... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Berjalan kemana … ?

Thursday, January 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 10:09 | Anda mau email artikel ini ?

Ada sebuah kisah kehidupan nyata yang diceritakan oleh seorang kawan kepada saya dan saya mencoba menuliskannya, tentunya atas ijin dari kawan yang bersangkutan. Akan tetapi karena adanya keterbatasan bahasa tulisan maka tidak semua bagian dari kisah si kawan yang bisa dituangkan disini.  
Kisah ini berawal dari sebuah pertanyaan dalam diri si kawan. Untuk bisa menjelaskan secara gamblang duduk perkaranya maka saya harus menuliskannya dari mulai awal. Berikut inilah perjalanan kisahnya.

SEBUAH PERTANYAAN

Sekian puluh tahun lampau ia hadir ke muka bumi ini dan semasa kecil ia sering bertanya kepada dirinya sendiri, seperti orang gila, “Dimanakah saya sebenarnya ? Setiap bagian diri saya yang saya tunjuk selalu saja bukan saya melainkan bagian dari diri saya. Ini kaki saya, ini tangan saya, ini kepala saya, lalu saya sebenarnya ada dimana ?” Sekian puluh tahun kemudian mulai timbul pertanyaan, walaupun hanya sebatas berkecamuk dalam pikirannya saja, yang mempertanyakan apa sebenarnya yang harus ia kerjakan di muka bumi ini,

“Apakah hidup ini hanya begini-begini saja ? Apa sebenarnya yang harus saya kerjakan lagi sesudah apa-apa yang saya kerjakan ini” “Sesungguhnya saya dilahirkan ke muka bumi ini untuk apa dan tentunya Allah Ta’ala tidak sekadar begitu saja menciptakan saya dan menaruh saya di muka bumi ini. Kalau memang ada sebuah rencana maka rencana itu apa, ada dimana dan mengapa saya tidak tahu.”

Dan pertanyaannya dari sejak masa kecil juga belum terjawab, “Dimanakah saya sebenarnya atau siapakah saya sebenarnya”

 

- mau melanjutkan membaca … ?


Halaman: 1 2 3

Nasruddin dan gula-gula …

Wednesday, January 28, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 16:33 | Anda mau email artikel ini ?

Nasruddin Hoja sedang bekerja sebagai hakim lokal.
Seorang wanita menemuinya bersama seorang puteranya. Ia mengeluhkan bahwa putranya punya kegemaran memakan gula-gula, yang sulit dikendalikan. Ia meminta Nasruddin untuk mengatakan kepada putranya agar berhenti memakan gula-gula selamanya.

Nasruddin mengangguk dengan bijak, lalu menyuruhnya untuk kembali dalam dua minggu.

Ketika mereka kembali, ia hanya berkata kepada anak lelaki tersebut, “Nak, aku menyuruhmu untuk berhenti memakan gula-gula !”

Sang ibu bertanya, “Mengapa Anda membuat kami menunggu selama dua minggu ? Tidak bisakah Anda mengatakan hal tersebut kepada putra saya ketika kami pertama kali mendatangi Anda ?

Nasruddin menjawab, “Tidak, saya tidak mungkin mengatakan hal tersebut kepada putra Anda dua minggu yang lalu”

“Mengapa ?”
“Pertama,” jawab Nasruddin, “Saya harus terlebih dahulu berhenti memakan gula-gula.”

 

Bandung - 28/01/2009  [Mulla Nasruddin stories]