Berjalan kemana … ?
Thursday, January 29, 2009, posting oleh wiwin.wrUntuk sahabat ketahui, ia bukan berasal dari madrasah atau pesantren sehingga ia baru mulai mengenal huruf arab ketika ia duduk di SMP. Itupun tidak terlampau baik dan tentunya sama sekali tidak lancar atau bahkan sangat kesulitan kalau harus membaca tulisan Arabnya Al Quran. Selama itu pula ia hanya membaca terjemahnya saja, yang pasti lebih mudah baginya.
Dan dalam kegalauan tentang berkecamuknya pertanyaan di kepalanya, ia mencoba untuk mencari jawabannya di Al Quran. Untuk itu ia memutuskan untuk mulai belajar kembali huruf-huruf Arab dan berlatih membaca Al Quran dan sekaligus belajar bahasanya.
Ternyata ia memiliki waham di kepalanya bahwa apa gunanya kalau hanya membunyikan kumpulan huruf Arab saja tanpa mengerti artinya jadi selama ini ia tidak melatih bacaan Arabnya karena ia menganggap kurang manfaat bagi dirinya kalau ia tidak sekaligus belajar tentang bahasanya.
Ada seorang guru yang dengan sabar bersedia melatih bacaannya dan secara perlahan mengajari bahasa Arab Al Quran. Ia juga banyak berdiskusi dengan guru bahasanya tentang terjemah ayat-ayat yang ia baca. Ia juga berdiskusi tentang pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya dengan gurunya, dan gurunya hanya menyarankan kembalikan saja atau lontarkan saja pertanyaan itu kepada Allah Ta’ala. Begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan tentang ayat-ayat dalam Al Quran yang tidak ia fahami. Katanya, guru itu sekarang sudah meninggal [semoga Allah mengampuni dan merahmatinya].
Ia bahkan sering membaca wirid-wirid sesudah sholat wajib dan di malam hari Seringkali ada yang dibacanya sampai ratusan bahkan ribuan kali, demi untuk menenangkan pikirannya. Keliaran pikirannya agak berkurang tetapi hatinya tetap galau karena pertanyaannya tetap tidak terjawab. Kegalauannya bertambah karena timbul pertanyaan baru, “Apa apa dengan diri saya ?”
Al Ghazali, dalam Kitab Keajaiban Hati menuliskan, Rasulullah Saw pernah bersabda bahwasanya hati manusia seperti ibaratnya besi, ia bisa berkarat dan untuk membersihkannya adalah dengan membaca Al Quran dan mengingat kematian.
Lantas mengapa bacaan Al Quran yang ia lakukan tidak menjadikannya mengerti tentang apa gunanya dirinya di muka bumi ini ? Atau hatinya yang memang sangat-sangat berkarat ?
Ia tahu bahwa jawabannya sederhana dan sangat jelas, ia memang membaca tetapi ia tidak memahami apa yang dibacanya. Dan menjadi jelas sekali baginya bahwa hatinyalah berkarat. Berkarat sebagaimana besi yang tanpa pelapisan cat anti karat dan di rendam di air laut pula. Ia tahu jawabannya tetapi ia tidak tahu bagaimana mengatasinya.
MENEMUKAN SEBUAH ZAWIYYAH
Di masa ia memimpin perusahaannya, ada sebuah masa yang dikenal dengan masa krisis atau krisis moneter yang mana sebenarnya di negara kita menjadi sebuah krisis yang menyeluruh. Ia bercerita bahwa di masa itu sama sekali tidak ada satupun klien yang memberikan tugas pekerjaan kepada perusahaannya dan bersamaan dengan masa krisis itu ia juga menderita sakit tukak lambung yang cukup parah dikarenakan beberapa persoalan yang menyangkut kehidupannya yang sangat pribadi. [Hal itu juga diceritakan kepada saya akan tetapi saya memutuskan untuk tidak memasukkannya di tulisan ini karena bersifat sangat pribadi untuk dirinya dan keluarganya]
Ia menceritakan bahwa masa kekosongan itu adalah kesempatan baginya untuk merenungkan pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya dan sekaligus mencermati tentang semesta alam guna menghibur dirinya dan usaha untuk menyembuhkan penyakitnya. Disamping itu, sementara tidak ada yang bisa dikerjakan oleh pegawai-pegawainya, maka ia pun mengalihkan usahanya ke bidang pertanian dna bidang pembuatan furniture [meubel] untuk membuat kesibukan bagi para pegawainya dan menghindari pemutusan hubungan kerja. Sehari-harinya dihabiskannya di bengkel furniturenya dan di kebun dan memperhatikan keadaan tanaman-tanamannya sambil ia pun belajar tentang teori-teori pertanian. Beberapa konsultan pertanianpun ia hubungi untuk bertanya dalam rangka belajar tentang hal itu.
