... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Saling cinta dan hormat …

Saturday, February 28, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 16:51 | Anda mau email artikel ini ?

Setelah beberapa tahun, salah satu tarekat sufi kian menyusut. Yang tersisa hanyalah seorang syekh dan tiga orang darwisnya. Mereka tinggal di pondokan tarekat tersebut, menghabiskan waktu mereka untuk berdoa, merenung dan mengelola tanah perkebunan mereka. Keempat pria tersebut beranjak tua, mereka menjadi cemas bahwa tradisi mereka yang berharga ini akan lenyap bersama mereka.

Salah seorang darwis menyarankan agar sang syekh mengunjungi seorang rahib Yahudi setempat yang juga dikenal sebagai sosok yang amat bijaksana. “Ia juga seorang guru spiritual,” jelas sang darwis, “dan saya yakin, ia juga pernah dihadapkan kepada persoalan yang serupa.” Sang Syekh kemudian mengunjungi rahib tersebut. Sambil minum teh bersama, ia menceritakan persoalannya kepada sang rahib. Sang Rahib tersenyum dan berkata, “Aku pun memiliki permasalahan serupa. Saya sungguh tidak tahu bagaimana menarik generasi muda dari komunitas saya sendiri. Namun aku dapat memberitahu anda satu hal: Dalam suatu perenunganku, ditampakkan padaku bahwa salah satu dari kalian adalah quthb zaman.”

- mau melanjutkan membaca … ?

The Three Realities …

Friday, February 27, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 14:43 | Anda mau email artikel ini ?

JUDUL ASLI:
THE  THREE  REALITIES
The Tao of Islam, a book by Sachiko Murata
 

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah, [admin: Realitas Mutlak - Al Wujud] yang berada di puncak, merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hub­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

- mau melanjutkan membaca … ?

Menjadi kambing hitam …

Thursday, February 26, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 18:38 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika sekembalinya dari bepergian, Nasruddin dan isterinya menemukan rumahnya telah dibongkar oleh pencuri. Semua yang bisa diangkat telah dibawa oleh pencuri itu.

“Ini salahmu,” kata isterinya, “engkau seharusnya memeriksa bahwa semua sudah dikunci sebelum kita pergi.”

Tetangganya datang dan menimpali, “Engkau tidak mengunci jendela-jendela,” dan dilanjutkan oleh tetangganya yang satu lagi, ”Kenapa engkau tidak berjaga-jaga bahwa hal ini bisa terjadi. Kata yang lain lagi, “Gembok-gembok itu sudah tua dan engkau tidak menggantinya.”

“Sebentar, sebentar …” kata Nasruddin, “Tentunya bukan hanya aku saja yang harus disalahkan bukan ?” “Lalu siapa yang harus dipersalahkan ?” teriak isteri dan para tetangganya.

“Bagaimana halnya dengan pencuri itu ?” kata Nasruddin, “Apakah mereka sama sekali tidak bersalah ?”

 

Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009
Gambar diambilkan dari link-ini

Nasruddin jalan mundur …

Monday, February 23, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:17 | Anda mau email artikel ini ?

 

PADA suatu hari, Nasruddin mengendarai keledainya ke kota. Orang-orang kemudian menghentikannya dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau duduk membelakangi arah jalanmu Nasruddin ?”
Ia menjawab, “Aku tahu kemana tujuanku tetapi aku ingin tahu apa yang telah aku lewati.”
 
 
Bandung - 22/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Nasruddin dan kebajikan …

Sunday, February 22, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:13 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika, Nasruddin pergi ke pasar dan memasang tanda, “Siapapun yang telah mencuri keledaiku, tolong kembalikan kepadaku dan aku akan memberikan keledai itu kepadamu.”

“Nasruddin” sergah orang-orang di pasar, “Mengapa engkau memasang tanda yang semacam itu ?”

“Ada dua hal yang merupakan kebajikan [al-birrun] dalam hidup ini,” jawab Nasruddin. “Yang pertama adalah mencari sesuatu yang telah hilang darimu dan memberikan harta yang engkau cintai kepada orang lain !”

 

Bandung - 24/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Panci Nasruddin beranak …

Saturday, February 21, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:12 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu sore, Nasruddin sedang memasak. Kemudian ia ke rumah tetangganya untuk meminjam panci dan berjanji akan mengembalikan keesokan harinya.

Pagi-pagi Nasruddin mengetuk pintu rumah tetangganya dan mengembalikan panci yang dipinjamnya. Tetangganya melihat ke dalam panci den menemukan sebuah panci kecil di dalamnya. Ia berkata, “Ada sebuah panci kecil di dalam panci yang kupinjamkan kemarin.” “Panci itu beranak,” kata Nasruddin. Tetangganya merasa senang mendengar itu dan menerima panci-panci itu.

