... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

de matrix

Wednesday, November 04, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 3:05 | Anda mau email artikel ini ?

Di film The Matrix, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu ‘kenyataan’ (reality).

Bila yang dimaksudkan dengan ‘kenyataan’ (reality) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata maka yang dimaksud dengan ‘kenyataan’ (reality) tidak lain hanya sekadar impuls-impuls elektrik yang diinterpretasikan oleh akal-pikiran manusia (human-mind). Sebab itu bagi mereka, yang dianggap sebagai ‘kenyataan’ (reality) adalah dunia-matriks (the matrix’s world) yang melingkupinya karena hanya itu yang bisa ditangkap oleh otak mereka.

Tidak lebih dari itu !

Hmm, apa mau dikata …

Bandung, 31 Oktober 2007 

Bioskop …

Thursday, October 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:29 | Anda mau email artikel ini ?

Kawan-kawan … Mari berandai-andai sebentar untuk menghilangkan penat di raga ini.

Istilah "bioskop" sudah jarang dipakai. Sekarang istilahnya diganti dengan "sinema" atau "teater" atau "sinema-multipleks". Bahkan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan kita bisa nonton bioskop di rumah sendiri. Perbedaannya kalau disebut bioskop maka selalu ada pita seluloid atau filem yang disorot lampu sedangkan yang di rumah-rumah menggunakan cakram video. Bagi yang pernah nonton bioskop pasti tahu bahwa selalu ada petugas yang bekerja memasang pita seluloid filem ke mesin pemutarnya, menjaganya dan menyalakan lampu proyektornya tepat saat jam putar filem dimulai seperti yang tertera di tiket.

Selama pemutaran filem, semua penonton tenggelam dalam lamunannya dibantu dengan gemuruhnya tata suara ruangan. Terpaku di kursinya menikmati gambar dua dimensi yang terpampang di layar besar sambil ngemil kacang-bogor. Gerakan pita seluloid di proyektor sama sekali tidak menjadi perhatian penonton. Tetapi bisa dibayangkan seandainya pitanya putus, kontan penonton bakal berteriak,

"Pelemnya putus hoii, hoooooiiii… Auwooo…. " dll.

Betapa rapuhnya bayangan yang ada di layar, ia bisa hilang kapan saja. Menjadi tidak bernilai apa-apa manakala tidak ada gambar yang diproyeksikan disitu. Gambarnya pun juga harus bergerak-gerak dan ada suaranya. Apa jadinya sebuah bioskop kalau tanpa semua itu.

Dari satu sudut pandang, hal itu sama seperti kehidupan kita di dunia ini. Kita masih ada dan akan selalu dikatakan ‘ada‘ ketika tubuh kita masih bisa digerakan, bisa dilihat atau bisa disentuh. Masih "eksis" istilahnya. Kemudian ketika nafas terhenti maka statusnya berubah dari ‘ada‘ menjadi ‘sudah tidak ada‘. Seperti bayangan dalam perumpamaan filem tadi, selama gulungan seluloid filem masih berputar dan menayangkan gambar-gambar secara berkesambungan 12 frame per detik maka tontonannya masih ada. Padahal sebetulnya gambar di layar besar itu tidak nyata karena ia bergantung kepada sesuatu yang lain yang lebih tinggi nilainya. Bukankah harga pita filem seluloid atau sebuah cakram cd/dvd original atau bluray sebuah film jauh lebih mahal ketimbang harga pemutarannya di bioskop. Umurnya pun lebih lama. Kalau yang di layar besar paling lama 2 sampai 3 jam maka pita seluloid atau cakram umurnya jauh lebih lama daripada itu. Bisa bertahun-tahun kalau penyimpanannya bagus. Itulah nilai yang sesungguhnya. Yang justru tidak bisa dinikmati kalau tidak punya alat proyeksinya.

