... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

de matrix

Wednesday, November 04, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 3:05 | Anda mau email artikel ini ?

Di film The Matrix, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu ‘kenyataan’ (reality).

Bila yang dimaksudkan dengan ‘kenyataan’ (reality) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata maka yang dimaksud dengan ‘kenyataan’ (reality) tidak lain hanya sekadar impuls-impuls elektrik yang diinterpretasikan oleh akal-pikiran manusia (human-mind). Sebab itu bagi mereka, yang dianggap sebagai ‘kenyataan’ (reality) adalah dunia-matriks (the matrix’s world) yang melingkupinya karena hanya itu yang bisa ditangkap oleh otak mereka.

Tidak lebih dari itu !

Hmm, apa mau dikata …

Bandung, 31 Oktober 2007 

Bioskop …

Thursday, October 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:29 | Anda mau email artikel ini ?

Kawan-kawan … Mari berandai-andai sebentar untuk menghilangkan penat di raga ini.

Istilah "bioskop" sudah jarang dipakai. Sekarang istilahnya diganti dengan "sinema" atau "teater" atau "sinema-multipleks". Bahkan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan kita bisa nonton bioskop di rumah sendiri. Perbedaannya kalau disebut bioskop maka selalu ada pita seluloid atau filem yang disorot lampu sedangkan yang di rumah-rumah menggunakan cakram video. Bagi yang pernah nonton bioskop pasti tahu bahwa selalu ada petugas yang bekerja memasang pita seluloid filem ke mesin pemutarnya, menjaganya dan menyalakan lampu proyektornya tepat saat jam putar filem dimulai seperti yang tertera di tiket.

Selama pemutaran filem, semua penonton tenggelam dalam lamunannya dibantu dengan gemuruhnya tata suara ruangan. Terpaku di kursinya menikmati gambar dua dimensi yang terpampang di layar besar sambil ngemil kacang-bogor. Gerakan pita seluloid di proyektor sama sekali tidak menjadi perhatian penonton. Tetapi bisa dibayangkan seandainya pitanya putus, kontan penonton bakal berteriak,

"Pelemnya putus hoii, hoooooiiii… Auwooo…. " dll.

Betapa rapuhnya bayangan yang ada di layar, ia bisa hilang kapan saja. Menjadi tidak bernilai apa-apa manakala tidak ada gambar yang diproyeksikan disitu. Gambarnya pun juga harus bergerak-gerak dan ada suaranya. Apa jadinya sebuah bioskop kalau tanpa semua itu.

Dari satu sudut pandang, hal itu sama seperti kehidupan kita di dunia ini. Kita masih ada dan akan selalu dikatakan ‘ada‘ ketika tubuh kita masih bisa digerakan, bisa dilihat atau bisa disentuh. Masih "eksis" istilahnya. Kemudian ketika nafas terhenti maka statusnya berubah dari ‘ada‘ menjadi ‘sudah tidak ada‘. Seperti bayangan dalam perumpamaan filem tadi, selama gulungan seluloid filem masih berputar dan menayangkan gambar-gambar secara berkesambungan 12 frame per detik maka tontonannya masih ada. Padahal sebetulnya gambar di layar besar itu tidak nyata karena ia bergantung kepada sesuatu yang lain yang lebih tinggi nilainya. Bukankah harga pita filem seluloid atau sebuah cakram cd/dvd original atau bluray sebuah film jauh lebih mahal ketimbang harga pemutarannya di bioskop. Umurnya pun lebih lama. Kalau yang di layar besar paling lama 2 sampai 3 jam maka pita seluloid atau cakram umurnya jauh lebih lama daripada itu. Bisa bertahun-tahun kalau penyimpanannya bagus. Itulah nilai yang sesungguhnya. Yang justru tidak bisa dinikmati kalau tidak punya alat proyeksinya.

Esensi dari sebuah pemutaran filem di bioskop ataupun di rumah-rumah dengan home-theater adalah filemnya. Dan esensi dari filemnya adalah jalan-cerita dari filem itu. Karya seni dari sang Sutradara dan crewnya. Proyeksi dari karya itu adalah apa-apa yang kita lihat di layar, yang ‘menjadi seakan-akan paling nyata‘ bagi kita pada saat menontonnya. Akibatnya yang lain-lain ‘menjadi tidak nyata‘.

