JUDUL ASLI: The HARPIST
Syahdan disaat Khalifah ke-dua Umar bin Khattab ra. memerintah, hiduplah seorang musikus, ia seorang yang pandai memetik kecapi lagi merdu suaranya bagai lantunan suara Izrafil as. Ia selalu disewa untuk memeriahkan suasana di setiap pesta keriaan.
Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun semakin tua dan suaranya tidak lagi merdu sampai akhirnya tidak ada seorangpun yang menyewanya untuk memeriahkan pesta-pesta keriaan mereka.
Dalam keputus-asaannya ia pergi ke tanah-pemakaman di Yatsrib dan memetik kecapi-nya untuk Tuhan, mencari-Nya untuk berterima-kasih kepada-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya kepadanya. Seusai memainkan lagunya ia pun terlelap dan bermimpi bahwa ia sedang berada di surga.
Di malam yang sama muncul bisikan ilaahiyyah kepada Umar bin Khattab ra. yang menyuruhnya untuk pergi ke tanah-pemakaman dan menolong seseorang yang sudah tua yang akan ditemuinya disana.
Umar ra. pun bergegas kesana dan mendapati musikus itu dan memberinya uang. Serta menjanjikan untuk memberinya lagi bilamana ia membutuhkan.
Orang itu kemudian melemparkan kecapinya dan mengatakan bahwa kecapi itulah yang menjadikannya terhijab dari Tuhan dan ia pun kemudian menyatakan rasa bersalahnya yang mendalam atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya di waktu lampau.
Umar ra. kemudian menjelaskan bahwa perjalanan-duniawi-nya sekarang sudah berakhir. Dan ia tidak boleh membiarkan dirinya bersedih atas apa-apa yang terjadi di masa lampau sebagaimana saat ini ia sudah masuk ke dalam suasana yang penuh dengan kemurnian dan kecintaan akan penyatuan dengan Tuhan. Dan di dalam tingkatan yang penuh kemuliaan itu, perhatian kepada hal-hal di masa lampau dan di masa yang akan datang harus disingkirkan jauh-jauh.
Pemain Kecapi itu menjalani pelajaran yang diterimanya dan ia tidak lagi mengamen.
Bandung - 12/02/2009
Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of Maulana Jalalu-’d-diin Muhammad Rumi,
Book I - Abridged and Translated by E.H. Whinfield 1898 - Story VIII.1 The Harper - alih bahasa oleh wiwin.wr