<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Beranda Suluk</title>
	<link>http://berandasuluk.blogsome.com</link>
	<description>Suluk - Beranda - Serambi - Anekdot - Kisah Klasik - Sufisme - Tasawuf</description>
	<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 15:07:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Nasruddin kondangan &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/19/nasruddin-kondangan/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/19/nasruddin-kondangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 07:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>ANEKDOT</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/19/nasruddin-kondangan/</guid>
		<description><![CDATA[	Suatu hari Nasruddin diundang ke sebuah kondangan.  
	Ia pun datang ke kondangan itu. Namun ia tidak diijinkan masuk oleh petugas karena dianggap pakaiannya tidak layak, jubahnya kurem. Maka ia segera kembali ke rumahnya dan menganti pakaiannya dengan pakaian terbaik yang dimilikinya. 
	Segera ia kembali ke pesta itu.  Ketika ia masuk, si penyelenggara kondangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left">Suatu hari Nasruddin diundang ke sebuah kondangan.  </p>
	<p align="left">Ia pun datang ke kondangan itu. Namun ia tidak diijinkan masuk oleh petugas karena dianggap pakaiannya tidak layak, jubahnya kurem. Maka ia segera kembali ke rumahnya dan menganti pakaiannya dengan pakaian terbaik yang dimilikinya. </p>
	<p align="left">Segera ia kembali ke pesta itu.  Ketika ia masuk, si penyelenggara kondangan segera menghampirinya, menyambutnya dan menyampaikan rasa hormatnya atas kesediaan Nasruddin hadir di pesta itu, bahkan menemaninya berjalan masuk dan mempersilahkan Nasruddin duduk di sisi kepala-meja perjamuan.  </p>
	<div align="left">
<blockquote>
<p><font color="#ccffff">Ketika makanan dihidangkan, Nasruddin mengambil sup dengan sendoknya dan menuangkannya ke bajunya dan berkata, &ldquo;Makanlah wahai jubahku, makanlah ! Ini jelas sekali bahwa pada hari ini engkaulah tamu kehormatan yang sesungguhnya, dan itu bukanlah aku.&rdquo;</font></p>
</blockquote>
</div>
	<p align="left">&nbsp;</p>
	<p align="left"><font color="#999900">Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, interpretasi dan alih-bahasa oleh wiwin.wr &copy;2009</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/19/nasruddin-kondangan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>de matrix</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/04/artificial-reality-matrix-dunia/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/04/artificial-reality-matrix-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 20:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>BERANDA</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/04/artificial-reality-matrix-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[	Di film The Matrix, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu &#8216;kenyataan&#8217; (reality).   
	Bila yang dimaksudkan dengan &#8216;kenyataan&#8217; (reality) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="left">Di film <font color="#ff9900"><em>The Matrix</em></font>, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu &#8216;kenyataan&#8217; (<em>reality</em>).   </div>
	<blockquote><p align="left"><font color="#ccccff">Bila yang dimaksudkan dengan &#8216;kenyataan&#8217; (<em>reality</em>) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata maka yang dimaksud dengan &#8216;kenyataan&#8217; (<em>reality</em>) tidak lain hanya sekadar impuls-impuls elektrik yang diinterpretasikan oleh akal-pikiran manusia (<em>human-mind</em>). Sebab itu bagi mereka, yang dianggap sebagai &#8216;kenyataan&#8217; (<em>reality</em>) adalah dunia-matriks</font> (<font color="#ff9900"><em>the matrix&#8217;s world</em></font>) <font color="#ccccff">yang melingkupinya karena hanya itu yang bisa ditangkap oleh otak mereka</font>.<font color="#cc9900"> </font></p></blockquote>
	<div align="left">    </div>
	<blockquote><p align="left"><font color="#ccccff">Tidak lebih dari itu !</font></p></blockquote>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Hmm, apa mau dikata &hellip;</p>
	<p align="left"><font color="#999900">Bandung, 31 Oktober 2007&nbsp;</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/11/04/artificial-reality-matrix-dunia/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bioskop &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/10/29/bioskop-layar-tancap/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/10/29/bioskop-layar-tancap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 07:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>BERANDA</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/10/29/bioskop-layar-tancap/</guid>
		<description><![CDATA[	Kawan-kawan &#8230; Mari berandai-andai sebentar untuk menghilangkan penat di raga ini.
	    
	Istilah &quot;bioskop&quot; sudah jarang dipakai. Sekarang istilahnya diganti dengan &quot;sinema&quot; atau &quot;teater&quot; atau &quot;sinema-multipleks&quot;. Bahkan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan kita bisa nonton bioskop di rumah sendiri. Perbedaannya kalau disebut bioskop maka selalu ada pita seluloid atau filem yang disorot lampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left">Kawan-kawan &#8230; Mari berandai-andai sebentar untuk menghilangkan penat di raga ini.</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Istilah &quot;bioskop&quot; sudah jarang dipakai. Sekarang istilahnya diganti dengan &quot;sinema&quot; atau &quot;teater&quot; atau &quot;sinema-multipleks&quot;. Bahkan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan kita bisa nonton bioskop di rumah sendiri. Perbedaannya kalau disebut bioskop maka selalu ada pita seluloid atau filem yang disorot lampu sedangkan yang di rumah-rumah menggunakan cakram video. Bagi yang pernah nonton bioskop pasti tahu bahwa selalu ada petugas yang bekerja memasang pita seluloid filem ke mesin pemutarnya, menjaganya dan menyalakan lampu proyektornya tepat saat jam putar filem dimulai seperti yang tertera di tiket.</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Selama pemutaran filem, semua penonton tenggelam dalam lamunannya dibantu dengan gemuruhnya tata suara ruangan. Terpaku di kursinya menikmati gambar dua dimensi yang terpampang di layar besar sambil ngemil kacang-bogor. Gerakan pita seluloid di proyektor sama sekali tidak menjadi perhatian penonton. Tetapi bisa dibayangkan seandainya pitanya putus, kontan penonton bakal berteriak, </p>
	<blockquote><p align="left">&quot;<strong><font color="#cc9900">Pelemnya putus hoii, hoooooiiii&#8230; Auwooo&#8230;.</font></strong> &quot; dll. </p></blockquote>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Betapa rapuhnya bayangan yang ada di layar, ia bisa hilang kapan saja. Menjadi tidak bernilai apa-apa manakala tidak ada gambar yang diproyeksikan disitu. Gambarnya pun juga harus bergerak-gerak dan ada suaranya. Apa jadinya sebuah bioskop kalau tanpa semua itu.</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Dari satu sudut pandang, hal itu sama seperti kehidupan kita di dunia ini. Kita masih ada dan akan selalu dikatakan &#8216;<em>ada</em>&#8216; ketika tubuh kita masih bisa digerakan, bisa dilihat atau bisa disentuh. Masih &quot;<em>eksis</em>&quot; istilahnya. Kemudian ketika nafas terhenti maka statusnya berubah dari &#8216;<em>ada</em>&#8216; menjadi &#8216;<em>sudah tidak ada</em>&#8216;. Seperti bayangan dalam perumpamaan filem tadi, selama gulungan seluloid filem masih berputar dan menayangkan gambar-gambar secara berkesambungan 12 frame per detik maka tontonannya masih ada. Padahal sebetulnya gambar di layar besar itu tidak nyata karena ia bergantung kepada sesuatu yang lain yang lebih tinggi nilainya. Bukankah harga pita filem seluloid atau sebuah cakram cd/dvd original atau bluray sebuah film jauh lebih mahal ketimbang harga pemutarannya di bioskop. Umurnya pun lebih lama. Kalau yang di layar besar paling lama 2 sampai 3 jam maka pita seluloid atau cakram umurnya jauh lebih lama daripada itu. Bisa bertahun-tahun kalau penyimpanannya bagus. Itulah nilai yang sesungguhnya. Yang justru tidak bisa dinikmati kalau tidak punya alat proyeksinya.</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Esensi dari sebuah pemutaran filem di bioskop ataupun di rumah-rumah dengan home-theater adalah filemnya. Dan esensi dari filemnya adalah jalan-cerita dari filem itu. Karya seni dari sang Sutradara dan crewnya. Proyeksi dari karya itu adalah apa-apa yang kita lihat di layar, yang &#8216;<em>menjadi seakan-akan paling nyata</em>&#8216; bagi kita pada saat menontonnya. Akibatnya yang lain-lain &#8216;<em>menjadi tidak nyata</em>&#8216;.</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Kehidupan manusia juga seperti itu, selama menjadi bayangan maka ia akan &#8216;<em>ada</em>&#8216; dan ketika waktu pemutarannya selesai maka kembali &#8216;<em>tidak ada</em>&#8216;. Tidak hanya manusia, semua makhluk di dunia kita yang sekarang ini juga seperti itu. Hanya &#8216;<em>ada</em>&#8216; selama jam tayangnya saja. Itupun juga merupakan sebuah proyeksi saja. Kehidupan ini hanya bayangan dari sesuatu kehidupan lain yang berada di alam yang di atasnya, yang seumpama pita seluloid yang di bioskop tadi. Yang berada di alam yang lebih tinggi, yang lebih halus dan sebenarnya lebih nyata dari alam dunia kita sekarang ini. Manakala jam pertunjukan usai, esensi dari individu manusia itu tidak menghilang, ia masih ada, hanya saja ia berpindah kehidupan ke alam lain. Melanjutkan perjalanan hidupnya di dunianya yang baru &hellip; saat kiamat terjadi, barulah ia mati betulan.</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Hmm.. <font color="#00ffff">jadi inget nonton layar tancap sambil mbawa</font> <font color="#333300">&#8230;&#8230; payung.</font> </p>
	<p align="left"><font color="#cccc00">Bandung, 29 Oktober 2009</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/10/29/bioskop-layar-tancap/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Dabbah yang berjalan &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/07/03/konsepsi-dabbah-berjalan-di-muka-bumi/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/07/03/konsepsi-dabbah-berjalan-di-muka-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 17:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>KAJIAN</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/07/03/konsepsi-dabbah-berjalan-di-muka-bumi/</guid>
		<description><![CDATA[	SECARA BAHASA
	  
	  
	Dabbah adalah makhluk yang melata di muka bumi oleh sebab itu secara bahasa dinisbatkan kepada hewan atau binatang-binatang.        