Kehidupan manusia juga seperti itu, selama menjadi bayangan maka ia akan ‘ada‘ dan ketika waktu pemutarannya selesai maka kembali ‘tidak ada‘. Tidak hanya manusia, semua makhluk di dunia kita yang sekarang ini juga seperti itu. Hanya ‘ada‘ selama jam tayangnya saja. Itupun juga merupakan sebuah proyeksi saja. Kehidupan ini hanya bayangan dari sesuatu kehidupan lain yang berada di alam yang di atasnya, yang seumpama pita seluloid yang di bioskop tadi. Yang berada di alam yang lebih tinggi, yang lebih halus dan sebenarnya lebih nyata dari alam dunia kita sekarang ini. Manakala jam pertunjukan usai, esensi dari individu manusia itu tidak menghilang, ia masih ada, hanya saja ia berpindah kehidupan ke alam lain. Melanjutkan perjalanan hidupnya di dunianya yang baru … saat kiamat terjadi, barulah ia mati betulan.

Hmm.. jadi inget nonton layar tancap sambil mbawa …… payung.

Bandung, 29 Oktober 2009

Berjalan kemana … ?

Thursday, January 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 10:09 | Anda mau email artikel ini ?

Ada sebuah kisah kehidupan nyata yang diceritakan oleh seorang kawan kepada saya dan saya mencoba menuliskannya, tentunya atas ijin dari kawan yang bersangkutan. Akan tetapi karena adanya keterbatasan bahasa tulisan maka tidak semua bagian dari kisah si kawan yang bisa dituangkan disini.  
Kisah ini berawal dari sebuah pertanyaan dalam diri si kawan. Untuk bisa menjelaskan secara gamblang duduk perkaranya maka saya harus menuliskannya dari mulai awal. Berikut inilah perjalanan kisahnya.

SEBUAH PERTANYAAN

Sekian puluh tahun lampau ia hadir ke muka bumi ini dan semasa kecil ia sering bertanya kepada dirinya sendiri, seperti orang gila, “Dimanakah saya sebenarnya ? Setiap bagian diri saya yang saya tunjuk selalu saja bukan saya melainkan bagian dari diri saya. Ini kaki saya, ini tangan saya, ini kepala saya, lalu saya sebenarnya ada dimana ?” Sekian puluh tahun kemudian mulai timbul pertanyaan, walaupun hanya sebatas berkecamuk dalam pikirannya saja, yang mempertanyakan apa sebenarnya yang harus ia kerjakan di muka bumi ini,

“Apakah hidup ini hanya begini-begini saja ? Apa sebenarnya yang harus saya kerjakan lagi sesudah apa-apa yang saya kerjakan ini” “Sesungguhnya saya dilahirkan ke muka bumi ini untuk apa dan tentunya Allah Ta’ala tidak sekadar begitu saja menciptakan saya dan menaruh saya di muka bumi ini. Kalau memang ada sebuah rencana maka rencana itu apa, ada dimana dan mengapa saya tidak tahu.”

Dan pertanyaannya dari sejak masa kecil juga belum terjawab, “Dimanakah saya sebenarnya atau siapakah saya sebenarnya”

 

- mau melanjutkan membaca … ?


Halaman: 1 2 3

Watak samudera …

Monday, December 15, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 0:39 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika, di sebuah zawiyah, sang Syeikh menasehati murid-muridnya bahwa seseorang hendaknya memiliki watak samudera.

WATAK dan SAMUDERA

Watak, orang jawa menggunakan kata ini sebagai kata lain dari karakter, terutama digunakan oleh orang-tua dalam kesempatan menasehati anak-anaknya. Jadi, “watak” adalah “sesuatu yang menjadi sumber yang mendasar” dari laku-lampah seseorang.

Mengapa harus seperti samudera ? Bukankah samudera adalah lautan yang luas, yang jauh lebih luas dari sebuah danau dan sangat-sangat jauh lebih luas daripada sekadar “baskom” yang untuk cuci tangan.

Gerangan apakah hubungan antara watak seseorang dengan samudera, apakah keluasan dan kelapangan yang dimiliki oleh sebuah samudera ?

WADAH AIR DAN KONSEP EKOLOGI

Bilamana seseorang mencuci tangan atau kakinya di baskom maka dijamin kotoran-kotoran di tangan atau di kakinya akan mewarnai air di baskom itu. Air di baskom tidak mampu menetralisir atau mengencerkan kotoran yang semula berada di tangan atau kaki sehingga ia menjadi berubah warna bergantung warna kotoran yang melekat di tangan atau di kaki dan bercampur dengan bahan pencuci, seperti: sabun, deterjen, gasolin, solar dll., yang kita pakai untuk mencucinya.

Sangat jauh berbeda bilamana “baskom” itu adalah “sebuah danau”, karena seandainya ada yang mandi di danau itu, maka hal itu tidak akan menjadikan warna air danau itu berubah.  Tetapi air di danau itu bisa berubah bilamana penduduk sekampung atau sekota setiap hari mandi, mencuci pakaian, membuang kotoran dan membuang segala macam barang-barang bekas atau sampah disitu. Air yang ada di danau itu tidak akan mampu menetralisir semua bahan-bahan itu, sehingga akhirnya ia tercemari, menjadi berubah kualitasnya yang ditandai dengan terjadinya perubahan warnanya.  