Esensi dari sebuah pemutaran filem di bioskop ataupun di rumah-rumah dengan home-theater adalah filemnya. Dan esensi dari filemnya adalah jalan-cerita dari filem itu. Karya seni dari sang Sutradara dan crewnya. Proyeksi dari karya itu adalah apa-apa yang kita lihat di layar, yang ‘menjadi seakan-akan paling nyata‘ bagi kita pada saat menontonnya. Akibatnya yang lain-lain ‘menjadi tidak nyata‘.

Kehidupan manusia juga seperti itu, selama menjadi bayangan maka ia akan ‘ada‘ dan ketika waktu pemutarannya selesai maka kembali ‘tidak ada‘. Tidak hanya manusia, semua makhluk di dunia kita yang sekarang ini juga seperti itu. Hanya ‘ada‘ selama jam tayangnya saja. Itupun juga merupakan sebuah proyeksi saja. Kehidupan ini hanya bayangan dari sesuatu kehidupan lain yang berada di alam yang di atasnya, yang seumpama pita seluloid yang di bioskop tadi. Yang berada di alam yang lebih tinggi, yang lebih halus dan sebenarnya lebih nyata dari alam dunia kita sekarang ini. Manakala jam pertunjukan usai, esensi dari individu manusia itu tidak menghilang, ia masih ada, hanya saja ia berpindah kehidupan ke alam lain. Melanjutkan perjalanan hidupnya di dunianya yang baru … saat kiamat terjadi, barulah ia mati betulan.

Hmm.. jadi inget nonton layar tancap sambil mbawa …… payung.

Bandung, 29 Oktober 2009

Berjalan kemana … ?

Thursday, January 29, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 10:09 | Anda mau email artikel ini ?

Ada sebuah kisah kehidupan nyata yang diceritakan oleh seorang kawan kepada saya dan saya mencoba menuliskannya, tentunya atas ijin dari kawan yang bersangkutan. Akan tetapi karena adanya keterbatasan bahasa tulisan maka tidak semua bagian dari kisah si kawan yang bisa dituangkan disini.  
Kisah ini berawal dari sebuah pertanyaan dalam diri si kawan. Untuk bisa menjelaskan secara gamblang duduk perkaranya maka saya harus menuliskannya dari mulai awal. Berikut inilah perjalanan kisahnya.

SEBUAH PERTANYAAN

Sekian puluh tahun lampau ia hadir ke muka bumi ini dan semasa kecil ia sering bertanya kepada dirinya sendiri, seperti orang gila, “Dimanakah saya sebenarnya ? Setiap bagian diri saya yang saya tunjuk selalu saja bukan saya melainkan bagian dari diri saya. Ini kaki saya, ini tangan saya, ini kepala saya, lalu saya sebenarnya ada dimana ?” Sekian puluh tahun kemudian mulai timbul pertanyaan, walaupun hanya sebatas berkecamuk dalam pikirannya saja, yang mempertanyakan apa sebenarnya yang harus ia kerjakan di muka bumi ini,

“Apakah hidup ini hanya begini-begini saja ? Apa sebenarnya yang harus saya kerjakan lagi sesudah apa-apa yang saya kerjakan ini” “Sesungguhnya saya dilahirkan ke muka bumi ini untuk apa dan tentunya Allah Ta’ala tidak sekadar begitu saja menciptakan saya dan menaruh saya di muka bumi ini. Kalau memang ada sebuah rencana maka rencana itu apa, ada dimana dan mengapa saya tidak tahu.”

Dan pertanyaannya dari sejak masa kecil juga belum terjawab, “Dimanakah saya sebenarnya atau siapakah saya sebenarnya”

 

- mau melanjutkan membaca … ?


Halaman: 1 2 3

Watak samudera …

Monday, December 15, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 0:39 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika, di sebuah zawiyah, sang Syeikh menasehati murid-muridnya bahwa seseorang hendaknya memiliki watak samudera.

WATAK dan SAMUDERA

Watak, orang jawa menggunakan kata ini sebagai kata lain dari karakter, terutama digunakan oleh orang-tua dalam kesempatan menasehati anak-anaknya. Jadi, “watak” adalah “sesuatu yang menjadi sumber yang mendasar” dari laku-lampah seseorang.

