “bengok” [1], agar menjadi lapang.

 

Foto:
Pekerjaan melapangkan rawa, dengan membersihkan eceng gondok di Rawa Pening – Ambarawa [2]

 

 

Sangat berbeda dengan shudur insaan, bahkan berkebalikan bagaikan bumi dan langit, sebab shudur bisa berubah menjadi lapang dan bisa pula berubah menjadi sempit.

SHUDUR - YANG MELAPANG dan MELUAS

Ketika Rasulullah Saw. membacakan Al Quran, QS.[6]:125 :

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Al-Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
Seorang sahabat bertanya, ’Apakah artinya kelapangan itu ?’
Beliau Saw. menjawab, ”Sesungguhnya apabila nuur itu diletakkan di qalb maka shadr itu menjadi lapang dan meluas.”
Kemudian ditanyakan, ”Adakah tandanya untuk itu …?”
Beliau saw. menjawab, ”Ya, ada ! … Merenggangkan diri dari negeri tipu-daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia mati sebelum datangnya kematian.”
[HR. Al Hakim]

Dan bayangkan, betapa luas shudur seseorang yang telah dianugerahi oleh Allah Ta’ala dengan ilmu dari sisi-Nya, sedemikian lapang dan luas sehingga ayat-ayat Al Quran bisa berada di dalamnya padahal ayat-ayat Al Quran itu meliputi seluruh semesta alam-alam berikut segala isinya.

QS.[29]:49 ….  Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu [ayaatun bayyinaatun fii shuduuri-l-ladziina utu-l-ilman]. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim.

WATAK YANG SEPERTI SAMUDERA,

Watak adalah sesuatu yang membentuk perilaku seseorang;

Watak seseorang ditentukan oleh apa-apa yang ada di shudurnya, apa-apa yang ada dalam dadanya. Bilamana shudurnya masih terdapat dorongan hawa dan syahwat maka demikian pula wataknya, mudah gembira oleh apa-apa yang didapatnya dan mudah pula bersedih bila yang diinginkannya luput daripada dirinya. Gembira bila ada yang memuji dan bersedih bila ada yang menjatuhkan atau memarahi.

Sedangkan samudera adalah sebuah tempat yang tidak akan berubah sifatnya bilamana ada sesuatu yang dituangkan kepadanya. Samudera memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menetralisasikan segala apa yang masuk kepadanya.

Shudur yang telah Allah Ta’ala lapangkan dan luaskan dengan Al Islam, adalah yang harus diharapkan oleh siapa-siapa yang ingin memenuhi nasehat agar memiliki watak samudera. Bukanlah seseorang itu yang menjadikan dirinya memiliki watak samudera melainkan Allah Ta’ala semata yang menjadikan ia menjadi memiliki watak yang luas dan lapang bagaikan samudera.

Namun daya serap atau lapang dan luasnya shudur setiap orang berbeda-beda, dengan demikian daya tampungnya juga berbeda-beda. Para Nabi adalah contoh manusia-manusia yang memiliki keluasan dan kelapangan shudur, bisa dilihat pada kisah-kisah mereka. Betapa Rasulullaah Saw. langsung memaafkan orang-orang yang melemparinya dengan batu dengan mencegah para sahabatnya untuk melawan mereka yang telah melemparinya dan hanya mengatakan “Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti”.

PENUTUP

Mari kita renungkan,

Akan berguncangkah kolam shudur kita bilamana ada seseorang yang buang kotoran sambil mandi-mandi disitu, atau mencuci pakaiannya yang sangat kotor dengan deterjen yang paling ampuh yang tentunya paling kuat pencemarannya ? …… Akan jadi sempitkah atau berguncangkah shudur/dada kita bila ada yang melecehkan, atau menghina, atau memusuhi kita ?

Shudur saya masih akan menjadi sempit dan berguncang bahkan mungkin akan berguncang hebat sekali. Bagaimana dengan sahabat pembaca ? …..

Semoga Allah Ta’ala lapangkan dan luaskan shudur kita.

 

Bandung - 09/12/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

[1] bengok, “be” dilafalkan seperti melafalkan kata “beda” atau “bela”; “bengok” adalah tanaman yang terapung-apung di kolam yang menjadikan kolam itu menjadi sempit. Dikenal jug adengan nama “eceng gondok” atau bahasa ekologinya, “water hyacinth”.
[2] Foto diambil dari sumber: www.fao.org/DOCREP/006/X7580E/X7580E07.htm

No one leave comments yet, will you be the first one ?

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks