... Beranda Suluk ...
... Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf ...




 

Mahmud dan Ayaz [3]

Wednesday, April 01, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 15:32 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna suatu hari saling berbagi ketimun dengan Ayaz, orang kepercayaannya yang paling setia. Ayaz dengan gembira mulai memakan separo bagian dari ketimun itu, tetapi ketika sang sultan memakan separo bagian miliknya, ketimun itu terasa sangat pahitnya sehingga ia meludahkannya.

"Bagaimana kau dapat memakan ketimun yang sangat pahit ini?" seru sang sultan, "bagiku ia terasa bagaikan racun yang sangat pahit."

"Sultanku yang tercinta," jawab Ayaz, "aku menikmati begitu banyak pertolongan dan bantuan dari Anda sehingga apa pun yang Anda berikan padaku menjadi terasa manis."
 

Bandung, 1 Maret 2009
Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005

Dua orang seniman …

Saturday, March 07, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 5:29 | Anda mau email artikel ini ?

Suatu ketika dihadapan sang Sultan, dua orang seniman berselisih faham tentang siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Dan untuk menyelesaikan perselisihan itu, Sultan kemudian menyediakan untuk masing-masing dari mereka sebuah rumah untuk di warnai.

Seniman Pertama menggunakan semua jenis cat yang tersedia dan kemudian menghiasi rumah itu dengan grafis warna-warni yang tingkat kerumitannya sangat tinggi.

Seniman Kedua, sebaliknya tidak menggunakan bahan cat apapun, ia lebih senang membersihkan dinding-dindingnya dari segala kotoran, membuatnya menjadi sehalus mungkin serta memolesnya hingga semengkilap mungkin.

Ketika kedua rumah tersebut diajukan untuk diperiksa oleh sultan, hasil karya seniman Pertama mengundang decak kagum siapapun yang menyaksikannya, sangat menakjubkan; akan tetapi rumah yang disiapkan oleh seniman Kedua menjadi pilihan sang Sultan oleh sebab warna-warni yang ditampilkan oleh rumah pertama dan alam sekitarnya terpantulkan secara sangat indah pada dinding-dinding rumah kedua dalam berbagai lapisan dan gradasi bayangan dan warna yang seakan tiada ujung dan akhiran.

 

Bandung - 05/Maret/2009 Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi, Book I – Story XIV.1 [Abridged and Translated by E.H. Whinfield (1898) … Alih bahasa oleh wiwin.wr @2009]

Mahmud dan Ayaz [2] …

Friday, March 06, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 16:22 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud dari Ghazna, memiliki pegawai kesayangan bernama Ayaz yang karenanya menjadikan seluruh pegawai istana iri-hati. Suatu hari mereka menghadap sultan melaporkan bahwa Ayaz memiliki kebiasaan beristirahat di dalam sebuah ruang rahasia di dalam biliknya dan mengunci diri di dalam. Mereka mencurigai Ayaz menyembunyikan barang berharga hasil curian atau menikmati anggur dan minuman keras disana.

- mau melanjutkan membaca … ?

Mahmud dan Ayaz [1] …

Thursday, March 05, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, KISAH para DARWIS pk. 16:14 | Anda mau email artikel ini ?

Sultan Mahmud duduk bersama sahabat dekatnya dan para pe­nasihatnya, sembari menikmati minuman dari gelas kristal permata yang sangat indah, salah satu miliknya yang berharga.

Ketika setiap orang mulai mengagumi gelas minuman tersebut, ia menyodorkannya kepada seorang penasihatnya dan berkata, “Jatuhkanlah ke lantai dan pecahkan !” Sang penasihat menjawab, “Aku tidak bisa Sultan. Ia amat sangat ber­harga, dan aku tidak berani merusak salah satu harta kekayaan Anda yang teramat bernilai.”

Sang sultan memberikan gelas minuman tersebut pada masing-masing penasihatnya dengan perintah yang sama, dan ma­sing-masing mereka juga menolak untuk mernecahkannya.

Akhirnya, ia memberikan gelas tersebut kepada Ayaz, sahabat dekatnya yang paling setia. Ayaz segera memecahkannya hingga ber­keping-keping. Orang-orang lainnya terhenyak dan merasa heran.

Ke­tika sang Sultan bertanya padanya, mengapa ia memecahkan gelas minuman tersebut, Ayaz menjawab, “Sultanku, aku tahu bahwa gelas minuman itu berharga, tetapi yang jauh lebih berharga bagiku dari gelas mana pun adalah perintahmu. Aku tidak akan pernah menolak ke­inginan-keinginanmu, sehingga dengan segera aku melakukan apa yang engkau perintahkan.”

