Mahmud dan Ayaz [2] …
Friday, March 06, 2009, posting oleh wiwin.wrSultan Mahmud dari Ghazna, memiliki pegawai kesayangan bernama Ayaz yang karenanya menjadikan seluruh pegawai istana iri-hati. Suatu hari mereka menghadap sultan melaporkan bahwa Ayaz memiliki kebiasaan beristirahat di dalam sebuah ruang rahasia di dalam biliknya dan mengunci diri di dalam. Mereka mencurigai Ayaz menyembunyikan barang berharga hasil curian atau menikmati anggur dan minuman keras disana.
Kenyataannya, di ruangan itu Ayaz hanya menempatkan sepatu-tua dan baju koyaknya, yang dahulu selalu dipakainya, sebelum ia diangkat menjadi pegawai istana oleh sang sultan. Ia biasa beristirahat di ruangan itu, memandangi sepatu-tua dan baju-koyak itu berlama-lama, sambil sekali-sekali ia memakainya, untuk mengingatkan dirinya bahwa asal muasalnya hanyalah orang dusun biasa sehingga ia bisa terhindar dari hembusan angin takabur. Ia melakukan itu sebagaimana diperintahkan Tuhan, ”Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan ?” QS.[86]:5
Menyukai kehidupan dunia akan menghembuskan kebanggaan yang keliru dan menjadikan sebuah kesombongan, sebagaimana Iblis yang menolak bersujud kepada Adam as. dan berkata, ”Siapakah Adam itu sehingga ia lebih dihormati daripada aku ?” kemudian berkata bahwa ia adalah bangsa Jin yang diciptakan dari api, QS.[15]:27. Sedangkan Adam, dengan rendah hati, mengakui kesederhanaannya, ”Allah menciptakan aku dari tanah liat kering” QS.[55]:14.
Sang Sultan, walaupun ia percaya sepenuhnya atas kesetiaan dan kejujuran Ayaz. Namun, demi untuk membuktikan kepada mereka-mereka yang telah membangun kecurigaan kepada Ayaz, dia memerintahkan mereka untuk membongkar kamar rahasia tersebut di malam hari dan mengambil semua harta dan barang-barang yang disembunyikan Ayaz disitu.
Sudah merupakan sifat dari orang-orang yang berperangai jahat untuk selalu memprasangkai orang-orang yang bersih-hati. Sebab mereka selalu melihat berdasarkan dorongan syaithoniyyah yang ada dalam diri mereka sendiri. Sebagaimana kaki yang bengkok akan meninggalkan jejak kaki yang bengkok pula atau seperti seekor laba-laba yang kabur penglihatannya oleh sebab melihat dari balik anyaman jaringnya sendiri.
Tindakan sang Sultan menginjinkan pembongkaran kamar rahasia ini sedikitpun tidak mengurangi rasa kasih-sayangnya kepada Ayaz. Sebab Sang Pecinta dan Yang Dicinta akan selalu berada dalam kesatuan walaupun mereka seperti bertentangan bila dilihat secara lahiriyyah.
Karena itulah pada malam harinya, para pegawai istana bersama-sama menuju ke kamar Ayaz dan membongkar paksa pintunya dan mencari-cari di seluruh lantai dan dinding kamar itu. Namun yang mereka temukan hanya sepatu-tua dan baju-koyak itu saja.
Kemudian mereka kembali menghadap sang Sultan dengan muka hitam-legam karena telah berdusta, sebagaimana orang-orang yang telah memfitnah orang suci akan menghadapi yaumu-l-hisaab – hari perhitungan – dengan keadaan seperti dalam ayat ”Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam….”, QS.[39]:60.
Kemudian mereka memohon ampunan Sultan atas segala kelancangan yang telah mereka lakukan, tetapi sultan menolak dengan berkata bahwa kelancangan itu mereka lakukan kepada Ayaz dan oleh karenanya ia akan melimpahkan kepadanya untuk memutuskan apakah akan menghukum mereka atau memaafkan mereka.
Bilamana Ayaz memaafkan maka itu sebuah kebaikan bagi mereka dan bilamana ia menghukum mereka maka itu juga merupakan sebuah kebaikan bagi mereka, sebagaimana ”qishaash adalah sebuah hukum yang Allah Ta’ala turunkan untuk menyelamatkan manusia dalam kehidupan sendiri,” QS.[2]:178 – ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih.” - hanya kemudian sang Sultan memerintahkan supaya Ayaz menjatuhkan hukumannya dengan tanpa ditunda-tunda lagi sebab “saat-saat menunggu sudah merupakan sebuah hukuman”.
Bandung - 06/Maret/2009 Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi, Book V – Story VIII Mahmud and Ayaz.
[Abridged and Translated from Matsnawi Book V 4035-4115 by E.H. Whinfield, 1898. Alih bahasa oleh wiwin.wr dengan sedikit perubahan tekstual tanpa merubah makna cerita]