Mengapa harus seperti samudera ? Bukankah samudera adalah lautan yang luas, yang jauh lebih luas dari sebuah danau dan sangat-sangat jauh lebih luas daripada sekadar “baskom” yang untuk cuci tangan.

Gerangan apakah hubungan antara watak seseorang dengan samudera, apakah keluasan dan kelapangan yang dimiliki oleh sebuah samudera ? - mau melanjutkan membaca … ?

Silahkan pilih …

Friday, November 28, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA, MANAJEMEN pk. 15:43 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu hari, ada seseorang yang mendatangi sahabat-sahabatnya yang sedang berkumpul dan berkata: “Aku membawa sebuah proyek untuk sahabat-sahabat kerjakan dan aku akan meminta salah satu dari sahabat-sahabat untuk menjadi pemimpin pekerjaan ini. Aku tidak akan ikut mengerjakannya, tetapi bilamana sahabat-sahabat membutuhkan bantuanku maka silahkan menemuiku, aku akan membantu sahabat-sahabat semampu aku.”

Mereka menjawab: “Baiklah, segera kami akan membentuk sebuah team, membuat perencanaan awal dan dalam seminggu kami akan melaporkan hasilnya.”

Dengan bersegera mereka bermusyawarah, dipimpin oleh orang yang telah bersedia menjadi ketua team, dan menyusun strategi tentang bagaimana cara mengerjakan proyek itu. Beberapa kesepakatan tercapai sudah, namun ada beberapa hal yang masih belum disepakati dan cenderung menjadi sebuah perbedaan pendapat yang cukup keras. - mau melanjutkan membaca … ?

Logika bungkus …

Friday, November 21, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA, MANAJEMEN pk. 4:51 | Anda mau email artikel ini ?

Kita tentunya punya beberapa anakbuah di kantor. Suatu ketika salah satunya yang sedang mengerjakan sebuah proyek, sebagai leader atas penugasan dari kita, dengan klien asing dari luar negeri, dibantu dengan beberapa anakbuah lainnya.

Dalam perjalanannya pelaksanaan pekerjaan itu, suatu ketika kita dilapori oleh si anakbuah bahwa si klien komplain berat kepada perusahaan kita karena persyaratan yang dimintanya tidak bisa dipenuhi oleh team kerja si anakbuah.

Kita berhak memarahi anggota team tetapi kita juga berhak untuk tidak memarahi mereka. Dalam persoalan itu bisa jadi yang salah adalah anakbuah yang menjadi leadernya proyek itu, bisa jadi angota teamnya, bisa jadi juga yang salah adalah kita sendiri karena mengijinkan si klien membuat syarat di luar kontrak kerja atau mungkin kita tidak mencermati kontrak kerjanya sebelum menandatanganinya. Atau bisa jadi sebab-sebab yang lain. Rumit persoalannya.

Kalau pakai analogi sebuah keris, maka itu baru bungkusnya saja atau warangkanya saja dan belum menyentuh persoalan isinya atau bilah kerisnya.

- mau melanjutkan membaca … ?

Petani dadakan …

Tuesday, November 18, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 12:06 | Anda mau email artikel ini ?

Beberapa tahun lampau, negeri kita dilanda krisis multi dimensi ….
Ah itu kan cuma kenangan lama…… Ya, betul.
Dan oleh karenanya kita menjadi wajib mencari tahu ada apa disitu.

Saat itu, banyak diantara kita yang beralih profesi secara mendadak. Tadinya kerja di depan komputer menjadi bos kantor perencana langsung ganti sepatu dan ganti pakaian …….. dan terjun ke kebun, bermain-main dengan pupuk dan bibit tanaman. Sebahagian berhasil, sebahagian lagi hanya balik modal dan sebahagian sisanya malahan buntung.

BERTANI ?

Bayangkan, ada orang yang sehari-harinya naik kendaraan ke kantor dan jarang pergi ke kebun kemudian mendadak harus turun ke lapangan ikut mencangkul bersama buruh-tani, membolak-balik kotoran kuda [yang adalah bahan dasar pupuk kandang] agar cepat matang dan bisa segera ditaburkan ke galangan yang akan di tanami.

