... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Rahasia dari Rahasia-Rahasia …

Friday, June 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BELAJAR dari SUFI pk. 23:53 | Anda mau email artikel ini ?

…. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku ‘The Secret of Secrets‘ yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd’ al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.
 

DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA
Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany ra.

Hati [qalb] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’.

- mau melanjutkan membaca … ?

Dua orang seniman …

Saturday, March 07, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 5:29 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika dihadapan sang Sultan, dua orang seniman berselisih faham tentang siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Dan untuk menyelesaikan perselisihan itu, Sultan kemudian menyediakan untuk masing-masing dari mereka sebuah rumah untuk di warnai.

Seniman Pertama menggunakan semua jenis cat yang tersedia dan kemudian menghiasi rumah itu dengan grafis warna-warni yang tingkat kerumitannya sangat tinggi.

Seniman Kedua, sebaliknya tidak menggunakan bahan cat apapun, ia lebih senang membersihkan dinding-dindingnya dari segala kotoran, membuatnya menjadi sehalus mungkin serta memolesnya hingga semengkilap mungkin.

Ketika kedua rumah tersebut diajukan untuk diperiksa oleh sultan, hasil karya seniman Pertama mengundang decak kagum siapapun yang menyaksikannya, sangat menakjubkan; akan tetapi rumah yang disiapkan oleh seniman Kedua menjadi pilihan sang Sultan oleh sebab warna-warni yang ditampilkan oleh rumah pertama dan alam sekitarnya terpantulkan secara sangat indah pada dinding-dinding rumah kedua dalam berbagai lapisan dan gradasi bayangan dan warna yang seakan tiada ujung dan akhiran.

 

Bandung - 05/Maret/2009 Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi, Book I – Story XIV.1 [Abridged and Translated by E.H. Whinfield (1898) … Alih bahasa oleh wiwin.wr @2009]

Pemain Kecapi …

Friday, February 13, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 17:54 | Anda mau email artikel ini ?

JUDUL ASLI: The HARPIST

Syahdan disaat Khalifah ke-dua Umar bin Khattab ra. memerintah, hiduplah seorang musikus, ia seorang yang pandai memetik kecapi lagi merdu suaranya bagai lantunan suara Izrafil as. Ia selalu disewa untuk memeriahkan suasana di setiap pesta keriaan.

Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tua dan suaranya tidak lagi merdu sampai akhirnya tidak ada seorangpun yang menyewanya untuk memeriahkan pesta-pesta keriaan mereka.

Dalam keputus-asaannya ia pergi ke tanah-pemakaman di Yatsrib dan memetik kecapi-nya untuk Tuhan, mencari-Nya untuk berterima-kasih kepada-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya kepadanya. Seusai memainkan lagunya ia pun terlelap dan bermimpi bahwa ia sedang berada di surga.

Di malam yang sama muncul bisikan ilaahiyyah kepada Umar bin Khattab ra.  yang menyuruhnya untuk pergi ke tanah-pemakaman dan menolong seseorang yang sudah tua yang akan ditemuinya disana.

Umar ra. pun bergegas kesana dan mendapati musikus itu dan memberinya uang. Serta menjanjikan untuk memberinya lagi bilamana ia membutuhkan.

Orang itu kemudian melemparkan kecapinya dan mengatakan bahwa kecapi itulah yang menjadikannya terhijab dari Tuhan dan ia pun kemudian menyatakan rasa bersalahnya yang mendalam atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya di waktu lampau.

Umar ra. kemudian menjelaskan bahwa perjalanan-duniawi-nya sekarang sudah berakhir. Dan ia tidak boleh membiarkan dirinya bersedih atas apa-apa yang terjadi di masa lampau sebagaimana saat ini ia sudah masuk ke dalam suasana yang penuh dengan kemurnian dan kecintaan akan penyatuan dengan Tuhan. Dan di dalam tingkatan yang penuh kemuliaan itu, perhatian kepada hal-hal di masa lampau dan di masa yang akan datang harus disingkirkan jauh-jauh.

