Dabbah yang berjalan …
Friday, July 03, 2009, posting oleh wiwin.wrSECARA BAHASA
Dabbah adalah makhluk yang melata di muka bumi oleh sebab itu secara bahasa dinisbatkan kepada hewan atau binatang-binatang.
Dalam bahasa Arab [1], kata dabbah digunakan untuk menjelaskan tentang makhluk yang hidup melata di muka bumi. Dan Al Quran meluaskan pengertiannya dengan adanya ayat yang tersirat di dalamnya bahwa dabbah meliputi semua makhluk yang hidup di muka bumi ; baik yang hidup dan bersarang di dalam tanah atau di dalam air, yang hidup dan bersarang di atas tanah yang dalam hal ini mencakup manusia, dan yang hidup maupun bersarang jauh di atas tanah yakni yang hidup di pohon-pohon dan/atau yang memiliki kemampuan untuk terbang ke angkasa seperti nyamuk, lebah dan burung-burung.
QS.[8]:22 … Sesungguhnya dabbah yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun [laa ya’qiluun].
QS.[8]:55 … Sesungguhnya dabbah yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman [laa yu’minuun].
QS.[24]:45 … Dan Allah telah menciptakan semua dabbah [kulli daabbatin, segala jenis hewan] dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
"dabbah" yang secara bahasa artinya adalah makhluk yang melata di muka bumi, dalam pengertian di atas menunjukkan bahwa manusia juga termasuk sebagai dabbah di muka bumi. Keadaan ini diperkuat lagi oleh ayat yang menjelaskan bahwa dabbah ada yang berjalan dengan dua kaki dan empat kaki.
Artinya, manusia termasuk kategori dabbah secara fisik di muka bumi ini dan secara maqomat-nya di sisi Allah Ta’ala. Namun, secara maqomat, manusia bisa lebih rendah atau setingkat atau lebih tinggi daripada hewan-hewan melata tersebut.
KONSEP DABBAH dan BERJALANNYA DABBAH DI MUKA BUMI …
Lebih lagi, penjelasan tentang maqomat insaan juga jelas Allah Ta’ala tampilkan pada ayat di atas, yakni tentang maqomat keimanan berkenaan dengan seburuk-buruk dabbah adalah yang laa ya’qiluun dan laa yu’minuun [tidak berakal dan tidak beriman]. Dengan demikian kedua hal itu [`aqlun dan imaan] adalah yang membedakan antara manusia dengan hewan.
KECERDASAN HATI .. [ `aql : dimulai dari tingkatan fu`ad adalah kecerdasan qalb-insaan]
Bilamana insaan tidak memiliki atau tidak menggunakan potensinya untuk meraih kedua hal itu [iman dan ‘aqlun] maka insaan itu tidak lain sama seperti hewan atau lebih rendah dari pada itu. Sebagaimana ayat berikut ini :
QS.[7]:179 … Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) [lahum quluubun laa yaf-qohuuna bihaa] dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai [al ghoofiluun].
QS.[22]:46 …. lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami [lahum quluubun laa ya`qiluuna bihaa] atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada [qulubu-latiy fii-sh-shudur].
QS.[10]:100 …. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan [yaj`alu-r-rijsa] kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya [laa ya`qiluun].
Berawal dari persoalan dabbah, persoalan berkembang kepada suatu pengungkapan bahwa potensi yang dimiliki oleh manusia untuk menggapai maqomat yang lebih tinggi daripada sekadar hewan atau binatang melata adalah dengan beriman dan berpengetahuan [ faqih] kemudian ber-’aql. Semua hal tersebut hanya bisa dilakukan manusia melalui sebuah perangkat yang Allah Ta’ala telah siapkan dalam dirinya yakni qalb sebagaimana QS.[7]:179 di atas.
QS.[16]:78 …. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati [af`idah], agar kamu bersyukur.
QS.[32]:9 …. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati [af`idah] (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
ADAKALANYA POTENSI ITU DICABUT ..
Ada beberapa hal atau keadaan yang dapat menjadikan seorang manusia kehilangan potensi yang telah Allah Ta’ala sediakan dalam dirinya. Hilangnya potensi itu karena tutupan yang Allah Ta’ala pasangkan dan kunci-matikan pada potensi-potensi itu.
QS.[2]:7 …. Allah telah mengunci-mati hati mereka [khotama-lLaahu alaa quluubihim] dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
QS.[6]:46 …. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu [khotama alaa quluubi-kum], siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu ?" …..
QS.[46]:26 …. Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka [af`idatahum] itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya
Apa yang menyebabkan potensi-potensi tersebut semakin menipis dan akhirnya hilang sama sekali ? Kita perhatikan berikut ini.
