... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Menjadi kambing hitam …

Thursday, February 26, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 18:38 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika sekembalinya dari bepergian, Nasruddin dan isterinya menemukan rumahnya telah dibongkar oleh pencuri. Semua yang bisa diangkat telah dibawa oleh pencuri itu.

“Ini salahmu,” kata isterinya, “engkau seharusnya memeriksa bahwa semua sudah dikunci sebelum kita pergi.”

Tetangganya datang dan menimpali, “Engkau tidak mengunci jendela-jendela,” dan dilanjutkan oleh tetangganya yang satu lagi, ”Kenapa engkau tidak berjaga-jaga bahwa hal ini bisa terjadi. Kata yang lain lagi, “Gembok-gembok itu sudah tua dan engkau tidak menggantinya.”

“Sebentar, sebentar …” kata Nasruddin, “Tentunya bukan hanya aku saja yang harus disalahkan bukan ?” “Lalu siapa yang harus dipersalahkan ?” teriak isteri dan para tetangganya.

“Bagaimana halnya dengan pencuri itu ?” kata Nasruddin, “Apakah mereka sama sekali tidak bersalah ?”

 

Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009
Gambar diambilkan dari link-ini

Nasruddin jalan mundur …

Monday, February 23, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:17 | Anda mau email artikel ini ?

 

PADA suatu hari, Nasruddin mengendarai keledainya ke kota. Orang-orang kemudian menghentikannya dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau duduk membelakangi arah jalanmu Nasruddin ?”
Ia menjawab, “Aku tahu kemana tujuanku tetapi aku ingin tahu apa yang telah aku lewati.”
 
 
Bandung - 22/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Nasruddin dan kebajikan …

Sunday, February 22, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:13 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika, Nasruddin pergi ke pasar dan memasang tanda, “Siapapun yang telah mencuri keledaiku, tolong kembalikan kepadaku dan aku akan memberikan keledai itu kepadamu.”

“Nasruddin” sergah orang-orang di pasar, “Mengapa engkau memasang tanda yang semacam itu ?”

“Ada dua hal yang merupakan kebajikan [al-birrun] dalam hidup ini,” jawab Nasruddin. “Yang pertama adalah mencari sesuatu yang telah hilang darimu dan memberikan harta yang engkau cintai kepada orang lain !”

 

Bandung - 24/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Panci Nasruddin beranak …

Saturday, February 21, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 5:12 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu sore, Nasruddin sedang memasak. Kemudian ia ke rumah tetangganya untuk meminjam panci dan berjanji akan mengembalikan keesokan harinya.

Pagi-pagi Nasruddin mengetuk pintu rumah tetangganya dan mengembalikan panci yang dipinjamnya. Tetangganya melihat ke dalam panci den menemukan sebuah panci kecil di dalamnya. Ia berkata, “Ada sebuah panci kecil di dalam panci yang kupinjamkan kemarin.” “Panci itu beranak,” kata Nasruddin. Tetangganya merasa senang mendengar itu dan menerima panci-panci itu.

Pagi berikutnya Nasruddin mengetuk pintu rumah tetangganya lagi hendak meminjam panci yang lebih besar dari panci yang dipinjamnya kemarin. Dan tetangganya pun dengan senang hati memenuhi permintaan itu.

Tetapi kemudian seminggu berlalu begitu saja dan Nasruddin tidak kunjung mengembalikan panci itu.

Beberapa hari kemudian, Nasruddin berpapasan dengan tetangganya di sebuah bazaar. Tetangga Nasruddin bertanya, “Dimana panciku.” “Mati” kata Nasrudin. “Bagaimana bisa ?” tanya tetangganya dengan heran.

Nasruddin menegaskan, “Kalau sebuah panci bisa beranak maka ia pasti bisa pula mati.”
 

Bandung - 24/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009.

Nasruddin dan seorang Pasha …

Friday, February 20, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 6:41 | Anda mau email artikel ini ?

Mullah Nasruddin sedang dalam keadaan tidak memiliki pekerjaan tetapi suatu ketika ia bisa memiilki sedikit uang untuk makan nasi goreng kacang polong [1] di sebuah warung sederhana. Sambil menikmati santapannya, ia mengamati orang yang lalu lalang di depan warung dengan sudut matanya.

Ia mendapati ada seseorang yang gagah dan berwajah garang di balik kerumunan orang-orang. Pakaiannya rapih dari kepala sampai ke ujung kaki. Ia mengenakan sorban, mengenakan rompi dengan hiasan sulaman dari perak, bajunya dari sutera halus, celananya dari bahan satin model mutakhir [2] dan dipinggangnya tergantung sebilah pedang kecil terbuat dari emas.