Secara studi lingkungan, perubahan kualitas air danau itu bergantung kepada kemampuan netralisasi yang dilakukan oleh para jasad-renik dalam air itu terhadap segala polusi itu. Air danau itu akan tetap baik kualitasnya bilamana para jasad-renik itu mampu menguraikan semua pencemaran yang diterima oleh air danau. Dan bila mereka tidak mampu menguraikan maka terjadilah perubahan kualitas air danau itu. Dan para jasad renik itu bisa pula mati oleh sebab adanya bahan-bahan kimia yang dibuang ke danau itu, misalnya sabun dan deterjen, atau kehabisan oksigen untuk pernafasan mereka.

Sebab itu, dalam konsep ekologi, kelestarian lingkungan baru mulai bisa dicapai bilamana manusia tidak lagi membuang kotoran dan barang-barang bekas – air bekas cucian, air bekas kloset dan sampah - di danau atau di badan-air apapun, apalagi bila badan-air itu ternyata relatif tidak luas atau tidak mengalir.

KONSEP SHADR - SHUDUR

Danau atau wadi adalah perumpamaan untuk shudur atau dada insaan, namun perbedaannya dengan danau yang dijadikan sebagai perumpamaannya, shudur atau ruang-dada seseorang bisa melapang dan meluas sedangkan danau atau kolam jarang ada yang bisa meluas. Sejauh-jauhnya, danau hanya bisa dilapangkan dengan cara dikeruk lumpurnya dan dikeluarkan sampah-sampahnya. Seperti Rawa Pening di dekat Ambarawa Jawa Tengah yang harus sering dibersihkan dari tanaman apung [eceng gondok, water hyacinth], orang setempat menyebutnya “bengok” [1], agar menjadi lapang.

 

Foto:
Pekerjaan melapangkan rawa, dengan membersihkan eceng gondok di Rawa Pening – Ambarawa [2]

 

 

Sangat berbeda dengan shudur insaan, bahkan berkebalikan bagaikan bumi dan langit, sebab shudur bisa berubah menjadi lapang dan bisa pula berubah menjadi sempit.

SHUDUR - YANG MELAPANG dan MELUAS

Ketika Rasulullah Saw. membacakan Al Quran, QS.[6]:125 :

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Al-Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
Seorang sahabat bertanya, ’Apakah artinya kelapangan itu ?’
Beliau Saw. menjawab, ”Sesungguhnya apabila nuur itu diletakkan di qalb maka shadr itu menjadi lapang dan meluas.”
Kemudian ditanyakan, ”Adakah tandanya untuk itu …?”
Beliau saw. menjawab, ”Ya, ada ! … Merenggangkan diri dari negeri tipu-daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia mati sebelum datangnya kematian.”
[HR. Al Hakim]

Dan bayangkan, betapa luas shudur seseorang yang telah dianugerahi oleh Allah Ta’ala dengan ilmu dari sisi-Nya, sedemikian lapang dan luas sehingga ayat-ayat Al Quran bisa berada di dalamnya padahal ayat-ayat Al Quran itu meliputi seluruh semesta alam-alam berikut segala isinya.

QS.[29]:49 ….  Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu [ayaatun bayyinaatun fii shuduuri-l-ladziina utu-l-ilman]. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim.

WATAK YANG SEPERTI SAMUDERA,

Watak adalah sesuatu yang membentuk perilaku seseorang;

Watak seseorang ditentukan oleh apa-apa yang ada di shudurnya, apa-apa yang ada dalam dadanya. Bilamana shudurnya masih terdapat dorongan hawa dan syahwat maka demikian pula wataknya, mudah gembira oleh apa-apa yang didapatnya dan mudah pula bersedih bila yang diinginkannya luput daripada dirinya. Gembira bila ada yang memuji dan bersedih bila ada yang menjatuhkan atau memarahi.

Sedangkan samudera adalah sebuah tempat yang tidak akan berubah sifatnya bilamana ada sesuatu yang dituangkan kepadanya. Samudera memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menetralisasikan segala apa yang masuk kepadanya.

Shudur yang telah Allah Ta’ala lapangkan dan luaskan dengan Al Islam, adalah yang harus diharapkan oleh siapa-siapa yang ingin memenuhi nasehat agar memiliki watak samudera. Bukanlah seseorang itu yang menjadikan dirinya memiliki watak samudera melainkan Allah Ta’ala semata yang menjadikan ia menjadi memiliki watak yang luas dan lapang bagaikan samudera.