	  
	  
	Dalam bahasa Arab [1], kata dabbah digunakan untuk menjelaskan tentang makhluk yang hidup melata di muka bumi. Dan Al Quran meluaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">SECARA BAHASA</font></p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Dabbah adalah makhluk yang melata di muka bumi oleh sebab itu secara bahasa dinisbatkan kepada hewan atau binatang-binatang.        </p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Dalam bahasa Arab <font color="#999900">[1]</font>, kata dabbah digunakan untuk menjelaskan tentang makhluk yang hidup melata di muka bumi. Dan Al Quran meluaskan pengertiannya dengan adanya ayat yang tersirat di dalamnya bahwa dabbah meliputi semua makhluk yang hidup di muka bumi ; baik yang hidup dan bersarang di dalam tanah atau di dalam air, yang hidup dan bersarang di atas tanah yang dalam hal ini mencakup manusia, dan yang hidup maupun bersarang jauh di atas tanah yakni yang hidup di pohon-pohon dan/atau yang memiliki kemampuan untuk terbang ke angkasa seperti nyamuk, lebah dan burung-burung.    </p>
	<div align="left">  </div>
 <a id="more-105"></a><br />
<div align="left">
<blockquote>QS.[8]:22 &#8230; Sesungguhnya <em>dabbah</em> yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun [<em>laa ya&#8217;qiluun</em>].<br />       </blockquote>
      </div>
	<div align="left">
<blockquote>QS.[8]:55 &#8230; Sesungguhnya <em>dabbah</em> yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman [<em>laa yu&#8217;minuun</em>].</blockquote>
     </div>
	<div align="left">
<blockquote>QS.[24]:45 &#8230; Dan Allah telah menciptakan semua <em>dabbah</em> [<em>kulli daabbatin</em>, segala jenis hewan] dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</blockquote>
      </div>
	<blockquote><div align="left"> </div></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">&quot;<strong><em>dabbah</em></strong>&quot; yang secara bahasa artinya adalah makhluk yang melata di muka bumi, dalam pengertian di atas menunjukkan bahwa manusia&nbsp; juga termasuk sebagai dabbah di muka bumi. Keadaan ini diperkuat lagi oleh ayat yang menjelaskan bahwa dabbah ada yang berjalan dengan dua kaki dan empat kaki.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Artinya, manusia termasuk kategori dabbah secara fisik di muka bumi ini dan secara maqomat-nya di sisi Allah Ta&#8217;ala. Namun, secara maqomat, manusia bisa lebih rendah atau setingkat atau lebih tinggi daripada hewan-hewan melata tersebut. </p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal"><strong><font color="#cc3300">KONSEP DABBAH dan BERJALANNYA DABBAH DI MUKA BUMI</font></strong> &#8230;</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Lebih lagi, penjelasan tentang maqomat insaan juga jelas Allah Ta&#8217;ala tampilkan pada ayat di atas, yakni tentang maqomat keimanan berkenaan dengan seburuk-buruk dabbah adalah yang <em><strong>laa ya&#8217;qiluun</strong></em> dan <strong><em>laa yu&#8217;minuun</em></strong> [tidak berakal dan tidak beriman]. Dengan demikian kedua hal itu [<em>`aqlun</em> dan <em>imaan</em>] adalah yang membedakan antara manusia dengan hewan.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">KECERDASAN HATI </font>..&nbsp; [ <em>`aql</em> : dimulai dari tingkatan <em>fu`ad</em> adalah kecerdasan <em>qalb-insaan</em>]</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Bilamana insaan tidak memiliki atau tidak menggunakan potensinya untuk meraih kedua hal itu [iman dan &#8216;aqlun] maka insaan itu tidak lain sama seperti hewan atau lebih rendah dari pada itu. Sebagaimana ayat berikut ini :</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">
<blockquote>QS.[7]:179 &#8230;&nbsp; Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) [<strong><em>lahum quluubun laa yaf-qohuuna bihaa</em></strong>] dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai [<em>al ghoofiluun</em>].    </p></blockquote>
	<blockquote><p> QS.[22]:46 &#8230;. lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami [<strong><em>lahum quluubun laa ya`qiluuna bihaa</em></strong>] atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada [<strong><em>qulubu-latiy fii-sh-shudur</em></strong>].    </p></blockquote>
	<blockquote><p> QS.[10]:100 &#8230;. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan [<em>yaj`alu-r-rijsa</em>] kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya [<strong><em>laa ya`qiluun</em></strong>].</blockquote>
    </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Berawal dari persoalan dabbah, persoalan berkembang kepada suatu pengungkapan bahwa potensi yang dimiliki oleh manusia untuk menggapai maqomat yang lebih tinggi daripada sekadar hewan atau binatang melata adalah dengan beriman dan berpengetahuan [ faqih] kemudian ber-&#8217;aql. Semua hal tersebut hanya bisa dilakukan manusia melalui sebuah perangkat yang Allah Ta&#8217;ala telah siapkan dalam dirinya yakni qalb sebagaimana QS.[7]:179 di atas.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[16]:78 &#8230;. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati [<em>af`idah</em>], agar kamu bersyukur.</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[32]:9 &#8230;. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati [<em>af`idah</em>] (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. </p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;<br />    <font color="#cc9900">ADAKALANYA POTENSI ITU DICABUT</font> ..</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Ada beberapa hal atau keadaan yang dapat menjadikan seorang manusia kehilangan potensi yang telah Allah Ta&#8217;ala sediakan dalam dirinya. Hilangnya potensi itu karena tutupan yang Allah Ta&#8217;ala pasangkan dan kunci-matikan pada potensi-potensi itu.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[2]:7 &#8230;. Allah telah mengunci-mati hati mereka [<em>khotama-lLaahu alaa quluubihim</em>] dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[6]:46&nbsp; &#8230;.&nbsp; Katakanlah: &quot;Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu [<em>khotama alaa quluubi-kum</em>], siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu ?&quot; &#8230;..</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[46]:26 &#8230;. Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka [<em>af`idatahum</em>] itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Apa yang menyebabkan potensi-potensi tersebut semakin menipis dan akhirnya hilang sama sekali ? Kita perhatikan berikut ini.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[16]:107 &#8230;. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[16]:108 &#8230;. Mereka itulah orang-orang yang hati [<em>thoba`a-lLaahu alaa quluubi-him</em>], pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah <em>al ghoofiluun</em> [orang-orang yang lalai].