Mullah Nasruddin bertanya kepada pemilik warung sambil menunjuk kepada orang tersebut, “Siapakah gerangan orang yang berdiri disana itu ?” “Ooh, dia itu abdi-nya Fahmi Pasha” jawab pemilik warung [3].

Dari kejauhan Mullah Nasruddin menarik nafas panjang, menatap ke langit dan berkata, ”Wahai Tuhanku Yang Baik, lihatlah hamba-nya Fahmi Pasha dan lihatlah hamba-Mu yang disini ini”.
 

Catatan Kaki:

[1] beans and pilaf – sebuah makanan tradisional Persia, lihat di link-ini atau di link-ini.
[2] model baggy - model celana agak gombrang di sisi paha sebelah atas dan sempit di bagian betis.
[3] ‘Pasha’ atau ‘Paşa’ adalah gelar yang tinggi bagi seorang gubernur atau wazir atau kepala pemerintahan/suku pada jaman Kakaisaran Ottoman, lihat di link-ini, semacam gelar ‘Lord’ di Inggris.

 

Bandung - 19/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Nasruddin dan Pelancong …

Thursday, February 19, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 21:47 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu malam Nasruddin sedang melangkahkan kakinya di jalanan berpasir. Kemudian ia melihat serombongan orang yang berkuda dengan cepat dan menuju kearahnya. Khayalannya mendadak bekerja. Ia membayangkan dirinya ditangkap atau dirampok atau dibunuh. Ketakutan oleh sebab khayalannya sendiri, ia segera melompat lari dan memanjat dinding yang membatasi sebuah pemakaman. Menelungkupkan diri di sebuah lubang galian yang masih terbuka untuk bersembunyi.

Heran oleh sebab melihat kelakuannya yang aneh, para penunggang kuda yang ternyata adalah pelancong-pelancong yang jujur itu pun mengikutinya. Mereka menemukan Nasruddin sedang berbaring disitu, tegang dan gemetar.

“Sedang apa engkau di dalam lubang ini ? Kami melihat engkau melarikan diri. Adakah yang kami bisa bantu ? Mengapa engkau masuk ke dalam lubang ini ?

“Hanya karena engkau bisa menanyakan sesuatu bukan berarti bahwa akan selalu tersedia jawaban langsung untuk itu,” kata Nasruddin yang sudah menyadari gerangan apa yang terjadi. “Semua itu tergantung kepada sudut pandangmu. Bila engkau harus tahu, bagaimanapun juga, aku berada disini karena engkau - dan engkau pun berada disini karena aku !”
 

Bandung - 19/02/2009
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

 

Nasruddin dan si Sarjana …

Sunday, February 15, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 21:33 | Anda mau email artikel ini ?

Syahdan seorang sarjana yang terkenal di seantero negeri sebagai seorang yang ahli filsafat dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral sedang melakukan perjalanan. Siang itu ia berjalan melalui sebuah desa. Desa itu adalah tempat kediaman Nasruddin dan ia pun berjumpa dengannya di jalan. Lalu si sarjana menanyakan dimana tempat yang baik untuk makan sambil duduk berbincang. Nasruddin menunjukkan sebuah kedai dan si sarjana pun dengan sangat santun mengajaknya untuk menemaninya makan sambil bercakap-cakap. Merasa terpanggil, Nasruddin pun bersedia dan kemudian mereka berjalan menuju ke kedai itu. Sesampainya di kedai itu, mereka menanyakan apa sajian utama hari ini kepada pramu-kedai.

  • Ikan, Ikan Segar ! kata pramu-kedai itu.
  • Tolong buatkan dua ekor untuk kami, jawab mereka berdua.

Selang beberapa saat kemudian pramu-kedai itu datang membawa sebuah piring besar dengan dua ekor ikan yang sudah matang di atasnya, dimana yang satu sedikit lebih kecil dari pada yang satu lagi, dan dua buah piring makan untuk kedua tamu itu.

Tanpa ragu-ragu, Nasruddin mengambil ikan yang besar dan menaruhnya di piringnya. Si sarjana menatapnya dengan pandangan yang seakan tidak percaya atas apa yang dilihatnya, kemudian berkata bahwa apa yang baru saja dilihatnya benar-benar tidak hanya sekadar tindakan yang mementingkan diri sendiri tetapi juga sangat bertentangan dengan hampir semua prinsip-prinsip dalam tata kehidupan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, agama dan etika.