Namun daya serap atau lapang dan luasnya shudur setiap orang berbeda-beda, dengan demikian daya tampungnya juga berbeda-beda. Para Nabi adalah contoh manusia-manusia yang memiliki keluasan dan kelapangan shudur, bisa dilihat pada kisah-kisah mereka. Betapa Rasulullaah Saw. langsung memaafkan orang-orang yang melemparinya dengan batu dengan mencegah para sahabatnya untuk melawan mereka yang telah melemparinya dan hanya mengatakan “Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti”.

PENUTUP

Mari kita renungkan,

Akan berguncangkah kolam shudur kita bilamana ada seseorang yang buang kotoran sambil mandi-mandi disitu, atau mencuci pakaiannya yang sangat kotor dengan deterjen yang paling ampuh yang tentunya paling kuat pencemarannya ? …… Akan jadi sempitkah atau berguncangkah shudur/dada kita bila ada yang melecehkan, atau menghina, atau memusuhi kita ?

Shudur saya masih akan menjadi sempit dan berguncang bahkan mungkin akan berguncang hebat sekali. Bagaimana dengan sahabat pembaca ? …..

Semoga Allah Ta’ala lapangkan dan luaskan shudur kita.

 

Bandung - 09/12/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

[1] bengok, “be” dilafalkan seperti melafalkan kata “beda” atau “bela”; “bengok” adalah tanaman yang terapung-apung di kolam yang menjadikan kolam itu menjadi sempit. Dikenal jug adengan nama “eceng gondok” atau bahasa ekologinya, “water hyacinth”.
[2] Foto diambil dari sumber: www.fao.org/DOCREP/006/X7580E/X7580E07.htm

Silahkan pilih …

Friday, November 28, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA, MANAJEMEN pk. 15:43 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu hari, ada seseorang yang mendatangi sahabat-sahabatnya yang sedang berkumpul dan berkata: “Aku membawa sebuah proyek untuk sahabat-sahabat kerjakan dan aku akan meminta salah satu dari sahabat-sahabat untuk menjadi pemimpin pekerjaan ini. Aku tidak akan ikut mengerjakannya, tetapi bilamana sahabat-sahabat membutuhkan bantuanku maka silahkan menemuiku, aku akan membantu sahabat-sahabat semampu aku.”

Mereka menjawab: “Baiklah, segera kami akan membentuk sebuah team, membuat perencanaan awal dan dalam seminggu kami akan melaporkan hasilnya.”

Dengan bersegera mereka bermusyawarah, dipimpin oleh orang yang telah bersedia menjadi ketua team, dan menyusun strategi tentang bagaimana cara mengerjakan proyek itu. Beberapa kesepakatan tercapai sudah, namun ada beberapa hal yang masih belum disepakati dan cenderung menjadi sebuah perbedaan pendapat yang cukup keras.

Walaupun ada beberapa hal yang masih belum disepakati akan tetapi jadwal pertemuan sudah tiba dan mereka bersama-sama menemui sahabat mereka, si pembawa proyek, dan melaporkan hasilnya pertemuan dan kerja mereka selama seminggu, terutama tentang masih adanya perbedaan pendapat dalam team.

Namun apa jawab sang sahabat itu ? Katanya,

“Sahabat-sahabatku, apakah ada gunanya melakukan sebuah pekerjaan yang walaupun itu mendatangkan sesuatu bagi sahabat-sahabat [ghonimah: uang atau harta, kehormatan, dll.] tetapi ada satu atau lebih diantara sahabat-sahabat yang hatinya terluka dan sahabat-sahabat menjadi mencederai hati sahabat-sahabat sendiri dan bahkan mungkin ada yang sampai memutuskan tali silaturahmi yang sudah sahabat-sahabat bangun sebelumnya ? Bukankah semua yang ada dimuka bumi ini adalah semata-mata sarana yang Allah Ta’ala sediakan bagi manusia untuk mengenal-Nya walaupun bisa juga digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mengingkari-Nya.

Kalaupun yang sahabat-sahabat lakukan adalah demi untuk menjaga nama-baik team maupun diri sahabat-sahabat sendiri maka tidakkah sahabat-sahabat ingat bahwa kemuliaan dan derajad seseorang bukan dicapai oleh sebab seseorang itu menjadikan dirinya mulia atau menjadi dihormati manusia lain melainkan semata-mata karena ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala. Kalau menginginkan kemuliaan dan derajad maka inginkanlah kemuliaan dan derajad disisi Allah Ta’ala.

Demikian pula dengan nama baik dari sahabat-sahabat, hal itu bukan sahabat-sahabat yang menjaganya atau menentukannya, tetapi Allah Ta’ala yang menentukannya bergantung kehendak-Nya terhadap diri sahabat-sahabat. Persoalan naik-turunnya derajad diri kita bukan diukur dari penilaian manusia atau makhluk terhadap diri kita.

