... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Nasruddin kondangan …

Thursday, November 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 14:31 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu hari Nasruddin diundang ke sebuah kondangan.

Ia pun datang ke kondangan itu. Namun ia tidak diijinkan masuk oleh petugas karena dianggap pakaiannya tidak layak, jubahnya kurem. Maka ia segera kembali ke rumahnya dan menganti pakaiannya dengan pakaian terbaik yang dimilikinya.

Segera ia kembali ke pesta itu. Ketika ia masuk, si penyelenggara kondangan segera menghampirinya, menyambutnya dan menyampaikan rasa hormatnya atas kesediaan Nasruddin hadir di pesta itu, bahkan menemaninya berjalan masuk dan mempersilahkan Nasruddin duduk di sisi kepala-meja perjamuan.

Ketika makanan dihidangkan, Nasruddin mengambil sup dengan sendoknya dan menuangkannya ke bajunya dan berkata, “Makanlah wahai jubahku, makanlah ! Ini jelas sekali bahwa pada hari ini engkaulah tamu kehormatan yang sesungguhnya, dan itu bukanlah aku.”

 

Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, interpretasi dan alih-bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Menjadi kambing hitam …

Thursday, February 26, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 18:38 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika sekembalinya dari bepergian, Nasruddin dan isterinya menemukan rumahnya telah dibongkar oleh pencuri. Semua yang bisa diangkat telah dibawa oleh pencuri itu.

“Ini salahmu,” kata isterinya, “engkau seharusnya memeriksa bahwa semua sudah dikunci sebelum kita pergi.”

Tetangganya datang dan menimpali, “Engkau tidak mengunci jendela-jendela,” dan dilanjutkan oleh tetangganya yang satu lagi, ”Kenapa engkau tidak berjaga-jaga bahwa hal ini bisa terjadi. Kata yang lain lagi, “Gembok-gembok itu sudah tua dan engkau tidak menggantinya.”

“Sebentar, sebentar …” kata Nasruddin, “Tentunya bukan hanya aku saja yang harus disalahkan bukan ?” “Lalu siapa yang harus dipersalahkan ?” teriak isteri dan para tetangganya.

“Bagaimana halnya dengan pencuri itu ?” kata Nasruddin, “Apakah mereka sama sekali tidak bersalah ?”

 

Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009
Gambar diambilkan dari link-ini

Nasruddin jalan mundur …

Monday, February 23, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:17 | Anda mau email artikel ini ?

 

PADA suatu hari, Nasruddin mengendarai keledainya ke kota. Orang-orang kemudian menghentikannya dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau duduk membelakangi arah jalanmu Nasruddin ?”
Ia menjawab, “Aku tahu kemana tujuanku tetapi aku ingin tahu apa yang telah aku lewati.”
 
 
Bandung - 22/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Nasruddin dan kebajikan …

Sunday, February 22, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:13 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika, Nasruddin pergi ke pasar dan memasang tanda, “Siapapun yang telah mencuri keledaiku, tolong kembalikan kepadaku dan aku akan memberikan keledai itu kepadamu.”

“Nasruddin” sergah orang-orang di pasar, “Mengapa engkau memasang tanda yang semacam itu ?”

“Ada dua hal yang merupakan kebajikan [al-birrun] dalam hidup ini,” jawab Nasruddin. “Yang pertama adalah mencari sesuatu yang telah hilang darimu dan memberikan harta yang engkau cintai kepada orang lain !”

 

Bandung - 24/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Panci Nasruddin beranak …

Saturday, February 21, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:12 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu sore, Nasruddin sedang memasak. Kemudian ia ke rumah tetangganya untuk meminjam panci dan berjanji akan mengembalikan keesokan harinya.

Pagi-pagi Nasruddin mengetuk pintu rumah tetangganya dan mengembalikan panci yang dipinjamnya. Tetangganya melihat ke dalam panci den menemukan sebuah panci kecil di dalamnya. Ia berkata, “Ada sebuah panci kecil di dalam panci yang kupinjamkan kemarin.” “Panci itu beranak,” kata Nasruddin. Tetangganya merasa senang mendengar itu dan menerima panci-panci itu.

Pagi berikutnya Nasruddin mengetuk pintu rumah tetangganya lagi hendak meminjam panci yang lebih besar dari panci yang dipinjamnya kemarin. Dan tetangganya pun dengan senang hati memenuhi permintaan itu.

Tetapi kemudian seminggu berlalu begitu saja dan Nasruddin tidak kunjung mengembalikan panci itu.

Beberapa hari kemudian, Nasruddin berpapasan dengan tetangganya di sebuah bazaar. Tetangga Nasruddin bertanya, “Dimana panciku.” “Mati” kata Nasrudin. “Bagaimana bisa ?” tanya tetangganya dengan heran.