Nasruddin dengan tenang mendengarkan apa yang dikatakan oleh ahli filsafat itu dan ketika ia selesai mengemukakan semua prinsip-prinsip hidupnya, Nasruddin berkata,

  • Baiklah Tuan, bagaimana engkau melakukannya ?”
  • “Saya sebagai seorang yang sangat menyadari keberadaan saya sebagai makhluk sosial, akan mengambil ikan yang kecil untuk diri saya sendiri.” jawab si terpelajar.
  • “Nah, bukankah ini seperti itu,” kata Nasruddin sambil mengambil ikan yang lebih kecil dan ditaruhnya di piring makan si sarjana.

 

Bandung - 15/02/2009
Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah,
alih bahasa oleh wiwin.wr ©2009

Bahlul berjualan …

Tuesday, February 10, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 17:10 | Anda mau email artikel ini ?

Bahlul dikenal sebagai seorang pandir yang bijak di penjuru Bagdad. Suatu hari ia duduk di sebuah pasar dengan tiga buah tengkorak kepala di hadapannya. Di depan tengkorak yang pertama terdapat tanda bertuliskan “Gratis.” Di depan tengkorak kedua terdapat tanda bertuliskan “satu sen.” Tengkorak ke tiga memiliki tanda bertuliskan “tak ternilai.” Ketiga tengkorak tersebut tampak serupa, dan setiap orang yang melihat kiosnya mengira bahwa Bahlul telah gila.

Akhirnya, seseorang mendekatinya dan bertanya mengenai perbedaan harganya.

Bahlul mengambil sebuah tusuk daging dan mencoba untuk memasukkannya pada lubang telinga dari tengkorak yang pertama, namun ia tak berhasil. “Lihatlah,” katanya, “Tidak ada yang dapat masuk ke dalam. Tengkorak ini sama sekali tidak ada harganya.”

Kemudian ia mencoba tusuk daging tersebut  pada tengkorak yang kedua. Ia dapat dengan mudah masuk melalui kedua lubang telinga tersebut, dan langsung menembus sisi lainnya. “Anda lihat, tidak ada yang tinggal di dalamnya. Tengkorak ini hanya bernilai satu sen.”

Ketika Bahlul mencobanya pada tengkorak yang ketiga, tusuk daging tersebut masuk dengan mudah melewati lubang pertama tetapi tidak menembus lubang kedua.

Jelasnya, “Tengkorak ini harganya tidak ternilai. Apa yang masuk ke dalamnya, akan tetap tinggal di dalam”   …..

 

Bandung - 28/01/2009  Semoga bermanfaat.
[Robert Frager – Psikologi Sufi: Hati, Diri dan Jiwa]

Nasruddin dan gula-gula …

Wednesday, January 28, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 16:33 | Anda mau email artikel ini ?

Nasruddin Hoja sedang bekerja sebagai hakim lokal.
Seorang wanita menemuinya bersama seorang puteranya. Ia mengeluhkan bahwa putranya punya kegemaran memakan gula-gula, yang sulit dikendalikan. Ia meminta Nasruddin untuk mengatakan kepada putranya agar berhenti memakan gula-gula selamanya.

Nasruddin mengangguk dengan bijak, lalu menyuruhnya untuk kembali dalam dua minggu.

Ketika mereka kembali, ia hanya berkata kepada anak lelaki tersebut, “Nak, aku menyuruhmu untuk berhenti memakan gula-gula !”

Sang ibu bertanya, “Mengapa Anda membuat kami menunggu selama dua minggu ? Tidak bisakah Anda mengatakan hal tersebut kepada putra saya ketika kami pertama kali mendatangi Anda ?

Nasruddin menjawab, “Tidak, saya tidak mungkin mengatakan hal tersebut kepada putra Anda dua minggu yang lalu”

“Mengapa ?”
“Pertama,” jawab Nasruddin, “Saya harus terlebih dahulu berhenti memakan gula-gula.”

 

Bandung - 28/01/2009  [Mulla Nasruddin stories]

Jualan monyet ala wallstreet …

Saturday, October 18, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 13:46 | Anda mau email artikel ini ?

Ada sebuah kisah pendek yang saya dapati di mailbox, kiriman dari seorang kawan. Saya duga orang membuat anekdot ini akibat krisis yang sedang melanda negeri Barat yang saya tidak tahu persis persoalannya karena memang bukan bidang saya. Saya coba terjemahkan.