Ada kisah yang justru menunjukkan bahwa hal itu bisa terjadi dengan sangat berkebalikan, salah satunya adalah keadaan Siti Maryam, seorang wanita yang sangat menjaga dan Dijaga kesucian dirinya sehingga dihormati manusia sekitarnya, justru Allah Ta’ala putar-balikkan keadaannya dihadapan manusia sekitarnya ketika Allah Ta’ala menaikkan derajadnya menjadi seorang ibu yang mengandung, yang dalam kandungannya ada seorang nabi yang suci, tetapi ia mengandung tanpa kehadiran seorang suami. Apalagi kalau sahabat-sahabat merenungkan kisah Nabi Ayub as.

Jadi, dalam persoalan nama baik team maupun nama baik diri pribadi sahabat-sahabat, lebih baik sahabat-sahabat tawakkal kepada Allah Ta’ala, bukankah Dia Ta’ala adalah yang Maha Menerima Perwakilan dan Maha Menjaga Titipan.

Apa yang perlu sahabat-sahabat lakukan adalah bekerja dengan saling mengasihi dan menyayangi. Dan tidakkah sahabat-sahabat ingat bahwa tidak ada yang cepat mendatangkan rahmat Allah Ta’ala kecuali melakukan tindakan merahmani makhluk-Nya, dan hal itu bukan hanya berlaku dalam hubungan sosial saja melainkan dalam hubungan profesional juga tetap berlaku.”

 
Semua yang berkumpul terdiam dan merenungi bahwa apa yang diucapkan sahabat mereka itu adalah mudah untuk didengar dan dimengerti ….. tetapi sulit sekali untuk dilaksanakan.
 
Sambungnya lagi,
 

“Semuanya tidak ada yang mudah, tergantung keinginan sahabat-sahabat sendiri, apakah akan mengambil jalan yang menurun lagi mudah atau mengambil jalan yang mendaki lagi sukar ?  Itu pilihan-pilihan yang ada ! Dan dengan sepenuh doa kepada-Nya agar sahabat-sahabat diberikan-Nya kemampuan dan kehendak [1] untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar itu …. Al Aqobah [2]

Catatan :
[1] Kemampuan dan kehendak datang dari Allah Ta’ala, QS.[81]:27-29, QS.[76]:29-31
[2] Jalan yang mendaki lagi sukar, Al Aqobah. QS.[90]:10-20 juga QS.[76]:8-11, QS.[3]:92 dan QS.[2]:177

Bandung, 24/11/2008…… Wallaahu `alam bish showab

Logika bungkus …

Friday, November 21, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA, MANAJEMEN pk. 4:51 | Anda mau email artikel ini ?

Kita tentunya punya beberapa anakbuah di kantor. Suatu ketika salah satunya yang sedang mengerjakan sebuah proyek, sebagai leader atas penugasan dari kita, dengan klien asing dari luar negeri, dibantu dengan beberapa anakbuah lainnya.

Dalam perjalanannya pelaksanaan pekerjaan itu, suatu ketika kita dilapori oleh si anakbuah bahwa si klien komplain berat kepada perusahaan kita karena persyaratan yang dimintanya tidak bisa dipenuhi oleh team kerja si anakbuah.

Kita berhak memarahi anggota team tetapi kita juga berhak untuk tidak memarahi mereka. Dalam persoalan itu bisa jadi yang salah adalah anakbuah yang menjadi leadernya proyek itu, bisa jadi angota teamnya, bisa jadi juga yang salah adalah kita sendiri karena mengijinkan si klien membuat syarat di luar kontrak kerja atau mungkin kita tidak mencermati kontrak kerjanya sebelum menandatanganinya. Atau bisa jadi sebab-sebab yang lain. Rumit persoalannya.

Kalau pakai analogi sebuah keris, maka itu baru bungkusnya saja atau warangkanya saja dan belum menyentuh persoalan isinya atau bilah kerisnya.

- mau melanjutkan membaca … ?

Petani dadakan …

Tuesday, November 18, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 12:06 | Anda mau email artikel ini ?

Beberapa tahun lampau, negeri kita dilanda krisis multi dimensi ….
Ah itu kan cuma kenangan lama…… Ya, betul.
Dan oleh karenanya kita menjadi wajib mencari tahu ada apa disitu.

Saat itu, banyak diantara kita yang beralih profesi secara mendadak. Tadinya kerja di depan komputer menjadi bos kantor perencana langsung ganti sepatu dan ganti pakaian …….. dan terjun ke kebun, bermain-main dengan pupuk dan bibit tanaman. Sebahagian berhasil, sebahagian lagi hanya balik modal dan sebahagian sisanya malahan buntung.

BERTANI ?

Bayangkan, ada orang yang sehari-harinya naik kendaraan ke kantor dan jarang pergi ke kebun kemudian mendadak harus turun ke lapangan ikut mencangkul bersama buruh-tani, membolak-balik kotoran kuda [yang adalah bahan dasar pupuk kandang] agar cepat matang dan bisa segera ditaburkan ke galangan yang akan di tanami.