Nasruddin menegaskan, “Kalau sebuah panci bisa beranak maka ia pasti bisa pula mati.”
 

Bandung - 24/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Nasruddin dan seorang Pasha …

Friday, February 20, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 6:41 | Anda mau email artikel ini ?

Mullah Nasruddin sedang dalam keadaan tidak memiliki pekerjaan tetapi suatu ketika ia bisa memiilki sedikit uang untuk makan nasi goreng kacang polong [1] di sebuah warung sederhana. Sambil menikmati santapannya, ia mengamati orang yang lalu lalang di depan warung dengan sudut matanya.

Ia mendapati ada seseorang yang gagah dan berwajah garang di balik kerumunan orang-orang. Pakaiannya rapih dari kepala sampai ke ujung kaki. Ia mengenakan sorban, mengenakan rompi dengan hiasan sulaman dari perak, bajunya dari sutera halus, celananya dari bahan satin model mutakhir [2] dan dipinggangnya tergantung sebilah pedang kecil terbuat dari emas.

Mullah Nasruddin bertanya kepada pemilik warung sambil menunjuk kepada orang tersebut, “Siapakah gerangan orang yang berdiri disana itu ?” “Ooh, dia itu abdi-nya Fahmi Pasha” jawab pemilik warung [3].

Dari kejauhan Mullah Nasruddin menarik nafas panjang, menatap ke langit dan berkata, ”Wahai Tuhanku Yang Baik, lihatlah hamba-nya Fahmi Pasha dan lihatlah hamba-Mu yang disini ini”.
 

Catatan Kaki:

[1] beans and pilaf – sebuah makanan tradisional Persia, lihat di link-ini atau di link-ini.
[2] model baggy - model celana agak gombrang di sisi paha sebelah atas dan sempit di bagian betis.
[3] ‘Pasha’ atau ‘Paşa’ adalah gelar yang tinggi bagi seorang gubernur atau wazir atau kepala pemerintahan/suku pada jaman Kakaisaran Ottoman, lihat di link-ini, semacam gelar ‘Lord’ di Inggris.

 

Bandung - 19/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Nasruddin dan Pelancong …

Thursday, February 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 21:47 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu malam Nasruddin sedang melangkahkan kakinya di jalanan berpasir. Kemudian ia melihat serombongan orang yang berkuda dengan cepat dan menuju kearahnya. Khayalannya mendadak bekerja. Ia membayangkan dirinya ditangkap atau dirampok atau dibunuh. Ketakutan oleh sebab khayalannya sendiri, ia segera melompat lari dan memanjat dinding yang membatasi sebuah pemakaman. Menelungkupkan diri di sebuah lubang galian yang masih terbuka untuk bersembunyi.

Heran oleh sebab melihat kelakuannya yang aneh, para penunggang kuda yang ternyata adalah pelancong-pelancong yang jujur itu pun mengikutinya. Mereka menemukan Nasruddin sedang berbaring disitu, tegang dan gemetar.

“Sedang apa engkau di dalam lubang ini ? Kami melihat engkau melarikan diri. Adakah yang kami bisa bantu ? Mengapa engkau masuk ke dalam lubang ini ?

“Hanya karena engkau bisa menanyakan sesuatu bukan berarti bahwa akan selalu tersedia jawaban langsung untuk itu,” kata Nasruddin yang sudah menyadari gerangan apa yang terjadi. “Semua itu tergantung kepada sudut pandangmu. Bila engkau harus tahu, bagaimanapun juga, aku berada disini karena engkau - dan engkau pun berada disini karena aku !”
 

Bandung - 19/02/2009
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

 

Nasruddin dan si Sarjana …

Sunday, February 15, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 21:33 | Anda mau email artikel ini ?

Syahdan seorang sarjana yang terkenal di seantero negeri sebagai seorang yang ahli filsafat dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral sedang melakukan perjalanan. Siang itu ia berjalan melalui sebuah desa. Desa itu adalah tempat kediaman Nasruddin dan ia pun berjumpa dengannya di jalan. Lalu si sarjana menanyakan dimana tempat yang baik untuk makan sambil duduk berbincang. Nasruddin menunjukkan sebuah kedai dan si sarjana pun dengan sangat santun mengajaknya untuk menemaninya makan sambil bercakap-cakap. Merasa terpanggil, Nasruddin pun bersedia dan kemudian mereka berjalan menuju ke kedai itu. Sesampainya di kedai itu, mereka menanyakan apa sajian utama hari ini kepada pramu-kedai.

  • Ikan, Ikan Segar ! kata pramu-kedai itu.
  • Tolong buatkan dua ekor untuk kami, jawab mereka berdua.