WELCOME TO WALL STREET

Suatu hari di sebuah perkampungan kecil di India [ penerj: kenapa India yang dipilih ya, bukannya Nepal atau Pakistan begitu atau sekalian saja Dukuh Pamingit yang di dekat Banyubiru ], seorang lelaki menawarkan kepada para penduduk setempat bahwa ia akan membayar 10 dollar untuk setiap monyet yang diserahkan kepadanya. Para penduduk yang tahu bahwa di hutan banyak terdapat monyet segera menuju hutan untuk menangkapi monyet-monyet itu. Lelaki itu akhirnya mendapatkan ratusan monyet dari penduduk setempat dan kemudian membayar sesuai janjinya.

Namun sesaat kemudian jumlah monyet yang berhasil dikumpulkan penduduk menjadi semakin berkurang dan lelaki itu menawarkan kembali dengan 20 dollar per monyet.

Tawaran ini kemudian membangkitkan kembali semangat penduduk dan mereka berbondong-bondong lagi ke hutan untuk menangkapi monyet-monyet.

Segera kemudian jumlah monyet yang bisa diperoleh penduduk semakin sedikit dan lelaki itupun kemudian menaikkan tawarannya menjadi 25 dollar per monyet sampai akhirnya tidak seekor monyetpun yang masih kelihatan di hutan itu.

Lelaki itu kemudian menawarkan bahwa sekarang ia mau membayar 50 dollar per monyet. Akan tetapi ia akan pergi dahulu ke kota dan sementara ia pergi asistennya yang akan mengurusi pembelian monyet-monyet itu.

Ketika lelaki itu pergi, asistennya mengatakan kepada penduduk, “Lihatlah monyet-monyet di kandang besar itu. Aku akan menjualnya kepada kalian dengan harga 35 dollar per monyet dan nanti kalau atasanku kembali dari kota maka kalian bisa menjual kembali kepadanya dengan harga 50 dollar per monyet.”

Para penduduk segera memeras uang simpanan mereka [penerj: kalau perlu ngutang deh] dan kemudian membeli monyet-monyet itu semuanya. Sejak itu, mereka tidak pernah melihat lelaki itu maupun asistennya lagi … hanya monyet yang kelihatan dimana-mana.

Itulah kalau hewan yang namanya monyet yang sebenarnya bukan milik penduduk disitu dianggap sebagai komoditas alias barang dagangan. Bukankah yang dibayar oleh si lelaki pengusaha itu adalah “ongkos menangkap monyet” dan bukan “harga si monyet”.

Memang manusia sering terpedaya oleh anggapan dan kesimpulan yang dibuat oleh pikirannya sendiri …. kita [setidaknya saya] masih begitu juga kan..


Bandung - 18/10/2008 ……

Kalkulus 2 variabel …

Tuesday, September 30, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 10:27 | Anda mau email artikel ini ?

KISAH 1001 MALAM, ABUNAWAS sang Penggeli Hati – MB Rahimsyah

Sahabat, tentunya ada diantara sahabat pembaca yang masih ingat kalkulus sederhana tentang persamaan dengan 2 variabel. Nah kisah Abu Nawas di bawah ini adalah mengenai hal itu, ada dua orang dan ada dua pilihan arah.

MEMILIH JALAN

Kawan-kawan Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata ke hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasa memenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta dan Abu Nawas tidak keberatan.

- mau melanjutkan membaca … ?

Nasruddin mencari kunci …

Friday, September 19, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 3:36 | Anda mau email artikel ini ?

Dari kisah Mulla Nashrudiin ini banyak manfaat yang bisa diambil, silahkan mencermatinya dan memilih pengertiannya sesuai dengan keadaan kehidupan sahabat-sahabat pembaca sendiri agar kisah ini menjadi bermanfaat bagi kehidupan sahabat pembaca. Biarkan saja orang lain menafsirkannya sesuai dengan keadaan mereka masing-masing…

Suatu malam seseorang mendapati Nasruddin Hoja tengah sibuk mencari-cari sesuatu di halaman rumahnya, di bawah sebuah tiang lampu.

Kawan ini bertanya, "Sedang mengapa engkau, Nasruddin."
Nasruddin menjawab, "Aku sedang mencari kunciku yang hilang."

Kawan itu pun segera ikut sibuk mencari kunci, membantu Nasruddin…… namun … kunci tersebut tidak kunjung ditemukan.

Kawan itu bertanya lagi, "Memangnya kunci itu tadi hilang dimana?"
Sambil terus mencari, Nasruddin menjawab, "Di sana, di dalam gudang di bawah tanah," katanya sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Merasa kesal, sang kawan yang merasa sudah berbaik hati itu bertanya, "Jika hilangnya di dalam gudang rumahmu, lalu mengapa kita mencarinya di sini?"

Nasruddin menjawab, "Di dalam gudang sana gelap; bukankah kita hanya bisa mencari di tempat yang terang ?"

