Berjalan kemana … ?
Thursday, January 29, 2009, posting oleh wiwin.wrKisah ini berawal dari sebuah pertanyaan dalam diri si kawan. Untuk bisa menjelaskan secara gamblang duduk perkaranya maka saya harus menuliskannya dari mulai awal. Berikut inilah perjalanan kisahnya.
SEBUAH PERTANYAAN
Sekian puluh tahun lampau ia hadir ke muka bumi ini dan semasa kecil ia sering bertanya kepada dirinya sendiri, seperti orang gila, “Dimanakah saya sebenarnya ? Setiap bagian diri saya yang saya tunjuk selalu saja bukan saya melainkan bagian dari diri saya. Ini kaki saya, ini tangan saya, ini kepala saya, lalu saya sebenarnya ada dimana ?” Sekian puluh tahun kemudian mulai timbul pertanyaan, walaupun hanya sebatas berkecamuk dalam pikirannya saja, yang mempertanyakan apa sebenarnya yang harus ia kerjakan di muka bumi ini,
“Apakah hidup ini hanya begini-begini saja ? Apa sebenarnya yang harus saya kerjakan lagi sesudah apa-apa yang saya kerjakan ini” “Sesungguhnya saya dilahirkan ke muka bumi ini untuk apa dan tentunya Allah Ta’ala tidak sekadar begitu saja menciptakan saya dan menaruh saya di muka bumi ini. Kalau memang ada sebuah rencana maka rencana itu apa, ada dimana dan mengapa saya tidak tahu.”
Dan pertanyaannya dari sejak masa kecil juga belum terjawab, “Dimanakah saya sebenarnya atau siapakah saya sebenarnya”
LATAR BELAKANG
Ia melanjutkan ceritanya, bahwa ia sudah bersekolah, dan ia juga sudah bekerja sebagai kelanjutan dari sekolahnya, bahkan ia sudah bekerja bertahun-tahun dan tentunya tidak bisa dipungkiri bahwa sudah cukup banyak karya-karya yang dihasilkannya. Tetapi karya-karya yang ia hasilkan tetap tidak mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaannya di atas dan kebingungannya akan hal tersebut tetap saja berkecamuk di kepalanya. Bukannya berkurang akan tetapi justru menjadi semakin berkecamuk dan semakin berkecamuk di kepalanya.
Katanya, setelah sepuluh tahun, atas karya-karya yang ia hasilkan di tempat ia bekerja, ia diberi penghargaan oleh pemilik perusahaan dengan sebuah penugasan untuk memimpin sebuah perusahaan baru, yang mereka dirikan dalam rangka perluasan usaha.
Dengan adanya penugasan itu, di pundaknya menjadi ada tanggung jawab besar yakni menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan menjadi orang yang harus menjamin penghasilan sekian banyak pegawai dan keluarganya. Tengok saja, katanya, kalau setiap pegawai adalah seorang kepala keluarga dengan 4 anggota keluarga maka kalikan saja jumlah pegawai dengan angka 4 dan jumlah itu adalah banyaknya mulut yang harus diberi penghasilan melalui perusahaannya.
Alih-alih sebuah kegembiraan dan kebanggaan tetapi sebuah keadaan yang menjadikan ia seakan tidak menapak di permukaan bumi. Dari hari ke hari ia seakan melayang-layang. Mengapa ? Bayangkan saja, ia harus menjamin ketersediaan sekian banyak uang di kas perusahaan setiap bulannya untuk dipergunakan sebagai dana operasional bulanan dan yang terpenting adalah setiap tanggal 30 atau 31 harus membayar gaji para pegawainya. Dan pemilik perusahaan seakan tidak peduli dengan kesulitannya. Yang mereka perbuat hanya menasehati dan menasehati bahwa ia harus membina perusahaan agar banyak klien yang mempercayakan pekerjaan kepadanya.
KAPAN MULAI TIMBUL PERTANYAAN ITU ?
Katanya, dengan adanya penugasan baru itu ia justru memperoleh waktu yang lebih banyak untuk memikirkan hal-hal yang bersifat umum. Yang semula banyak persoalan teknis yang harus ia kerjakan sedangkan sekarang ini dengan penugasan baru itu menuntut ia lebih berfikir tentang persoalan manajerial. Karenanya pertanyaan yang memang sudah mulai berkecamuk tadi menjadi semakin kuat dan semakin liar berkecamuknya.
