... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

The Three Realities …

Friday, February 27, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 14:43 | Anda mau email artikel ini ?

JUDUL ASLI:
THE  THREE  REALITIES
The Tao of Islam, a book by Sachiko Murata
 

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah, [admin: Realitas Mutlak - Al Wujud] yang berada di puncak, merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hub­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

- mau melanjutkan membaca … ?

Petikan CBA - 2

Monday, December 22, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 2:45 | Anda mau email artikel ini ?

Sahabats, tidaklah lengkap dan sulit untuk bisa diketahui persoalan pada posting Petikan [1] yang sebelumnya, bilamana tidak membaca yang satu ini terlebih dahulu …..

Masih dari Syaikh Ragip Frager yang menuliskan catatan-catatannya tentang pertemuan-pertemuan awalnya dengan Syaikh Muzaffer Ozak, yang dipanggilnya dengan sebutan Effendi [Effendi, di Turki digunakan sebagai sebutan untuk memuliakan seorang laki-laki]:

Suatu ketika, seorang pria meminjamkan sahabat lamanya sejumlah uang. Beberapa bulan kemudian ia membutuhkan uang itu, sehingga ia pergi ke rumah sahabatnya di kota tetangga, untuk meminta kembali uangnya yang ia pinjamkan. Isteri sahabatnya mengatakan padanya bahwa suaminya sedang mengunjungi seseorang di sisi lain kota itu. Isteri sahabatnya menunjukkan arah dan alamat yang harus dituju, lalu lelaki itupun berangkat. Dalam perjalanan ia melintasi sebuah prosesi pemakaman.  Karena tidak sedang terburu-buru, ia memutuskan untuk mengikuti prosesi itu, dan ikut memanjatkan doa bagi nafs [jiwa] almarhum.

Pekuburan kota itu sudah sangat tua. Jika kuburan baru akan digali, beberapa kuburan lama harus digali ulang untuk mengangkat dan memindahkan sisa tulang belulangnya. Ketika pria itu berdiri di samping lubang yang baru digali untuk jenazah almarhum, ia memerhatikan sisa-sisa kerangka yang baru saja diangkat, tepat di sampingnya. Di antara kedua gigi depan tengkoraknya terselip sebutir kacang pipih. Tanpa berpikir, ia ambil butiran kacang itu dan dijentikkannya ke mulutnya sendiri.

Tepat setelah itu, datanglah seorang lelaki yang seluruh janggutnya telah memutih namun tampak awet muda.

Ia bertanya kepada si pria, “Kau tahu kenapa kau ada disini sekarang ?” “Oh, tentu saja. Aku datang ke kota ini untuk mengunjungi sahabatku.”

“BUKAN. Kau ada disini karena harus memakan sebutir kacang itu. Tahukah kau, bahwa kacang itu adalah hakmu. Kacang itu bukan hak orang itu, yang sudah menjadi tulang belulang sejak bertahun-tahun yang lalu, sehingga ia tidak bisa menelannya. KACANG ITU ADALAH HAKMU, dan HARUS SAMPAI KEPADAMU.”

Effendi, menutup kisah pertamanya dengan mengatakan,

“Itu berlaku untuk segala sesuatu. Allah sendirilah yang memenuhi segala hak dan kebutuhanmu. Apapun yang diciptakan untuk menjadi hakmu, pasti kau akan menerimanya.”

[dari buku Cinta Bagai Anggur – edisi 2 halaman i-27,29 ]
 

RENUNGAN …

Yakin kah bahwa segala sesuatu, termasuk keadaan-keadaan, fenomena-fenomena, mushibah dan anugerah, yang telah diciptakan oleh Allah Ta’ala bagi seseorang akan diterima oleh orang itu.

Yakin kah ? Pasti !

Pasti meyakininya. Sebab itu tanyakanlah kepada diri sendiri, seberapa dalam keyakinan itu ?

Seyogyanya keyakinan dibagi menjadi beberapa kedalaman berdasarkan sebab-sebabnya,

  • sebab pengetahuan atas sesuatu.
  • sebab penglihatan atas sesuatu.
  • sebab berada di dalam sesuatu.
  • sebab menjadi bagian dari sesuatu itu, inilah yang tertinggi. 

Syaikh Muzaffer Ozak mengumpamakan negeri Amerika sebagai “sesuatu” yang di atas dimana ia sendiri datang dari negeri Turki. Ia menerangkan bahwa,

Memiliki keraguan adalah suatu hal yang wajar, tetapi tidak semestinya engkau terus berada dalam keraguan. Keraguan seharusnya mengantarmu kepada kebenaran. Jangan tinggal diam dalam pertanyaan. Pikiranmu bisa menjebakmu. Kepandaian dan ilmu pengetahuan pun bisa menipumu. Ada sebuah kondisi yang menjadi kemestian bagi sebagian orang – ketika mata yang selalu melihat tidak lagi melihat, telinga yang selalu mendengar tidak lagi mendengar, dan pikiran yang selalu berupaya untuk menguraikan sesuatu berhenti untuk berpikir.