</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Demikianlah, manakala cinta kepada kehidupan dunia melebihi dari akhirat maka potensi yang dimiliki yang menjadi modal dasar untuk berjalan di kehidupan ini akan hilang.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">BERJALAN DI MUKA BUMI </font>..</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Cara berjalan di muka bumi, ada yang dengan dua kaki atau empat kaki atau bahkan ada yang berjalan dengan perutnya sebagaimana yang sudah kita ketahui di atas. Yang harus manusia&nbsp; lakukan di muka bumi ini adalah berjalan agar dengan itu ia bisa mempunyai hati yang bisa dipergunakannya untuk berakal.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[22]:46 &#8230;. maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami [<strong><em>lahum quluubun laa ya`qiluuna bihaa</em></strong>] &#8230;.</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">BERSYUKUR ITU MEMERLUKAN KECERDASAN HATI </font>..</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Untuk dapat bersyukur, insaan memerlukan pendengaran, penglihatan dan kecerdasan hati [<em>af&#8217;idah</em>]<font color="#999900">[2]</font>. Ketiga perangkat ini, semuanya adalah perangkat di hati manusia, adalah modal dasar dari Allah Ta&#8217;ala bagi setiap manusia yang diberikan-Nya ketika manusia dilahirkan dan berguna untuk manusia berjalan di muka bumi ini. Manakala ketiga perangkat itu dipergunakannya secara aktif maka seorang insaan akan beranjak menuju ke maqom syukur.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[32]:9 &#8230;. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran [<em>as-sam`a</em>], penglihatan [<em>al-abshoor</em>] dan hati [<em>al-af`idah</em>]; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. </p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[23]:78 &#8230;. Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati [<em>al-af`idah</em>]. Amat sedikitlah kamu bersyukur</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[67]:23 &#8230;. Katakanlah: &quot;Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati [<em>al-af`idah</em>].&quot; (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[17]:36 &#8230;. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati [<em>fu`ad</em>], semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">MENGIKUTI / MEMPERTUHANKAN HAWA-NAFSU, CINTA-DUNIA</font> ..</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Dua hal tersebut di atas, yakni mempertuhankan hawa-nafsu dan/atau cinta dunia yang lebih daripada akhirat akan menjadikan seorang manusia yang tadinya atau yang defaultnya adalah memiliki pendengaran, penglihatan dan af&#8217;idah menjadi ditutup ketiga-tiganya sehigga menjadi tidak memilikinya.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[45]:23 &#8230;. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[25]:43 &#8230;. Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ?, </p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[25]:44 &#8230;. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar [<em>yasma`uuna</em>] atau memahami [<em>ya`qiluuna</em>]. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). </p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">RENUNGAN</font> ..</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Persoalan dabbah juga menyangkut tentang ubun-ubunnya yang dipegang Allah Ta&#8217;ala.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">QS.[11]:56 &#8230;. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Rabb-ku dan Rabb-mu. Tidak ada suatu dabbah pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabb-ku di atas jalan yang lurus [<em>inna Rabbiyy alaa shirothim-mustaqiim</em>] &#8230;</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Kita patut merenungkan, bukan hanya sekadar patut tetapi kita harus dan menjadi kewajiban bagi kita untuk membuka pendengaran dan penglihatan, agar tidak menjadi tuli, bisu dan buta yang menjadikan kita tidak akan ber-<em>`aql</em> agar dan tidak bisa kembali [<em>laa yar-ji&#8217;un</em>]. Itulah esensi dari dabbah yang berjalan di muka bumi ini dan dabbah itu adalah diri kita sendiri.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">
<blockquote>QS.[2]:18 &#8230;. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar [<em>laa yar-ji&#8217;un</em>]<br />    </blockquote>
    </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">   QS.[2]:171 &#8230;. Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti [<em>laa ya`qiluun</em>]&nbsp;</p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left">Mudah-mudahan kita tidak menjadi makhluk yang berjalan di muka bumi ini dengan menggunakan perutnya, mengatur segala sesuatu demi kepentingan perut semata. Mudah-mudahan kita selalu ingat bahwa kehidupan ini sangat panjang, dari sejak jiwa kita diciptakan sampai dengan akhirat nanti, setelah melalui tempat-tempat persinggahan [<em>mauthin</em>]: dunia, barzakh, melalui kiamat dimana semua yang berjiwa akan mengalami mati dan melalui penghisaban di yaumi-l-hisaab. Mari kita gunakan kesempatan yang masih Allah Ta&#8217;ala berikan kepada kita ini untuk mempelajari Kitab-Nya, Al Quran Al Kariim, dalam upaya membangun dan menguatkan kecerdasan hati dan keimanan kita&#8230;. Semoga Allah Ta&#8217;ala memudahkan kita semua untuk taat kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya. Amin.<br />       &nbsp;</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left"><font color="#999900">Catatan:</font></p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left"><font color="#999900">[1] Data ini berdasarkan pemberitahuan dari orang-orang yang fasih berbahasa Arab, karena saya sendiri tidak memiliki kemampuan itu. Mohon koreksinya bila ada kekeliruan.<br />       [2] fu`ad adalah kecerdasan hati dan af`idah adalah bentuk jamak dari fu`ad.&nbsp;</font></p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left"><font color="#999900">Bandung, 6/Juni/2009, 5:11 PM - Wallahu `alam bish-showab.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/07/03/konsepsi-dabbah-berjalan-di-muka-bumi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia dari Rahasia-Rahasia &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/06/19/rahasia-dari-rahasia-rahasia/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/06/19/rahasia-dari-rahasia-rahasia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 16:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>BELAJAR dari SUFI</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/06/19/rahasia-dari-rahasia-rahasia/</guid>
		<description><![CDATA[	&#8230;. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku &#8216;The Secret of Secrets&#8216; yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd&#8217; al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.
	Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.&nbsp;
	DITUJUKAN KEPADA PARA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left">&#8230;. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku &#8216;<strong>The Secret of Secrets</strong>&#8216; yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab <em><strong>Sirr Al-Asraar</strong></em> yang ditulis oleh Syaikh Abd&#8217; al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.</p>
	<p align="left">Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.<br />&nbsp;</p>
	<p align="left"><font color="#cc9900">DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA</font><br /> <font color="#999900">Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd&#8217; al-Qadir al-Jilany ra.</font><font color="#cc9900"><br /> </font></p>
	<p align="left">
	<div align="left">  </div>
	<p align="left">Hati [<em><strong>qalb</strong></em>] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya &#8216;Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah&#8217;.  </p>
	<div align="left">    </div>
 <a id="more-104"></a><br />
<p align="left">Manakala cahaya dari &#8230; <em>Allah (Yang) </em><em>adalah cahaya petala langit dan bumi</em> &#8230; mulai menerpa seluruh bagian dari hati-mu, pelita hatimu akan mulai menyala. Pelita hati itu <em>&#8230; berada di dalam kaca</em> [<em><strong>az-zujajah</strong></em>], <em>dan kaca itu seakan-akan <strong>kaukabun</strong></em> [1] <em>yang berkilau</em> &#8230;  </p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Selanjutnya di dalam hati-mu itu, sambaran-sambaran petir dan kilat Pengetahuan Ilahiyyah akan dimulai. Sambaran-sambaran ini datang dari awan-awan yang mengandung hujan sebagai makna dari &#8230; <em>yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat</em> &#8230; dan menerangi pohon pemahaman, cahayanya sangat murni, jernih dan <em>&#8230; menerangi walaupun tidak disentuh api</em> [2].  </p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Selanjutnya pelita di hati-mu itu akan menyala dengan sendirinya karena apakah mungkin ada sesuatu yang akan tetap tidak menyala manakala Cahaya dari Rahasia-Rahasia Allah Ta&rsquo;ala telah menerpanya.  </p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Hanya jika cahaya Rahasia Ilaahiyyah telah menerpanya, kegelapan malam dari Rahasia-Rahasia akan diterangi oleh ribuan bintang yang berkilau &#8230; <em>dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk</em> [3] &#8230; Bukan bintang itu yang memandu perjalanan melainkan Cahaya itu lah yang memandu. Sebagaimana &#8230; <em>Allah telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang</em> [4]&#8230; Manakala Pelita Rahasia Ilaahiyyah telah menyala di dalam jiwa mu maka yang selebihnya akan datang, apakah kesemuanya datang secara bersama atau sedikit demi sedikit. Sebagiannya ada yang telah kalian mengerti dan sedangkan yang belum kalian mengerti akan dijelaskan disini. </p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left"><strong>Bacalah, perhatikanlah, cobalah untuk mengerti</strong>. </p>
	<p align="left">Kegelapan langitmu oleh sebab ketiadaan pengetahuanmu akan sirna dengan adanya &#8216;Kehadiran Ilaahiyyah&#8217; dan kedamaian dan keindahan cahaya purnama, yang terbit dari ufuk dan menyalakan &#8230; <em>cahaya di atas cahaya</em> [5], merayap di langit mengikuti garis-edarnya sebagaimana yang telah Allah Ta&rsquo;ala tetapkan [6], sampai kepada puncak kejayaannya di tengah-tengah langit, membubarkan segala kemalasan dan ketidakacuhan. &#8230; <em>(Aku bersumpah) </em><em>demi malam apabila telah sunyi</em> [7] &#8230; <em>demi waktu matahari sepenggalah naik</em> [8] &#8230; gelapnya malam akibat dari keterlenaanmu akan segera berganti dengan siang hari yang cerah. </p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Selanjutnya engkau akan menghirup harumnya kesadaran dan pengetahuan akan Allah Ta&rsquo;ala dan bermohon ampun di waktu sahur [9] <font color="#cc9900">atas keterlenaanmu selama ini dan menyesali hidupmu yang telah engkau lalui hanya dengan terlena yang seperti tertidur</font>. Engkau juga akan menikmati lantunan kidung pagi hari dan mendengar mereka mendendangkan:</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left">
	<p align="left"><em>Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar</em> [10]&#8230;..&nbsp; <em>Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki</em> [11]</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Selanjutnya dari kaki-langit &#8216;Pengetahuan Ilahiyyah&#8217; engkau akan menemukan matahari hikmah yang mulai terbit. Dan itu adalah matahari untukmu sebab engkau adalah yang dipilih dan &#8230; <em>ditunjuki (oleh) Allah</em> dan engkau &#8230; <em>berada di jalan yang benar</em> dan bukan termasuk golongan orang-orang &#8230; <em>yang dibiarkan-Nya sesat</em> [12].</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Selanjutnya engkau akan memahami rahasia bahwa:</p>
	<p align="left">
	<p align="left"><em>Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya</em> [13]</p>
	<div align="left">    </div>
	<p align="left">Sampai akhirnya, belenggu yang membelitmu akan terurai sebagaimana &#8230; <em>Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu</em> [14] dan kerak-kerak dirimu akan luruh, kepompong yang melingkupimu akan tersingkap untuk menampilkan kehalusan yang selama ini tersembunyi di balik jasadmu; selanjutnya kebenaran sejati [<em>al-haqq</em>] akan menampakkan wajahnya.</p>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left">Awal dari semuanya ini adalah saat dimana cermin hatimu telah terbersihkan. Cahaya dari &#8216;Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah&#8217; akan menerpanya, sejalan dengan kemauanmu, dan sejalan dengan permohonanmu kepada-Nya karena bersumber hanya dari Dia Ta&rsquo;ala semata, jika dan hanya jika engkau bersama-Nya.</p>
	<p align="left">&nbsp;</p>
	<p align="left">Catatan Kaki :&nbsp;  </p>
	<p align="left">
	<div align="left">
<ol>
<li>Kata <em>kaukabun</em>, sering di-alih-bahasa-kan sebagai &#8216;bintang&#8217; atau      &#8216;bintang-bintang&#8217; akan tetapi sesungguhnya secara pengertian berbeda.      Bintang adalah benda langit yang menjadi sumber cahaya sedangkan <em>kaukabun</em> adalah benda langit yang tidak memiliki cahaya sendiri.      Ia berpendar karena memantulkan cahaya yang diterimanya dari benda langit      lainnya, dengan demikian <em>kaukabun</em> adalah      seperti sebuah planet. Sedangkan bintang dalam bahasa arab adalah <em>an-najm</em> dan gugusan bintang-bintang adalah <em>al-buruj</em>. Bulan adalah <em>al-qamar</em> dan      matahari adalah <em>asy-syam</em>.</li>
	<li>Ayat Cahaya,      QS.[24]:35 </li>
	<li>QS.[16]:16</li>
	<li>QS.[37]:6</li>
	<li>QS.[24]:35</li>
	<li>QS.[36]:39</li>
	<li>QS.[93]:2</li>
	<li>QS.[93]:1</li>
	<li>QS.[3]:17</li>
	<li>QS.[51]:17-18</li>
	<li>QS.[24]:35</li>
	<li>QS.[7]:178</li>
	<li>QS.[36]:40</li>
	<li>QS.[24]:35</li>
 </ol>
 </div>
	<p>&nbsp;</p>
	<p><font color="#999900">Bandung, 20 April 2009 - update 19 Juni 2009<br /> Sumber: <strong>The Secrets of Secrets</strong>, an interpretation by Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti of Hadrat Abd&#8217; al-Qadir al-Jilany&#8217;s &quot;<strong>Sirr Al-Asraar</strong>&quot;, The Islamic Text Society, Cambridge, 1992.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/06/19/rahasia-dari-rahasia-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mahmud dan Ayaz [3]</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/04/01/mahmud-dan-ayaz-3/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/04/01/mahmud-dan-ayaz-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 08:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>KIDUNG RUMI</category>
	<category>KISAH para DARWIS</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/04/01/mahmud-dan-ayaz-3/</guid>
		<description><![CDATA[	Sultan Mahmud dari Ghazna suatu hari saling berbagi ketimun dengan Ayaz, orang kepercayaannya yang paling setia. Ayaz dengan gembira mulai memakan separo bagian dari ketimun itu, tetapi ketika sang sultan memakan separo bagian miliknya, ketimun itu terasa sangat pahitnya sehingga ia meludahkannya.