- mau melanjutkan membaca … ?

Segitiga Realitas …

Monday, November 10, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:30 | Anda mau email artikel ini ?

Rasulullah Saw. pernah menjelaskan bahwasanya dunia ini ibarat sebuah oase, di antara dua padang pasir yang sangat luas, tempat parfa musafir mengambil bekal untuk persiapan perjalanan menempuh padang pasir selanjutnya.

Kita semua tahu bahwa di oase itu kita harus mengumpulkan bekal berupa minuman dan makanan yang secukupnya yang bisa dibawa dalam perjalanan selanjutnya. Ketika singgah di oase itu, yang perlu diketahui adalah apa saja yang bisa dikumpulkan untuk menjadi bekal perjalanan dan untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang jenis buah-buahan yang ada di oase itu, juga airnya dan cara-cara menyimpannya agar bisa dimakan dan diminum sedikit demi sedikit selama perjalanan. Artinya ……, kita membutuhkan pengetahuan tentang oase itu bila hendak menggunakannya sebagai tempat singgah untuk mengambil bekal.

Bagaimana dengan ini ? Dunia adalah tempat singgah, guna mencari bekal untuk perjalanan-panjang yang selanjutnya.
 

- mau melanjutkan membaca … ?

Puas-puasin diri makan es krim …

Thursday, September 11, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:56 | Anda mau email artikel ini ?

Kalau waktu muda seseorang mem-puas-puas-kan dirinya makan es-krim [ atau sebut saja apa lainnya ] …. apakah ada jaminan bahwa nanti di masa dewasanya atau masa tuanya ia dijamin TIDAK PINGIN makan es-krim lagi ?

Whua.. ha.. ha.. ha.. ha.. ha ….. haa haaaa haaaaaa-chiiiiessss … [ lho …. kenapa jadi bersin ]

Rasanya… soal puas atau tidak puas itu adalah perkara hawa nafsu kan ya … jadi selama hawa nafsu masih bergelora maka selama itu pula manusia tidak pernah puas. Dan hawa nafsu itu bagaikan seekor ular, ia hanya tidur dan saat ia tidur kita sering terlena karena menganggapnya sudah jinak…. tetapi WASPADALAH, saat ia bangun maka ia siap menerkam.

Mari kita simak berikut ini :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya An-Nafsi [dalam terjemahan ditulis sebagai: nafsu] itu selalu menyuruh kepada keburukan [as-suu’i, dalam terjemahan ditulis: kejahatan], kecuali An-Nafsi [dalam terjemahan ditulis: nafsu] yang diberi rahmat (yang sudah dirahmati) oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS.[12]:53

Seorang sahabat menerangkan kepada saya, bagaimana seandainya ular itu dipotong-potong kemudian disambung kembali tetapi dengan susunan yang berbeda, ekornya di depan, kepalanya di belakang dan badannya di putar dengan tetap di tengah ….. Ketika "si ular" bangun maka gerakannya menggeliat-geliat maju mundur …. dan ketika itu kita bisa merasakan "aktifitas si ular" dan dari itu kita bisa mewaspadai terkamannya …..

Ah…. seandainya saja kita bisa melakukannya.

Sepertinya kita bisa lho ….. yang kita perlukan hanya mencobanya sambil memohon agar Allah Ta’ala merahmati kita.

Kenali dulu si ular dalam dirimu … !

Es krim hanyalah perumpamaan, di realita kehidupan … banyak yang lainnya.
Hiiiii awas diterkam ular … Sekian dulu ya 11/09/2008.

Sebab dan Akibat …

Sunday, August 24, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:07 | Anda mau email artikel ini ?

Ketika Allah SWT memberi ‘Izrail as. tugas mencabut nyawa, sang Malaikat Maut itu berkata, “Ya Rabbku, Engkau telah memberiku tugas yang sangat berat. Hamba-hamba-Mu akan membenciku karenanya.”  

- mau melanjutkan membaca … ?

Umat yang NABI Saw rindukan …

Thursday, August 21, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 20:35 | Anda mau email artikel ini ?