Selang beberapa saat kemudian pramu-kedai itu datang membawa sebuah piring besar dengan dua ekor ikan yang sudah matang di atasnya, dimana yang satu sedikit lebih kecil dari pada yang satu lagi, dan dua buah piring makan untuk kedua tamu itu.

Tanpa ragu-ragu, Nasruddin mengambil ikan yang besar dan menaruhnya di piringnya. Si sarjana menatapnya dengan pandangan yang seakan tidak percaya atas apa yang dilihatnya, kemudian berkata bahwa apa yang baru saja dilihatnya benar-benar tidak hanya sekadar tindakan yang mementingkan diri sendiri tetapi juga sangat bertentangan dengan hampir semua prinsip-prinsip dalam tata kehidupan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, agama dan etika.

Nasruddin dengan tenang mendengarkan apa yang dikatakan oleh ahli filsafat itu dan ketika ia selesai mengemukakan semua prinsip-prinsip hidupnya, Nasruddin berkata,

  • Baiklah Tuan, bagaimana engkau melakukannya ?”
  • “Saya sebagai seorang yang sangat menyadari keberadaan saya sebagai makhluk sosial, akan mengambil ikan yang kecil untuk diri saya sendiri.” jawab si terpelajar.
  • “Nah, bukankah ini seperti itu,” kata Nasruddin sambil mengambil ikan yang lebih kecil dan ditaruhnya di piring makan si sarjana.

 

Bandung - 15/02/2009
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah,
alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Bahlul berjualan …

Tuesday, February 10, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 17:10 | Anda mau email artikel ini ?

Bahlul dikenal sebagai seorang pandir yang bijak di penjuru Bagdad. Suatu hari ia duduk di sebuah pasar dengan tiga buah tengkorak kepala di hadapannya. Di depan tengkorak yang pertama terdapat tanda bertuliskan “Gratis.” Di depan tengkorak kedua terdapat tanda bertuliskan “satu sen.” Tengkorak ke tiga memiliki tanda bertuliskan “tak ternilai.” Ketiga tengkorak tersebut tampak serupa, dan setiap orang yang melihat kiosnya mengira bahwa Bahlul telah gila.

Akhirnya, seseorang mendekatinya dan bertanya mengenai perbedaan harganya.

Bahlul mengambil sebuah tusuk daging dan mencoba untuk memasukkannya pada lubang telinga dari tengkorak yang pertama, namun ia tak berhasil. “Lihatlah,” katanya, “Tidak ada yang dapat masuk ke dalam. Tengkorak ini sama sekali tidak ada harganya.”

Kemudian ia mencoba tusuk daging tersebut  pada tengkorak yang kedua. Ia dapat dengan mudah masuk melalui kedua lubang telinga tersebut, dan langsung menembus sisi lainnya. “Anda lihat, tidak ada yang tinggal di dalamnya. Tengkorak ini hanya bernilai satu sen.”

Ketika Bahlul mencobanya pada tengkorak yang ketiga, tusuk daging tersebut masuk dengan mudah melewati lubang pertama tetapi tidak menembus lubang kedua.

Jelasnya, “Tengkorak ini harganya tidak ternilai. Apa yang masuk ke dalamnya, akan tetap tinggal di dalam”   …..

 

Bandung - 28/01/2009  Semoga bermanfaat.
[Robert Frager – Psikologi Sufi: Hati, Diri dan Jiwa]

Nasruddin dan gula-gula …

Wednesday, January 28, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 16:33 | Anda mau email artikel ini ?

Nasruddin Hoja sedang bekerja sebagai hakim lokal.
Seorang wanita menemuinya bersama seorang puteranya. Ia mengeluhkan bahwa putranya punya kegemaran memakan gula-gula, yang sulit dikendalikan. Ia meminta Nasruddin untuk mengatakan kepada putranya agar berhenti memakan gula-gula selamanya.

Nasruddin mengangguk dengan bijak, lalu menyuruhnya untuk kembali dalam dua minggu.

Ketika mereka kembali, ia hanya berkata kepada anak lelaki tersebut, “Nak, aku menyuruhmu untuk berhenti memakan gula-gula !”

Sang ibu bertanya, “Mengapa Anda membuat kami menunggu selama dua minggu ? Tidak bisakah Anda mengatakan hal tersebut kepada putra saya ketika kami pertama kali mendatangi Anda ?

Nasruddin menjawab, “Tidak, saya tidak mungkin mengatakan hal tersebut kepada putra Anda dua minggu yang lalu”

“Mengapa ?”
“Pertama,” jawab Nasruddin, “Saya harus terlebih dahulu berhenti memakan gula-gula.”

 

Bandung - 28/01/2009  [Mulla Nasruddin stories]