Sekitar tahun 2000 masa krisis mulai reda dan itu adalah 20 tahun sejak ia selesai sekolah. Dimana 10 tahun dihabiskannya sebagai pegawai dan 10 tahun sisanya sebagai orang yang memimpin sebuah perusahaan. Penyakitnya tidak kunjung hilang, tukak lambungnya membuatnya agak lemah sehingga ia banyak sekali mengurangi aktifitasnya. Ia jarang lagi pergi keluar kota sebagaimana yang sering dilakukannya sebelum masa krisis moneter terjadi.
Singkat kata, ia diajak isterinya untuk mengikuti sebuah kajian tentang “pembersihan jiwa” yang diselenggarakan untuk keluarga besar isterinya yang diprakarsai oleh suami kakak isterinya. Dengan setengah hati ia mengikuti dan bukan hanya setengah hati bahkan mungkin sedikit menolak. Mentor yang mengisi adalah seorang yang jauh lebih muda dari dirinya dan ia berfikir, “Tahu apa anak muda ini tentang kehidupan”. Bersamaan dengan itu, ayah mertuanya bertanya tolong tanyakan kepada mentor itu perihal masalah ‘gender’ secara Quraniyyah.
Ketika ia menanyakan hal itu, mentor itu tidak segera menjawab tetapi menganjurkan agar ia membaca dulu sebuah buku populer tentang rujukan gender yang ditulis oleh seorang wanita Jepang, yang menetap di Amerika dan telah belajar mengenai Islam di berbagai negara, salah satunya adalah sebuah universitas di Iran [5]. Baru kemudian setelah itu, bila diperlukan bisa dilanjutkan dengan diskusi.
Buku itupun dibacanya dengan segala kesulitannya, setiap satu atau dua halaman nafasnya terasa sesak, dadanya berdebar-debar dan lambungnya menjadi sekeras batu. Ia harus berhenti membaca dan berjalan-jalan keluar melihat-lihat pemandangan. Kebetulan rumahnya berada di daerah ketinggian sehingga bisa menikmati pemandangan alam dengan mudah. Demikianlah seterusnya halaman demi halaman dibacanya. Akan tetapi ia merasakan keanehan, semakin ia membaca semakin ia besar ketertarikannya terhadap hubungan Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya, dan yang paling dirasakannya adalah kemampuan membacanya meningkat drastis. Semula ia hanya bisa membaca satu atau dua halaman saja sebelum lambungnya berontak tetapi semakin lama lambungnya semakin tidak berontak dan bahkan ia bisa mengurangi jatah memakan obat yang sudah menjadi sahabatnya sehari tiga kali selama 3 tahun belakangan ini.
Itulah awal ketertarikannya kepada kajian itu dan ternyata di kajian itu pula ia bisa berdiskusi dengan mentor yang muda usia itu dan ia diberi penjelasan tentang adanya misi dalam setiap kehidupan manusia bagi setiap manusia seperti tugas yang Allah Ta’ala berikan kepada setiap makhluk yang Allah Ta’ala ciptakan di semesta alam-alam ini.
Berangsur-angsur ia mulai mengerti duduk persoalan kehidupannya yang berkaitan dengan pertanyaannya [6]. Sejalan dengan itu, berangsur-angsur pula penyakit tukak-lambungnya yang sudah parah mulai membaik. Membaik dan membaik. Kesehatannya mulai pulih. Luar biasa.
Apakah mentor itu yang mengajarinya ? Atau yang membuatnya sembuh dari penyakit tukak lambungnya ? “Bukan, sama sekali bukan” sanggahnya.
Katanya, mentor itu tidak mengajarinya dan tidak pula menyembuhkannya, mentor itu hanya menunjukkan tentang dimana ia bisa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Yang dilakukan mentor itu hanya sebatas menyampaikan materi yang memang harus disampaikannya dalam kelas sesuai dengan tugasnya sebagai pemberi materi sedangkan hal-hal yang sifatnya pencerahan bukanlah hasil karyanya dan bahkan ia tidak bisa berbuat sesuatupun untuk itu. Yang bisa dilakukannya adalah menyampaikan materi diiringi dengan doa kepada Allah Ta’ala agar para peserta kajian memperoleh pencerahan karena urusan pencerahan adalah urusan Allah Ta’ala semata.
