... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Bioskop …

Thursday, October 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:29 | Anda mau email artikel ini ?

Kawan-kawan … Mari berandai-andai sebentar untuk menghilangkan penat di raga ini.

Istilah "bioskop" sudah jarang dipakai. Sekarang istilahnya diganti dengan "sinema" atau "teater" atau "sinema-multipleks". Bahkan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan kita bisa nonton bioskop di rumah sendiri. Perbedaannya kalau disebut bioskop maka selalu ada pita seluloid atau filem yang disorot lampu sedangkan yang di rumah-rumah menggunakan cakram video. Bagi yang pernah nonton bioskop pasti tahu bahwa selalu ada petugas yang bekerja memasang pita seluloid filem ke mesin pemutarnya, menjaganya dan menyalakan lampu proyektornya tepat saat jam putar filem dimulai seperti yang tertera di tiket.

Selama pemutaran filem, semua penonton tenggelam dalam lamunannya dibantu dengan gemuruhnya tata suara ruangan. Terpaku di kursinya menikmati gambar dua dimensi yang terpampang di layar besar sambil ngemil kacang-bogor. Gerakan pita seluloid di proyektor sama sekali tidak menjadi perhatian penonton. Tetapi bisa dibayangkan seandainya pitanya putus, kontan penonton bakal berteriak,

"Pelemnya putus hoii, hoooooiiii… Auwooo…. " dll.

Betapa rapuhnya bayangan yang ada di layar, ia bisa hilang kapan saja. Menjadi tidak bernilai apa-apa manakala tidak ada gambar yang diproyeksikan disitu. Gambarnya pun juga harus bergerak-gerak dan ada suaranya. Apa jadinya sebuah bioskop kalau tanpa semua itu.

Dari satu sudut pandang, hal itu sama seperti kehidupan kita di dunia ini. Kita masih ada dan akan selalu dikatakan ‘ada‘ ketika tubuh kita masih bisa digerakan, bisa dilihat atau bisa disentuh. Masih "eksis" istilahnya. Kemudian ketika nafas terhenti maka statusnya berubah dari ‘ada‘ menjadi ‘sudah tidak ada‘. Seperti bayangan dalam perumpamaan filem tadi, selama gulungan seluloid filem masih berputar dan menayangkan gambar-gambar secara berkesambungan 12 frame per detik maka tontonannya masih ada. Padahal sebetulnya gambar di layar besar itu tidak nyata karena ia bergantung kepada sesuatu yang lain yang lebih tinggi nilainya. Bukankah harga pita filem seluloid atau sebuah cakram cd/dvd original atau bluray sebuah film jauh lebih mahal ketimbang harga pemutarannya di bioskop. Umurnya pun lebih lama. Kalau yang di layar besar paling lama 2 sampai 3 jam maka pita seluloid atau cakram umurnya jauh lebih lama daripada itu. Bisa bertahun-tahun kalau penyimpanannya bagus. Itulah nilai yang sesungguhnya. Yang justru tidak bisa dinikmati kalau tidak punya alat proyeksinya.

Esensi dari sebuah pemutaran filem di bioskop ataupun di rumah-rumah dengan home-theater adalah filemnya. Dan esensi dari filemnya adalah jalan-cerita dari filem itu. Karya seni dari sang Sutradara dan crewnya. Proyeksi dari karya itu adalah apa-apa yang kita lihat di layar, yang ‘menjadi seakan-akan paling nyata‘ bagi kita pada saat menontonnya. Akibatnya yang lain-lain ‘menjadi tidak nyata‘.

Kehidupan manusia juga seperti itu, selama menjadi bayangan maka ia akan ‘ada‘ dan ketika waktu pemutarannya selesai maka kembali ‘tidak ada‘. Tidak hanya manusia, semua makhluk di dunia kita yang sekarang ini juga seperti itu. Hanya ‘ada‘ selama jam tayangnya saja. Itupun juga merupakan sebuah proyeksi saja. Kehidupan ini hanya bayangan dari sesuatu kehidupan lain yang berada di alam yang di atasnya, yang seumpama pita seluloid yang di bioskop tadi. Yang berada di alam yang lebih tinggi, yang lebih halus dan sebenarnya lebih nyata dari alam dunia kita sekarang ini. Manakala jam pertunjukan usai, esensi dari individu manusia itu tidak menghilang, ia masih ada, hanya saja ia berpindah kehidupan ke alam lain. Melanjutkan perjalanan hidupnya di dunianya yang baru … saat kiamat terjadi, barulah ia mati betulan.

Hmm.. jadi inget nonton layar tancap sambil mbawa …… payung.

Bandung, 29 Oktober 2009

No one leave comments yet, will you be the first one ?

be my guest ...

your name [required,]

your email [will not be published]

your website

thanks