Demikianlah Nasruddin dan kawannya mencontohkan laku manusia yang "mencari sesuatu" di "suatu tempat", yang dianggap oleh pikirannya (sendiri) bahwa ia bisa menemukannya di tempat itu, hanya karena "prasyarat untuk mencari" dianggap sudah terpenuhi.

Padahal yang dicarinya belum tentu ada di tempat itu atau bahkan bisa dipastikan tidak berada di tempat itu.. seperti kawannya Nasruddin yang percaya saja untuk mencari kunci di tempat dimana Nasruddin mencarinya. Sedangkan BAGI PEMBACA, sangat jelas bahwasanya "kunci yang dicari itu TIDAK BERADA DISITU" ….

Bandung - 17/07/2008 [Mulla Nashruddiin stories]

Khutbah Nasruddin …

Sunday, July 27, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 12:14 | Anda mau email artikel ini ?

The Fabulous adventure of Nasruddin HojaSuatu ketika, orang-orang di kota mengundang Nasruddin untuk menyampaikan khutbah di sebuah majelis.

Ketika tiba di mimbar, dia mendapati bahwa sebagian besar hadirin dalam majelis itu tidak terlampau bersemangat untuk mendengarkan khutbahnya. Sesudah menyampaikan salam, Nasruddin bertanya kepada hadirin, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Hadirin serempak menjawab, “Tidak !” Sebab itu Nasruddin berkata, “Aku tidak punya keinginan untuk berbicara kepada orang-orang yang tidak mengetahui apapun tentang apa yang akan aku bicarakan” kemudian berjalan turun dari mimbar dan meninggalkan majelis.

Orang-orang merasa tidak enak hati kepadanya dan mengundangnya lagi pada keesokan harinya.

Keesokan harinya, sesampai di mimbar, Nasruddin mengulang pertanyaan yang sama dan hadirinpun menjawab, “Ya !”. Maka Nasruddin berkata, “Baiklah, karena kalian sudah tahu apa yang akan aku katakan maka aku tidak akan membuang waktu kalian yang sangat berharga.” Kemudian ia turun dari mimbar dan berjalan pulang. Kali ini orang-orang benar-benar dibuat bingung dan akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi dan mengundangnya agar datang lagi minggu depan menyampaikan khutbah.

Minggu depannya, ketika naik mimbar, Nasruddin lagi-lagi bertanya yang sama, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Kali ini hadirin sudah bersiap-siap untuk pertanyaan itu, maka sebagian dari mereka menjawab “Tidak !” dan sebagian lagi menjawab “Ya !”

Nasruddin pun berkata lagi, “Baiklah, kalau begitu sebahagian yang sudah tahu bisa menceritakan kepada sebahagian lainnya yang belum tahu” dan ia pun kemudian turun meninggalkan mimbar.
 

Bandung - 17/07/2008 [Mulla Nasruddin stories, alih bahasa oleh wiwin.wr ©2008]

Ketenangan hati …

Saturday, July 26, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 8:52 | Anda mau email artikel ini ?

Sudah lama Abunawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda. Ia juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abunawas. Tentu saja suasana kedai tak semarak karena Abunawas si pemicu tawa tak ada.

Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abunawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik yang dihadapi.Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong, "Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barangkali aku bisa membantu." kata kawan Abunawas. "Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia." kata orang itu membeberkan kesulitannya.

Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di rumahnya saja. Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abunawas sedang mengaji.

- mau melanjutkan membaca … ?

Nasruddin pura-pura dungu …

Tuesday, July 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di ANEKDOT pk. 12:31 | Anda mau email artikel ini ?

Nasruddin biasa berdiri di tepi jalan di hari pasar agar menjadi bahan tertawaan orang yang lalu-lalang karena laku kedunguannya, tidak peduli seberapa sering orang-orang menawarkan (uang logam) keping besar atau kecil, ia selalu memilih keping yang kecil.

Suatu hari, seorang yang baik-hati berkata kepadanya, ”Nasruddin, engkau harus memilih keping yang besar sehingga kemudian kamu bisa memiliki uang yang lebih banyak dan orang-orang tidak lagi dapat menjadikan engkau sebagai bahan tertawaan”…..  

”Mungkin itu benar”, kata Nasruddin, ”Tetapi bila aku selalu memilih keping yang besar maka orang-orang akan berhenti menawariku uang karena mereka tidak lagi melihat bahwa aku lebih dungu daripada mereka. Kalau seperti itu maka aku menjadi tidak punya uang sama sekali”

Bandung - 17/07/2008
[Mulla Nasruddin stories, alih bahasa oleh wiwin.wr ©
2008]