[dari buku Cinta Bagai Anggur – edisi 2 halaman 5,6]

Ada posting artikel tentang Keyakinan disini

Semoga bermanfaat.

Petikan CBA - 1

Wednesday, December 17, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 6:47 | Anda mau email artikel ini ?

Syaikh Ragip Frager bercerita tentang pertemuannya dengan Syaikh Muzaffer Ozak,

……. Sore itu saya pulang ke rumah, dan merenungkan kisah-kisah itu maupun segala yang dikatakan Syaikh. Saya merenung, betapa keras saya selalu memaksa diri, dan betapa seringnya saya takut terhadap kegagalan. Saya menyadari bahwa saya mungkin tetap akan sama kerasnya dalam bekerja, namun akan jauh lebih bahagia dan efisien, kalau saja saya yakin bahwa segala yang diperuntukkan bagi saya pasti akan sampai juga kepada saya.

[dari buku Cinta Bagai Anggur – edisi 2 halaman i-32,33 ]

Dua orang hamba Raja …

Monday, November 24, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 6:55 | Anda mau email artikel ini ?

Ada sebuah ceritera tentang dua orang hamba dari seorang Raja, yang seorang adalah pemungut pajak yang kejam dan yang seorang lagi adalah penghulu istana.
 
Suatu ketika mereka berdua bersama-sama dipanggil menghadap raja,
 
Maka berkatalah penghulu istana, - Maha Raja yang bijaksana. Aku adalah orang yang sebaik-baiknya di kerajaanmu. Aku selalu berbaik hati kepada rakyatmu dan memberikan kepada mereka hadiah-hadiah yang berharga, sehingga dengan demikian segenap rakyatmu akan mencintai aku. Karena itu, kalau Maha Raja akan memberi hadiah kepada hambanya, maka akulah orangnya yang paling pantas untuk menerimanya.-
 
Sedang pemungut pajak itu kemudian bersujud di bawah kaki Maha Raja yang bijaksana itu, katanya, - Duh Maha Raja yang bermurah hati. Aku adalah orang yang sejahat-jahatnya di kerajaanmu. Aku telah menjalankan pekerjaanku dengan kejam karena aku menginginkan pujian dari atasanku. Karena itulah maka rakyat di kerajaanmu sangat membenci aku. Namun Maha Raja yang bijaksana, karena itulah aku akan bertobat. Dan aku bersedia menerima hukuman yang akan ditimpakan kepadaku atas kelalaianku itu.-
 
Ketika kemudian Raja yang bijaksana itu memberikan hadiahnya, maka pemungut pajak itulah yang dipilih Raja untuk menerimanya, bukan penghulu istana. Kemudian ternyatalah bahwa pemungut pajak itu benar-benar bertobat dan membagi-bagikan hadiahnya kepada mereka yang pernah dicederainya, sedang penghulu istana kemudian berontak terhadap raja, hanya karena ia tidak menerima hadiah. Sebab …..
…. kebaikan yang dilakukannya selama itu hanyalah terdorong oleh keinginan untuk menerima hadiah dari Rajanya.
 

[
Dinukil dari karya SH Mintardja: Nagasasra dan Sabukinten – yang pernah dimuat sebagai kisah bersambung dalam harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta dan diterbitkan sebagai cerita bersambung yang terdiri dari 33 jilid.
]

Bandung - 13/10/2008 ….. Semoga bermanfaat.

Keyakinan …

Friday, August 08, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 8:08 | Anda mau email artikel ini ?

Pada kurun awal penyebaran agama Islam, banyak orang terpelajar yang nenek moyangnya telah menyembah patung atau api mulai mempertanyakan tentang praktek irasional ini. Ada dua kakak beradik penyembah api yang merasakan hal ini. Salah satu dari mereka mempunyai ide untuk memasukkan tangan mereka ke dalam api. Jika  terbakar berarti mereka harus berhenti menyembah api dan mulai memeluk Islam. Demikianlah mereka mengadakan upacara penyembahan kepada api, meminta kepada sembahan nenek moyang mereka itu untuk tidak membakar mereka, akan tetapi saat mereka memasukkan tangan ke dalam api, terbakarlah mereka.

Sang kakak mengatakan bahwa ia akan menyelidiki Islam. Adiknya mundur dan mengaku belum siap untuk membuang agama warisan budaya, agama nenek moyangnya.