Rasulullah Saw.. berwashiyah kepada Abu Hurairah ra,

"Wahai Abu Hurairah, hendaklah engkau mengikuti jalan suatu kaum, yang jika manusia merasa takut, mereka tidak takut. Jika manusia mencari keselamatan dari api neraka, mereka tidak takut … "

Abu Hurairah ra bertanya, "Siapakah mereka itu yaa Rasulullah, terangkan dan jelaskanlah ihwal mereka itu kepadaku hingga aku dapat mengenali mereka … "

Rasulullah Saw. menjawab,

"Mereka itu suatu kaum dari umatku di akhir zaman. Kelak mereka berkumpul pada Hari Qiyamah di tempat berkumpulnya para Nabi. Jika manusia memandang mereka, manusia mengira bahwa mereka itu para Nabi dari keadaan yang mereka lihat, hingga aku beritahukan kepada mereka. Aku katakan ‘Umatku, umatku …’ Maka para makhluk mengetahui bahwa mereka bukanlah para Nabi. Mereka bagaikan kilat dan angin, pandangan mata yang hadir terkesiap dengan pancaran cahaya mereka … "

Abu Hurairah ra berkata, "Yaa Rasulullah, kemukakan kepadaku amalan- amalan mereka, mudah-mudahan aku dapat mengikuti mereka … "

Rasulullah Saw. menjawab, "Wahai Abu Hurairah, kaum itu menempuh suatu jalan yang sangat terjal hingga sampai kepada tingkatan para Nabi. Mereka memilih lapar setelah Allah memberi mereka rasa kenyang, memilih telanjang setelah Allah memberi mereka pakaian, dan memilih haus setelah Allah memberi mereka rasa puas. Mereka meninggalkan itu semua karena mengharap apa yang ada di sisi-Allah. Mereka meniggalkan yang halal karena takut dengan Hisab. Mereka mempergaulinya dengan badan-badan (lahiriyah) mereka, tetapi mereka tidak menyibukkan diri dengan suatu apapun darinya. Para Nabi dan para Malaikat takjub dengan ketaatan mereka kepada Allah. Kebahagiaan bagi mereka, kebahagiaan bagi mereka, aku sangat ingin agar Allah menghimpunkan aku bersama mereka" …

Kemudian Rasulullah Saw. menangis karena rindu kepada mereka. Lalu beliau Saw. berkata, "Jika Allah hendak mengazab penghuni bumi, lalu memandang mereka, maka Dia berpaling dan tidak jadi menurunkan azab. Hendaklah engkau, wahai Abu Hurairah, mengikuti jalan mereka. Barang siapa berpaling dari jalan mereka, maka ia akan kelelahan dalam kerasnya Hisab" …

 

Bandung - 19/07/2008 ….. Mudah-mudahan bermanfaat.
[Seorang sahabat mempostingnya dalam milis keluarga, ini tulisannya: Sahabat-sahabat, Hadits Nabi Saw. ini saya ambil dari buku "Wasiat-wasiat Ibnu Arabi", wasiat ke-99. Pernah saya postingkan di milis ini pada 3 Oktober 2006 (10 Ramadhan 1427). Semoga Hadits yang menakjubkan ini masih tetap dapat menginspirasi dan menyegarkan hati kita semua. Hadits ini terkait dengan ayat-ayat Al-Qur’aan sebagai berikut: Al-Balaad [90]:10-12, Al-Insaan [76]:8-11, Ali-Imran [3]:92, Al-Baqarah [2]:177. Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali sayyidinaa Muhammad.
]

Gerhana bulan sebagian …

Sunday, August 17, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 4:30 | Anda mau email artikel ini ?

Sahabat Pembaca.

Di sepertiga terakhir malam Nisfu Syaban, Ahad tanggal 15 bulan Syaban 1429 H. dimana kita menunaikan sholat yang Rasulullaah Saw. ajarkan, 100 roka’at dengan 50 kali salam, membaca Al Fatihah dan 10/11 kali Al Ikhlas di tiap roka’at, jam 02 dinihari terjadilah gerhana bulan yang melintasi sebagian wilayah negeri kita.  Bertepatan dengan peringatan kemerdekaan negeri kita 17 Agustus, 1945-2008 ke 63.

 

Mari kita syukuri fenomena alam yang seperti ini. Sebuah Maha Karya dari Allah Ta’ala Yang Maha Agung. Kita coba tafakuri, mencari makna yang sesungguhnya, yang hendak Allah Ta’ala sampaikan kepada makhluk-makhluk-Nya. Semoga Allah Ta’ala memudahkannya.

Bandung - 17/08/2008 ….. Wallaahu `alam bi-sh-showab

Siapakah aku … ?

Tuesday, August 05, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 20:26 | Anda mau email artikel ini ?

Di sebuah majalah bulanan, ada artikel tentang “Siapakah aku” yang diawali dan diakhiri dengan cuplikan kalimat yang pernah dibaca oleh penulisnya,

……… diawali dengan sebuah kisah:

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, pernah ditanya: “Guru, di manakah tempat tinggal anda ?”
“Saya tidak tinggal dimanapun,” jawab Ajahn Chah.
“Bukankah Guru tinggal di vihara ?” tanya seorang jamaah dengan penasaran.
“Saya tidak tinggal di mana pun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah. Karena Ajahn Chah tidak ada, maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat,” jawab sang Guru.

