Menjadi kambing hitam …
Thursday, February 26, 2009, posting oleh wiwin.wrSuatu ketika sekembalinya dari bepergian, Nasruddin dan isterinya menemukan rumahnya telah dibongkar oleh pencuri. Semua yang bisa diangkat telah dibawa oleh pencuri itu.
“Ini salahmu,” kata isterinya, “engkau seharusnya memeriksa bahwa semua sudah dikunci sebelum kita pergi.”
Tetangganya datang dan menimpali, “Engkau tidak mengunci jendela-jendela,” dan dilanjutkan oleh tetangganya yang satu lagi, ”Kenapa engkau tidak berjaga-jaga bahwa hal ini bisa terjadi. Kata yang lain lagi, “Gembok-gembok itu sudah tua dan engkau tidak menggantinya.”
“Sebentar, sebentar …” kata Nasruddin, “Tentunya bukan hanya aku saja yang harus disalahkan bukan ?” “Lalu siapa yang harus dipersalahkan ?” teriak isteri dan para tetangganya.
“Bagaimana halnya dengan pencuri itu ?” kata Nasruddin, “Apakah mereka sama sekali tidak bersalah ?”
Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009
Gambar diambilkan dari link-ini.
Suatu ketika, orang-orang di kota mengundang Nasruddin untuk menyampaikan khutbah di sebuah majelis.
Sudah lama Abunawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda. Ia juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abunawas. Tentu saja suasana kedai tak semarak karena Abunawas si pemicu tawa tak ada.