	  
	&quot;Bagaimana kau dapat memakan ketimun yang sangat pahit ini?&quot; seru sang sultan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left" class="MsoNormal">Sultan Mahmud dari Ghazna suatu hari saling berbagi ketimun dengan Ayaz, orang kepercayaannya yang paling setia. Ayaz dengan gembira mulai memakan separo bagian dari ketimun itu, tetapi ketika sang sultan memakan separo bagian miliknya, ketimun itu terasa sangat pahitnya sehingga ia meludahkannya.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">&quot;Bagaimana kau dapat memakan ketimun yang sangat pahit ini?&quot; seru sang sultan, &quot;bagiku ia terasa bagaikan racun yang sangat pahit.&quot; </p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left">&quot;Sultanku yang tercinta,&quot; jawab Ayaz, &quot;aku menikmati begitu banyak pertolongan dan bantuan dari Anda sehingga apa pun yang Anda berikan padaku menjadi terasa manis.&quot;<br />&nbsp;</p>
	<p align="left"><font color="#999900">Bandung, 1 Maret 2009<br />Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri &amp; Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/04/01/mahmud-dan-ayaz-3/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Dua orang seniman &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/07/dua-orang-seniman/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/07/dua-orang-seniman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 22:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>KIDUNG RUMI</category>
	<category>BELAJAR dari SUFI</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/07/dua-orang-seniman/</guid>
		<description><![CDATA[	Suatu ketika dihadapan sang Sultan, dua orang seniman berselisih faham tentang siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Dan untuk menyelesaikan perselisihan itu, Sultan kemudian menyediakan untuk masing-masing dari mereka sebuah rumah untuk di warnai.
	  
	Seniman Pertama menggunakan semua jenis cat yang tersedia dan kemudian menghiasi rumah itu dengan grafis warna-warni yang tingkat kerumitannya sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left" class="MsoNormal">Suatu ketika dihadapan sang Sultan, dua orang seniman berselisih faham tentang siapa yang terbaik diantara mereka berdua. Dan untuk menyelesaikan perselisihan itu, Sultan kemudian menyediakan untuk masing-masing dari mereka sebuah rumah untuk di warnai.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Seniman Pertama menggunakan semua jenis cat yang tersedia dan kemudian menghiasi rumah itu dengan grafis warna-warni yang tingkat kerumitannya sangat tinggi.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Seniman Kedua, sebaliknya tidak menggunakan bahan cat apapun, ia lebih senang membersihkan dinding-dindingnya dari segala kotoran, membuatnya menjadi sehalus mungkin serta memolesnya hingga semengkilap mungkin.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Ketika kedua rumah tersebut diajukan untuk diperiksa oleh sultan, hasil karya seniman Pertama mengundang decak kagum siapapun yang menyaksikannya, sangat menakjubkan; akan tetapi rumah yang disiapkan oleh seniman Kedua menjadi pilihan sang Sultan oleh sebab warna-warni yang ditampilkan oleh rumah pertama dan alam sekitarnya terpantulkan secara sangat indah pada dinding-dinding rumah kedua dalam berbagai lapisan dan gradasi bayangan dan warna yang seakan tiada ujung dan akhiran.</p>
	<p align="left">
	<p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<div align="left">        </div>
	<p align="left"><font color="#999900">Bandung - 05/Maret/2009 Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of &nbsp;Maulana Jalalu-&#8217;d-diin Muhammad Rumi, Book I &ndash; Story XIV.1 [Abridged and Translated by E.H. Whinfield (1898) &#8230; Alih bahasa oleh wiwin.wr @2009]</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/07/dua-orang-seniman/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mahmud dan Ayaz [2] &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/06/mahmud-dan-ayaz-2/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/06/mahmud-dan-ayaz-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 09:22:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>KIDUNG RUMI</category>
	<category>KISAH para DARWIS</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/06/mahmud-dan-ayaz-2/</guid>
		<description><![CDATA[	Sultan Mahmud dari Ghazna, memiliki pegawai kesayangan bernama Ayaz yang karenanya menjadikan seluruh pegawai istana iri-hati. Suatu hari mereka menghadap sultan melaporkan bahwa Ayaz memiliki kebiasaan beristirahat di dalam sebuah ruang rahasia di dalam biliknya dan mengunci diri di dalam. Mereka mencurigai Ayaz menyembunyikan barang berharga hasil curian atau menikmati anggur dan minuman keras disana.