Selain hal itu ia juga mulai melirik dirinya sendiri, mengapa dipundaknya ada sedemikian banyak beban sehingga ia seringkali tidak sempat memikirkan apa saja yang sudah ia peroleh dengan bekerja di perusahaan itu, mengapa orang lain bisa memperoleh hasil dan benefit yang banyak hanya dengan menjadi karyawan yang setiap bulan menerima gaji dan bahkan jauh lebih besar dari yang ia peroleh, padahal beban yang ia pikul jauh lebih mengerikan.
Ia beranggapan bahwa menjamin penghasilan pegawainya, maksudnya para pegawai ditambah dengan keluarga mereka, adalah sangat jauh lebih mengerikan dari pada semua persoalan teknis yang pernah ia hadapi sebelumnya. Ia juga beranggapan bahwa bilamana ia gagal maka hancurlah perusahaan itu dan akan kacau-balau urusan para pegawainya terutama para pegawai yang hanya mengandalkan ketrampilan tanpa keakhlian khusus.
Sedangkan tentang dirinya sendiri ia berkata, “Ah itu tidak usah dipikirkan karena isteri saya bekerja dan lagi-pula gajinya masih cukup buat makan kami sekeluarga.”
Tidaklah aneh kalau sebuah usaha jasa-konsultasi sulit untuk bisa memprakirakan kapan klien-kliennya akan membayar, dan yang dialaminya juga seperti itu. Sangat sering terjadi kondisi kas perusahaan kosong melompong di awal bulan dan baru terisi di akhir bulan saat dibutuhkan untuk membayar gaji dan lain-lain.
Dalam tekanan yang dianggapnya dan dirasakannya sebagai luar biasa itu, ia mencari teman berbagi dan memang ia mendapatkannya. Kemudian ia minta teman itu untuk membantunya mengurus manajemen perusahaan dan diangkatnya menjadi salah satu direktur di perusahaannya. Ketika keadaannya seperti sedang kebingungan atas kondisi keuangan perusahaan maka temannya sering mengingatkan, “Sudah saja, jalani saja hidup bulan ini, bukankah ibumu juga pasti sering berkata agar hidup itu dijalani dengan ‘nrimo ing pandhum’. Berdoa saja, kamu mau apa lagi dan bisa apa ?” [1]
Katanya, kata-kata itu sangat mendinginkan kepalanya, seperti disiram dengan air es, segar dan sejuk sekali kalau mengingat bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan sedikitpun, hanya Allah Yang Maha Kuasa saja yang memilikinya.
Begitulah, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, dijalaninya setiap bulan dengan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali melayangkan tagihan kepada klien-kliennya dan sepenuhnya berharap agar Allah yang akan merogoh kocek mereka dan mengirimkan pos-wesel kepadanya.
Dan, kenyataannya, hal itulah yang selalu terjadi dan datangnya tepat pada saat dimana dibutuhkan. Ia sering teringat tentang wesel-pos [2] dari orangtuanya untuk uang sekolah dan uang indekosan di rantau, selalu di kirim tepat waktu, kalaupun terlambat maka itu dikarenakan persoalan di kantor pos. Hal itu terlihat dari tanggal pengiriman katanya.
MENCOBA MENCARI JAWABAN
Untuk sahabat ketahui, sejak sekolah di rantau ia mulai bermimpi tentang bentuk-bentuk yang mirip mandala [3] dan ternyata semakin hari semakin jelas bentuknya artinya semakin menyerupai bentuk mandala sempurna dan kadang-kadang mandala itu menjadi tiga dimensi dan ia sering terjatuh berputar-putar terhisap ke dalamnya. Dan ketika pertanyaan yang ia kemukakan di atas itu mulai muncul maka bersamaan dengan itu ia menjadi lebih sering bermimpi tentang bentuk-bentuk mandala.
Persis seperti yang ditulis oleh CG Jung ya ? Apa kaitannya ?
Katanya, belum lama ini ia mencoba mengevaluasi perjalanan hidupnya dengan menggunakan acuan teori psikologi tentang aktualisasi diri dari Abraham Maslow dan ia menemukan bahwa ke empat segmen bawah segitiga tersebut sudah dianggap dan dirasakannya sebagai sesuatu yang sudah terpenuhi ketika mulai muncul pertanyaan tentang hal-hal yang menyangkut dirinya tersebut di atas [4]. Artinya ketika ia merunut kapan terjadinya pertanyaan tersebut maka ia menemukan bahwa pertanyaan itu terjadi pada posisi yang semakin tinggi dalam skala pencapaian di segitiga tersebut. Artinya kegalauannya terjadi seiring dengan pencapaiannya yang semakin ke atas di segitiga Maslow itu.

