... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Mahmud dan Ayaz [3]

Wednesday, April 01, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 15:32 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna suatu hari saling berbagi ketimun dengan Ayaz, orang kepercayaannya yang paling setia. Ayaz dengan gembira mulai memakan separo bagian dari ketimun itu, tetapi ketika sang sultan memakan separo bagian miliknya, ketimun itu terasa sangat pahitnya sehingga ia meludahkannya.

"Bagaimana kau dapat memakan ketimun yang sangat pahit ini?" seru sang sultan, "bagiku ia terasa bagaikan racun yang sangat pahit."

"Sultanku yang tercinta," jawab Ayaz, "aku menikmati begitu banyak pertolongan dan bantuan dari Anda sehingga apa pun yang Anda berikan padaku menjadi terasa manis."
 

Bandung, 1 Maret 2009
Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005

Mahmud dan Ayaz [2] …

Friday, March 06, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 16:22 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna, memiliki pegawai kesayangan bernama Ayaz yang karenanya menjadikan seluruh pegawai istana iri-hati. Suatu hari mereka menghadap sultan melaporkan bahwa Ayaz memiliki kebiasaan beristirahat di dalam sebuah ruang rahasia di dalam biliknya dan mengunci diri di dalam. Mereka mencurigai Ayaz menyembunyikan barang berharga hasil curian atau menikmati anggur dan minuman keras disana.

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahmud dan Ayaz [1] …

Thursday, March 05, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 16:14 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud duduk bersama sahabat dekatnya dan para pe­nasihatnya, sembari menikmati minuman dari gelas kristal permata yang sangat indah, salah satu miliknya yang berharga.

Ketika setiap orang mulai mengagumi gelas minuman tersebut, ia menyodorkannya kepada seorang penasihatnya dan berkata, “Jatuhkanlah ke lantai dan pecahkan !” Sang penasihat menjawab, “Aku tidak bisa Sultan. Ia amat sangat ber­harga, dan aku tidak berani merusak salah satu harta kekayaan Anda yang teramat bernilai.”

Sang sultan memberikan gelas minuman tersebut pada masing-masing penasihatnya dengan perintah yang sama, dan ma­sing-masing mereka juga menolak untuk mernecahkannya.

Akhirnya, ia memberikan gelas tersebut kepada Ayaz, sahabat dekatnya yang paling setia. Ayaz segera memecahkannya hingga ber­keping-keping. Orang-orang lainnya terhenyak dan merasa heran.

Ke­tika sang Sultan bertanya padanya, mengapa ia memecahkan gelas minuman tersebut, Ayaz menjawab, “Sultanku, aku tahu bahwa gelas minuman itu berharga, tetapi yang jauh lebih berharga bagiku dari gelas mana pun adalah perintahmu. Aku tidak akan pernah menolak ke­inginan-keinginanmu, sehingga dengan segera aku melakukan apa yang engkau perintahkan.”

Sang Sultan tersenyum dan berkata, “Lihatlah me­ngapa aku mencintai dan mengasihinya."

 

[kisah ini berasal dari Jalaluddin Rumi - Matsnawi Buku V bait 4035 – silahkan lihat di link-ini]
[Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005]

Pelajar dan Pengamal …

Tuesday, March 03, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 18:17 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.

- mau melanjutkan membaca … ?

Uji keihsanan …

Sunday, March 01, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 17:47 | Anda mau email artikel ini ?

Syekh Junayd memiliki seorang darwins muda yang sangat ia cintai. Darwins Junayd lainnya, yang lebih senior, menjadi iri. Suatu hari, Junayd menyuruh darwisnya untuk membeli seekor ayam. Masing-masing disuruh menyembelih ayam itu di tempat yang tak ada siapapun bisa melihatnya. Apapun yang mereka lakukan, mereka harus kembali paling lambat saat matahari terbenam.

- mau melanjutkan membaca … ?

Saling cinta dan hormat …

Saturday, February 28, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KISAH para DARWIS pk. 16:51 | Anda mau email artikel ini ?

Setelah beberapa tahun, salah satu tarekat sufi kian menyusut. Yang tersisa hanyalah seorang syekh dan tiga orang darwisnya. Mereka tinggal di pondokan tarekat tersebut, menghabiskan waktu mereka untuk berdoa, merenung dan mengelola tanah perkebunan mereka. Keempat pria tersebut beranjak tua, mereka menjadi cemas bahwa tradisi mereka yang berharga ini akan lenyap bersama mereka.

Salah seorang darwis menyarankan agar sang syekh mengunjungi seorang rahib Yahudi setempat yang juga dikenal sebagai sosok yang amat bijaksana. “Ia juga seorang guru spiritual,” jelas sang darwis, “dan saya yakin, ia juga pernah dihadapkan kepada persoalan yang serupa.” Sang Syekh kemudian mengunjungi rahib tersebut. Sambil minum teh bersama, ia menceritakan persoalannya kepada sang rahib. Sang Rahib tersenyum dan berkata, “Aku pun memiliki permasalahan serupa. Saya sungguh tidak tahu bagaimana menarik generasi muda dari komunitas saya sendiri. Namun aku dapat memberitahu anda satu hal: Dalam suatu perenunganku, ditampakkan padaku bahwa salah satu dari kalian adalah quthb zaman.”

- mau melanjutkan membaca … ?