Sang Sultan tersenyum dan berkata, “Lihatlah me­ngapa aku mencintai dan mengasihinya."

 

[kisah ini berasal dari Jalaluddin Rumi - Matsnawi Buku V bait 4035 – silahkan lihat di link-ini]
[Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri & Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005]

Pemain Kecapi …

Friday, February 13, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI, BELAJAR dari SUFI pk. 17:54 | Anda mau email artikel ini ?

JUDUL ASLI: The HARPIST

Syahdan disaat Khalifah ke-dua Umar bin Khattab ra. memerintah, hiduplah seorang musikus, ia seorang yang pandai memetik kecapi lagi merdu suaranya bagai lantunan suara Izrafil as. Ia selalu disewa untuk memeriahkan suasana di setiap pesta keriaan.

Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tua dan suaranya tidak lagi merdu sampai akhirnya tidak ada seorangpun yang menyewanya untuk memeriahkan pesta-pesta keriaan mereka.

Dalam keputus-asaannya ia pergi ke tanah-pemakaman di Yatsrib dan memetik kecapi-nya untuk Tuhan, mencari-Nya untuk berterima-kasih kepada-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya kepadanya. Seusai memainkan lagunya ia pun terlelap dan bermimpi bahwa ia sedang berada di surga.

Di malam yang sama muncul bisikan ilaahiyyah kepada Umar bin Khattab ra.  yang menyuruhnya untuk pergi ke tanah-pemakaman dan menolong seseorang yang sudah tua yang akan ditemuinya disana.

Umar ra. pun bergegas kesana dan mendapati musikus itu dan memberinya uang. Serta menjanjikan untuk memberinya lagi bilamana ia membutuhkan.

Orang itu kemudian melemparkan kecapinya dan mengatakan bahwa kecapi itulah yang menjadikannya terhijab dari Tuhan dan ia pun kemudian menyatakan rasa bersalahnya yang mendalam atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya di waktu lampau.

Umar ra. kemudian menjelaskan bahwa perjalanan-duniawi-nya sekarang sudah berakhir. Dan ia tidak boleh membiarkan dirinya bersedih atas apa-apa yang terjadi di masa lampau sebagaimana saat ini ia sudah masuk ke dalam suasana yang penuh dengan kemurnian dan kecintaan akan penyatuan dengan Tuhan. Dan di dalam tingkatan yang penuh kemuliaan itu, perhatian kepada hal-hal di masa lampau dan di masa yang akan datang harus disingkirkan jauh-jauh.

Pemain Kecapi itu menjalani pelajaran yang diterimanya dan ia tidak lagi mengamen.

 

Bandung - 12/02/2009
Source:
MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi,
Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898
- Story VIII.1 The Harper - alih bahasa oleh wiwin.wr

Saudagar dan kakatua pintar …

Wednesday, February 11, 2009, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 16:42 | Anda mau email artikel ini ?

Syahdan ada seorang saudagar yang memelihara seekor burung Kakatua. Burung itu ditempatkannya dalam sebuah sangkar.

Ketika ia hendak bepergian untuk berdagang ke Hindustan, dia bertanya kepada si burung Kakatua apakah ada pesan-pesan yang hendak dititipkan untuk disampaikan kepada sanak saudaranya di Hindustan.

Kakatua itu menginginkan agar saudagar itu mengatakan kepada sanak saudaranya disana bahwa ia hidup dalam sebuah sangkar. Saudagar itupun berjanji akan menyampaikan pesan tersebut.

Ketika ia sampai di Hindustan, disampaikannya pesan itu kepada kumpulan burung Kakatua yang pertama kali dijumpainya.

Demi mendengar pesan itu, seekor kakatua langsung jatuh tergeletak mati. Hal itu membuat si saudagar sangat jengkel kepada burung kakatuanya yang telah mengirimkan pesan semacam itu. Sepulangnya ke rumah ia segera memarahi kakatuanya dengan keras karena telah mengirimkan pesan yang semacam itu. Segera setelah mendengar cerita dari saudagar itu maka kakatua itupun jatuh dan tergeletak dalam sangkarnya, mati.

Saudagar itu, selepas meratapi kematian kakatuanya, mengambil bangkai burung itu dan kemudian membuangnya.