- mau melanjutkan membaca … ?

Segitiga Realitas …

Monday, November 10, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 14:30 | Anda mau email artikel ini ?

Rasulullah Saw. pernah menjelaskan bahwasanya dunia ini ibarat sebuah oase, di antara dua padang pasir yang sangat luas, tempat parfa musafir mengambil bekal untuk persiapan perjalanan menempuh padang pasir selanjutnya.

Kita semua tahu bahwa di oase itu kita harus mengumpulkan bekal berupa minuman dan makanan yang secukupnya yang bisa dibawa dalam perjalanan selanjutnya. Ketika singgah di oase itu, yang perlu diketahui adalah apa saja yang bisa dikumpulkan untuk menjadi bekal perjalanan dan untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang jenis buah-buahan yang ada di oase itu, juga airnya dan cara-cara menyimpannya agar bisa dimakan dan diminum sedikit demi sedikit selama perjalanan. Artinya ……, kita membutuhkan pengetahuan tentang oase itu bila hendak menggunakannya sebagai tempat singgah untuk mengambil bekal.

Bagaimana dengan ini ? Dunia adalah tempat singgah, guna mencari bekal untuk perjalanan-panjang yang selanjutnya.
 

- mau melanjutkan membaca … ?

Puas-puasin diri makan es krim …

Thursday, September 11, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:56 | Anda mau email artikel ini ?

Kalau waktu muda seseorang mem-puas-puas-kan dirinya makan es-krim [ atau sebut saja apa lainnya ] …. apakah ada jaminan bahwa nanti di masa dewasanya atau masa tuanya ia dijamin TIDAK PINGIN makan es-krim lagi ?

Whua.. ha.. ha.. ha.. ha.. ha ….. haa haaaa haaaaaa-chiiiiessss … [ lho …. kenapa jadi bersin ]

Rasanya… soal puas atau tidak puas itu adalah perkara hawa nafsu kan ya … jadi selama hawa nafsu masih bergelora maka selama itu pula manusia tidak pernah puas. Dan hawa nafsu itu bagaikan seekor ular, ia hanya tidur dan saat ia tidur kita sering terlena karena menganggapnya sudah jinak…. tetapi WASPADALAH, saat ia bangun maka ia siap menerkam.

Mari kita simak berikut ini :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya An-Nafsi [dalam terjemahan ditulis sebagai: nafsu] itu selalu menyuruh kepada keburukan [as-suu’i, dalam terjemahan ditulis: kejahatan], kecuali An-Nafsi [dalam terjemahan ditulis: nafsu] yang diberi rahmat (yang sudah dirahmati) oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS.[12]:53

Seorang sahabat menerangkan kepada saya, bagaimana seandainya ular itu dipotong-potong kemudian disambung kembali tetapi dengan susunan yang berbeda, ekornya di depan, kepalanya di belakang dan badannya di putar dengan tetap di tengah ….. Ketika "si ular" bangun maka gerakannya menggeliat-geliat maju mundur …. dan ketika itu kita bisa merasakan "aktifitas si ular" dan dari itu kita bisa mewaspadai terkamannya …..

Ah…. seandainya saja kita bisa melakukannya.

Sepertinya kita bisa lho ….. yang kita perlukan hanya mencobanya sambil memohon agar Allah Ta’ala merahmati kita.

Kenali dulu si ular dalam dirimu … !

Es krim hanyalah perumpamaan, di realita kehidupan … banyak yang lainnya.
Hiiiii awas diterkam ular … Sekian dulu ya 11/09/2008.

Sebab dan Akibat …

Sunday, August 24, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di BERANDA pk. 23:07 | Anda mau email artikel ini ?

Ketika Allah SWT memberi ‘Izrail as. tugas mencabut nyawa, sang Malaikat Maut itu berkata, “Ya Rabbku, Engkau telah memberiku tugas yang sangat berat. Hamba-hamba-Mu akan membenciku karenanya.”  

- mau melanjutkan membaca … ?