QS.[16]:107 …. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
QS.[16]:108 …. Mereka itulah orang-orang yang hati [thoba`a-lLaahu alaa quluubi-him], pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah al ghoofiluun [orang-orang yang lalai].
Demikianlah, manakala cinta kepada kehidupan dunia melebihi dari akhirat maka potensi yang dimiliki yang menjadi modal dasar untuk berjalan di kehidupan ini akan hilang.
BERJALAN DI MUKA BUMI ..
Cara berjalan di muka bumi, ada yang dengan dua kaki atau empat kaki atau bahkan ada yang berjalan dengan perutnya sebagaimana yang sudah kita ketahui di atas. Yang harus manusia lakukan di muka bumi ini adalah berjalan agar dengan itu ia bisa mempunyai hati yang bisa dipergunakannya untuk berakal.
QS.[22]:46 …. maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami [lahum quluubun laa ya`qiluuna bihaa] ….
BERSYUKUR ITU MEMERLUKAN KECERDASAN HATI ..
Untuk dapat bersyukur, insaan memerlukan pendengaran, penglihatan dan kecerdasan hati [af’idah][2]. Ketiga perangkat ini, semuanya adalah perangkat di hati manusia, adalah modal dasar dari Allah Ta’ala bagi setiap manusia yang diberikan-Nya ketika manusia dilahirkan dan berguna untuk manusia berjalan di muka bumi ini. Manakala ketiga perangkat itu dipergunakannya secara aktif maka seorang insaan akan beranjak menuju ke maqom syukur.
QS.[32]:9 …. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran [as-sam`a], penglihatan [al-abshoor] dan hati [al-af`idah]; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
QS.[23]:78 …. Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati [al-af`idah]. Amat sedikitlah kamu bersyukur
QS.[67]:23 …. Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati [al-af`idah]." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur
QS.[17]:36 …. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati [fu`ad], semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
MENGIKUTI / MEMPERTUHANKAN HAWA-NAFSU, CINTA-DUNIA ..
Dua hal tersebut di atas, yakni mempertuhankan hawa-nafsu dan/atau cinta dunia yang lebih daripada akhirat akan menjadikan seorang manusia yang tadinya atau yang defaultnya adalah memiliki pendengaran, penglihatan dan af’idah menjadi ditutup ketiga-tiganya sehigga menjadi tidak memilikinya.
QS.[45]:23 …. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.
QS.[25]:43 …. Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ?,
QS.[25]:44 …. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar [yasma`uuna] atau memahami [ya`qiluuna]. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
RENUNGAN ..
Persoalan dabbah juga menyangkut tentang ubun-ubunnya yang dipegang Allah Ta’ala.
QS.[11]:56 …. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Rabb-ku dan Rabb-mu. Tidak ada suatu dabbah pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabb-ku di atas jalan yang lurus [inna Rabbiyy alaa shirothim-mustaqiim] …
Kita patut merenungkan, bukan hanya sekadar patut tetapi kita harus dan menjadi kewajiban bagi kita untuk membuka pendengaran dan penglihatan, agar tidak menjadi tuli, bisu dan buta yang menjadikan kita tidak akan ber-`aql agar dan tidak bisa kembali [laa yar-ji’un]. Itulah esensi dari dabbah yang berjalan di muka bumi ini dan dabbah itu adalah diri kita sendiri.
QS.[2]:18 …. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar [laa yar-ji’un]
QS.[2]:171 …. Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti [laa ya`qiluun]
Mudah-mudahan kita tidak menjadi makhluk yang berjalan di muka bumi ini dengan menggunakan perutnya, mengatur segala sesuatu demi kepentingan perut semata. Mudah-mudahan kita selalu ingat bahwa kehidupan ini sangat panjang, dari sejak jiwa kita diciptakan sampai dengan akhirat nanti, setelah melalui tempat-tempat persinggahan [mauthin]: dunia, barzakh, melalui kiamat dimana semua yang berjiwa akan mengalami mati dan melalui penghisaban di yaumi-l-hisaab. Mari kita gunakan kesempatan yang masih Allah Ta’ala berikan kepada kita ini untuk mempelajari Kitab-Nya, Al Quran Al Kariim, dalam upaya membangun dan menguatkan kecerdasan hati dan keimanan kita…. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk taat kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya. Amin.
Catatan:
[1] Data ini berdasarkan pemberitahuan dari orang-orang yang fasih berbahasa Arab, karena saya sendiri tidak memiliki kemampuan itu. Mohon koreksinya bila ada kekeliruan.
[2] fu`ad adalah kecerdasan hati dan af`idah adalah bentuk jamak dari fu`ad.
Bandung, 6/Juni/2009, 5:11 PM - Wallahu `alam bish-showab.