Pemain Kecapi itu menjalani pelajaran yang diterimanya dan ia tidak lagi mengamen.

 

Bandung - 12/02/2009
Source:
MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi,
Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898
- Story VIII.1 The Harper - alih bahasa oleh wiwin.wr

Ketulusan seorang Budak …

Sunday, November 23, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BELAJAR dari SUFI pk. 5:04 | Anda mau email artikel ini ?

Seorang lelaki yang baik hati membeli seorang budak. Budak itu berakhlak baik dan kuat agamanya. 

Lelaki itu bertanya kepada budak yang dibelinya, “Hambaku, kamu ingin makan apa ?”.
Budak itu menjawab, “Makanan apa saja yang tuanku berikan kepadaku.”
“Kamu ingin pakaian apa ?” tanya majikannya lagi.
“Pakaian apa saja yang tuanku berikan kepadaku.”
“Kamu ingin duduk dimana di dalam rumahku ?“
“Dimana saja tuanku tempatkan aku“
“Kamu ingin kerja apa ?”
“Apa saja yang tuanku perintahkan.”
 

Sang Majikan menangis sambil berkata, “Betapa beruntungnya aku seandainya aku dengan Tuhanku seperti kamu denganku.”

Si budak berujar, “Tuanku, apakah seorang hamba pantas punya keinginan atau pilihan di hadapan tuannya ?”

Sang Majikanpun berkata, “Kamu merdeka atas nama Allah !.“

 

[Abd Al Qadir Al Jaylani - Mata Air dari al Fathu-r-Rabbani. Sumber: The Wisdom of Abd Qadir Al Jaylani – terjemahan: Bekal menjadi kekasih Allah - 2008]

Sibuk dengan perintah-Nya …

Saturday, November 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BELAJAR dari SUFI pk. 1:02 | Anda mau email artikel ini ?

“Setiap saat kalian meminta kepada Allah agar rezeki kalian bertambah.

Padahal rezeki adalah sesuatu yang tidak bertambah ataupun berkurang, sekalipun semua orang yang mustajab doanya berdoa bersama kalian.

Rezeki itu tidak bertambah dan tidak berkurang sedikitpun. Hal itu tidak perlu kalian pusingkan.

Karena itu sibukkanlah diri kalian dengan perintah-Nya dan tinggalkanlah segala larangan-Nya.

Janganlah kalian sibuk dengan sesuatu yang sudah pasti, karena hal itu sudah pasti menjadi bagian kalian. Pada saatnya, bagian itu akan datang, baik manis maupun pahit, entah kalian suka entah tidak.”

 

[Abd Al Qadir Al Jaylani - Mata Air dari al Fathu-r-Rabbani. Sumber: The Wisdom of Abd Qadir Al Jaylani – terjemahan: Bekal menjadi kekasih Allah - 2008]

Rahasia Sang Maha Kuasa …

Sunday, July 20, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BELAJAR dari SUFI pk. 5:19 | Anda mau email artikel ini ?

Bilamana membicarakan tentang rahasia-rahasia maka kita ingat kisah Nabi Khidir as. dengan Nabi Musa as. yang Allah Ta’ala abadikan dalam Al Quran dalam Surat al Kahfi. Ketika itu Nabi Musa as dijadikan Allah Ta’ala sebagai individu yang tidak mengerti sepenuhnya, dan tidak bisa bersabar karenanya, atas tindakan Nabi Khidir as. yang melubangi perahu kemudian membunuh anak kecil dan mendirikan dinding rumah yang hampir roboh di kota yang penduduknya tidak mau menjamu mereka … QS.[18]:65-82

Setelah Nabi Khidir as. membuka tabir dari rahasia apa-apa yang dilakukannya dan menjelaskan segala sesuatunya tentang perintah Alah Ta’ala kepadanya, barulah Nabi Musa as. menjadi faham dan tidak lagi bersikap heran.

- mau melanjutkan membaca … ?