Mahmud dan Ayaz [1] …
Thursday, March 05, 2009, posting oleh wiwin.wrSultan Mahmud duduk bersama sahabat dekatnya dan para penasihatnya, sembari menikmati minuman dari gelas kristal permata yang sangat indah, salah satu miliknya yang berharga.
Ketika setiap orang mulai mengagumi gelas minuman tersebut, ia menyodorkannya kepada seorang penasihatnya dan berkata, “Jatuhkanlah ke lantai dan pecahkan !” Sang penasihat menjawab, “Aku tidak bisa Sultan. Ia amat sangat berharga, dan aku tidak berani merusak salah satu harta kekayaan Anda yang teramat bernilai.”
Sang sultan memberikan gelas minuman tersebut pada masing-masing penasihatnya dengan perintah yang sama, dan masing-masing mereka juga menolak untuk mernecahkannya.
Akhirnya, ia memberikan gelas tersebut kepada Ayaz, sahabat dekatnya yang paling setia. Ayaz segera memecahkannya hingga berkeping-keping. Orang-orang lainnya terhenyak dan merasa heran.
Ketika sang Sultan bertanya padanya, mengapa ia memecahkan gelas minuman tersebut, Ayaz menjawab, “Sultanku, aku tahu bahwa gelas minuman itu berharga, tetapi yang jauh lebih berharga bagiku dari gelas mana pun adalah perintahmu. Aku tidak akan pernah menolak keinginan-keinginanmu, sehingga dengan segera aku melakukan apa yang engkau perintahkan.”
Sang Sultan tersenyum dan berkata, “Lihatlah mengapa aku mencintai dan mengasihinya."
[kisah ini berasal dari Jalaluddin Rumi - Matsnawi Buku V bait 4035 – silahkan lihat di link-ini]
[Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005]