Ia pun kemudian semakin giat dalam mencari pengetahuan dan semakin dalam pula ia masuk ke zawiyyah itu dan berkenalan dengan sahabat-sahabat mentor muda itu dan bahkan ia juga bertemu dengan sang guru di zawiyyah tersebut, seorang syaikh, yang akhirnya berkenan menerimanya sebagai murid.
Demikianlah akhirnya ia menemukan sebuah tempat yang bisa memberinya keterangan-keterangan yang memberikan orientasi yang nyata dan jelas bagi pencariannya atas jawaban-jawaban pertanyaannya dalam kehidupannya.
APA YANG DIDAPATNYA ?
Pada pertemuan pertamanya, sang Syaikh berkata, ”Setiap orang dilahirkan ke dunia dengan sebuah tujuan tertentu dan engkau boleh mengerjakan seratus atau seribu hal lainnya yang selain dari tujuan itu maka engkau seakan tidak mengerjakan apa-apa.” Lanjutnya lagi, “Setiap yang mengenal jiwanya akan mengenal Rabbnya.” Kemudian lanjutnya lagi, “Bilamana tidak mengenal jiwa yang di dalam raga maka engkau tidak akan mengetahui apa yang menjadi tujuan penciptaan dirimu di muka bumi ini.”
Seorang guru seringkali mengajar dengan cara yang tidak dimengerti oleh muridnya. Coba tengok cara-cara guru silat Shaolin Temple yang mengajari kuda-kuda kepada muridnya dengan menyuruh mereka mengangkut air dari sumur di bawah bukit ke tandon air di atas bukit dan air di ember tidak boleh tumpah pula. Atau melatih kekuatan kuda-kuda dan tangan muridnya dengan menyuruh mengaduk bubur di belanga besar di atas tungku api.
Demikian pula sang Syaikh, selain memberikan nasehat juga sering mengajak berbicara muridnya tentang berbagai hal yang sederhana atau memberi tugas kepada muridnya juga berupa hal yang sederhana tetapi setiap hal yang dibicarakan dan ditugaskan seringkali membuat hati muridnya berguncang. Atau justru menjadi bersitegang dengan kepentingan pelaksanaan tugas dari sang Syaikh yang diterima oleh murid lain.
Ia berkata, “Yang menguatkan saya adalah sebuah kesadaran bahwa semua penolakan atau ketegangan di hati semata-mata terjadi karena kotoran dalam hati saya sendiri. Dan saya meyakini bahwa kalau hati saya kotor mana mungkin saya bisa mengenali hakekat diri saya dan kalau saya tidak mengenali siapa diri saya maka dari mana saya bisa tahu tentang apa yang harus saya kerjakan di muka bumi ini.” Lanjutnya, “Kalau saya ingin tahu apa yang harus saya kerjakan di bumi ini tentunya saya harus bisa memahami ayat-ayat dari Pemilik dan sekaligus Yang Menciptakan Bumi ini. Dan bagaimana saya bisa memahami ayat-ayat-Nya kalau hati saya masih penuh karat. Sebab itu saya harus menerima dan menjalani apa-apa yang Allah Ta’ala hadirkan bagi saya di muka bumi ini agar hati saya sedikit demi sedikit menjadi bersih.” [7]
Di zawiyah itu pula akhirnya ia mengerti dan memahami bahwasanya setiap manusia harus berjalan di muka bumi ini untuk menghaluskan hatinya, mempertajam penglihatan hatinya dan mempertajam pendengaran hatinya sehingga bisa dipergunakannya untuk ber ‘aql, melihat dan mendengar. Agar ayat-ayat Allah Ta’ala bisa terbaca dan terfahami dan menjadi ayat-ayat yang nyata di dalam dadanya. Dan ia pun menyadari bahwa selama ini ia kehilangan tujuan, hanya berjalan kesana kemari tersesat tanpa tujuan, bagaikan binatang ternak yang lupa kandangnya atau bahkan bisa jadi seperti binatang liar yang bahkan tidak pernah punya kandang. Ia pun menyadari bahwa selama ini ia bagaikan makhluk yang berjalan dengan perutnya, berjalan kesana kemari diatur oleh kepentingan perutnya saja.
Demikianlah kisah yang dituturkannya dan hidupnya sekarang sangat jauh berbeda, penuh dengan tujuan, dan berharap dapat mengenal dirinya sendiri agar bisa mengerjakan apa yang menjadi tujuan penciptaan dirinya sehingga ia menjadi hamba-Nya yang didekatkan.
artikel ini ?