Pagi berikutnya Nasruddin mengetuk pintu rumah tetangganya lagi hendak meminjam panci yang lebih besar dari panci yang dipinjamnya kemarin. Dan tetangganya pun dengan senang hati memenuhi permintaan itu.

Tetapi kemudian seminggu berlalu begitu saja dan Nasruddin tidak kunjung mengembalikan panci itu.

Beberapa hari kemudian, Nasruddin berpapasan dengan tetangganya di sebuah bazaar. Tetangga Nasruddin bertanya, “Dimana panciku.” “Mati” kata Nasrudin. “Bagaimana bisa ?” tanya tetangganya dengan heran.

Nasruddin menegaskan, “Kalau sebuah panci bisa beranak maka ia pasti bisa pula mati.”
 

Bandung - 24/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Nasruddin dan seorang Pasha …

Friday, February 20, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 6:41 | Anda mau email artikel ini ?

Mullah Nasruddin sedang dalam keadaan tidak memiliki pekerjaan tetapi suatu ketika ia bisa memiilki sedikit uang untuk makan nasi goreng kacang polong [1] di sebuah warung sederhana. Sambil menikmati santapannya, ia mengamati orang yang lalu lalang di depan warung dengan sudut matanya.

Ia mendapati ada seseorang yang gagah dan berwajah garang di balik kerumunan orang-orang. Pakaiannya rapih dari kepala sampai ke ujung kaki. Ia mengenakan sorban, mengenakan rompi dengan hiasan sulaman dari perak, bajunya dari sutera halus, celananya dari bahan satin model mutakhir [2] dan dipinggangnya tergantung sebilah pedang kecil terbuat dari emas.

Mullah Nasruddin bertanya kepada pemilik warung sambil menunjuk kepada orang tersebut, “Siapakah gerangan orang yang berdiri disana itu ?” “Ooh, dia itu abdi-nya Fahmi Pasha” jawab pemilik warung [3].

Dari kejauhan Mullah Nasruddin menarik nafas panjang, menatap ke langit dan berkata, ”Wahai Tuhanku Yang Baik, lihatlah hamba-nya Fahmi Pasha dan lihatlah hamba-Mu yang disini ini”.
 

Catatan Kaki:

[1] beans and pilaf – sebuah makanan tradisional Persia, lihat di link-ini atau di link-ini.
[2] model baggy - model celana agak gombrang di sisi paha sebelah atas dan sempit di bagian betis.
[3] ‘Pasha’ atau ‘Paşa’ adalah gelar yang tinggi bagi seorang gubernur atau wazir atau kepala pemerintahan/suku pada jaman Kakaisaran Ottoman, lihat di link-ini, semacam gelar ‘Lord’ di Inggris.

 

Bandung - 19/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Nasruddin dan Pelancong …

Thursday, February 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 21:47 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu malam Nasruddin sedang melangkahkan kakinya di jalanan berpasir. Kemudian ia melihat serombongan orang yang berkuda dengan cepat dan menuju kearahnya. Khayalannya mendadak bekerja. Ia membayangkan dirinya ditangkap atau dirampok atau dibunuh. Ketakutan oleh sebab khayalannya sendiri, ia segera melompat lari dan memanjat dinding yang membatasi sebuah pemakaman. Menelungkupkan diri di sebuah lubang galian yang masih terbuka untuk bersembunyi.

Heran oleh sebab melihat kelakuannya yang aneh, para penunggang kuda yang ternyata adalah pelancong-pelancong yang jujur itu pun mengikutinya. Mereka menemukan Nasruddin sedang berbaring disitu, tegang dan gemetar.

“Sedang apa engkau di dalam lubang ini ? Kami melihat engkau melarikan diri. Adakah yang kami bisa bantu ? Mengapa engkau masuk ke dalam lubang ini ?

“Hanya karena engkau bisa menanyakan sesuatu bukan berarti bahwa akan selalu tersedia jawaban langsung untuk itu,” kata Nasruddin yang sudah menyadari gerangan apa yang terjadi. “Semua itu tergantung kepada sudut pandangmu. Bila engkau harus tahu, bagaimanapun juga, aku berada disini karena engkau - dan engkau pun berada disini karena aku !”
 

Bandung - 19/02/2009
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

 

Nasruddin dan si Sarjana …

Sunday, February 15, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 21:33 | Anda mau email artikel ini ?