Lalu pergilah sang kakak ke masjid terdekat. Ia begitu terpesona dan kagum melihat semua orang yang sedang shalat bersama, tanpa ada perbedaan kelas atau golongan. Budak berdiri di samping orang-orang penting, kaya dan miskin bercampur gaul. Qalb sang penyembah berhala itu pun tergerak oleh kebenaran dari ayat- ayat kitab suci yang dibacakan, dan penjelasan tentang Tuhan yang disampaikan seorang Ustadz. Ia pun bangkit ketika shalat berjama’ah selesai dan menyatakan niatnya untuk memeluk Islam. Para jama’ah disana begitu tersentuh dan gembira dengan keikhlasannya. Dan karena jelas tampak bahwa ia seorang yang miskin, beberapa dari penganut Islam yang kaya menawarkannya pinjaman uang atau menawarkan untuk memberi pekerjaan. Orang itu menolak semua tawaran pertolongan tersebut, sambil berkata bahwa Tuhan telah menolongnya bahkan pada saat ia masih belum masuk Islam dan kini ia telah memiliki keyakinan, tentulah ia dapat melanjutan bergantung hanya kepada Allah saja.

- mau melanjutkan membaca … ?

Kaya atau miskin … ?

Wednesday, August 06, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 15:31 | Anda mau email artikel ini ?

Cinta bagai AngurKaya dan miskin hanyalah sebatas "rasa-membutuhkan akan segala sesuatu", selama seseorang masih merasa membutuhkan suatu materi maka selama itu pula ia akan merasa miskin, sebaliknya ketika seseorang merasa bahwa ia hanya membutuhkan Allah Ta’ala semata maka saat itulah ia faqir [membutuhkan] dihadapan Rabb-nya tetapi ia kaya dihadapan segala makhluk, karena tidak membutuhkan.

Dikisahkan, syahdan selama beberapa tahun Ibrahim bin Adham melanjutkan perjalanannya. Mengemis untuk makan, belajar dari dunia dan mengajar dengan contoh.

Suatu saat, berjumpalah ia dengan seseorang lelaki yang ingin memberinya sedikit uang. Ibrahim bin Adham berkata, “Jika engkau kaya, aku akan menerima  pemberianmu, tetapi tidak akan aku mau menerimanya jika engkau ternyata miskin.“
Lelaki tadi meyakinkan Ibrahim bin Adham bahwa ia sangat kaya.
“Berapa banyak uang yang kau punya?“
“Aku punya lima ribu keping emas.“
”Apakah engkau ingin punya sepuluh ribu keping emas?”
”Ya, tentu saja.”
”Apakah engkau akan lebih senang jika punya dua puluh ribu keping emas?“
”Ya, itu tentu lebih baik."

“Kalau begitu engkau sama sekali tidak kaya! Engkau lebih membutuhkan uang ini daripada aku. Aku puas dengan apapun pemberian-Nya. Tidak mungkin aku menerima apapun dari seseorang yang selalu mengharap lebih banyak.“

Kaya atau miskinkah kita ?

[
Blockquote text diambil dari: Cinta Bagai Anggur, Edisi 2, Pustaka Prabajati.
Sedikit icip-icip dari buku ini.
Cetakan ke-3 atau edisi 2 akan segera muncul, Insya Allah, diterbitkan oleh "Pustaka Prabajati", silahkan berlomba membelinya karena isinya sangat-sangat bagus, termasuk salah satu buku bacaan favorit saya. Bisa dipesan disini.
]

Bandung - 05/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Lukman Hakim dan anaknya …

Monday, August 04, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 11:54 | Anda mau email artikel ini ?

[saya lupa dari mana asal kisah ini, saya tulis sesuai ingatan saya]

Syahdan Lukman yang memiliki seekor keledai hendak mengajari anaknya tentang kehidupan ini, maka suatu hari ia mengajak anaknya untuk pergi ke pasar. Untuk itu ia menyuruh anaknya menyiapkan keledai mereka. Kemudian mereka berangkat.

Lukman menaiki keledainya dan menyuruh anaknya berjalan kaki mengikuti disampingnya. Selang beberapa waktu kemudian mereka berpapasan dengan rombongan musafir dan orang-orang itu berkata, “Dasar orangtua yang mau enaknya sendiri, anaknya disuruh berjalan kaki sedangkan ia naik di atas keledai”.

Mendengar itu kemudian Lukmanpun turun dan menyuruh anaknya naik ke atas keledai. Anaknya naik keledai dan Lukmanpun berjalan kaki mengikuti disampingnya. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan kafilah yang lain lagi dan mendengar orang-orang di kafilah itu bergumam, “Dasar anak tidak tahu diri, orangtuanya disuruh berjalan kaki sedang ia enak-enak saja di atas keledai.”

- mau melanjutkan membaca … ?

Saridin ber-syahadat …

Friday, August 01, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 18:24 | Anda mau email artikel ini ?

oleh: Emha Ainun Nadjib

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.

Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat. Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur’an ana biashwatikum - hiasilah Qur’an dengan suaramu.

Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.

Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur’an, lidah mereka lincah banget. Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahatma says …

Thursday, July 24, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BUNGA RAMPAI pk. 11:53 | Anda mau email artikel ini ?

Mahatma Gandhi say,

The earth provides enough to satisfy every man’s NEEDS
but not every man’s GREED.