Anehnya, mendadak bangkai itu bangkit lagi dan terbang pergi menjauh. Kakatua itu telah mengikuti pesan yang ditunjukkan oleh sanak saudaranya di Hindustan agar ia menjalani laku seakan-akan mati untuk bisa terbebas dari kurungannya.
 

Jadi bilamana sahabat juga ingin keluar dari sangkar ragawi yang cinta dunia ini maka dengan tindak laku seakan-akan mati adalah jalannya ….

 

Bandung - 11/02/2009
Source:
MATSNAWI, The Spiritual Couplets of  Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi,
Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898
- Story VII.1 - alih bahasa oleh wiwin.wr
[Parrot lebih dikenal sebagai burung Betet atau burung Nuri, saya memilih Kakatua sebagaiu gantinya]

Kisah Beo botak …

Saturday, August 23, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 0:32 | Anda mau email artikel ini ?

Sebuah kisah tentang seekor burung beo yang pandai berbicara:

Seorang pedagang minyak sangat menyukai burung beo peliharaannya karena kepandaiannya mengoceh dan kebisaannya menjaga kiosnya ketika ia sedang keluar.

Suatu hari, ketika si beo sedang sendirian di kios, seekor kucing menjatuhkan sebuah toples minyak. Ketika si pedagang kembali ke kiosnya dia menyangka bahwa si beo yang menjatuhkan toples itu. Karena marah dihantamnya kepala si beo berulang-ulang sampai bulu-bulu di kepalanya tercerabut. Sang beo pun kelenger dan kehilangan kemampuannya berbicara sampai beberapa hari saking shocknya.

Dan pada suatu hari kemudian, si beo melihat ada seorang tua yang botak berjalan melewati kios. Mendadak si beo bisa berbicara lagi, dengan bersemangat ia berteriak, ”Hai orangtua, toples minyak siapa yang engkau tumpahkan ?

Orangtua itu tersenyum. Si beo tidak tahu bahwa kebotakannya adalah karena usianya, bukan tercerabut karena dipukuli kepalanya.

.: Makanya …! Jangan suka nyama-nyamain.

Bandung - 08/08/08 [Alih bahasa oleh wiwin.wr dengan sedikit kreasi]

Buncis dalam periuk …

Thursday, July 31, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:56 | Anda mau email artikel ini ?

Lihatlah buncis dalam periuk.
Betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan,
merintih terus menerus tiada henti.
Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?
Engkau membeliku: Mengapa kini kau siksa aku seperti ini ?

Sang Isteri memukulnya dengan penyendok.

“Sekarang,” katanya, “jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencian-ku, sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup: kesengsaraan bukanlah penghinaan.

- mau melanjutkan membaca … ?

Demi sebuah tugas …

Wednesday, July 30, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 15:39 | Anda mau email artikel ini ?

Seseorang berkata: “Ada sesuatu yang telah aku lupakan !”

Rumi's Divine Dance, Sema - Whirling DervishesRumi menjawab: Ada sesuatu di dunia yang tidak boleh dilupakan. Jika kamu melupakan semua yang lain tetapi tidak melupakan yang satu itu maka kamu tidak perlu cemas. Tetapi jika melakukan dan mengingat segala yang lain tetapi melupakan yang satu itu maka kamu sesungguhnya tidak melakukan apapun yang berharga.

Ibaratnya ketika seorang raja mengirimmu ke suatu negeri untuk menjalankan sebuah tugas khusus. Jika kamu pergi dan menyelesaikan seratus tugas lain namun lupa melakukan tugas yang khusus itu maka ini seolah-olah kamu tidak melakukan apa-apa.

Jadi…., setiap orang memasuki dunia ini demi sebuah tugas khusus dan itulah tujuan mereka…. Jika mereka tidak melaksanakannya maka mereka sesungguhnya mereka tidak melakukan apa-apa….”

Segala sesuatu dibebani sebuah tugas … !

- mau melanjutkan membaca … ?

Tetap ingkar …

Tuesday, July 29, 2008, posting oleh wiwin.wr
Disimpan di KIDUNG RUMI pk. 18:27 | Anda mau email artikel ini ?

Rumi berkata,

Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “
Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur …
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar ….
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang …..
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang ……
Keajaibannya tak terlukiskan: Mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini ?

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorangpun diantara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa-nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa …

Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina. Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.

Maulana Jalaluddin Rumi – Matsnawi III, 53

[sumber: Ajaran dan Pengalaman Sufi – Maulana Jalaluddin Rumi, terjemahan dari Reynold A Nicholson, cetakan Pustaka Firdaus 1996]

- mau melanjutkan membaca … ?