Syahdan seorang sarjana yang terkenal di seantero negeri sebagai seorang yang ahli filsafat dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral sedang melakukan perjalanan. Siang itu ia berjalan melalui sebuah desa. Desa itu adalah tempat kediaman Nasruddin dan ia pun berjumpa dengannya di jalan. Lalu si sarjana menanyakan dimana tempat yang baik untuk makan sambil duduk berbincang. Nasruddin menunjukkan sebuah kedai dan si sarjana pun dengan sangat santun mengajaknya untuk menemaninya makan sambil bercakap-cakap. Merasa terpanggil, Nasruddin pun bersedia dan kemudian mereka berjalan menuju ke kedai itu. Sesampainya di kedai itu, mereka menanyakan apa sajian utama hari ini kepada pramu-kedai.

  • Ikan, Ikan Segar ! kata pramu-kedai itu.
  • Tolong buatkan dua ekor untuk kami, jawab mereka berdua.

Selang beberapa saat kemudian pramu-kedai itu datang membawa sebuah piring besar dengan dua ekor ikan yang sudah matang di atasnya, dimana yang satu sedikit lebih kecil dari pada yang satu lagi, dan dua buah piring makan untuk kedua tamu itu.

Tanpa ragu-ragu, Nasruddin mengambil ikan yang besar dan menaruhnya di piringnya. Si sarjana menatapnya dengan pandangan yang seakan tidak percaya atas apa yang dilihatnya, kemudian berkata bahwa apa yang baru saja dilihatnya benar-benar tidak hanya sekadar tindakan yang mementingkan diri sendiri tetapi juga sangat bertentangan dengan hampir semua prinsip-prinsip dalam tata kehidupan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, agama dan etika.

Nasruddin dengan tenang mendengarkan apa yang dikatakan oleh ahli filsafat itu dan ketika ia selesai mengemukakan semua prinsip-prinsip hidupnya, Nasruddin berkata,

  • Baiklah Tuan, bagaimana engkau melakukannya ?”
  • “Saya sebagai seorang yang sangat menyadari keberadaan saya sebagai makhluk sosial, akan mengambil ikan yang kecil untuk diri saya sendiri.” jawab si terpelajar.
  • “Nah, bukankah ini seperti itu,” kata Nasruddin sambil mengambil ikan yang lebih kecil dan ditaruhnya di piring makan si sarjana.

 

Bandung - 15/02/2009
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah,
alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Pemain Kecapi …

Friday, February 13, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 17:54 | Anda mau email artikel ini ?

JUDUL ASLI: The HARPIST

Syahdan disaat Khalifah ke-dua Umar bin Khattab ra. memerintah, hiduplah seorang musikus, ia seorang yang pandai memetik kecapi lagi merdu suaranya bagai lantunan suara Izrafil as. Ia selalu disewa untuk memeriahkan suasana di setiap pesta keriaan.

Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tua dan suaranya tidak lagi merdu sampai akhirnya tidak ada seorangpun yang menyewanya untuk memeriahkan pesta-pesta keriaan mereka.

Dalam keputus-asaannya ia pergi ke tanah-pemakaman di Yatsrib dan memetik kecapi-nya untuk Tuhan, mencari-Nya untuk berterima-kasih kepada-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya kepadanya. Seusai memainkan lagunya ia pun terlelap dan bermimpi bahwa ia sedang berada di surga.

Di malam yang sama muncul bisikan ilaahiyyah kepada Umar bin Khattab ra.  yang menyuruhnya untuk pergi ke tanah-pemakaman dan menolong seseorang yang sudah tua yang akan ditemuinya disana.

Umar ra. pun bergegas kesana dan mendapati musikus itu dan memberinya uang. Serta menjanjikan untuk memberinya lagi bilamana ia membutuhkan.

Orang itu kemudian melemparkan kecapinya dan mengatakan bahwa kecapi itulah yang menjadikannya terhijab dari Tuhan dan ia pun kemudian menyatakan rasa bersalahnya yang mendalam atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya di waktu lampau.

Umar ra. kemudian menjelaskan bahwa perjalanan-duniawi-nya sekarang sudah berakhir. Dan ia tidak boleh membiarkan dirinya bersedih atas apa-apa yang terjadi di masa lampau sebagaimana saat ini ia sudah masuk ke dalam suasana yang penuh dengan kemurnian dan kecintaan akan penyatuan dengan Tuhan. Dan di dalam tingkatan yang penuh kemuliaan itu, perhatian kepada hal-hal di masa lampau dan di masa yang akan datang harus disingkirkan jauh-jauh.

Pemain Kecapi itu menjalani pelajaran yang diterimanya dan ia tidak lagi mengamen.

 

Bandung - 12/02/2009
Source:
MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi,
Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898
- Story VIII.1 The Harper - alih bahasa oleh wiwin.wr