	 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left" class="MsoNormal">Sultan Mahmud dari Ghazna, memiliki pegawai kesayangan bernama Ayaz yang karenanya menjadikan seluruh pegawai istana iri-hati. Suatu hari mereka menghadap sultan melaporkan bahwa Ayaz memiliki kebiasaan beristirahat di dalam sebuah ruang rahasia di dalam biliknya dan mengunci diri di dalam. Mereka mencurigai Ayaz menyembunyikan barang berharga hasil curian atau menikmati anggur dan minuman keras disana.</p>
	<div align="left">  </div>
 <a id="more-98"></a><br />
<p align="left" class="MsoNormal">Kenyataannya, di ruangan itu Ayaz hanya menempatkan sepatu-tua dan baju koyaknya, yang dahulu selalu dipakainya, sebelum ia diangkat menjadi pegawai istana oleh sang sultan. Ia biasa beristirahat di ruangan itu, memandangi sepatu-tua dan baju-koyak itu berlama-lama, sambil sekali-sekali ia memakainya, untuk mengingatkan dirinya bahwa asal muasalnya hanyalah orang dusun biasa sehingga ia bisa terhindar dari hembusan angin takabur. Ia melakukan itu sebagaimana diperintahkan Tuhan, &rdquo;Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan ?&rdquo; QS.[86]:5</p>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">Menyukai kehidupan dunia akan menghembuskan kebanggaan yang keliru dan menjadikan sebuah kesombongan, sebagaimana Iblis yang&nbsp; menolak bersujud kepada Adam as. dan berkata, &rdquo;Siapakah Adam itu sehingga ia lebih dihormati daripada aku ?&rdquo; kemudian berkata bahwa ia adalah bangsa Jin yang diciptakan dari api, QS.[15]:27. Sedangkan Adam, dengan rendah hati, mengakui kesederhanaannya, &rdquo;Allah menciptakan aku dari tanah liat kering&rdquo; QS.[55]:14.</font></p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Sang Sultan, walaupun ia percaya sepenuhnya atas kesetiaan dan kejujuran Ayaz. Namun, demi untuk membuktikan kepada mereka-mereka yang telah membangun kecurigaan kepada Ayaz, dia memerintahkan mereka untuk membongkar kamar rahasia tersebut di malam hari dan mengambil semua harta dan barang-barang yang disembunyikan Ayaz disitu.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Sudah merupakan sifat dari orang-orang yang berperangai jahat untuk selalu memprasangkai orang-orang yang bersih-hati. Sebab mereka selalu melihat berdasarkan dorongan syaithoniyyah yang ada dalam diri mereka sendiri. Sebagaimana kaki yang bengkok akan meninggalkan jejak kaki yang bengkok pula atau seperti seekor laba-laba yang kabur penglihatannya oleh sebab melihat dari balik anyaman jaringnya sendiri. </p>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">Tindakan sang Sultan menginjinkan pembongkaran kamar rahasia ini sedikitpun tidak mengurangi rasa kasih-sayangnya kepada Ayaz. Sebab Sang Pecinta dan Yang Dicinta akan selalu berada dalam kesatuan walaupun mereka seperti bertentangan bila dilihat secara lahiriyyah.</font></p></blockquote>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Karena itulah pada malam harinya, para pegawai istana bersama-sama menuju ke kamar Ayaz dan membongkar paksa pintunya dan mencari-cari di seluruh lantai dan dinding kamar itu. Namun yang mereka temukan hanya sepatu-tua dan baju-koyak itu saja. </p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Kemudian mereka kembali menghadap sang Sultan dengan muka hitam-legam karena telah berdusta, sebagaimana orang-orang yang telah memfitnah orang suci akan menghadapi yaumu-l-hisaab &ndash; hari perhitungan &ndash; dengan keadaan seperti dalam ayat &rdquo;Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam&#8230;.&rdquo;, QS.[39]:60.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Kemudian mereka memohon ampunan Sultan atas segala kelancangan yang telah mereka lakukan, tetapi sultan menolak dengan berkata bahwa kelancangan itu mereka lakukan kepada Ayaz dan oleh karenanya ia akan melimpahkan kepadanya untuk memutuskan apakah akan menghukum mereka atau memaafkan mereka. </p>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">Bilamana Ayaz memaafkan maka itu sebuah kebaikan bagi mereka dan bilamana ia menghukum mereka maka itu juga merupakan sebuah kebaikan bagi mereka, sebagaimana &rdquo;qishaash adalah sebuah hukum yang Allah Ta&rsquo;ala turunkan untuk menyelamatkan manusia dalam kehidupan sendiri,&rdquo; QS.[2]:178 &ndash; &rdquo;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema&#8217;afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema&#8217;afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma&#8217;af) membayar (diat) kepada yang memberi ma&#8217;af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih.&rdquo; - hanya kemudian sang Sultan memerintahkan supaya Ayaz menjatuhkan hukumannya dengan tanpa ditunda-tunda lagi sebab &ldquo;saat-saat menunggu sudah merupakan sebuah hukuman&rdquo;.</font></p></blockquote>
	<p align="left">&nbsp;</p>
	<p align="left">
	<div align="left">        </div>
	<p align="left"><font color="#999900">Bandung - 06/Maret/2009 Source: MATSNAWI, The Spiritual Couplets of &nbsp;Maulana Jalalu-&#8217;d-diin Muhammad Rumi, Book V &ndash; Story VIII Mahmud and Ayaz.<br /> [Abridged and Translated from Matsnawi Book V 4035-4115 by E.H. Whinfield, 1898. Alih bahasa oleh wiwin.wr dengan sedikit perubahan tekstual tanpa merubah makna cerita]</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/06/mahmud-dan-ayaz-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mahmud dan Ayaz [1] &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/05/mahmud-dan-ayaz-1/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/05/mahmud-dan-ayaz-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 09:14:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>KIDUNG RUMI</category>
	<category>KISAH para DARWIS</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/05/mahmud-dan-ayaz-1/</guid>
		<description><![CDATA[	Sultan Mahmud duduk bersama sahabat dekatnya dan para pe&shy;nasihatnya, sembari menikmati minuman dari gelas kristal permata yang sangat indah, salah satu miliknya yang berharga. 