……… diakhiri dengan sebuah syair:

Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah.
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir zaman.
Dan ruhku akan kembali kepada Sang Khalik.

……… ditutup oleh penulisnya dengan sebuah pertanyaan:

SIAPA atau APAKAH “aku” PADA KALIMAT DI ATAS ?

- mau melanjutkan membaca … ?

Iman, Ilmu dan Amal …

Sunday, August 03, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:49 | Anda mau email artikel ini ?

Di seputar abad ke tujuh Masehi, Allah Swt. mengutus manusia pilihan-Nya untuk menjadi rahmat-Nya kepada semua makhluk-Nya di semesta alam-alam ini. Sang Utusanpun kemudian melaksanakan tugasnya di bumi Allah ini, menjadi Nabi Pamungkas-Nya [khatama-n-Nabiyyina] dan mengajari umat manusia berbagai hal.

Sang Rasul, junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw., menerima kitab Al Quran dan mengajarkannya, melalui cerita yang diriwayatkan secara turun-temurun, yang kita kenal sebagai hadis Nabawi, yakni kumpulan riwayat sabda suci Rasululah Saw.

Tentang hubungan antara iman dan amal, demikian sabdanya,

“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”…. [HR. Ath-Thabrani] kemudian dijelaskannya pula bahwa, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”…. [HR. Ibnu Majah dari Anas, HR. Al Baihaqi] Selanjutnya, suatu ketika seorang sahabatnya, Imran, berkata bahwasanya ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, amalan-amalan apakah yang seharusnya dilakukan orang-orang?". Beliau Saw. menjawab: "Masing-masing dimudahkan kepada suatu yang diciptakan untuknya"…. [HR. Bukhari] “Barangsiapa mengamalkan apa yang diketahuinya, niscaya Allah mewariskan kepadanya ilmu  yang belum diketahuinya.”…. [HR. Abu Na’im] ”Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu lisan, itulah hujjah Allah Ta’ala atas makhlukNya, dan ilmu yang di dalam qalb, itulah ilmu yang bermanfaat.” …. [HR. At Tirmidzi] ”Seseorang itu tidak menjadi ‘alim (ber-ilmu) sehingga ia mengamalkan ilmunya.” …. [HR. Ibnu Hibban]

Sekali peristiwa datanglah seorang sahabat kepada Nabi Saw. dengan mengajukan pertanyaan:

”Wahai Rasulullah, apakah amalan yang lebih utama ?” Jawab Rasulullah Saw.: “Ilmu Pengetahuan tentang Allah ! ” Sahabat itu bertanya pula “Ilmu apa yang Nabi maksudkan ?”. Jawab Nabi Saw.: ”Ilmu Pengetahuan tentang Allah Subhanaahu wa Ta’ala ! ” Sahabat itu rupanya menyangka Rasulullah Saw salah tangkap, ditegaskan lagi “Wahai Rasulullah, kami bertanya tentang amalan, sedang Engkau menjawab tentang Ilmu !” Jawab Nabi Saw. pula “Sesungguhnya sedikit amalan akan berfaedah bila disertai dengan ilmu tentang Allah, dan banyak amalan tidak akan bermanfaat bila disertai kejahilan [1] tentang Allah”….[2] [HR. Ibnu Abdil Birr dari Anas]

[1] kejahilan adalah kebodohan yang terjadi karena ketiadaan ilmu pengetahuan.
[2] Dengan demikian, kualitas amal setiap orang menjadi sangat berkaitan dengan keimanan dan ilmu-pengetahuan karena ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya … QS.[10]:9. Ilmu pengetahuan tentang Allah Subhanaahu wa Ta’ala adalah penyambung antara keimanannya dengan amalan-amalan manusia di muka bumi ini. Sebagaimana kaidah pengaliran iman yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. bahwasanya iman adalah sebuah tashdiq bi-l-qalbi yang di ikrarkan bi-l-lisan dan di amalkan bi-l-arkan …

- mau melanjutkan membaca … ?

Aktualisasi diri …

Monday, June 30, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 13:25 | Anda mau email artikel ini ?

sail boat

Fig.1 Biduk adalah representasi jasad insaan yang mengarungi lautan dunia. 

Setiap yang mewujud di semesta alam-alam memiliki fungsi tertentu, setiap dari mereka mengemban tugas tertentu sesuai dengan jati-diri mereka. ”maa kholaqta hadzaa bathilaa” QS.[3]:191 berlaku bagi semua makhluk, tidak hanya untuk manusia saja. Bedanya, manusia memiliki kelebihan dari makhluk-makhluk lainnya di semesta alam-alam ini, dan oleh sebab itu pula menjadi makhluk yang paling sempurna, Allah Ta’ala ”telah menciptakan insaan dalam bentuk yang sebaik-baiknya” QS.[95]:4.

- mau melanjutkan membaca … ?