	  
	Ketika setiap orang mulai mengagumi gelas minuman tersebut, ia menyodorkannya kepada seorang penasihatnya dan berkata, &ldquo;Jatuhkanlah ke lantai dan pecahkan !&rdquo; Sang penasihat menjawab, &ldquo;Aku tidak bisa Sultan. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left" class="MsoNormal">Sultan Mahmud duduk bersama sahabat dekatnya dan para pe&shy;nasihatnya, sembari menikmati minuman dari gelas kristal permata yang sangat indah, salah satu miliknya yang berharga. </p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Ketika setiap orang mulai mengagumi gelas minuman tersebut, ia menyodorkannya kepada seorang penasihatnya dan berkata, &ldquo;Jatuhkanlah ke lantai dan pecahkan !&rdquo; Sang penasihat menjawab, &ldquo;Aku tidak bisa Sultan. Ia amat sangat ber&shy;harga, dan aku tidak berani merusak salah satu harta kekayaan Anda yang teramat bernilai.&rdquo; </p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Sang sultan memberikan gelas minuman tersebut pada masing-masing penasihatnya dengan perintah yang sama, dan ma&shy;sing-masing mereka juga menolak untuk mernecahkannya. </p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Akhirnya, ia memberikan gelas tersebut kepada Ayaz, sahabat dekatnya yang paling setia. Ayaz segera memecahkannya hingga ber&shy;keping-keping. Orang-orang lainnya terhenyak dan merasa heran. </p>
	<div align="left">  </div>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cc9900">Ke&shy;tika sang Sultan bertanya padanya, mengapa ia memecahkan gelas minuman tersebut, Ayaz menjawab, &ldquo;Sultanku, aku tahu bahwa gelas minuman itu berharga, tetapi yang jauh lebih berharga bagiku dari gelas mana pun adalah perintahmu. Aku tidak akan pernah menolak ke&shy;inginan-keinginanmu, sehingga dengan segera aku melakukan apa yang engkau perintahkan.&rdquo;</font> </p></blockquote>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc66">Sang Sultan tersenyum dan berkata, &ldquo;Lihatlah me&shy;ngapa aku mencintai dan mengasihinya.&quot;</font></p>
	<blockquote><p align="left" class="MsoNormal">
</p></blockquote>
	<p align="left">&nbsp;</p>
	<p align="left">
	<div align="left">    </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left"><font color="#999900">[kisah ini berasal dari Jalaluddin Rumi - Matsnawi Buku V bait 4035 &ndash; silahkan lihat di <a title="Kumpulan karya Mawlana Jaluluddin Rumi - Mathnawii" target="_blank" href="http://berandasuluk.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fwww.semazen.net%2Feng%2Ftext_list.php%3Fid%3D65&amp;i=0&amp;c=67e0a537f55e9f5a9828aee4731fbcb3b89a5052">link-ini</a>]<br />[Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri &amp; Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005]</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/05/mahmud-dan-ayaz-1/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajar dan Pengamal &#8230;</title>
		<link>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/03/pelajar-dan-pengamal/</link>
		<comments>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/03/pelajar-dan-pengamal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 11:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwin.wr</dc:creator>
		
	<category>KISAH para DARWIS</category>
		<guid>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/03/pelajar-dan-pengamal/</guid>
		<description><![CDATA[	Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.
	  
 
Sang sarjana menyapa si pertapa seraya menjelaskan bahwa, berdasarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left" class="MsoNormal">Suatu hari seorang sarjana sedang berperahu di sebuah danau yang besar. Ia mendengar sebuah suara datang dari arah sebuah pulau yang kecil. Merasa penasaran, ia pun mendayung perahunya menuju pulau tersebut. Ia melihat seorang pertapa sedang berdzikir sambil duduk dan membaca sebuah doa berulang-ulang.</p>
	<div align="left">  </div>
 <a id="more-96"></a><br />
<p align="left" class="MsoNormal">Sang sarjana menyapa si pertapa seraya menjelaskan bahwa, berdasarkan bahasa Arab klasik, ia tidak tepat dalam mengucakan doa tersebut. Sang sarjana merasa puas karena telah mampu meluruskan si pertapa yang buta huruf tersebut. Lagi pula disebutkan bahwa mereka yang menguasai doa tersebut dapat berjalan di atas air.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Sang sarjana pun kemudian kembali ke perahunya, mendayungnya&nbsp; pergi meninggalkan pulau, dan merasa puas atas amal baiknya. Kemudian ia mendengar suara air berdecak dari belakangnya, lalu menoleh. Si pertapa sedang berlari-lari mengejarnya, &ldquo;Hai nak, aku telah mengucapkan doa tersebut secara salah selama bertahun-tahun ! Tolong ulangi kembali untukku dengan cara yang benar, sekali lagi.&rdquo;</p>
	<p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Sumber: Psikologi Sufi untuk transformasi: Hati, Diri &amp; Jiwa oleh Robert Frager PhD. [Syekh Ragib Al-Jerahi], Penerbit Serambi, 2005&nbsp; </font> </p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#cccc00">Renungan:</font></p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Saya teringat keterangan dari Ibn Arabi di kitabnya, al-Anwar fiima yamnahu soohib al-khalwat min Asroor [terjemahan: Cahaya Penakluk Surga, halaman 21], tentang apa saja ciri-ciri awal orang-orang yang tawakkal-billaah. Dan keterangan ini adalah penjelasan terhadap suatu keadaan yang sangat sulit untuk dibayangkan oleh awam, namun begitulah adanya setiap keterangan yang diberikan oleh seorang Syaikh Al Akbar Ibn Arabi.</p>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">Ada 4 hal yang menjadi ciri mereka adalah,</p>
	<div align="left">  </div>
	<ul>
<li>Bumi terlipat di bawah kaki,</li>
	<li>Menerobos langit,</li>
	<li>Berjalan di atas air,</li>
	<li>Diberi makan oleh semesta alam,</li>
 </ul>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<div align="left">  </div>
	<p align="left" class="MsoNormal">tanpa usaha dari mereka.</p>
	<p align="left" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p align="left" class="MsoNormal"><font color="#999900">Bandung, 11 Februari 2009&#8230; Wallahu &#8216;alam bish showab.</font> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berandasuluk.blogsome.com/2009/03/03/pelajar-dan-pengamal/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
